Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Membocorkan Semuanya #98


__ADS_3

"Tak hanya bayaran berupa materi, aku juga menuntut jaminan ...!" ucap Boni tegas dan sangat menuntut hal tersebut kepada Tokyo.


Tokyo sempat tertawa kecil mendengar permintaan yang terdengar sangat memaksa itu, sebelum kemudian ia tersenyum dan berkata, "kau akan mendapat jaminan sesuai dengan apa yang kau inginkan, asalkan kau mau mengabulkan beberapa perintah ku."


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja seorang pria berjas putih yang tampaknya adalah anak buah Tokyo memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu. Tentu tindakan tersebut cukup membuat Tokyo sedikit marah. Namun ia meredam dan mengurungkan amarahnya setelah melihat ekspresi buru-buru dari wajah anak buahnya itu.


"Ada apa?" tanya Tokyo.


Pria itu mendekatkan mulutnya ke telinga milik Tokyo dan berbisik, "Ashgard, mereka sudah kembali dari pulau dengan selamat."


Kedua mata Tokyo cukup terbelalak, dan dirinya cukup dibuat terkejut sekaligus tertegun dengan kabar yang dibawakan itu. Jika kabar itu telah sampai ke telinganya, berarti dirinya langsung dapat menyimpulkan bahwa Nicolaus beserta seluruh anak buahnya yang tinggal di pulau telah berhasil ditaklukkan.


"Sampaikan kepada Farres dan Doma untuk mempercepat persiapan! Kita akan bergerak dalam waktu dekat," ucap Tokyo dengan nada berbisik kepada anak buahnya itu.


"Baik!" setelah menerima perintahnya, pria itu langsung bergegas mengambil langkah sigap keluar dari ruangan guna melaksanakan titahnya.


"Apa ada masalah?" cetus Boni menatap curiga Tokyo.


Dengan tatapan tajamnya Tokyo menjawab, "bukan urusanmu," jawaban singkat dengan intonasi rendah namun terdengar sangat tegas.


"Aku perlu informasi yang penting soal Garwig dan apa yang kira-kira bakal dia rencanakan! Beritahu aku semua yang kau ketahui sekarang!" titah Tokyo kemudian. Dari balik jas berwarna putihnya, ia mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat serta sebuah surat yang memuat tentang kuasa dari suatu wilayah


Boni terlihat tersenyum mendengar perintah serta permintaan tersebut. Tanpa basa-basi, ia memberitahu Tokyo tentang apa yang direncanakan oleh Garwig sesuai dengan yang ia ketahui.


"Melihat situasi dan kondisi saat ini, tentu Garwig tidak akan ragu-ragu untuk menurunkan personel militernya."


"Berbeda dengan Prawira yang dimana dia adalah tipe orang yang sangat memikirkan keselamatan anggotanya, sehingga membuatnya banyak berpikir untuk menyerang kalian. Garwig adalah tipe orang yang cukup berambisi untuk mencapai suatu tujuan, jika memang tujuan tersebut sangat penting bagi masa depan negeri."


"Sangat dimungkinkan ia akan melakukan segala usaha untuk menghabisi kalian."


Boni berbicara sembari perlahan beranjak berpindah menuju ke sebuah sofa berwarna merah di sudut ruangan itu, dan kemudian duduk di sana.


"Jadi dia akan melakukan serangan berskala besar untuk menyerang kami?" tanya Tokyo bersandar pada dinding tepat di samping pintu.

__ADS_1


"Kurasa begitu, karena tentu saja mereka tidak akan tinggal diam setelah kalian mengacaukan segalanya dan membuat banyak orang kehilangan berbagai hal yang berharga bagi mereka," jawab Boni langsung sesaat setelah Tokyo melempar pertanyaan.


"Jika begitu, apa yang kau ketahui soal rencana penyerangan Garwig?" tanya Tokyo kembali, tatapannya tajam dan seolah dapat membaca gerak-gerik Boni jika melakukan suatu kebohongan atau cerita yang dibuat-buat.


Melihat dan menyadari tatapan tersebut, Boni pun menjawab sesuai dengan sepengetahuan dirinya mengenai rencana Garwig guna menangani situasi ini. Tentu dirinya tidak ingin melakukan suatu kebohongan, apalagi mengingat dirinya berada di lingkungan Clone Nostra.


"Jujur saja aku tidak begitu mengetahui rencananya," ucap Boni menghela napas sebelum kemudian melanjutkan bicaranya, "namun pada dasarnya semua berawal dari rencana klasik, yaitu mengincar titik lemah suatu pertahanan yang telah kalian bangun," lanjutnya.


"Dan jika melihat posisi kalian, maka titik lemah itu berada di wilayah Paletown," lanjut Boni lagi.


Kedua mata Boni tidak menunjukkan adanya kebohongan dari semua yang ia ucapkan. Melihat hal tersebut, Tokyo menaruh cukup kepercayaan terhadap keterangan serta informasi yang telah Boni berikan padanya.


Tokyo menyeringai dan menyimpan ekspresi licik seolah telah terdapat suatu rencana jahat di dalam kepalanya.


"Itu informasi yang sangat berharga," ucap Tokyo sembari menyerahkan amplop cokelat beserta surat kuasa yang telah ia siapkan, sebelum kemudian pergi begitu saja dari ruangan tersebut tanpa mengucapkan 'terima kasih' kepada Boni.


***


Suasana sunyi dan mencekam begitu dirasakan di Distrik Timur. Tempat itu sudah menjadi tempat yang ditetapkan pada status berbahaya. Terlihat juga banyak sekali orang-orang bersenjata dari Clone Nostra yang berkeliaran di area distrik. Tak hanya sekedar berkeliaran sembari menunjukkan intensitas mereka. Namun mereka juga melakukan penjarahan serta penyanderaan terhadap beberapa warga yang terlambat menuju ke zona aman.


"Kalian, bawa anak-anak ke belakang panti! Alana, cobalah memanggil bantuan!" pinta Helena kepada beberapa pekerja panti asuhannya dan juga Alana.


Dirinya dan juga anak-anak panti asuhan terlambat untuk mengungsikan diri menuju ke zona aman yang sudah ditetapkan oleh aparat. Akibatnya, mereka harus terjebak di dalam panti asuhan dan hanya bisa mengharapkan bantuan segera datang.


Nyonya Helena mengunci semua akses pintu masuk sekaligus menutup tirai-tirai jendela, agar orang-orang bersenjata yang berlalu lalang itu menyangka bahwa bangunan ini telah di tinggalkan. Beruntungnya, posisi panti asuhan miliknya sedikit masuk ke dalam gang dan jarang diketahui oleh orang-orang yang berlalu-lalang di jalan utama.


"Aku kesulitan untuk mendapatkan sinyal," ucap Alana yang terlihat sedang berusaha mencari bantuan menggunakan ponselnya.


Kondisi distrik saat ini tidak ada listrik, bahkan listrik di seluruh kota padam kecuali listrik yang ada di zona aman. Akibat hal tersebut membuat sinyal di area tertentu sangat sulit didapatkan, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.


"Cobalah ke halaman belakang!" pinta Helena terhadap putrinya itu.


Alana pun bergegas menuju ke halaman belakang panti asuhan, dan berharap dirinya mendapatkan sinyal untuk menghubungi seseorang guna meminta bantuan.

__ADS_1


"Apakah semuanya akan baik-baik saja?" celetuk seorang anak perempuan berusia empat tahun, yang ternyata anak itu adalah Akira.


Akira berjalan menghampiri Nyonya Helena dengan ekspresi penuh kecemasan bercampur dengan ketakutan. Pagi hari yang seharusnya menyenangkan bagi anak-anak, kini harus menjadi pagi yang sangat suram dan menakutkan bagi mereka.


"Akira jangan khawatir, kita berdoa supaya semuanya baik-baik saja, yuk?" Helena dengan lembutnya memeluk gadis kecil itu sembari sedikit menghiburnya dengan beberapa kata.


Dalam pelukan seorang wanita paruh baya itu, Akira tiba-tiba saja berkata, "Akira tiba-tiba kangen ketemu papa," ucapnya dengan kedua mata yang diselimuti ketakutan yang begitu mendalam.


Papa? Helena tersenyum mendengar permintaan salah satu anak asuhnya. Dirinya tahu betul siapa sosok 'papa' yang dimaksudkan oleh gadis kecil bernama Akira itu.


Dengan belaian yang begitu lembut, dan tatapan yang penuh dengan kasih sayang kepada Akira. Helena berkata, "Akira nanti akan bertemu dengan papa, kok! Kamu tenang saja, ya, sayang," ucapnya kemudian mengecup manis kening milik gadis imut itu, sebelum kemudian memeluknya guna mengurangi rasa takut dan trauma yang dialami oleh Akira.


Peristiwa ini tentunya sangat tidak diinginkan oleh semua orang untuk terjadi, apalagi harus dialami juga oleh anak-anak. Helena yakin sekaligus kasihan dengan anak-anak itu, karena kejadian ini pastinya akan menorehkan luka terhadap kondisi psikologis mereka.


Tak lama kemudian Alana datang kembali menghampiri Helena di ruang tengah dengan ekspresi kecewa dan menggelengkan kepalanya sembari berkata, "pada akhirnya aku tidak berhasil menghubungi siapapun."


"Ya sudah kalau begitu, tolong hibur anak-anak di belakang, ya ...!? Biar giliran ku yang mencoba untuk mencari bantuan," ucap Helena, dalam dekapannya masih terdapat Akira yang begitu menempel pada dirinya.


"Baik---"


BRuumm ...!! BRuumm ...!!


Tiba-tiba saja terdengar suara deru mesin kendaraan yang sangat ramai melintasi jalan utama di depan gang panti asuhan itu. Saking ramainya, suara kendaraan mereka sampai masuk ke dalam gang hingga dapat didengar oleh telinga Helena dan Alana.


Alana mencoba untuk mengintip melalui tirai jendela dan melihat siapa yang baru saja lewat. Namun kedua matanya terbelalak dan sangat terkejut sembari berjata, "mereka ada di sini, orang-orang berbaju putih itu," bisiknya.


"Semoga saja hanya lewat," lanjutnya sangat berharga sembari menutup rapat-rapat tirai jendela tersebut.


"Lebih baik kita menjauh dari pintu depan! Kita buat seolah bangunan ini telah ditinggalkan," ucap Helena, kemudian dengan sigap menggendong tubuh mungil Akira dan pergi menuju bagian belakang panti asuhan bersama dengan putrinya yakni Alana.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2