
Galang dan Rony tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di Rumah Sakit Pusat. Rony mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang, bahkan hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dengan jarak antara rumah sakit dan Balaikota yang sedikit jauh. Sesampainya di rumah sakit tersebut, Kent langsung dibawa menuju ke unit gawat darurat bersama dengan aparat medis yang terus menemaninya, dan langsung mendapatkan perawatan intensif.
Beberapa saat setelah selesai membawa rekannya yang terluka parah itu. Rony berencana untuk kembali menuju ke Gedung Balaikota itu, namun keputusan dan niatnya sempat terhentikan oleh Galang yang berkata, "jika konflik di sana kembali pecah dan menjadi lebih besar daripada sebelumnya, maka yang ada itu akan menjadikan kita sebagai sasaran tembak yang empuk ketika hendak mendekati gedung itu," ucapnya ketika berjalan di halaman rumah sakit itu.
"Lalu kita harus bagaimana? Membiarkan Berlin dan yang lainnya di sana, sedang kita di sini hanya berdiam diri dan menunggu kabar dari keselamatan rekan-rekan kita yang belum tentu bisa dipastikan selamat?!" cetus Rony.
Galang yang sebelumnya berjalan di belakang Rony, kini beralih berjalan tepat di samping rekannya itu sembari berkata, "tetapi perintah Berlin mengatakan kalau kita dilarang untuk kembali ke sana," ucapnya sembari mengingat kata-kata atau titah yang tercetus dari mulut Berlin yang mengatakan, "Pergi sekarang, dan jangan kembali karena itu akan membahayakan kalian!"
Rony menghentikan langkahnya sembari menoleh dan menatap tajam rekannya sebelum akhirnya mengatakan, "namun itu bukanlah sebuah larangan bagiku, Galang. Apakah dia mengatakan kata 'dilarang'? Tidak, 'kan?" ucapnya dengan intonasi bicara rendah namun terdengar tegas.
"Ba-baiklah, apapun itu aku akan tetap bersamamu." Galang menghela napas, dan dirinya hanya bisa mengikuti rekannya yang tampaknya cukup keras kepala itu, "padahal 'kan 'dilarang' dan 'jangan' itu sama saja artinya," batinnya.
"Tunggu ...!!!"
Tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita yang hendak menghentikan langkah mereka berdua dari belakang. Suara itu tidaklah asing di telinga masing-masing keduanya. Galang dan Rony sontak menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik badan. Mereka saling melirik dan bertanya-tanya, "bukankah suara ini ...?" bisik Galang.
"Ya, suaranya Nadia," sahut Rony sembari membalikkan badannya, dan benar saja dirinya melihat sosok bumil itu yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan wajah cemas. Di belakang dari Nadia terlihat juga seorang perempuan yang berlari ke arah Nadia sembari memanggil, "Nadia, tunggu! Janjinya 'kan jangan keluyuran sendiri!"
"Mereka, 'kan?!" gumam wanita itu ketika berdiri tepat di samping Nadia, dan memasang wajah terkejut ketika menatap ke arah Galang dan Rony. Dan sepertinya tak hanya ia yang terkejut, namun Galang bersama dengan Rony juga ikut terkejut. Karena ternyata dia adalah wanita yang sempat diselamatkan dan dibawa Ashgard dari panti asuhan menuju ke rumah sakit ini. Ya, dia adalah Alana.
"Kalian di sini, tetapi aku tidak dapat melihat kehadiran Berlin. Apakah dia tidak bersama kalian?" tanya Nadia, terlihat sekali betapa khawatirnya dirinya terhadap sosok suaminya itu. Ia tidak dapat berkabar dengan Berlin, bahkan juga tidak menerima kabar apapun sejak terakhir kali Berlin pamit padanya untuk membebaskan orang-orang termasuk anak-anak yang ada di panti asuhan.
Kedua orang dari Ashgard itu seketika terdiam mematung. Beberapa kali mereka saling melirik satu sama lain. Mereka berdua sepertinya bingung harus menjawab apa, karena pertemuan mereka dengan Nadia sangatlah tidak terduga oleh keduanya.
"Harus jawab apa?" bisik Rony.
"Masa kita harus jawab apa adanya?" sahut Galang juga dengan intonasi berbisik.
"Kurasa lebih baik begitu, tidak baik berbohong dengan dia, bukan? Kalau ketahuan Berlin, bisa mati kita karena telah membohongi istrinya," sahut Rony.
__ADS_1
Galang sempat melihat sosok Nadia dengan dress putih itu dari ujung kaki hingga kepala, dan kembali turun tepat pada perut ibu hamil itu sebelum kemudian kembali berbisik, "kalau kita jujur padanya, bisa-bisa itu membuatnya terlalu khawatir, dan sepertinya ... itu tidak baik bagi kondisi ibu hamil."
"Kenapa kalian malah berbisik-bisik? Kalian menyembunyikan sesuatu?!" tegas Nadia, tatapannya tajam dan terlihat sangat galak kepada dua laki-laki yang sampai detik ini masih berdiri di hadapannya.
"Nadia, sabar ...! Bumil nggak boleh membuang tenaga untuk membentak-bentak," cetus Alana merangkul dan menenangkan wanita di sampingnya itu.
Seketika Galang dan Rony dibuat sedikit tertunduk dengan intonasi bicara yang tinggi itu. Mereka tidak menyangka kalau ternyata sosok cantik nan lemah lembut seperti Nadia juga bisa galak dan tegas. Sudah hampir mirip dengan Berlin.
"Te-tenang saja, Berlin aman bersama dengan rekan-rekan kami berdua di sana," ucap Rony sedikit gugup setelah dibentak oleh Nadia.
"Ya ...! Dan mengapa kami di sini, karena kami diperintah untuk membawa salah satu rekan kami yang hampir sekarat," timpal Galang.
"Sekarat ...?" gumam Nadia yang tampaknya menjadi lebih khawatir dari sebelumnya.
Rony langsung menyikut rekannya itu dan berbisik, "jangan gunakan kosa kata itu!"
"Intinya ... Berlin akan aman dan segera kembali, kok! Hanya saja akan membutuhkan waktu untuk itu," cetus Rony mengulas senyumannya menandakan bahwa semuanya akan baik-baik saja kepada Nadia.
"Tidak ada, kami hanya membawa salah satu rekan kami yang terluka, dan setelah itu ... kami akan kembali ke sana," jawab Galang.
Rony mengangguk dan menambahkan, "ya, dan menyelesaikan semuanya."
...
Beberapa menit telah berlalu, dan akhirnya Nadia membiarkan kedua rekan Berlin itu untuk pergi dari sana. Meskipun semua jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh kedua orang itu tidak membuat hatinya puas. Tetapi setidaknya dari apa semua yang dikatakan oleh kedua orang itu, memberinya petunjuk bahwa Berlin masih hidup.
"Masih mau jalan-jalan?" tanya Alana, karena sebelumnya Nadia sendiri yang mengajak Alana untuk menemaninya jalan-jalan setelah hujan reda.
Namun Nadia yang murung dan sedikit tertunduk itu menggelengkan kepalanya sembari menjawab, "enggak, deh ...! Aku mau ke kamar saja."
__ADS_1
"Baiklah," Alana merangkul dan terus berada di dekat Nadia sembari mengantarnya untuk kembali ke kamar inap. Ketika berjalan di antara keramaian orang-orang yang ada di rumah sakit yang rata-rata adalah warga yang membutuhkan tempat untuk berlindung. Namun yang dirasakan oleh Nadia hanyalah kesunyian, seolah kedua telinganya tidak dapat mendengar keramaian orang itu, bahkan dirinya seolah tidak dapat merasakan kehadiran Alana yang padahal terus berada di sampingnya dan sangat dekat dengan dirinya.
Berjam-jam telah berlalu, dan Nadia yang kini sudah berada di kamarnya hanya termenung membisu. Dia duduk dan bersandar di atas brankar itu dengan tatapan kosong. Tak hanya raut wajah cemas saja, namun rasa bersalah juga terlihat di paras dan kedua mata cantiknya. Dalam benaknya bahkan sampai berandai-andai, jikalau dirinya tidak mengizinkan Berlin untuk pergi menyelamatkan orang-orang panti asuhan. Mungkin saja sampai detik ini Berlin berada sangat dekat dengannya, bahkan dirinya dapat memeluk dan mendekapnya.
Namun ketika berandai-andai akan hal itu, tiba-tiba saja secara spontan kedua matanya melirik ke arah Alana yang duduk menemaninya tepat di sebuah kursi di sisi brankar. Jika dirinya tak mengizinkan pria itu, mungkin saja dirinya tidak dapat melihat sosok wanita bernama Alana yang sampai detik ini menemani dirinya.
Kleekk ...!!!
"Mama!!!"
Tiba-tiba saja Akira masuk melalui pintu, berteriak sembari berlari ke arah Nadia dengan raut wajah ceria seperti biasa. Nadia tersenyum tipis melihat sosok gadis kecil berusia empat tahun itu. Jikalau saat itu tak mengizinkan Berlin, mungkin dirinya tidak dapat melihat sosok Akira lagi.
"Akira sendirian?" tanya Alana langsung menyambut kedatangan gadis kecil itu.
Akira mengangguk dengan senyuman yang seolah tidak pudar, "iya! Akira tahu kamar mama di mana, dan Akira nggak mau repotin bunda. Jadi Akira ke sini sendirian aja, deh!"
"Mama, teman-teman Akira sepertinya kangen ingin bertemu dengan mama. Tadi Akira sempat main sama mereka, dan mereka bilang pengen ketemu sama mama. Tetapi bunda belum boleh izinin, katanya itu bisa ganggu mama istirahat."
Akira berceloteh sembari mendekat dan menggenggam salah satu tangan milik Nadia. Tatapannya yang berbinar-binar itu terus menatap ke arah wajah Nadia, sebelum kemudian ia pun bertanya, "mama kenapa sedih?"
Nadia tersenyum tipis dan menjawab, "mama nggak sedih, kok!" jawabnya sembari membelai lembut kepala dan rambut hitam lurus milik gadis kecil itu.
"Nanti kalau semuanya sudah membaik, kita main sama teman-teman Akira, ya? Akira mau, 'kan?!" lanjut Nadia, senyumannya yang terlihat sedikit dipaksakan itu masih terpampang jelas pada raut wajahnya.
"Mau!!" seru Akira.
Tingkah dan ekspresi Akira seolah menjadi sebuah obat tersendiri untuk hatinya yang gelisah tak karuan menanti kepulangan Berlin. "Berlin, aku tidak tahu apa saja yang terjadi di sana. Tetapi yang jelas, pulanglah dengan selamat ...!" batin hatinya.
.
__ADS_1
Bersambung.