Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Si Kecil #49


__ADS_3

Di suatu malam yang rasanya cukup panjang. Garwig berdiri dengan kedua tangan menjadi tumpuan diletakannya di atas sebuah meja. Di atas meja tersebut, terdapat banyak sekali lembaran-lembaran kertas yang berisikan berbagai dokumen serta laporan.


Empat bulan telah berlalu sejak terakhir Garwig melakukan pertemuan dengan Prawira dan Boni di kediamannya. Selama empat bulan ini, kelompok bernama Clone Nostra benar-benar sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.


Satu-satunya cara agar Garwig dapat terus mengetahui berbagai hal mengenai Clone Nostra adalah dari regu yang ia kirim ke pulau. Regu tersebut masih mendiami pulau, dan mencoba untuk terus menggali informasi-informasi penting mengenai Clone Nostra. Namun, sepertinya Clone Nostra tidak sebodoh itu.


Di tengah Garwig sedang memandangi beberapa kertas dan laporan di atas mejanya. Tiba-tiba saja dering telepon berbunyi melalui ponselnya. Ia duduk pada kursi pribadinya, dan kemudian menerima panggilan tersebut.


"Apakah sesulit itu?" Garwig berbicara dalam teleponnya.


"Baiklah, kalian jangan terlalu berambisi dalam mencari informasi tentang mereka," ucap Garwig.


Perbincangan itu berlangsung selama beberapa menit saja, dan kemudian Garwig mengakhiri panggilan tersebut.


Meskipun sangat sulit dalam mencari berbagai hal mengenai Clone Nostra. Tetapi selama empat bulan ini, Garwig telah berhasil mengantongi satu nama penting dari sindikat tersebut.


Ia mengambil sebuah kertas di antara banyaknya kertas di atas mejanya yang berisikan identitas dari seseorang.


"Tokyo El Claunius." Garwig membaca satu nama yang tertulis pada kertas tersebut, sebelum kemudian sedikit membaca keterangan mengenai seorang pria bernama Tokyo itu. Keterangan yang bisa dibaca sangatlah sedikit, karena sangat minimnya informasi yang ia miliki mengenai pria bernama Tokyo ini.


Garwig saja mendapatkan nama tersebut dari salah satu kelompok yang hampir selalu ia andalkan, yaitu Ashgard. Tepat beberapa hari sebelumnya. Berlin mengirim laporan berisikan identitas mengenai seorang pria bernama Tokyo ini.


Setelah melihat identitas singkat mengenai Tokyo El Claunius. Garwig berpindah pada kertas yang berisikan laporan mengenai aliansi yang dilakukan antar Clone Nostra dengan beberapa kelompok kejahatan kota. Lagi-lagi, laporan ini ia dapatkan dari Ashgard. Meskipun tentunya, dirinya mendapatkan beberapa laporan mengenai dugaan-dugaan aliansi dari beberapa aparatnya. Namun tampaknya Garwig tidak begitu percaya, dan lebih percaya jika Ashgard atau bahkan Berlin sendiri yang memberikan laporannya.


"Kira-kira ... apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Dan apa yang sebenarnya dijadikan target atau tujuan mereka?" Garwig bergumam dan bertanya-tanya dengan sendirinya. Kepalanya tertunduk dan tertopang di atas meja dengan kedua tangannya dalam keadaan menutupi wajahnya. Hembusan napas berat berkali-kali terdengar.


***


Di keesokan harinya, tepatnya pada pukul sebelas lewat lima belas menit siang. Berhubung hari ini adalah hari libur nasional, rumah sakit kota tampaknya sedang sibuk dengan banyaknya orang di sana. Beberapa ada yang memang bekerja di rumah sakit itu, dan beberapa datang untuk menjadi pasien.


Di hari ini, Berlin kelihatannya sedang disibukkan dengan hal yang cukup membuatnya antusias dan penasaran. Karena di hari ini, dirinya akan menemani Nadia yang akan memeriksakan kandungannya yang kini sudah memasuki usia empat bulan.


"Syukurlah, kondisi janin sehat, kondisi ibu juga sehat, dan semuanya baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Seorang dokter perempuan berbicara kepada Berlin yang duduk di sebelah Nadia yang tengah berbaring di atas sebuah brankar.


"Baik, sekarang kita coba sedikit intip calon bayinya, apakah laki-laki atau perempuan." Dokter itu mulai bersiap dengan sebuah alat bernama USG.

__ADS_1


Ketika perut milik Nadia yang sudah mulai sedikit tidak datar lagi itu diletakkan sebuah alat. Alat itu langsung memproyeksikan gambar di sebuah layar.


"Wah, sepertinya dia belum mau nunjukin jawabannya, nih," ucap dokter itu ketika melihat bayi di dalam janin tersebut melalui alat bernama USG itu.


Nadia tertawa kecil dan berkata, "dia masih malu-malu nih, dok," ucapnya sembari melihat wujud dari bayi yang ada di dalam perutnya. Bayi itu masih benar-benar sangat kecil, dan sepertinya tidak bisa berhenti bergerak.


"Sepertinya memang belum bisa dilihat sekarang, mungkin kita harus menunggu beberapa bulan ke depan."


"Tetapi sekarang, ibu dan bapak sudah bisa melihat perkembangan dan pergerakannya secara langsung."


Senyuman sama sekali tidak terhapus dari paras cantik Nadia yang sedari tadi tidak bisa melepaskan pandangannya pada layar USG. Hatinya merasa sangat tenang dan hangat ketika melihat bayi yang masih sangat kecil itu tidak henti-hentinya bergerak.


"Sayang, kamu diam aja dari tadi. Ada apa?" tanya Nadia memalingkan pandangannya sejenak untuk melihat ke arah Berlin yang duduk di dekatnya.


Berlin tampaknya terlalu serius untuk melihat layar USG tersebut. Sampai-sampai hanya bisa terdiam ketika melihat calon bayinya yang cukup aktif itu. Di sisi lain, ini adalah pengalaman pertamanya untuk dapat melihat hal ini.


Berlin tiba-tiba tersenyum dan berkata, "dia tidak bisa diam, ya?" lalu kemudian tertawa kecil dengan sendirinya. Pandangannya masih tidak bisa lepas melihat layar USG. Dirinya benar-benar dibuat terpana dengan pergerakan si kecil yang dapat ia lihat melalui layar tersebut.


1 jam kemudian.


Ketika mobil yang dikendarai berhenti di lampu merah. Satu tangan milik Berlin tiba-tiba saja mendarat dan mengelus perlahan perut milik wanita di sebelahnya.


Nadia hanya tersenyum dan membiarkan laki-lakinya asyik dengan perutnya. Sepertinya Berlin sangat sulit untuk lepas dari hal tersebut.


"Kamu lapar nggak?" tanya Berlin.


"Nanti di rumah saja kita makan siangnya, hitung-hitungan hemat dan sehat juga," jawab Nadia.


Lampu merah itu tak lama kemudian berubah menjadi hijau. Berlin harus melepas sentuhannya dari perut milik Nadia, dan kembali fokus untuk menyetir.


"Tadi sebelum kita pulang, dokter sempat bilang padamu untuk menyiapkan baju khusus ibu hamil. Emang seperti apa bajunya?" Di tengah perjalanan. Berlin menanyakan satu hal yang tidak begitu ia mengerti kepada istrinya.


"Kamu nggak tahu?" sahut Nadia menoleh dan menatap Berlin dengan penuh tanya.


Dengan polosnya Berlin menggelengkan kepala sembari berkata, "enggak."

__ADS_1


Jawaban dan sikap itu membuat gelak tawa tersendiri bagi Nadia yang melihatnya. "Sebentar," ia mengambil ponsel miliknya, dan memperlihatkan potret baju yang dimaksud kepada Berlin.


"Oh, seperti itu?" Berlin sempat menoleh untuk melihatnya, namun kembali memandang ke arah jalanan di depannya. "Lalu, kamu mau aku beliin sekarang?" lanjutnya kembali bertanya.


"Um ..., bukankah kamu sedang sibuk akhir-akhir ini? Jadi kita belinya saat akhir pekan saja," jawab Nadia tampak sedikit berpikir dan merasa sedikit tidak enak hati.


"Sekalian ... mungkin ... kita bisa sambil jalan-jalan ... berdua," lanjutnya dengan sedikit gugup ketika mengungkapkan keinginan hatinya.


"Bertiga, dong! Kamu jangan lupakan anak kita yang masih di dalam sini," Berlin langsung menyela dan kembali mengelus lembut perut milik Nadia ketika berbicara.


"Eh? Anak? I-iya juga, ya, hehe." Nadia benar-benar kikuk oleh perlakuan Berlin yang sedikit mengejutkan baginya. Meski mengejutkan, namun tetap saja dirinya tak menolaknya karena memang dirinya cukup menyukainya.


Berlin tersenyum mendengar dan melihat wajah wanitanya yang tampaknya mulai merona ketika berbicara hal itu. "Baiklah kalau begitu, besok Minggu saja, ya?" ucapnya dengan intonasi yang begitu lembut. Satu tangannya tiba-tiba saja berpindah ke atas kepala milik Nadia, dan perlahan mengusap kepala itu dengan begitu lembut.


"Berlin!" pekik Nadia tiba-tiba. Ia benar-benar tambah merona ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. Namun dirinya tetap tak bisa menolaknya, apalagi perlakuan Berlin yang seperti itu sudah menjadi salah satu kesukaannya ketika momen berdua.


***


Pukul 16:46 sore.


Pulau La Luna, taman belakang dari vila yang sangat besar nan mewah milik Tokyo dan Clone Nostra.


"Empat bulan sudah kita lalui, dan kita hanya bersembunyi dan diam selama empat bulan ini. Apakah kita akan terus begini? Dan sebenarnya kapan tanggal main mu, Tokyo?"


Nicolaus tampak sudah mulai perlahan kehabisan kesabarannya. Lantaran selama empat bulan ini dirinya hanya bisa berdiam diri tanpa membuat atau melakukan rencana-rencana jahatnya. Ditambah lagi sindikat bernama Clone Nostra itu juga menjadi sangat-sangat pasif sepanjang empat bulan ini.


Tokyo yang berdiri tepat di depannya dengan posisi membelakanginya mendengar perkataan Nicolaus. Dengan perlahan ia berbalik badan. Ekspresinya sangat datar nan dingin. Tatapannya tajam menatap luka bakar pada wajah bagian kanan milik Nicolaus.


Dengan satu telunjuk terangkat dan menunjuk tepat ke hadapan wajah Nicolaus. Tokyo berkata, "kau ... hanya perlu tenang dan sabar, karena ... aku sudah mengatur semuanya." Intonasi dan cara berbicaranya begitu dingin dan terkesan sangat kejam. Matanya juga sangat tajam menatap Nico, seolah-olah ia tidak akan segan untuk melukai atau bahkan membunuh siapapun yang menghalangi segala rencananya.


Nicolaus hanya bisa terdiam ketika mendapatkan sikap seperti itu. Tokyo benar-benar sangat menakutkan. Walaupun Nico sama sekali tidak menyimpan rasa takut itu terhadap Tokyo. Hanya saja ia terdiam karena memang tidak dapat membantah hal tersebut. Apalagi mengingat dirinya berada di ruang lingkup yang dikuasai oleh Clone Nostra. Mungkin ia akan mati jika membantahnya.


Setelah berbicara seperti itu. Tokyo langsung berjalan pergi begitu saja dengan masuk ke dalam vila, meninggalkan Nicolaus berdiri sendirian di taman itu.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2