Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Memanfaatkan Alam #79


__ADS_3

Perlahan namun pasti, Berlin dan rekan-rekannya semakin mendekati dinding perbatasan vila itu. Langkah mereka begitu hati-hati, karena kamera-kamera pengawas yang ada dapat mendeteksi pegerakan. Namun beruntungnya, mereka dibantu oleh angin malam yang cukup kencang. Bersamaan dengan geraknya semak-semak dan pepohonan akibat terpaan angin. Mereka terus bergerak dan semakin menuju ke lokasi yang dimaksud.


"Bos, lokasinya dijaga," cetus Aryo. Terlihat empat orang berpakaian rapi putih dengan senapan-senapan di tangan mereka.


"Kita bagi dua, dan sergap keempat penjaga itu dari belakang dalam waktu yang bersamaan! Sebisa mungkin jangan timbulkan suara," ucap Berlin kemudian segera beranjak lebih mendekati keempat penjaga yang ada di sana.


Dua orang rekannya bergerak ke arah lain dan mengambil titik buta dari dua penjaga lain. Sedangkan Berlin dan satu rekannya yaitu Asep juga mengambil titik buta dari dua penjaga lagi. Hanya empat orang dari Ashgard yang akan menyergap keempat penjaga yang ada di sana. Sedangkan sisanya mengambil beberapa posisi di dalam hutan untuk melakukan pemantauan dan mengantisipasi jika tiba-tiba datang penjaga yang lain.


"Kau siap?" bisik Berlin kepada Asep yang tepat di sampingnya. Dirinya bersembunyi bersama dengan Asep di dalam semak-semak tepat di belakang dua target penjaga yang akan ia habisi.


"Kapanpun kau mau," sahut Asep juga berbisik.


Mata Berlin kemudian tertuju ke arah rekan-rekannya yang ada di balik semak-semak seberangnya. Di depan mereka terdapat dua penjaga juga dengan senapan serbu di tangan mereka.


Melihat kedua rekannya itu sudah siap dan tinggal menunggu sinyal darinya. Berlin tidak ingin membuang waktu lama lagi. Ia pun memberikan sinyal dengan cara mengangguk ketika melihat ke arah dua rekannya itu. Di tangannya sudah terdapat sebuah pisau kecil yang siap untuk ia gunakan.


DRAPP!!!


"Hei --"


"Ughh ...!!"


Dalam sekejap, keempat penjaga itu langsung tumbang dalam keadaan tak bernyawa.


"Sep, cepat lakukan tugasmu!" pinta Berlin sembari membersihkan pisaunya dengan sehelai daun dari bercak darah.


"Siap, bos!"


Berlin membiarkan rekannya untuk melakukan tugasnya, sedangkan dirinya mempersiapkan senjata apinya untuk fase selanjutnya. Beberapa rekannya masih berjaga di beberapa titik guna mengantisipasi datangnya penjaga lain.


"Galang, bisakah kau ambilkan tang itu?" cetus Asep kepada rekannya sembari menunjuk sebuah tang yang tergelatak di dekat tubuh salah satu penjaga.


"Apa kau perlu bantuan membuka penutupnya?" tanya Galang ketika membawakan tang itu kepada rekannya.

__ADS_1


"Ah, peka juga ternyata," sahut Asep. Dirinya pun dibantu oleh rekannya untuk membuka kotak sumber listrik itu.


Di tengah sedang menunggu Asep selesai dengan tugasnya. Berlin menghampiri Mavi yang ikut sedari tadi untuk menunjukkan lokasi ini. Mavi terlihat terpaku setelah apa yang dilakukan oleh Berlin dan rekan-rekannya terhadap keempat penjaga yang sekarang sudah tergeletak tak bernyawa.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Berlin menyarungkan kembali pisau yang sudah ia bersihkan, dan menghampiri Mavi.


Mavi sedikit tercekat dengan Berlin yang tiba-tiba saja mendekati dirinya, "oh, y-ya, aku baik-baik saja," jawabnya.


Berlin dapat memahami adanya sedikit trauma dari kedua kata Mavi ketika melihat aksinya dan rekan-rekannya membunuh keempat penjaga itu.


"Tenanglah, Clone Nostra akan segera binasa dari pulau ini," ucapnya sembari menepuk salah satu pundak milik nelayan laki-laki.


"Apakah kau akan menyerang vila itu?" cetus Mavi bertanya.


Berlin sedikit menghela napas dan berjalan ke arah sebuah pohon di hutan itu dan kemudian bersandar di sana sembari menjawab pertanyaan Mavi.


"Kemungkinan itu terjadi sangatlah besar, atau bahkan sudah pasti terjadi, tergantung situasi dan kondisinya bagaimana nantinya," jawab Berlin.


Mavi menghampiri sebuah batu yang tak jauh dari pohon milik Berlin bersandar, dan kemudian duduk di atas sana. "Ada beberapa dari kami yang ditahan di sana," jawabnya.


"Ditahan? Maksudnya?" tanya Berlin.


Mavi melirik ke arah Berlin dan menjawab, "beberapa dari kami ada di dalam sana, mereka dijadikan sebagai budak di vila itu. Bahkan juga sampai ada yang diperjualbelikan," jawabnya dengan nada bicara yang begitu berat untuk berkata-kata.


"Ya, aku sudah tahu soal itu, memang seperti itulah kebiasaan Clone Nostra dari dahulu," sahut Berlin.


"Kau mengetahui soal mereka?" tanya Mavi.


Mendengar pertanyaan itu, Berlin cukup bingung harus bagaimana menjawabnya. Dirinya mengetahui beberapa hal soal Clone Nostra. Karena memang dari dahulu sepanjang perjalanan hidupnya di dunia kriminal, nama Clone Nostra selalu bersanding dengan Mafioso jika soal persaingan pasar gelap dan wilayah.


Berlin melipat kedua lengannya di atas dada sembari melirik ke arah Mavi dan kemudian menjawab, "mereka kelompok yang besar, wajar bagi kami mengetahui beberapa hal tentang mereka."


"Ngomong-ngomong, bolehkah aku tanya satu hal?" ucap Mavi dengan wajah cukup penasaran.

__ADS_1


Berlin mengangguk pelan memperbolehkan Mavi untuk bertanya, "Ashgard itu apa?"


Seketika Berlin terdiam mendengar pertanyaan itu. Mulutnya sangat sulit untuk memberikan jawaban dari pertanyaan itu, karena dirinya merasa tidak mungkin jika harus jujur terhadap orang baru saja ia temui.


"Bos, ada yang datang!" bisik Bobi terdengar melalui radio komunikasi yang Berlin kantongi.


"Semuanya langsung di posisi!" sahut Berlin dan kemudian langsung beranjak mengambil langkah sigap masuk ke dalam hutan. Begitu pula dengan Mavi yang mengikutinya.


Mendengar apa yang dikatakan Bobi, langsung membuat semua rekan-rekannya kecuali Asep dalam posisi siaga. Mereka langsung bersembunyi dan bersiap di balik gelapnya pepohonan serta semak belukar di hutan itu.


"Lima orang, baju putih dan bersenjata, dua orang terlihat hanya membawa pistol, sedangkan tiga orangnya membawa senapan serbu." Laporan dari Kent terdengar melalui radio.


"Bagaimana dengan aparat-aparat itu? Bukankah seharusnya mereka menjaga bagian luar?" cetus Adam beranjak mendekati Berlin di balik pepohonan.


"Jarak kita terlalu jauh dari jangkauan regu milik Prime, jadi wajar jika mereka tidak mengetahui adanya orang-orang Clone Nostra itu jalan ke sini," jawab Berlin.


"Mereka membawa senapan serbu, bos. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kimmy melalui radio komunikasi.


"Akan sulit jika kita melakukan penyergapan seperti yang kita lakukan terhadap empat penjaga sebelumnya, karena mereka dalam posisi bergerak dan siaga," kata Adam.


"Ya, dan jika kita menembak mereka, maka suara tembakan itu akan terdengar dan memancing lebih banyak dari mereka untuk datang menghabisi kita," timpal Mavi.


Berlin terdiam untuk berpikir. Risiko akan terlalu tinggi jika membuka tembakan sekarang. Meskipun dirinya tahu akan terjadi peperangan nantinya, tetapi terlalu awal jika harus membuka tembakan sekarang.


"Jika memang begitu, kita gunakan senjata tajam untuk menghabisi mereka," ucap Berlin kembali menarik pisau kecil miliknya dari sarung pisau itu.


"Kau yakin?" tanya Adam.


"Ya, posisikan beberapa rekan kita di balik semak-semak dekat dengan mereka, dan beberapa di atas pohon. Kita akan menyergap mereka tanpa harus menggunakan senjata api. Kita manfaatkan kondisi alam yang ada," ucap Berlin.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2