Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Fasilitas dan Jaminan #181


__ADS_3

"Bangunan ini juga seperti bangunan utama, tetap difasilitasi oleh sistem keamanan yang sama," ucap Garwig, membuka sebuah pintu berwarna abu-abu yang berukuran cukup besar.


Ketika pintu tersebut terbuka, Berlin langsung disambut oleh sebuah ruang tengah yang amat luas, mungkin akan muat lebih dari sepuluh orang. Bangunan tersebut juga memiliki dua lantai dengan kurang lebih terdapat sekitar lima kamar tidur yang luas, dan sudah terfasilitasi dengan kamar mandi di setiap kamar.


"Semua fasilitas di sini sudah lengkap dan sudah tersedia," ucap Garwig, berjalan perlahan menemani Berlin untuk berkeliling dan melihat-lihat setiap ruangan di bangunan kedua.


"Tidak ada masalah dengan semua fasilitas yang ada di sini, 'kan?" tanya Berlin, memastikan. Dan kemudian pertanyaan tersebut mendapat jawaban dari Garwig yang berkata, "tidak sama sekali, kalaupun ada masalah dan kerugian, kau bisa mengajukan perbaikan kepada pemerintah atau bisa langsung kepadaku."


Berlin terlihat sangat senang dengan semua fasilitas yang nantinya akan dimiliki serta dapat digunakan oleh Ashgard. Ia kembali berjalan di tengah rerumputan taman bersama dengan Garwig sembari memperbincangkan suatu hal.


"Selain semua fasilitas di tempat ini, berdasarkan undang-undang yang sudah tertulis di kota ini, kalian akan mendapat beberapa keuntungan seperti asuransi jiwa dan kematian, serta beberapa hal lainnya yang tentunya akan memastikan serta menjamin kehidupan kalian dan keluarga kalian." Garwig membicarakan hal tersebut sembari melangkah berjalan di antara hamparan rumput bertekstur lembut.


"Mengingat pekerjaan ini memiliki risiko yang sangat tinggi, dan cukup mempertaruhkan nyawa. Jadi kalian akan mendapat beberapa jaminan tersebut dari pemerintah," lanjut Garwig, sedikit menoleh dan melirik kepada Berlin yang berjalan tepat di sampingnya.


"Untuk tanda tangan kontrak, bagaimana?" tanya Berlin.


"Tentu aku tidak melupakan hal tersebut, dan kau dapat mengurusnya dengan Siska sore ini," jawab Garwig.


Langkah mereka berdua terus semakin ke arah belakang pekarangan, dan menuju ke sebuah lapangan tembak yang dapat terlihat dari kejauhan. Melihat lapangan tembak itu, Garwig pun berkata, "sama seperti di kediaman keluarga kita, kalian juga dapat terus melatih keahlian menembak di lapangan itu," ucapnya menghentikan langkahnya.


"Jujur saja, semua fasilitas ini sangat mengesankan bagi kami," cetus Berlin dengan intonasi rendah.

__ADS_1


Garwig menoleh dan menatap lelaki yang saat ini berdiri dengan tongkatnya tepat di sebelahnya sebelum kemudian berkata, "kalian akan memegang peran yang penting, dan pantas mendapatkan semua fasilitas serta jaminan yang ku berikan."


Lima belas menit berlalu, dan selama lima belas menit itu Berlin masih terus berkeliling bersama dengan Garwig. Beberapa kali ia bertemu dan berpapasan dengan rekan-rekannya yang juga melakukan hal yang sama. Namun langkahnya akhirnya berujung ke lantai dua bangunan utama, di depan dari sebuah ruang kerja yang sepertinya ruangan tersebut akan menjadi ruangan miliknya.


Garwig membuka pintu berwarna abu-abu ruangan itu sembari berkata, "ini adalah ruang atasan, yang nantinya bisa menjadi ruang kerja atau ruang pribadimu, tergantung seperti apa kebutuhan."


Ruangan tersebut cukup luas, terdapat sebuah meja dan kursi kerja yang berukurang cukup besar. Di belakang kursi terdapat sebuah rak buku dan sebuah lemari penyimpanan. Sedangkan di sudut ruangan dekat dengan pintu masuk terdapat sebuah sofa panjang berwarna putih dengan sebuah meja kaca yang tidak terlalu panjang. Suhu di ruangan itu juga dapat diatur sesuka hati.


"Selain tugas lapangan, sepertinya kau akan tetap membutuhkan ruangan ini untuk mengerjakan beberapa kertas dokumen nantinya," ucap Garwig, melangkah masuk ke ruangan itu bersama dengan Berlin.


Mendengar hal tersebut, Berlin menghela napas berat dan berkata, "baiklah ...!"


"Selain ruangan ini, ada satu ruangan yang sepertinya akan cocok dengan salah satu rekanmu." Garwig kembali beranjak keluar ruangan tersebut, diikuti oleh Berlin, dan menuju ke sebuah ruangan yang jaraknya tidak jauh dari ruang kerja tersebut.


Garwig menghentikan langkahnya dan menjawab, "ya, kurang lebih seperti itu, lihat saja sendiri." Tanpa basa-basi ia membuka pintu yang terkunci itu, dan membiarkan Berlin masuk untuk melihat.


"Kau tidak bercanda soal semua ini, 'kan?"


Berlin tertegun kagum, melihat banyak sekali layar monitor lebar yang tertempel di dinding ruangan itu, serta beberapa perangkat keras komputer yang tersedia di ruangan itu.


Garwig terkekeh dan menjawab, "tentu saja tidak."

__ADS_1


"Ruangan ini pernah digunakan oleh kandidat sebelumnya sebagai pusat komunikasi dan pemantauan. Semua yang ada di kota bisa terlihat melalui layar-layar ini, jika memang kalian bisa mengoperasikannya dengan baik," lanjut Garwig, sedikit memberikan kejelasan soal kegunaan ruangan tersebut yang bisa dibilang sebagai ruang komputer.


Berlin spontan mengambil sebuah radio dari dalam saku bajunya, menekan tombol bicara dan kemudian berkata, "Sep, bisakah kau ke lantai dua?"


"Oh, ba-baik, bos!" terdengar jawaban dari Asep melalui radio komunikasi itu.


Tak membutuhkan waktu lama, Asep selesai menaiki undakan tangga dan perlahan sampai di tempat Berlin dan Garwig. Sesampainya di sana, laki-laki itu langsung terfokuskan kepada perangkat komputer yang ada di ruangan itu. Tatapannya kagum, dan ekspresi penuh dengan antusias.


"Wow! Aku tidak sedang bermimpi 'kan, Bos?!" cetus Asep, namun dengan pandangan melirik-lirik setiap layar dan perangkat keras itu dengan tatapan antusias.


Berlin membiarkan lelaki itu melihat-lihat setiap perangkat yang ada di dalam ruangan tersebut. Dirinya melirik kepada Garwig yang berdiri tepat di sampingnya, dan kemudian menanggapi ucapannya sebelumnya dengan berkata, "tentu kami dapat mengoperasikan semua perangkat ini, ada yang dapat diandalkan di antara kami," ucapnya, pandangannya kemudian kembali tertuju kepada Asep yang duduk di sebuah kursi santai, dan tampak cukup antusias ketika memegang sebuah keyboard dan mouse komputer yang ada di atas mejanya.


Garwig terkekeh, kemudian mengatakan, "kurasa memang dia orang yang tepat," ucapnya.


"Bos, aku boleh mengoperasikannya, 'kan?!" seru Asep, menoleh ke belakang, menatap Berlin dan Garwig yang berdiri di ambang pintu masuk ruangan tersebut.


"Tentu saja! Lagipula sepertinya ini akan menjadi ruang kerjamu," sahut Berlin, tersenyum.


Asep pun kemudian asyik sendiri, menyalakan dan mulai mengoperasikan perangkat-perangkat yang ada di mejanya. Satu-persatu layar monitor yang ada menyala, beberapa menampilkan gambar atau rekaman yang diambil dari banyak kamera pengawas yang terpasang di beberapa titik dan sudut penting di area pekarangan markas tersebut.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2