
Menjelang malam hari, masih di hari penutup pekan. Garwig tampak tengah mengadakan pertemuan dengan petinggi kepolisian yakni Prawira, dan juga dihadiri oleh beberapa perwira tertinggi kepolisian. Pertemuan itu dilakukan di kediaman pribadinya, dan membahas beberapa rencana soal pengamanan yang nantinya akan dijalankan guna mengawal jalannya pengadilan terdakwa Tokyo El Claunius serta beberapa anteknya.
Pengadilan tersebut akan dilaksanakan beberapa hari kemudian, dengan segala persiapan yang sebenarnya sudah seratus persen. Prawira sebenarnya sudah memilih strategi atau rencana untuk pengamanan pengadilan itu, semuanya ia persiapkan sesuai dengan prosedur yang dimiliki oleh pihak kepolisian. Namun sepertinya, prosedur itu tidak cukup untuk membuat Garwig puas. Apalagi mengingat siapa tersangka yang akan diadili bukankah orang biasa.
"Apa yang membuatmu ingin sedikit merubah dan menambah pengamanan yang sudah ada? Apakah ada yang sedang mengganggu dirimu akhir-akhir ini?" tanya Prawira, duduk di sofa panjang ruang tamu, bersama dengan tiga orang perwiranya yakni Flix, Prime, dan James.
"Aku hanya mewaspadai beberapa skenario buruk yang memiliki kemungkinan itu bisa saja terjadi, apalagi masih banyak dari Clone Nostra yang melarikan diri dari lokasi kejadian waktu itu." Garwig menghela napas berat, menjawab pertanyaan dari Prawira.
"Jadi kau berpikir ... mereka yang berhasil lolos memiliki rencana untuk mengacaukan persidangan itu?" sahut Prawira, seperti langsung paham dan menangkap apa yang tengah dipikirkan oleh Garwig.
Garwig yang duduk bersebrangan dengan Prawira, menatap serius petinggi kepolisian itu dan kemudian berkata, "tidak ada yang tahu, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti."
"Baik, pengamanan akan dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah ada. Apakah kau ingin menambahkannya? Atau memberikan saran?" ucap Prawira, menanggapi keresahan Garwig, dan memberikan pria itu kesempatan untuk menyampaikan ide atau sarannya.
"Jelaskan kepadaku seperti apa pengamanan itu!" sahut Garwig, berlagak tidak tahu yang sebenarnya dirinya tahu.
Prawira pun menoleh kepada Prime yang duduk di sebelahnya dengan sebuah tas di punggungnya. Prime melepaskan tas ransel tersebut, meraih sebuah peta yang ada di dalam sana, dan membentangkan peta tersebut tepat di atas meja. Peta yang dibawa adalah peta yang menggambarkan struktur Kota Metro, dan di peta itu juga dapat terlihat di mana letak gedung pengadilan berada.
"Kami melakukan pengamanan tiga lapis. Garis paling luar yakni perimeter ketiga yang berjarak lima blok dari Gedung Pengadilan, garis kedua atau perimeter kedua berjarak tiga blok dari Gedung Pengadilan." Prawira berbicara sembari menunjuk beberapa titik lokasi yang ada di peta tersebut.
__ADS_1
"Dan perimeter terakhir, adalah perimeter yang nantinya akan berada sangat-sangat dekat dengan Gedung Pengadilan," lanjut Prawira.
"Untuk anggotanya, apakah kau sudah membaginya?" cetus Garwig dengan intonasi seolah ingin memastikan.
Prawira mengangguk dan menjawab, "sudah, semuanya sudah terbagi. Perimeter tiga akan dijaga oleh pihak kepolisian divisi polantas, karena dapat dipastikan akan terjadi penutupan serta perubahan arus lalu lintas."
"Komando perimeter tiga akan berada di tangan James," ucap Prawira, menoleh kepada James. Setelah itu, Prawira kembali menjelaskan soal pengamanan yang akan diterapkan.
"Perimeter kedua akan dijaga oleh kepolisian divisi sabhara. Sedangkan perimeter pertama akan dijaga oleh divisi taktis yang dimiliki kepolisian, dan akan dikomandoi oleh Prime." Prawira melanjutkan jawabannya yang belum selesai.
"Bagaimana untuk pantauan udara?" cetus Garwig.
"Siapa pilot dan co-pilot nya?" sahut Garwig, kembali bertanya.
"Salah satu pilot dan co-pilot terbaik yang kami miliki, mereka adalah Calvin dan Dhito," jawab Prawira, meraih dua buah data profil dari dalam tas milik Prime, dua buah profil itu adalah profil milik kedua orang yang disebutkannya yakni Calvin dan Dhito.
Pada lampiran data yang berisikan profil dari kedua orang yang disebutkan. Garwig tampak beberapa kali mengangguk pelan saat membacanya, dan kemudian berkata, "baik, sepertinya mereka bisa diandalkan."
"Namun, bisakah aku bisa menambahkan sedikit personel?" lanjut Garwig, bersandar santai pada sofa miliknya.
__ADS_1
"Tentu saja, dan aku ingin tetap kita bisa bekerjasama di lapangan," jawab Prawira, tersenyum, dengan senang hati.
"Tunggu, maaf bertanya, pak. Apakah anda akan hadir di sana saat persidangan?" dengan sopan, Prime menyela dan melemparkan pertanyaan tersebut kepada Garwig.
Garwig mengangguk pelan dan menjawab, "ya, aku ingin melihat bagaimana persidangan itu berlangsung," jawabnya dengan intonasi datar.
Mendengar jawaban tersebut, Prawira memasang wajah curiga. Tatapannya tajam kepada Garwig, dengan satu alis sedikit terangkat, sebelum akhirnya ia melemparkan sebuah pertanyaan yakni, "tunggu ...! Apakah personel tambahan yang kau maksud adalah ... Divisi Khusus?"
"Tenang saja, bukan mereka, kok! Ya, walaupun ... sepertinya mereka akan mendapatkan tugas pertama mereka untuk hari itu," jawab Garwig.
Mendengar kalimat terakhir tang dikatakan oleh Garwig. Prawira hanya menghela napas, bersandar, dan berkata, "ya sudahlah, lagipula itu bagus untuk kita dapat melihat bagaimana performa mereka, dan bagus untuk mereka mendapatkan pengalaman pertama dalam bertugas."
Garwig tertawa kecil, apalagi ketika melihat raut wajah yang menyimpan sedikit rasa khawatir yang ditunjukkan oleh Prawira. Dirinya pun berkata, "tenang saja, kau jangan terlalu mengkhawatirkan soal bocah laki-laki itu. Dia sudah dewasa, Prawira."
"Ditambah dia memiliki rekan-rekan yang solid. Jadi kurasa dia akan baik-baik saja," lanjut Garwig, menyunggingkan senyuman tipisnya.
.
Bersambung.
__ADS_1