Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Rencana Dadakan #35


__ADS_3

Melihat langsung orang-orang yang mengepung dan menyudutkan kedua rekan wanitanya. Membuat Berlin langsung mengetahui identitas kelompok itu. Ya, seperti yang sudah ia sebutkan dengan sendirinya. Orang-orang berjaket ungu itu bernaung di bawah nama Cassano.


Sepengetahuan Berlin, Cassano adalah kelompok baru. Belum begitu banyak catatan kejahatan yang tercipta oleh kelompok itu. Dengan begitu, pengetahuan tentang Cassano belum begitu banyak diketahui.


"Sudah siap?" tanya Berlin berada di bangku penumpang tepat di samping Adam yang akan menyetir.


"Kapanpun perintahmu, Bos!" sahut Adam.


Keduanya terlihat sudah siap untuk mendatangi orang-orang berjaket ungu itu, dan membawa pulang kembali kedua rekannya yang masih terpojok di sana. Tak hanya mereka berdua yang siap. Tetapi seluruh rekannya juga tampaknya sudah sangat siap. Beberapa posisi tertinggi di atas beberapa gudang dan pabrik yang ada di sekitar telah terisi. Mereka siap menunggu dan menanti arahan Berlin selanjutnya.


Waktu menunjukkan tepat pada pukul tujuh lewat dua puluh lima menit malam. Sesuai dengan yang sudah direncakan oleh Berlin. Ia dan rekan-rekannya sudah bersiap untuk bergerak.


Namun di waktu yang sama. Tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Ketika ia melihat siapa yang menelpon dirinya. Kontak itu menunjukkan bahwa panggilan itu berasal dari Kimmy.


"Tahan sebentar! Kimmy menelepon." Berlin pun mengangkat telepon tersebut. Rekan-rekannya harus dibuat menunggu terlebih dahulu.


"Selamat malam, Tuan Muda Berlin."


Terdengar suara dari seorang pria melalui kontak milik Kimmy. Berlin cukup dibuat terkejut, lantaran dirinya sangat tidak asing dengan suara ini. Ia merasa pernah mendengar suara pria yang ada di teleponnya, namun lupa di mana ia mendengarnya.


"Apa yang kau inginkan?" sahut Berlin langsung bertanya pada poin terpentingnya.


Pria itu terkekeh mendengar pertanyaan yang langsung dilayangkan padanya. "Kau membuatku terkejut, Berlin. Ternyata kau sudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Tetapi kurasa sudah sewajarnya kau sudah mengetahui apa yang sedang terjadi."


Berlin hanya diam. Yang ia inginkan hanyalah tujuan serta permintaan sebenarnya dari pria itu. Dan juga alasan mengapa pria itu bersama kelompok begitu mengejar kedua rekan wanitanya hingga tersudut di dermaga.


"Tenang saja, Berlin. Aku tidak akan membuat kedua wanita yang ada di sini terbunuh. Itupun jika kau datang ke dermaga ini dalam keadaan sendirian."

__ADS_1


Pria itu hanya menyebutkan keinginannya tanpa spesifik. Berlin bingung apa tujuan dari pria itu memintanya datang sendiri ke sana. Namun yang hanya dipikirannya adalah keselamatan kedua rekannya, yang saat ini masih berlutut dalam keadaan terancam di ujung dermaga itu.


***


"Haha! Akhirnya, datang juga Tuan Muda kita."


Berlin memberhentikan mobilnya di tepi dermaga. Ia datang hanya seorang diri. Tanpa ditemani rekan-rekannya, dan tanpa bersenjata. Ketika sampai di sana, dirinya langsung disambut oleh pria yang identitasnya telah ia ketahui. Ya, pria itu adalah Kibo. Berlin mengetahui siapa sebenarnya pria itu.


Kibo Gates Matrix, dia adalah mantan Jenderal Kepolisian pada masanya. Satu angkatan dan sempat memiliki kedudukan tepat di bawah Bagas Gates Lacartus, yang sosoknya telah tewas dalam kekacauan yang disebabkan oleh Mafioso kala itu.


Terdapat marga "Gates" di dalam nama lengkap Kibo? Ya, Berlin mengetahuinya. Dirinya tahu bahwa pria yang kini ada di hadapannya adalah salah satu dari anggota keluarga besarnya. Namun, itu sebelum dia memiliki atau menambahkan marga "Matrix" pada nama panjangnya. Setelah memiliki atau menambahkan marga baru itu, Kibo telah dicap keluar dari marga keluarga besar Gates sejak lama.


Kibo menjadi salah satu buronan yang dicari, karena perannya dalam Mafioso adalah berperan sebagai tangan kanan Nicolaus Matrix. Buronan itu kini ada di hadapan Berlin. Tak hanya sendiri, buronan itu berdiri bersama rekan-rekannya yang berjumlah lebih dari sepuluh orang, dan mereka semua bersenjata serta bernaung di bawah dari sebuah nama kelompok yang baru yaitu Cassano.


"Berlin ...," lirih Kimmy menatap berkaca-kaca kedatangan Berlin di sana. Hatinya merasa lega, karena sudah pasti Berlin tidak sendirian. Namun juga bercampur dengan rasa khawatir, karena Berlin hanya muncul seorang diri.


Kibo tersenyum licik. Ia menjawab, "ada yang ingin berbicara denganmu, Berlin."


"Sekarang aku sudah ada di sini. Apa yang ingin dibicarakan?" sahut langsung Berlin kembali bertanya tanpa memberikan jeda. Nada bicara dan sikapnya terlihat begitu menantang. Hal itu membuat orang-orang berjaket ungu itu terlihat geram.


Kibo diam dan sedikit terkekeh sejenak. Ia melipat kedua lengannya di dada, kemudian menatap tajam Berlin seraya berkata, "sayang sekali bukan aku yang akan berbicara, aku hanya dibayar untuk melakukan ini."


Tentu tatapan tajam dan tawa kecil itu memiliki arti dan maksud di baliknya. Kibo melirik ke kanan dan kiri melihat rekan-rekannya, kemudian seperti memberikan kode kepada mereka untuk maju ke arah Berlin.


Orang-orang itu langsung mendekati Berlin seraya menodongkan senjata api mereka dengan maksud mengancam. "Ikut kami!" titah mereka tegas kepada Berlin.


Ancaman itu tampaknya tidak membuat Berlin gentar. Ia tetap mematung di sana, dan berkata dengan tegasnya, "lepaskan mereka berdua terlebih dahulu! Jika tidak, aku tidak akan ikut bersama kalian," ucapnya tanpa ragu. Tentu hal ini membuat Kibo dan rekan-rekannya geram. Namun Kibo berpikir apa yang dikatakan Berlin ada benarnya. Dirinya sudah tidak membutuhkan dua wanita itu lagi.

__ADS_1


Kimmy dan Kina pun langsung diusir olehnya pergi dari dermaga itu. Sedangkan Berlin langsung diikat kedua tangannya ke belakang, dan kemudian digiring masuk ke dalam sebuah mobil van berwarna putih yang terparkir tak jauh dari sana.


"A-apa yang dia lakukan?" Kina mengerutkan keningnya. Dirinya bingung disertai panik dengan apa yang dilakukan Berlin. Begitu pula dengan Kimmy yang tampak sangat cemas ketika Berlin dibawa pergi oleh orang-orang jahat itu.


"Berlin, apa yang kau rencanakan?" gumam Kimmy menatap cemas dan gelisah ketika mobil van itu pergi dari kawasan dermaga, bersama dengan Berlin di dalamnya dalam posisi menjadi tawanan.


Di saat yang bersamaan, terdengar deru mesin yang ternyata berasal dari sebuah motor yang dikendarai Asep. Asep mendekati dua rekan wanitanya seraya memberikan radio kepada mereka.


"Tenang saja, ini bagian dari rencananya." Apa yang dikatakan Asep membuat hati Kimmy dan Kina merasa sedikit lebih tenang.


Satu motor lagi melaju dan berhenti tepat di samping motor Asep. Ia adalah Bobi. "Teman-teman sudah mengikuti mobil van itu. Ayo! Kita tidak boleh tertinggal!" ucapnya.


Kimmy pun segera naik membonceng Asep, sedangkan Kina bersama Bobi. Mereka pun segera bergegas dari dermaga itu untuk mengikuti ke mana mobil van itu membawa Berlin.


"Semoga saja ini sesuai rencana, jika tidak ... akan berbahaya untuk Berlin," gumam Asep sambil melajukan kendaraan bermotornya. Ucapannya tentu membuat hati Kimmy sangat gelisah.


***


Pada pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit malam. Kawasan Tenggara kota yakni deretan pelabuhan. Terdapat beberapa anggota polisi yang siaga, dan beberapa tim khusus. Mereka menerima dan mengikuti arahan serta perintah langsung dari atasan tertinggi, yaitu Garwig.


Setelah mengetahui dan menerima kabar yang tidak mengenakkan dari Berlin di saat berada di Balaikota. Tentu Garwig tidak bisa diam diri saja. Dirinya langsung mencoba berusaha untuk membantu Berlin sebisa mungkin.


Kini kawasan Tenggara telah ditutup semua akses keluar masuknya tanpa diketahui oleh orang-orang berjaket ungu. Tentu Garwig sudah mengetahui siapa lawan yang akan dihadapinya saat ini. Dengan rencana dadakannya bersama Berlin yang disusun dan dikirim melalui pesan singkat dari ponselnya. Semua anggotanya tampak sudah sangat siap untuk menjalankan rencana itu.


Rencana tersebut langsung tercetus dari Berlin sendiri. Meskipun rencana itu terbilang dadakan, dan hanya melalui pesan chat. Tetapi Garwig mempercayai apa keputusan yang diambil oleh Berlin, dan dirinya akan membantu sebisa mungkin.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2