Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Sudut Kota #19


__ADS_3

Pukul 15:00 sore.


"Perkelahian antar kelompok?"


Prawira menerima laporan soal perkelahian yang terjadi. Lokasi kejadian itu terletak di wilayah tenggara kota dan sangat dekat dengan pelabuhan kargo yang ada di sana. Netty sekertarisnya memberikan beberapa bukti yang diperoleh dari saksi mata, dan kamera pengawas lalu lintas setempat yang sempat menangkap kejadian perkelahian antar kelompok itu.


"Jas putih," gumam Prawira lalu menghela napas setelah melihat beberapa potret yang ditankap melalui kamera pengawas. Atribut serba putih itu sudah tidak asing lagi baginya, dan dirinya langsung berasumsi kalau perkelahian itu didalangi oleh Clone Nostra.


"Situasi saat ini di lokasi sudah terkendali, dan banyak korban tewas dari orang-orang berjaket coklat. Namun terdapat satu korban yang selamat, dan sekarang dia menjalani perawatan di rumah sakit," ucap Netty berdiri di depan meja milik Prawira dengan membawa buku catatan yang berada di dekapannya.


"Bagaimana dengan orang-orang berjas putih ini?" tanya Prawira.


"Tepat pada saat anggota sampai ke lokasi, mereka sudah meninggalkan lokasi dengan sangat cepat," jawab Netty.


Prawira tampak bersandar pada kursinya dan lalu berkata, "perdalam korban yang selamat dan ambil informasi penting darinya!"


"Baik, tentu itu akan kami lakukan setelah kondisinya membaik," jawab Netty menundukkan kepalanya.


***


"Sore-sore begini udah pada perang aja tuh dua kelompok," celetuk Asep.


Berita soal peperangan atau perkelahian antar kelompok itu juga sampai ke telinga Ashgard. Berlin tidak begitu terkejut ketika pertama mendengar berita soal itu, karena peperangan atau perkelahian antar kelompok adalah hal yang wajar baginya, dan sudah menjadi makanan sehari-hari Ashgard beberapa tahun yang lalu.


Namun setelah melihat dua kelompok yang terlibat, Berlin jadi merasa curiga. Rekaman yang ditangkap oleh kamera pengawas disiarkan di media, dan detik-detik terjadinya perkelahian itu dapat disaksikan oleh semua orang termasuk Berlin.


Berlin dibuat terkejut dengan seorang pria yang sangat tampak ia mengendalikan orang-orang berjas putih lainnya. Matanya merasa sangat tidak asing dengan pria itu ditambah lagi terdapat bekas luka bakar pada wajah bagian kanannya. Meskipun wajah pria itu tidak terlihat jelas, tetapi Berlin tidak asing dengan luka bakar itu.


"Apakah mungkin itu adalah dia ...?"


"Ada apa, bos?" cetus Kimmy memecah lamunannya.


"Bos dari tadi melamun mulu, dah?" ucap Kina dan beberapa rekan lainnya yang menatap aneh dirinya karena lebih banyak diam.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya berspekulasi soal berita perkelahian antar kelompok ini," jawab Berlin.


"Lebih baik kalian bersiap-siap, malam ini kita akan jalan-jalan," ucap Berlin kemudian beranjak pergi dari sana menuju ke ruangannya di lantai dua.


Rekan-rekannya hanya menatap bingung dengan sikap Berlin seperti itu, namun mereka terlihat sangat senang. "Oke, bos!" jawab semua rekan yang ada di sana.


***


Pada pukul tujuh malam. Berlin dan rekan-rekannya tampak sudah sangat siap untuk pergi dengan kendaraan mereka masing-masing. Tidak lupa juga mereka membawa pistol yang mereka simpan di balik saku dan jaket Ashgard yang digunakan.

__ADS_1


"Sudah lama sekali kita tidak jalan," cetus Bobi terlihat sangat bersemangat. Ia tampak sangat siap dengan kendaraan bermotornya.


"Apakah membutuhkan mobil lagi, bos?" tanya Faris kepada Berlin yang berada di dalam sebuah mobil yang cukup besar.


"Sepertinya kita membutuhkan satu lagi, dan dua orang di dalamnya, sisanya pakai saja motor kalian!" jawab Berlin melalui jendela kaca mobilnya yang terbuka.


"Aku aja, bos. Biarkan aku sama Sasha yang ada di mobil kedua," sela Adam mengajukan diri. Berlin pun memperbolehkan Adam dan Sasha untuk berada mobil kedua.


Dua mobil dan lima motor terlihat sudah siap di depan markas Ashgard. Rekan-rekannya juga tampak sudah sangat tidak sabar untuk turun ke jalan. Mereka akan bergerak sesuai dengan arahan dan perintah yang diberikan oleh Berlin.


"Baik dengarkan, semuanya! Malam ini kita akan turun ke jalan dan menyambangi suatu wilayah di sudut kota, tetap waspada terhadap kelompok lain. Perintah dan arahan kalian ada tangan Faris, jadi hormati segala perintah dan arahannya!"


Ketika Berlin berbicara demikian. Faris langsung terkejut, begitu pula dengan semua rekannya. Ia dibuat kikuk dan berdebar ketika mendengar tanggung jawab sebesar itu ada di tangannya.


"Bos, yang benar aja, jangan bercanda!" sahut Faris mendekatkan motornya di samping mobil milik Berlin.


"Aku tidak bercanda," jawab Berlin dari dalam mobil melalui jendelanya yang terbuka.


"Berlin, apa kau yakin?" tanya Kimmy yang duduk di samping Berlin yang berada di kursi kemudi.


Berlin hanya mengangguk menjawab, "Iya."


"Ayo jalan, tunggu apa lagi? Faris, berikan arahan mu!" ucap Berlin melihat ke arah Faris dengan tatapan serius.


"Ba-baik, se-sekarang ... a-ayo jalan!" Faris memberikan arahan pertamanya melalui radio komunikasi dengan gugup dan terbata-bata.


"Faris, bagaimana dengan formasinya?" tanya Berlin melalui radio dan mulai melajukan mobilnya.


Dengan sedikit gelagapan Faris menjawab, "sa-satu mobil paling depan diikuti oleh unit motor, dan satu mobil kedua di paling terakhir."


"Mobil siapa yang kau inginkan untuk mengambil posisi tersebut?" tanya Berlin kembali.


"Um, Adam silakan di depan, la-lalu Bos Berlin di belakang," jawab Faris. Ia terlihat sangat grogi dan gugup ketika mencoba untuk memimpin teman-temannya karena ini adalah pertama kali baginya.


Meskipun sedikit merasa ragu, namun rekan-rekannya langsung mengikuti arahan tersebut. Begitupun dengan Berlin yang juga mengikuti arahan Faris. Di sisi lain timbul pertanyaan pada benak Kimmy.


"Bos, mengapa kau kepikiran hal ini?" tanya Kimmy.


Berlin sedikit melirik ke arah Kimmy di sampingnya seraya tersenyum tipis lalu menjawab, "aku hanya ingin sedikit beristirahat saja."


***


Pukul 19:47 malam.

__ADS_1


Ashgard memasuki suatu wilayah yang letaknya sangat berada di sudut kota. Wilayah ini masuk di antara Distrik Barat dan Distrik Selatan kota, yang berarti berada di antara Wilayah Komersial dan Wilayah Industrial.


Jalanan di wilayah tersebut tampaknya sangatlah sepi meskipun belum memasuki jam malam atau tengah malam. Hanya ada rombongan Berlin dan rekan-rekannya saja yang melewati jalanan yang ada di sana.


"Berlin, aku tidak suka suasana di sini," ujar Kimmy seraya melihat ke sekeliling melalui jendela mobil.


"Ini wilayah sepi amat, dah?" celetuk Aryo seraya terus melajukan motornya mengikuti mobil paling depan.


"Gimana mau ramai, suasananya aja mencekam begini," sahut Salva yang berada di boncengan Aryo.


"Bob," gumam Kina yang berada di boncengan Bobi dan mempererat pegangannya pada pinggang milik laki-laki itu. Pandangannya terus saja melirik ke sana ke mari dengan sangat waspada.


"Kenapa? Kau takut?" sahut Bobi seraya terus mengendarai motornya.


"Rony, aku takut," cetus Vhalen yang berboncengan dengan Rony seraya memeluk erat pinggang milik lelaki tersebut.


"Jangan terlalu kencang meluknya, aku sambil berkendara, loh!" sahut Rony.


"Oi, kalian pacarannya bisa dilanjut nanti aja, nggak?" cetus Asep menyela rekan-rekannya, sedangkan Kent yang berada di boncengannya tertawa menyaksikan apa yang terjadi.


"Ingat, ya! Jangan sampai urusan pribadi kalian merusak kelompok!" Berlin pun mengingatkan rekan-rekannya yang berkendara menggunakan motor di depan mobilnya.


"Baik, bos!" sahut rekan-rekannya.


Berlin dan rekan-rekannya melajukan kendaraan mereka perlahan seraya melihat ke sekeliling mereka. Wilayah tersebut benar-benar memiliki nuansa yang kelam.


Di tengah perjalanan mereka, tiba-tiba saja Berlin merasa kalau dirinya sedang dipantau oleh sepasang mata. Bahkan dirinya merasa tidak hanya sepasang mata saja yang melihat ke arahnya dari kejauhan, melainkan cukup banyak mata yang melihat ke arahnya.


"Bos, bagaimana? Apakah kau ada saran?" tanya Faris melalui radio komunikasi. Ia tampak cukup bingung untuk memberikan sebuah keputusan.


"Berlin, kurasa kita harus pergi dari sini," timpal Adam melalui radio komunikasi.


"Kau mendengar apa yang dikatakan Adam 'kan, Faris?" sahut Berlin.


"Ba-baik, bos." Faris pun mulai memberikan arahan untuk rekan-rekannya agar keluar dari wilayah tersebut, namun masih dalam formasi dan rombongan yang sama. Berlin juga menyarankan agar tidak terpisah dan terus berdekatan.


"Ashgard, ya? Pas sekali mereka ada di sini." Dari atap salah satu bangunan yang ada di sana, terdapat seorang pria menatap tajam rombongan Ashgard yang berjalan melintas jalanan di wilayah tersebut. Wajah pria tersebut tidak terlihat karena tertutup oleh tudung pada hoodie putih yang ia pakai.


"Jangan biarkan mereka lolos!" pintanya kepada seorang rekan yang mengenakan pakaian yang sama dengannya. Ia pun membuka tudung hoodienya dan terlihat bekas luka bakar yang terukir pada wajah bagian kanannya. Matanya yang hitam menatap tajam ke arah rombongan Ashgard itu dengan tatapan penuh rasa dendam.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2