
Satu pekan kemudian, tepatnya pada akhir pekan. Siang hari yang tidak terlalu cerah, bahkan awan menunjukan warna abu-abu yang sedikit gelap namun belum sampai menumpahkan airnya. Angin berhembus cukup kencang, dan menerpa Pulau La Luna ke seluruh bagian wilayahnya. Pepohonan di hutan tropis yang kecil pada pulau itu menari-nari tanpa henti karena diterpa terus oleh angin.
Nicolaus tampak sedang merenung, berdiri di atas pasir putih dan menghadap deru ombak yang cukup besar di sana. Di dekat pantai itu terdapat sebuah dermaga yang bertuliskan "West Entrance, La Luna Island". Itu adalah dermaga utama yang dijadikan pintu masuk pulau untuk para pendatang atau wisatawan.
Namun di siang hari yang mendung ini. Tidak terlihat sama sekali adanya turis atau wisatawan yang berdatangan. Biasanya Pulau La Luna hampir setiap harinya dikunjungi oleh pendatang yang berlibur di pulau. Namun di hari ini, Pulau La Luna tampak sepi dari pada pendatang atau wisatawan.
"Sedang melihat ganasnya alam, huh?"
Terdengar suara Tokyo yang berjalan menghampirinya di sana. Gemuruh debur ombak terus terdengar dan seolah semakin mengganas, diikuti dengan mendungnya langit yang mulai pekat.
"Bagaimana? Apa lagi yang akan kau lakukan? Apakah kau masih ingin meluapkan rasa kesal dan dendammu?" Tokyo langsung bertanya tanpa berbasa-basi. Angin laut menerpanya begitu kencang, dan menyebabkan baju tuksedo berwarna putihnya serta rambut hitamnya bergoyang-goyang ke belakang tanpa henti.
"Jujur saja aku bingung. Apakah kau ada saran?" sahut Nicolaus.
Tokyo tersenyum sinis, lalu menjawab, "apa tujuan utamamu?" jawabnya kembali melemparkan pertanyaan.
"Aku ingin ... menghabisi Berlin bagaimanapun caranya, karena dia sudah mengambil salah satu orang kepercayaan ku." Nicolaus menjawab dengan penuh kegeraman, dan secara tidak langsung dirinya mengingat kembali sosok laki-laki yang pernah ia anggap seperti ponakan sendiri.
"Apakah hanya itu alasan yang mendasarimu untuk menggapai tujuan utamamu?" tanya Tokyo kembali dan berdiri di samping Nico.
Nicolaus menggeleng pelan dan menjawab, "tidak, melainkan ada beberapa hal lagi yang mendasariku untuk menghabisinya. Salah satunya adalah ... sebuah persoalan yang bersangkutan dengan 'Matrix' dan 'Gates'."
Tokyo mengangkat satu alisnya ketika mendengar dua nama keluarga besar itu disebutkan. Sepertinya timbul ketertarikan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. "Persoalan Matrix dan Gates? Persoalan seperti apa itu?" tanyanya.
__ADS_1
Namun Nicolaus langsung menyahut, "kau tidak perlu tahu, itu hanya permasalahan di antara kami," sahutnya dengan nada dan sikap bicaranya yang dingin.
"Baiklah. Lalu apa yang membuatmu bingung?" Tokyo hanya tersenyum dan mengalah ketika Nico memilih untuk tidak ingin memberitahunya soal permasalahan itu.
Dengan cukup singkat. Nicolaus langsung memberikan jawabannya dan menjelaskan kebingungan yang sedang melanda pikirannya. Baru kali ini ia merasa buntu untuk memikirkan rencana-rencana jahat. Padahal ketika dahulu ia masih memimpin Mafioso yang masih ada, rencana-rencana jahat itu terasa lancar berlalu-lalang di pikirannya.
Setelah mendengar sedikit. Tokyo lalu tertawa kecil dan kemudian berkata, "sepertinya aku memiliki ide bagus. Aku tahu bagaimana cara untuk memancing dia datang ke pulau ini. Dan kau ... bisa menghabisinya di sini. Bahkan jika kau perlu bantuan, kau juga bisa pakai beberapa anak buahku yang sudah ku tugaskan untuk melayanimu."
Di saat yang bersamaan. Tiba-tiba saja muncul dua laki-laki misterius berjalan menghampiri Tokyo dari belakang. Dua laki-laki itu mengenakan jaket berwarna abu-abu, dan juga tudung pada jaket itu untuk menutupi kepalanya.
Nicolaus cukup dibuat terkejut dengan kehadiran dua orang ini. Lantaran sedari tadi dirinya tidak merasa ada orang lain di antaranya dan juga Tokyo ketika berbicara. Bahkan langkah dari kedatangan dua orang ini tidak terdengar olehnya. Begitu senyap.
"Kalian, aku punya tugas penting untuk kalian." Tokyo berbicara kepada dua orang itu yang nampaknya adalah bagian dari anak buahnya. Dua orang laki-laki itu tampak menundukkan kepalanya, dan siap menjalani tugas yang akan mereka terima.
Di kediaman ternyaman milik Berlin. Siang hari yang mendung ini, bahkan langit sudah mulai menjatuhkan rintik hujannya perlahan ke bumi. Berlin terlihat sedang sibuk sendiri dengan beberapa pekerja rumah, terutama ketika ia berada di dapur dan ruang belakang.
"Berlin, kamu lupa untuk mematikan airnya." Nadia duduk di sofa panjang ruang tengah. Ia mendengar gemericik suara air yang berasal dari dapur.
"Oh iya!" sahut Berlin yang terlihat sibuk sendiri di dapur dan ruang belakang.
Suara gemericik air itu pun berhenti, dan tepat setelahnya Berlin berjalan menuju ruang tengah lalu mendekati Nadia yang tengah duduk manis di sofa panjang. Ia duduk tepat di sebelah Nadia, dan tiba-tiba merebahkan kepalanya tepat di atas pangkuan wanitanya. Karena Nadia hanya mengenakan dress pendek hingga paha. Berlin dapat merasakan betapa mulus dan hangatnya paha milik istri cantiknya itu.
"Kan tadi pagi aku sudah bilang, mending aku bantu untuk membereskan pekerjaan rumah. Eh, kamu tiba-tiba bilang sok-sokan bisa semuanya. Capek, deh."
__ADS_1
Nadia sedikit mengomeli Berlin di kala kepala lelaki tersebut berada nyaman di atas pangkuannya. Kemudian dirinya tersenyum ketika melihat wajah lelah suaminya setelah membereskan semua pekerjaan rumah.
"Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan mengerjakan semua itu," ucap Berlin menatap wajah sang istri dari bawah. Sejak setelah mendapatkan kabar bahagia mengenai kehamilan Nadia. Berlin menjadi cukup protektif terhadap semua yang dikerjakan oleh istrinya, terutama terhadap semua pekerjaan rumahnya.
Nadia tersenyum mendengar hal tersebut, "aku tahu, kok. Kalau aku lelah, ya, aku tinggal istirahat," ucapnya seraya membelai lembut rambut berwarna hitam pekat milik laki-laki itu.
Berlin tersenyum dan memeluk perlahan perut milik wanita itu, kemudian berkata, "iya, deh. Maaf kalau aku sok bisa semuanya," ucapnya dengan tertawa kecil, lalu memberikan kecupan lembutnya pada perut istrinya yang masih datar itu.
"Apakah masih terasa sakit?" tanya Berlin sembari mengelus perlahan nan lembut perut datar milik Nadia.
Nadia tersenyum mendengar pertanyaan itu, dan merasa senang bila Berlin sangat memperhatikan hal-hal seperti ini. "Untuk saat ini udah enggak, kok. Tetapi terkadang masih terasa nyeri," jawabnya dengan tatapan lembut memandang kepada Berlin yang tampak sangat asyik dengan perutnya.
Setelah mendengar jawaban yang cukup untuk membuat hatinya tenang. Berlin kembali mendaratkan kecupan lembutnya pada perut yang masih datar itu. Bahkan ia beberapa kali berbicara dengan sendirinya, seolah berbicara dengan sosok bayi yang ada di dalam sana. Di sisi lain, Berlin merasa sangat nyaman berada di pangkuan hangat ini. Seolah dirinya ingin berlama-lama berada di pangkuan tersebut.
"Berlin, kayaknya aku ingin sesuatu, deh," cetus Nadia tiba-tiba, yang membuat Berlin sedikit terkejut dan merasa sangat bersemangat.
Laki-laki itu langsung bangkit dari pangkuan Nadia, dan menatap Nadia dengan bersungguh-sungguh serta bertanya, "kamu mau apa? Apa yang kamu butuhkan?"
Nadia terlihat sedikit malu-malu untuk mengatakan apa yang ia inginkan. Tetapi perasaan dan pikirannya ingin menyampaikan hal tersebut kepada suaminya.
.
Bersambung.
__ADS_1