Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Satu Pekan Berlalu #175


__ADS_3

Masa yang sangat damai kembali terwujud, setelah konflik atau kekacauan yang disebabkan oleh ulah sindikat atau kelompok kriminal bernama Clone Nostra. Satu pekan berlalu pasca kekacauan yang terjadi, dan berhasil membuat seluruh kota dan wilayah memasuki status siaga.


Dalam satu pekan ini, pemulihan dilakukan oleh pihak pemerintah, dan berhasil membuat beberapa perubahan baik dari segi fasilitas pendidikan serta beberapa fasilitas publik lain.


Dalam satu pekan ini juga, Berlin akhirnya selesai dengan segala urusannya di sebuah gedung berwarna putih bernama Pengadilan Negeri Kota Metro. Di siang hari ini, pria itu melangkah keluar menggunakan tongkatnya dari gedung tersebut, bersama dengan istrinya dan juga Akira yang mulai detik ini sudah resmi menjadi putri angkatnya. Tak hanya mereka bertiga, sosok Helena dan Alana juga turut mendampingi ketiganya.


"Papa, tadi ngapain, sih? Akira bingung, kenapa bapak-bapak tadi memukul palu setelah selesai berbicara?" cetus Akira dengan polosnya sembari berjalan menuju ke halaman parkir. Anak itu tepat di sebelah Nadia, tak lupa menggenggam tangan milik bumil tersebut.


Berlin hanya tertawa mendengar pertanyaan dari putrinya, apalagi melihat ekspresinya yang sungguh polos ketika berbicara. "Itu memang pekerjaannya, sayang. Pria itu memberikan keputusan, kemudian mengetuk palu miliknya setelah berkeputusan," jawab lelaki berkemeja putih itu, intonasinya tertengar lembut, menjawab pertanyaan putrinya.


"Oh ...!" gumam Akira, tidak tertarik untuk bertanya-tanya lagi soal hal tersebut. Ia lebih riang ketika sudah di dekat mobil, melepas genggaman tangannya kepada Nadia, dan segera berlari-lari kecil di dekat pintu mobil.


"Papa, Mama, kita mau ke mana lagi? Jangan pulang dahulu, ya! Akira bosan di rumah!" cetus Akira, lompat-lompat kecil dengan wajah riang dan gembiranya.


"Bunda sama Kak Alana ikut sama kita jalan-jalan, ya ...!? Boleh 'kan, Pa? Ma?" lanjut Akira ketika melihat Berlin membuka kunci mobil.


"Boleh, dong!" sahut Nadia, tersenyum hangat, membukakan pintu mobil, dan mengajak Akira sekaligus Helena dan Alana masuk ke dalam mobil.


"Lebih baik kami kembali ke panti, sepertinya akan merepotkan kalian," ucap Helena, ketika sudah duduk di kursi tengah bersebelahan dengan Alana, dan Akira tepat di tengah-tengah.


"Enggak ... bisa ...! Bunda sama Kakak harus ikut!!" sahut Akira, tegas, melarang dan sedikit merengek agar mereka berdua ikut bersamanya.

__ADS_1


Nadia terkekeh kecil mendengar putrinya berbicara demikian. Ia yang duduk di kursi kemudi, melirik ke spion tengah untuk melihat sosok Akira, dan kemudian berkata, "udah kalian ikut saja, tidak merepotkan kami! Justru karena hari ini akhir pekan, Berlin berencana untuk mengajak kalian untuk ikut kami jalan-jalan."


"Iya, kebetulan sekali kita bisa bersama seperti ini, apalagi hari ini akhir pekan," timpal Berlin, duduk tepat di sebelah Nadia.


"Akira, kamu mau pergi ke gunung atau ke pantai?" lanjut Berlin, menoleh ke belakang, menatap ke arah Akira yang tampak tak henti-hentinya ceria.


"Pantai!!" seru Akira, antusias dan bersemangat sekali.


"Apakah benar tidak apa?" tanya Alana, memastikan. Namun dengan antusias dan semangatnya, Akira menoleh dengan wajah riangnya dan menjawab, "Kak Alana mau ikut, 'kan?" kemudian menoleh kepada Helena dan mengulang pertanyaan yang sama, "Bunda juga mau ikut, 'kan?"


"Iya, sayang. Baiklah, kami berdua ikut," ucap Helena, tersenyum hangat, sembari mengelus puncak kepala milik gadis kecil itu dengan lemah lembut. Begitu pula dengan Alana ketika menghadapi sikap anak itu.


"Yeay!!!" sorak Akira, kegirangan.


Bumil itu tersenyum lembut dan menjawab, "aku jago nyetir, tenang saja!"


"Kalau capek, menepi dan cari tempat istirahat, ya ...! Aku nggak tega jika harus liat kamu terus menyetir," ucap Berlin.


Nadia tertawa kecil, tersenyum, menggenggam kembali tangan milik suaminya sembari berkata, "iya, kalau capek istirahat, aku selalu ingat dan nggak akan lupa ...!" ucapnya dengan lembut dan tersenyum, mengutip kembali beberapa kata yang sempat diucapkan oleh Berlin.


***

__ADS_1


Pada siang hari yang cerah ini, ditambah hari ini adalah akhir pekan, waktu di mana kebanyakan orang menghabiskan waktu mereka penuh dengan keluarga dan orang-orang kesayangan.


Di siang ini, Prawira kembali ke Kediaman Gates, menemui laki-laki bernama Carlos di sana bersama dengan Netty, Siska, dan Garwig. Prawira sudah membicarakan soal hasil dari pembicaraan dirinya dengan Berlin ketika di kantor polisi kepada Garwig. Pembicaraan yang membahas soal keputusan Berlin atas saudara laki-lakinya yakni Carlos.


"Bagaimana kabarmu selama sepekan ini, Carlos?" tanya Garwig, berjabat tangan dengan Carlos, begitu pula dengan Prawira, Netty, dan Siska ketika bertemu dengan laki-laki itu di ruang tengah.


"Lebih baik, aku tidak pernah merasa sebaik ini ketika di Federal," jawab Carlos.


"Apakah kau sudah memikirkan soal karir mu?" tanya Prawira, duduk di sofa ruang tamu.


Carlos yang duduk di sofa single seat, tertunduk, menggeleng dan menjawab, "aku tidak tahu harus bagaimana, aku sudah beberapa kali memikirkannya, dan berkali-kali aku tidur di atas jam dua gara-gara memikirkan hal itu."


Netty terlihat cukup prihatin dan sendu, apalagi saat melihat kedua kantung mata yang cukup terlihat di kedua mata milik Carlos. "Prawira, bagaimana kalau kita--"


Belum selesai Netty berbicara, Prawira sudah lebih dahulu memotong dengan berkata, "tidak! Bukan itu yang Berlin inginkan." Pria itu seolah tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya, dan apa yang hendak dikatakan oleh wanita itu kepadanya.


"Aku sudah berbicara dengan Berlin mengenai dirimu, Carlos. Dia memutuskan suatu hal untukmu," ucap Prawira.


Prawira menegapkan tubuhnya, menatap tajam dan serius ke arah Carlos, dan kemudian berkata, "sebelum itu aku ingin memberitahumu, bahwa dia memercayai dirimu, dan aku sangat berharap kau tidak mengkhianati kepercayaan yang telah dia berikan kepadamu."


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2