Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Bulan Ketujuh #187


__ADS_3

Pagi yang cerah di hari pertama persiapan telah tiba. Waktu Berlin untuk Ashgard bersiap-siap mulai perlahan terkikis, dengan sisa tenggat waktu dua hari untuk hari persiapan dari sekarang. Namun meski begitu dirinya terlihat sangat tenang, mengingat masih ada waktu yang sangat luang baginya. Ia tidak ingin terlalu terburu-buru dalam memutuskan, dan lebih ingin menikmati proses untuk persiapan kelompoknya yakni Ashgard.


Di pagi ini pada pukul delapan, Berlin terlihat tengah santai menikmati secangkir teh hangatnya di ruang tengah, dengan sebuah ponsel yang menyala dalam genggamannya.


"Mama, aku main di belakang dahulu, ya!" seru Akira berlari meninggalkan langkah Nadia yang hendak menuju ke ruang tengah setelah selesai dengan kesibukannya di dapur, "pagi, Pa!" cetus Akira, tak lupa menyapa sosok Berlin sebelum akhirnya berlari menuju pintu kaca di belakang yang sudah terbuka lebar.


Berlin hanya tersenyum melihat anak itu berlarian, membiarkannya asyik sendiri. Berbeda dengan Nadia yang justru terlihat cukup cemas ketika melihat putrinya berlari-larian, "hati-hati, awas jatuh ...!" ucapnya dengan intonasi yang terdengar sungguh lembut, kemudian menghela napas dengan wajah khawatirnya sebagai seorang ibu.


"Jangan khawatir, biarkan saja dia bermain, dan kita cukup mengawasinya. Kalau jatuh, biarkan dia bangkit kembali. Kalau lecet, tinggal diobati," cetus Berlin dengan intonasi tenang, tersenyum kepada istrinya yang perlahan duduk tepat di sisinya.


"Kamu kok bisa tenang gitu, sih?" cetus Nadia, menatap penasaran suaminya.


Berlin sempat tertawa kecil, kemudian tersenyum, menatap lembut bumil di sebelahnya dan berkata, "karena aku tahu areanya bermain, dan aku bisa memastikan kalau tidak ada yang berbahaya di taman ini," jawabnya, kemudian menoleh ke belakang, dan melihat sosok gadis kecil yang tengah asyik berlarian di tengah-tengah hamparan bunga.


Lelaki itu kembali memalingkan pandangannya menatap paras cantik milik sang istri, mematikan dan meletakkan ponselnya di atas meja kaca, sebelum kemudian mendaratkan salah satu telapak tangannya menyentuh perut ibu hamil itu sembari bertanya, "bagaimana kondisimu? Ini sudah memasuki bulan ketujuh, 'kan?" tanyanya langsung mengalihkan topik pembicaraan dengan tatapannya yang terkesan sungguh hangat dan lembut, berbeda sekali dengan Berlin biasanya.

__ADS_1


Nadia tersenyum hangat, memegang tangan lelaki yang tengah asyik mengelus-elus perutnya sembari menjawab, "kondisiku tidak ada yang perlu dicemaskan, aku merasa baik dan sehat. Ngomong-ngomong, besok adalah jadwalku periksa, kamu mau menemaniku? Kalau kamu sibuk, aku sendiri juga nggak apa-apa," ucapnya dengan senyuman manis yang terpampang.


"Aku akan menemanimu!" sahut Berlin begitu antusias, menatap kedua mata istrinya dengan tatapan serius.


"Benarkah tidak akan mengganggu pekerjaanmu?" tanya Nadia kembali.


Berlin tersenyum, menggeleng dan menjawab, "tidak, kamu tenang saja!"


Lelaki itu kemudian kembali menoleh ke belakang, seolah sedang memastikan keberadaan Akira. Melihat putrinya sedang asyik berlarian mengejar kupu-kupu. Berlin kembali memalingkan wajahnya kepada istrinya, dan kemudian dengan tiba-tiba kepalanya perlahan limbung mendarat tepat di atas pangkuan milik sang istri.


Berlin menempelkan telinga dan pipinya pada perut milik istrinya, dan mulai berbicara dengan sendirinya seolah sedang mengajak berbicara sosok mungil di dalam sana.


Nadia hanya terkekeh kecil melihat kelakukan lelakinya, ia mengelus lembut kepala milik Berlin yang berada di pangkuannya, dan membiarkannya asyik sendiri dengan perutnya.


Berlin menatap lembut perut milik sang istri dari jarak yang sangat dekat, sebelum akhirnya berkata, "besok pada saat diperiksa, kamu jangan malu-malu, ya? Biar Papa tahu kamu laki-laki atau perempuan, biar rasa penasaran Papa setidaknya terjawab, dan biar Papa bisa siapkan nama untukmu. Kamu mengerti 'kan, sayang?" ucapnya, kemudian mengecup lembut perut yang tertutup dress putih yang dikenakan oleh Nadia.

__ADS_1


"Iya, Papa! Nanti aku usahakan, ya!" cetus Nadia dengan intonasi suara yang dibuat-buat seperti anak kecil, bermain peran seolah menjawab perkataan Berlin.


Berlin sontak menatap ke atas, menatap paras cantik Nadia yang juga turut menunduk dan menatap dirinya, sebelum kemudian tersenyum dan sama-sama tertawa kecil.


"Papa, Mama, lihat! Aku menangkap kupu-kupu!" seru Akira, berlari kecil kembali ke ruang tengah dengan kedua telapak tangan mengatup.


Berlin langsung beranjak duduk kembali, tersenyum melihat kehadiran Akira, "oh, ya? mana?" ucapnya.


Akira perlahan membuka kedua telapak tangannya yang sedari tadi mengatup. Ketika kedua telapak tangan kecil itu terbuka, seekor kupu-kupu kecil berwarna biru cantik langsung terbang dari sana.


Wajah Akira tampak sangat senang sekali ketika melihat kupu-kupu kecil nan cantik itu kembali terbang dari kedua telapak tangannya. Pandangannya tak bisa melepas setiap pergerakan kupu-kupu yang terbang di sekitarnya itu, sebelum akhirnya menuju ke pintu kaca belakang dan keluar kembali ke taman bunga di belakang.


Wajah-wajah bahagia dari istri dan putrinya berhasil membuat Berlin juga turut merasakan hal yang sama. Senyuman pada parasnya terus terpampang seolah sulit untuk pudar. Seketika dan untuk sementara, dirinya seolah dapat melupakan soal lelahnya berpikir dan pekerjaan, semua masalah seolah hilang begitu saja, untuk sementara waktu.


Pada pagi ini, Berlin ingin menghabiskan waktunya sejenak untuk keluarga kecilnya, sebelum dirinya akan berangkat dan kembali ke pekerjaannya karena Ashgard membutuhkan dirinya. Apalagi Ashgard telah mendapatkan satu tugas perdananya, dan tugas itu memiliki peran yang cukup penting dalam persidangan yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2