Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pihak Ketiga? #116


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya regu yang dipimpin oleh Prime datang dan bergabung bersama dengan personel milik Garwig. Prime memberikan sebuah laporan kepada Garwig mengenai pertahanan yang dimiliki oleh Clone Nostra. Tak hanya itu, dirinya juga memberitahu Garwig soal Ashgard yang sudah berhasil menyusup masuk ke dalam gedung putih itu.


Mendengar laporan yang diterima, Garwig hendak lanjut ke langkah dari rencana selanjutnya. Namun terdapat kendala untuk dapat melanjutkan rencana yang sudah tersusun sedemikian rupa.


Pihak dari Clone Nostra benar-benar keras kepala dan tidak mau mengalah. Bahkan mereka rela menghalalkan segala cara untuk menghabisi setiap aparat yang dilihat. Memang apa yang mereka lakukan cukup merugikan mereka sendiri, namun dengan begitu juga mempersulit pergerakan personel gabungan milik Garwig dan Prawira


"Pak, mereka benar-benar keras kepala!" gusar Prime ketika berada di balik pohon dekat dengan Garwig.


Situasi masih tetap kacau, dengan banyaknya peluru-peluru yang melayang seolah mencari mangsa. Suasana pagi yang diwarnai dengan baku tembak serta peperangan yang terjadi antara kedua belah pihak. Tak hanya suara baku tembak saja yang terdengar dan dapat disaksikan, namun juga beberapa ledakan yang menyebabkan beberapa kebakaran di beberapa titik perbukitan kota.


"Prime, apakah kau membawa alat komunikasi mu?" tanya Garwig mengalungkan senapan serbunya.


"Ya," jawaban singkat Prime dan kemudian memberikan radio komunikasi miliknya kepada Garwig.


Garwig pun menggunakan radio tersebut untuk berbicara langsung dengan Prawira yang berada di timur. "Prawira, sedikit perubahan rencana ...!"


...


BOOMMM ...!!!!


Sebuah ledakan besar terjadi tepat bersebrangan dengan halaman depan Gedung Balaikota. Ledakan tersebut berasal dari sebuah mobil yang berhenti dan terparkir di sana.


"Sebuah bom mobil? Bukankah itu kendaraan mereka?" tanya Garwig melihat ke arah api yang berkobar cukup besar yang berasal dari mobil itu. Saking besarnya kebakaran pada mobil yang meledak itu, Garwig dapat melihatnya dari kejauhan.


"Ya, itu memang mobil milik mereka. Namun apa tujuannya meledakkan kendaraan sendiri?" sahut Prime melihat ke objek yang sama dengan apa yang dilihat oleh Garwig.


"Lebih baik kita pikirkan itu sembari bergerak!" Garwig langsung beranjak dari posisinya berada, keluar dari persembunyian itu dan berlari menuruni lereng bukit sembari memberikan arahan kepada beberapa aparatnya.


Beberapa saat sebelum sebuah ledakan atau bom mobil itu meledak. Garwig sudah lebih dahulu memberitahukan rencana dadakannya kepada Prawira melalui radio komunikasi milik Prime.


Garwig berencana untuk membagi personelnya dan menciptakan sebuah regu yang akan memecah pertahanan Clone Nostra di Gedung Balaikota. Tak hanya dari pihaknya saja, namun Prawira juga mengirim serta mempercayakan suatu tugas kepada regu taktis andalannya yakni regu milik Prime.


"Semuanya mundur ke lereng bukit!"


Ketika mendengar perintah tersebut, para aparat militer itu langsung mengikuti perintah yang diberikan oleh Garwig, berbeda dengan beberapa apara kepolisian yang ada di sana. Mereka tampak bingung dengan perintah yang menyuruh semuanya untuk mundur itu.

__ADS_1


"Mundur?!"


"Yang benar saja!?"


"Ikuti perintah, atau mati?! Jangan buang waktu dan tentukan jawaban kalian!" Prime langsung mendekati beberapa aparat berseragam polisi itu dan kemudian pergi setelah mengatakan hal tersebut.


Prime bersama dengan regunya yang terdiri dari lima belas orang, langsung bergerak menuruni bukit dan semakin merapat menuju garis pertahanan akhir milik Clone Nostra.


"Pak, apa yang sebenarnya kita rencanakan? Saya masih belum diberitahu soal rencananya." Flix berlari dengan senapan serbu yang ia kalungkan. Pria itu berlari tepat di sebelah Prime dan bertanya soal rencananya.


Prime menyadari kehadiran Flix dan langsung berkata, "pas sekali ada yang ingin ku bicarakan singkat padamu."


"Kita mendapatkan tugas untuk mengacaukan pertahanan mereka, dengan begitu harapannya pasukan Clone Nostra yang ada di perbukitan akan mundur dan akan membuat celah untuk personel gabungan masuk."


"Paham?"


Prime mencoba untuk merangkum semua yang direncanakan oleh Garwig beberapa waktu lalu kepada Flix.


"Baik, dapat dipahami!" Flix langsung dapat memahami penjelasan singkat itu. Dirinya bersama dengan aparat yang lain terus berlari menuruni lereng bukit dan semakin mendekat ke arah gedung putih itu.


"Ya, tentu kita harus berhati-hati, apalagi Berlin masih ada di tangan mereka," jawab Prime.


Ngomong-ngomong soal Berlin, Flix jadi teringat bagaimana nasib dari Ashgard yang sempat ia antarkan untuk memasuki area Gedung Balaikota. Tentu dirinya mengharapkan yang terbaik untuk mereka, Ashgard itu.


***


Adam bersama dengan rekan-rekannya berhasil menguasai satu ruangan, namun di sini dirinya harus memutar otak kembali. Ia menghubungi rekannya yakni Asep untuk mencari keberadaan Berlin melalui pesawat tanpa awak yang terbang tepat di atas area Balaikota.


Asep pun menemukan keberadaan yang diduga adalah Berlin, karena suhu panasnya berada di ruangan terpisah dari para tawanan itu dan satu suhu panas itu benar-benar sendirian tidak ada lagi suhu panas lain yang berada di dekatnya.


Kimmy dapat melihat lokasi dari suhu panas yang dimaksud. Dirinya begitu tidak sabar untuk bisa menemui dan membebaskan Berlin dari ruangan tersebut. Namun rencana dan strategi tentu sangat diperlukan, apalagi mengingat dirinya bersama dengan rekan-rekannya kini berada di dalam gedung yang dikuasai oleh musuh sepenuhnya.


"Berdasarkan suhu panas yang terdeteksi pada tablet ini, kita akan menghadapi lebih dari tiga puluh orang dalam satu gedung ini." Adam berbicara dengan Kimmy dan juga Kent. Sedangkan rekan-rekannya yang lain berusaha untuk menenangkan para tawanan agar tetap bisa tenang dan diam, apalagi mengingat posisi keberadaan Ashgard masih belum diketahui oleh pihak musuh.


"Kita hanya berdelapan, dengan senjata hanya pistol dan amunisi yang terbatas. Bagaimana? Apa rencanamu?" tanya Kent kepada Adam.

__ADS_1


DOR ... DOR ... DOR ...!!!


AACKKK ....!!!!!!


Di tengah Adam tengah berpikir untuk langkah berikutnya dan rencana apa yang akan diambil oleh Ashgard. Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan berkali-kali beserta keributan yang berasal dari halaman belakang, jalur yang sempat dilewati oleh Ashgard untuk menyusup ke dalam gedung.


"Apa yang terjadi?"


"Siapa yang melakukan itu?!"


Sontak keributan itu mengundang perhatian Ashgard. Adam beserta beberapa rekannya memutuskan untuk sedikit mengintip melalui jendela yang sebelumnya mereka lewati untuk mengetahui apa yang terjadi di halaman belakang.


Ketika mengintip untuk mengetahui apa yang terjadi. Kimmy dan Adam cukup dikejutkan oleh aksi satu orang pria yang mengenakan mantel atau jubah berwarna hitam yang tampak begitu lihai melawan lebih dari sepuluh orang. Kimmy tidak dapat melihat wajahnya, apalagi di dalam hujan yang begitu deras sehingga menyebabkan sedikit kabut.


"Apakah dia di pihak kita?" tanya Kent.


Pria tidak dikenal itu menghajar habis orang-orang baju putih bersenjata yang ada di halaman belakang. Meskipun dirinya hanya seorang diri, namun dia tampak begitu lihai dan handal dalam bela diri serta memainkan senjata apinya untuk bisa melumpuhkan semua musuhnya.


DEG ...!


Ketika melihat aksi dari pria berjubah hitam yang tidak dapat terlihat jelas wajahnya. Kimmy tiba-tiba saja merasa kalau pria itu memiliki kemiripan dengan Berlin. Baik dari cara dia berkelahi, gerak-geriknya, dan juga postur tubuh serta pemainan senjata apinya.


"Siapa ... dia ...?" gumam Kimmy tertegun.


"Kita tidak tahu siapa dia, yang pasti tetaplah waspada terhadapnya. Meskipun dia menumpas banyak musuhnya yang juga menjadi musuh kita, namun kita tidak tahu apakah dia berada di pihak kita atau tidak."


"Dalam sebuah konflik, apapun bisa terjadi dan salah satunya adalah masuknya pihak ketiga ketika kedua belah pihak sedang sibuk dengan konflik tersebut."


Adam terlihat sangat mewaspadai beberapa hal, salah satunya adalah kehadiran pria misterius itu secara tiba-tiba. Dirinya mengingatkan rekan-rekannya untuk tetap waspada terhadap apapun faktornya.


"Lebih baik kita bersiap untuk bergegas, kita tidak bisa membuat Berlin menunggu lagi!" Adam beranjak di dekat pintu masuk dan keluar ruangan itu. Dirinya mempersiapkan pistol yang ia genggam, begitu pula dengan rekan-rekannya yang tampak telah siap mengikuti dirinya tepat di belakang.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2