
Pada sore hari sekitar pukul lima. Garwig pergi berkunjung ke Kediaman Ashgard, karena mendapatkan panggilan dari Kimmy kalau Berlin ingin bertemu dengan dirinya, dan ada hal penting yang ingin disampaikan padanya. Karena permintaan untuk bertemu itu berasal dari Berlin, maka dirinya tidak ingin menolak atau menundanya.
Garwig bersama dengan sekertarisnya yakni Siska, langsung pergi berdua menuju ke Kediaman Ashgard untuk bertemu dengan Berlin. Tentu dirinya juga penasaran, karena Kimmy menyampaikan melalui teleponnya, kalau hal penting itu bersangkutan dengan pelaksanaan persidangan di hari lusa.
Begitu datang di kediaman tersebut, Garwig langsung disambut oleh sosok lelaki berjaket biru yang berdiri di depan pintu masuk kaca bersama dengan tiga orang kepercayaannya dan juga Carlos.
"Ku kira kau tidak akan datang," ucap Berlin, berjabatan tangan dengan Garwig, dan kemudian segera mengajaknya masuk.
"Aku sempat terkejut, mengapa tiba-tiba kau ingin bertemu denganku," ujar Garwig, tersenyum tipis dan memasang raut wajah ramah sembari berjalan berdampingan dengan Berlin menuju ke ruang tengah.
"Ya, karena ada hal penting yang sepertinya harus aku sampaikan," jawab Berlin.
Di ruang tengah yang tidak sepi itu, karena ada rekan-rekannya Berlin yang berdiri di sekitarnya. Mengetahui kedatangan tamu yang terhormat, mereka memasang wajah ramah, tersenyum dan menyapa Garwig serta Siska.
Berlin duduk di salah satu sofa panjang berwarna putih itu, di sampingnya terdapat Carlos yang duduk di sofa yang sama. Sedangkan Garwig dan Siska duduk bersebrangan dengan kedua laki-laki itu.
"Ada beberapa hal, atau lebih tepatnya beberapa informasi yang harus diketahui oleh pihak aparat tentunya. Aku tidak bisa menghubungi Prawira, karena aku yakin kalau saat ini dia pasti sedang sibuk dengan persiapan di pengadilan. Maka dari itu aku hanya bisa menghubungi dirimu, Garwig."
Berlin langsung membuka pembicaraan, serta tanpa basa-basi dirinya mengambil sebuah buku kecil dari dan saku jaketnya, dan kemudian menunjukkan isi dari buku tersebut kepada Garwig.
"Aku mendapatkan buku tersebut dari Carlos, dia berhasil meraih informasi-informasi penting itu dari informan milik Mafioso," ucap Berlin, memberitahu asal muasal dari buku catatan itu.
__ADS_1
Garwig membuka dan kemudian memeriksa isi dari buku yang saat ini berada di tangannya, dan dirinya berhasil dibuat cukup tercengang dengan isinya.
"Carlos, bagaimana bisa kau mendapatkan buku ini? Dan apakah isi dari buku ini benar-benar valid?" tanya Garwig, menatap serius Carlos.
Carlos pun menjawab pertanyaan tersebut, dan menjelaskannya seperti ketika dirinya menjelaskan hal tersebut kepada Berlin. Apa yang ia katakan sama persis dengan apa yang ia katakan ketika berbicara dengan Berlin sebelumnya.
Garwig cukup terheran setelah mendengar penjelasan singkat dari Carlos mengenai asal muasal dari buku yang saat ini berada di tangannya. Ia kembali memandangi serta memeriksa setiap tulisan yang tertulis di dalam buku catatan itu. Sebuah profil singkat mengenai seseorang bernama Felix Alarico, beberapa rencana yang tertulis namun tidak lengkap, dan beberapa persenjataan yang juga tercatat namun belum selesai tercatat sepenuhnya.
"Ini adalah hal yang sangat serius, jika memang semua rencana mereka sesuai dengan apa yang tertulis pada buku ini," ucap Garwig.
"Ya, dan tidak bisa jika hanya Ashgard sendiri yang bergerak," sahut Siska yang juga melihat serta mengetahui apa isi dari buku tersebut.
Berlin menggeleng dan menyangkal pernyataan Siska dengan berkata, "kurasa itu tidak sepenuhnya benar, kami bisa untuk sekedar menahan namun tidak untuk menyerang dan menghabisi."
Garwig mengangguk paham, menutup kembali buku kecil itu sembari berkata, "ini informasi yang sangat berharga, lebih baik kita langsung mengkoordinasikannya dengan Prawira dan pihaknya."
"Aku juga mengharapkan kerjasama yang baik dengan kalian, aku mengandalkan kalian, Ashgard," lanjut Garwig, menatap tajam dan serius Berlin di hadapannya.
***
"Semuanya terpantau baik, dan tidak ada masalah sama sekali. Untuk data dari pengalihan arus lalu lintas juga sudah diterima, Pak."
__ADS_1
Netty menemui Prawira yang tengah berdiri di bawah sebuah pohon tepat di luar kamp miliknya. Wanita itu membawakan beberapa laporan yang dicatat pada sebuah lampiran yang saat ini ia bawa dengan kedua tangannya.
Wanita itu kemudian menyerahkan lampiran laporan miliknya kepada Prawira, dan kemudian membiarkan pria itu membacanya.
"Mungkin agak sedikit repot di bagian pengamanan dari warga sipil, karena masih banyak masyarakat yang mendekati area yang sudah diamankan dan tidak seharusnya didekati," ucap Netty.
Prawira menghela napas untuk apa yang dikatakan oleh Netty barusan, "untuk itu kita cukup berikan peringatan tegas kepada mereka."
"Masyarakat memang tidak sepenuhnya bisa diatur, apalagi warga-warga kita yang memiliki rasa penasaran cukup tinggi," lanjut Prawira, menoleh dan memandang kepada Netty yang sudah berpindah posisi tepat di sampingnya.
"Prawira, apa menurutmu ... persidangan yang akan dilaksanakan lusa dapat berjalan dengan baik dan lancar?" cetus Netty, tiba-tiba berbicara dengan intonasi yang sungguh santai dan nonformal.
"Tentu harapan kita yang terbaik, persidangan itu dapat berjalan lancar tanpa adanya hambatan," jawab Prawira, bersandar pada pohon yang ada di belakangnya dan kemudian lanjut berbicara, "namun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari itu, dan yang dapat kita lakukan hanyalah bersiap untuk segala kemungkinan."
Prawira kemudian menoleh kepada Netty yang terlihat cukup cemas akan hal itu. Pria itu menorehkan sedikit senyuman tipis dengan pandangan yang tak lepas dari sosok sang istri yang terlihat cantik dan gagah dengan seragam polisinya.
"Jangan khawatir, kita sudah melakukan persiapan sedemikian rupa untuk mengawal jalannya persidangan. Ini sudah menjadi tugas kita, dan apapun yang akan terjadi akan kita hadapi bersama," ucap pria itu, kemudian memalingkan pandangannya kembali ke depan.
Di tengah perbincangan mereka berdua. Tiba-tiba saja sebuah panggilan telepon masuk melalui ponsel milik Netty, dan kontak yang menelepon adalah kontak milik Garwig. Melihat hal tersebut, Netty langsung menerimanya dan kemudian mendengarkan alasan Garwig menelepon dirinya.
.
__ADS_1
Bersambung.