Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pergerakan Malam #77


__ADS_3

Pukul 22:00 malam.


Situasi kota perlahan berhasil dikendalikan kembali oleh pihak aparat berwajib. Meskipun mereka harus merelakan kasus yang terjadi di dua wilayah berbeda. Tetapi mereka berhasil menyelesaikan kasus perampokan yang terjadi di kota.


Namun Prawira menyayangkan beberapa hal setelah gedung Bank Central Metro berhasil diambil alih oleh pihaknya. Dirinya harus kehilangan beberapa aparat kesayangannya akibat insiden itu, apalagi kebakaran hebat yang sempat terjadi. Di sisi lain, dirinya juga menyayangkan para pelaku yang berhasil dilumpuhkan tewas di sana.


"Pak, kami berhasil mengamankan lima pelaku yang terluka. Namun sepertinya ... mereka menolak untuk hidup," ucap salah satu anggotanya kepada Prawira.


Ya, meskipun beberapa pelaku yang selamat berhasil diamankan oleh para aparat yang ada. Namun mereka semua menolak untuk hidup dan memberikan kesaksian serta beberapa informasi kepada pihak keamanan kota. Bahkan dua orang di antaranya sempat hampir mencoba untuk melakukan bom bunuh diri dengan merampas sebuah granat dari rompi anggota. Tetapi usaha tersebut berhasil digagalkan oleh para aparat di sana.


"Amankan mereka ke dalam kendaraan, dan segera kirim ke federal langsung! Lakukan pengawalan ketat di saat pengiriman, dan jauhkan pelaku yang berhasil diamankan dari benda-benda tajam dan benda-benda yang dapat mereka gunakan untuk sarana bunuh diri!"


Prawira langsung memerintahkan hal tersebut kepada beberapa anggotanya yang ia pilih untuk membawa beberapa pelaku ke Penjara Federal.


"Siap, pak!" jawab serempak para aparat yang akan membawa pelaku-pelaku tersebut. Mereka pun segera menggiring para pelaku ke dalam sebuah kendaraan baja besar milik kepolisian, dan langsung melaju dengan kendaraan tersebut diikuti oleh beberapa kendaraan lain milik aparat yang ikut mengawalnya.


Suara sirine ambulans dan pemadam kebakaran terus terdengar di area tersebut. Api yang sebelumnya mengganas di lantai satu gedung itu akhirnya berhasil dipadamkan setelah melalui waktu yang cukup lama. Beberapa aparat yang terluka juga sudah mendapatkan penanganan lebih lanjut dari pihak medis yang sudah datang ke lokasi.


Prawira melangkah perlahan mendekati pintu masuk gedung tersebut yang kini sudah menjadi reruntuhan sisa kebakaran. Kondisi dalam gedung benar-benar kacau, bahkan untuk melangkah lebih masuk ke dalam sana akan sangat sulit karena terhalang puing-puing bangunan yang runtuh.


"Pak, para pelaku yang melakukan perampokan di kedua wilayah yang berbeda berhasil melarikan diri." Netty menghampiri pria yang kini berdiri tepat di depan gedung tersebut, dan melaporkan hal itu kepadanya.


"Bagaimana dengan yang di sini? Apakah hanya lima tersangka tadi yang selamat?" tanya Prawira sedikit menoleh ke arah Netty yang kini berdiri tepat di sampingnya.


Netty menghela napas sembari berbalik badan ke arah ambulans-ambulans di belakangnya yang sibuk mengevakuasi tubuh-tubuh pelaku yang tewas. "Dari 30 tersangka yang terlibat di sini, hanya tersisa lima yang masih selamat. Sisanya ...," Netty menghela napas berat dan tidak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya. Pandangannya terpaku ke arah kantong-kantong mayat yang tergeletak di dekat ambulans-ambulans itu.


"Kurasa mereka benar-benar gila, seolah mati adalah pilihan terbaik daripada tertangkap," ucap Prawira ikut membalikkan badannya dan melihat ke arah yang sama dengan Netty.


"Bagaimana dengan rekan-rekan kita?" tanya Prawira.

__ADS_1


Netty menyerahkan sebuah lampiran berisikan catatan nama-nama dari rekan aparat yang juga tewas akibat insiden kebakaran. Meskipun hanya beberapa nama dan tidak lebih dari lima nama yang tercantum. Namun tetap saja, nyawa adalah hal yang sangat berharga dan Prawira sangat menyayangkan dirinya harus kehilangan beberapa anggota terbaiknya.


"Kita harus memakamkan mereka dengan layak. Netty, aku membutuhkanmu untuk menghubungi keluarga mereka!" ucap Prawira sembari menghela napas cukup berat setelah melihat nama-nama tersebut.


***


Di sebuah gedung putih yang amat megah yaitu Gedung Balaikota. Malam ini Garwig bertemu dengan sang walikota yaitu Boni guna membicarakan beberapa hal yang mungkin harus ia bicarakan. Dirinya menemui orang penting itu di dalam sebuah ruang pertemuan ada gedung tersebut.


Ketika Garwig melalui pintu masuk gedung, dirinya dapat menyaksikan betapa banyaknya petugas yang menjaganya. Penjagaan di tempat itu ditingkatkan berkali-kali lipat dibanding hari-hari sebelumnya setelah terjadinya insiden perampokan yang menggemparkan tiga wilayah sekaligus.


"Pas kau datang ke sini, baru saja aku ingin memanggilmu untuk datang," cetus Boni melihat kedatangan Garwig yang tidak direncanakan sebelumnya.


"Ya, aku datang untuk membicarakan sesuatu denganmu," sahut Garwig yang kemudian duduk tepat di hadapan meja milik Boni, dan memulai pembicaraannya di sana.


"Soal?" sahut Boni.


"Soal apa yang baru saja terjadi malam ini," jawab Garwig.


"Ini hanya spekulasi ku saja, namun jika situasi kota dalam keadaan sangat darurat dan lebih darurat daripada tadi. Aku ingin semua pihak dan personel dikerahkan untuk menanganinya! Namun tetap jangan terlalu berlebihan, dan jangan menggunakan alutsista milik militer kita!"


"Aku tidak ingin menyebabkan dampak yang berlebihan terhadap kota dan masyarakat ini."


Boni langsung menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan kepada Garwig tanpa berbasa-basi lagi. Garwig dapat memahami hal tersebut, apalagi penggunaan alutsista untuk memerangi sebuah kelompok kriminal sudahlah cukup berlebihan menurutnya.


"Baik, aku mengerti dengan maksudmu," ucap Garwig.


"Namun tetap saja, jika situasi yang paling buruk dan berskala besar tetap sulit atau bahkan tidak terkendali oleh pihak kepolisian atau keamanan kota. Aku akan tetap memberlakukan sesuai dengan prosedur soal ancaman nasional," lanjut Garwig dengan intonasi berbicara dan tatapan yang sangat serius. Hal pada kalimat terakhirnya-lah yang menjadi tujuannya datang ke mari untuk menemui rekannya yaitu Boni.


"Apakah kau paham itu, Boni?"

__ADS_1


Boni terlihat sedikit termenung untuk berpikir, "ya, aku paham soal peraturan yang tertulis dalam undang-undang kita."


"Sebenarnya hanya itu yang ingin ku sampaikan. Apapun yang terjadi, aku ingin kau tidak menghalangi usahaku untuk melindungi kota ini!" ucap Garwig terlihat menegaskan hal tersebut.


"Baik, aku tahu, Garwig. Hanya kau yang bisa ku andalkan dalam hal seperti ini," ucap Boni yang tampaknya sangat mempercayakan hal tersebut kepada Garwig.


***


Pulau La Luna, pukul 23:50 malam.


Tepat sepuluh menit sebelum memasuki waktu tengah malam. Berlin bersama dengan Ashgard telah berada di dalam dari sebuah hutan yang cukup lebat di wilayah tengah pulau. Di sini Ashgard tidak sendiri, karena terdapat regu milik Prime yang turut membantu aksinya.


Suasana yang sangat-sangat tenang di tengah hutan itu, saking tenangnya bahkan suara serangga pun jarang sekali terdengar. Yang terdengar hanyalah pergesekan dedaunan yang disebabkan oleh hembusan angin malam yang cukup kencang di malam ini.


"Vila milik Clone Nostra seharusnya tidak jauh dari sini, hanya butuh sekitar 500 meter dari sini ke arah tenggara." Asep memberitahukan hal tersebut kepada Berlin yang tampak sedang bersandar pada sebuah pohon. Tak lupa ia menunjukkan cetakan lokasinya pada sebuah peta kecil yang ia bawa. Asep sudah menyiapkan peta tersebut jauh-jauh hari sebelum berangkat, dan dirinya tahu hal ini pasti akan sangat dibutuhkan.


"Bos, aku melihat orang-orang mereka yang bersenjatakan senapan serbu," bisikan suara milik Faris terdengar melalui radio komunikasi yang dibawa oleh Berlin.


Di saat yang bersamaan, Prime menghampirinya dan juga memberitahukan bahwa anggotanya mendapatkan pantauan hal yang sama.


"Mereka sampai sini? Cukup luas juga wilayah yang mereka kuasai," celetuk Adam.


"500 meter menuju vila, namun sebelum itu kita harus melewati orang-orang itu. Mungkin ini akan menjadi hal yang merepotkan," ucap Berlin terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Maaf menyela, tetapi saya tau beberapa medan yang dapat kalian lalui tanpa harus terlihat oleh mereka." Seorang pria nelayan bernama Mavi tiba-tiba saja menyela pembicaraan tersebut.


Mavi adalah orang atau penduduk lokal pulau ini, dan sudah pasti dia lebih tahu mengenai medan tanah pada pulau ini. Berhubung dirinya belum begitu mengenal daerah pulau. Berlin pun memberikan sedikit kepercayaan kepada Mavi untuk menjadi pemandu.


Dengan pistol dan senapan beserta rompi yang seadanya, Ashgard bersama dengan regu milik Prime mulai bergerak perlahan dari balik kegelapan hutan. Mereka memanfaatkan situasi gelap gulita di tengah malam ini untuk bergerak. Ditambah mereka didukung oleh cuaca yang tampaknya tidak dapat membuat cahaya bulan terlihat di malam hari ini.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2