Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Malam yang Panjang #78


__ADS_3

Malam ini benar-benar menjadi malam yang panjang rasanya. Begitulah yang dirasakan oleh Nadia. Tanpa kehadiran Berlin di dekatnya, dirinya merasa waktu berjalan begitu lama. Suasana rumah yang sangat sepi di tengah malam ini membuatnya sedikit tidak nyaman.


Namun untungnya Nadia tidak sepenuhnya sendirian, karena ada sang calon buah hati di dalam perutnya yang menemaninya. Karena dirinya sulit untuk tidur di malam ini. Nadia pun memutuskan untuk bersantai sejenak di sofa ruang keluarga lantai dua, dan menikmati suasana langit malam yang benar-benar gelap dan sunyi.


"Sepertinya malam ini tidak terlalu cerah, ya? Bulan dan bintangnya tidak kelihatan," gumamnya sembari mengelus-elus perlahan perut miliknya, seolah ia tengah berbicara dengan sosok yang ada di dalamnya.


Setiap kali ia berbicara sendiri, seolah ucapannya mendapatkan balasan dari sosok buah hati yang ada di dalam perutnya. Pergerakan-pergerakan kecil dapat ia rasakan, dan setiap merasakan pergerakan itu hatinya merasa lebih tenang.


Di tengah ia menyendiri dan bersantai di sofa tersebut. Tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk.


"Berlin?" cetusnya sembari mengambil ponsel yang tergelatak di sampingnya. Namun sayangnya orang yang menelepon dirinya bukanlah Berlin.


"Halo, Nadia. Kamu belum tidur?" suara perempuan terdengar melalui ponsel miliknya. Suara tersebut adalah suara milik Siska, sahabatnya yang paling dekat dengannya bahkan sudah ia anggap seperti saudara sendiri.


"Nggak bisa tidur, hehehe." Nadia menjawab pertanyaan itu dan kemudian tertawa canggung setelah ketahuan begadang oleh Siska.


"Kebiasaan tidur sama Berlin, sih! Makanya sekarang sulit tidur sendiri, pasti kesepian, 'kan? Hahaha!" celetuk Siska dan kemudian terkekeh setelah berhasil sedikit menyindir sahabatnya itu.


"Ah, udah, ah! Mending kamu ke sini temenin aku!" sahut Nadia dengan intonasi sedikit kesal.


"Iya, aku ke sana sekarang, deh!" jawab Siska.


Sesaat kemudian telepon tersebut diakhiri. Nadia tersenyum dan tertawa kecil dengan sendirinya setelah asyik bertelepon ria dengan Siska. Namun ekspresi ceria itu hanya sesaat, sebelum kemudian berubah menjadi penuh dengan kekhawatiran.


"Berlin, kamu sedang apa di sana? Apa yang terjadi di sana? Apakah kamu baik-baik saja?" pertanyaan-pertanyaan ini terus lewat di dalam benak.


***


Waktu setempat menunjukkan pukul 00:00 yang artinya sudah masuk ke tengah malam. Kondisi hutan begitu menyeramkan, sangat sunyi dan hanya terdengar suara-suara yang berasal dari hembusan angin melewati sela-sela pepohonan.


"Berlin, sepertinya kita tertahan di sini." Prime berbicara dengan intonasi rendah ketika mendekati Berlin.

__ADS_1


"Kita baru setengah perjalanan, kurang 250 meter lagi. Namun sepertinya akan sangat sulit, karena ...." ucapan Asep berhenti dan menoleh ke arah lain dari hutan itu.


Terpantau terdapat banyak sekali bahkan ada lebih dari dua puluh orang yang berjaga di sebuah perbatasan hutan tersebut. Terdapat sebuah pagar tinggi yang terbuat dari beton, dan pintu masuk pada pagar itu dijaga sangat ketat oleh orang-orang bersenjata dari Clone Nostra.


"Kita akan mati dengan mudah jika menyerang secara frontal," ucap Kimmy.


"Rekan-rekan yang lain sekarang berada di mana?" tanya Adam.


"Mereka berada di posisi mereka masing-masing, tergantung apa perintah selanjutnya yang akan kita laksanakan," ucap Faris.


Tak hanya dijaga oleh manusia, namun perbatasan tersebut juga dipantau oleh beberapa kamera pengawas di setiap sudutnya. Asep dapat dengan mudah menyadari keberadaan kamera-kamera tersebut.


Berlin terlihat sedang diam dan berpikir. Namun Asep menyela ketenangannya dengan berkata, "Bos, aku bisa menyadap dan memastikan kamera-kamera pengawas mereka, dan mungkin juga sekaligus mematikan total listrik mereka. Asalkan aku tahu di mana sumber listriknya."


"Mungkin saya tahu di mana benda itu berada," ucap Mavi menyela.


Asep kembali membentangkan peta yang ia bawa di atas tanah, dan di saksikan oleh rekan-rekannya sekaligus Prime. Mavi menunjuk sebuah lokasi di mana sumber listrik itu berada.


Namun benar apa yang dikatakan oleh pria berusia 26 tahun itu. Mereka harus melewati penjagaan ketat milik Clone Nostra di dinding perbatasan. Tak hanya itu, mereka juga harus melewati beberapa kamera pengawas yang ada di setiap sudut dindingnya.


"Risikonya akan terlalu tinggi," gumam Prime.


"Berada di pulau ini pun risikonya sudah tinggi," sahut Berlin tampak cukup tak acuh dengan apa yang dikatakan oleh Prime.


"Kim, panggil teman-teman untuk berkumpul! Aku punya rencana," lanjut Berlin meminta hal tersebut kepada Kimmy.


Kimmy pun melaksanakan perintah itu, dan kemudian mulai memanggil rekan-rekannya satu persatu. Tanpa menunggu waktu lama, semua rekannya kini sudah berkumpul di depannya. Berlin pun menyampaikan sebuah rencana yang terlintas dalam benaknya, dan rencana tersebut juga diketahui oleh Prime serta satu anggota lagi benrama Flix.


"Kita akan bergerak tepat ketika angin malam berhembus kencang, perlahan mendekati dinding dan sergap serta habisi setiap penjaga yang ada! Jangan beri napas untuk mereka melakukan perlawanan!"


"Aku perlu pihak aparat untuk berada di beberapa titik tertentu di luar dinding perbatasan!"

__ADS_1


"Setelah Asep berhasil menonaktifkan listrik yang ada, kita akan masuk dan langsung menuju ke vila yang ada di sana."


Berlin menyampaikan rencana tersebut kepada rekan-rekannya. Rencana yang terdengar gila dan nekat, namun memang itulah yang harus mereka ambil dan lakukan.


"Apa maksudmu dengan 'sergap dan habisi'? Apakah cukup melumpuhkan saja tidak cukup?" cetus Prime bertanya hal tersebut.


Berlin mengambil sebuah pisau dari tas kecil berwarna coklat yang dibawa oleh Adam sembari menjawab pertanyaan itu. "Tentu saja, jangan segan dengan penjahat seperti mereka, atau kita yang akan habis oleh mereka," ucapnya.


"Ibarat ... membunuh atau dibunuh. Di antara dua pilihan itu, pilihan mana yang akan kau ambil?" lanjut Berlin mendekati Prime sejenak ketika melempar pertanyaan seperti itu, sebelum kemudian beranjak menjauhinya begitu saja dan tidak ingin menunggu jawaban dari Prime soal pertanyaannya itu.


Prime tidak heran dan tidak terkejut ketika menghadapi sikap Berlin yang seperti itu, karena dirinya sudah tahu dan sudah mengenalnya dari lama. Ia memilih diam dan hanya akan mengikuti saja ke mana Berlin bergerak. Di sisi lain, dirinya memang mendapatkan sebuah tugas dari Garwig untuk mengawasi dan menjaga jika terjadi sesuatu yang buruk pada Berlin.


"Nicolaus, aku datang untuk beberapa hal soal tragedi itu," batin Berlin dengan ambisi yang cukup membara untuk menemui orang itu.


***


"Permisi, tuan, teh anda," seorang pelayan wanita berjalan mendatangi Nicolaus dengan nampan berisikan secangkir teh. Ia menghampiri Nicolaus yang tampak duduk sendiri di balkon vila.


Pelayan itu menghidangkan secangkir teh yang diinginkan oleh Nicolaus, dan kemudian mengambil langkah cepat untuk pergi begitu saja seolah ketakutan.


Nicolaus benar-benar cuek dengan orang yang beru saja menghantarkan pesanannya. Ia tidak peduli dengan kehadiran pelayan itu. Dirinya lebih peduli dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Tokyo bersama dengan Karina telah meninggalkan pulau petang tadi saat terjadinya kasus perampokan berskala besar itu. Kini hanya ada Nicolaus bersama dengan anak-anak buah yang ditinggalkan oleh Tokyo untuknya.


"Jadi begini rasanya, memiliki kekuasaan, pulau pribadi, vila pribadi, dan anak-anak buah beserta para budak itu," gumamnya dan pada kalimat terakhirnya ia melihat ke arah orang-orang yang terlihat sedang bekerja membersihkan tamannya secara terpaksa. Di pergelangan tangan dan kaki mereka terdapat rantai yang membelenggu pergerakan mereka.


"Berlin, aku menunggu kedatanganmu," lanjutnya kemudian menyeringai sinis dengan kedua bola mata tajam seolah sedang merencanakan rencana-rencana jahat nan kejam.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2