Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Membayar Informasi #7


__ADS_3

"Ada perlu apa kau datang ke mari?" tanya seorang pria berjaket kulit hitam dan lambang elang di lengannya. Pria itu tampak sangat dihormati oleh anggota-anggota geng motor yang ada.


Berlin dengan tenangnya menjawab, "aku hanya ingin bertanya, dan memastikan sesuatu." Ketenangannya dalam situasi yang berbahaya itu, justru sangat dicurigai oleh geng motor itu.


Personel dari geng motor itu sangatlah banyak, bahkan lebih banyak daripada personel Ashgard yang hanya berjumlah 14 orang. Dan semua personel geng motor itu telah bersenjata.


Ketiga rekan kepercayaan Berlin tampak tak bisa tenang, ditambah lagi semua mata dari para personel geng motor itu menatap tajam mereka dengan tatapan penuh kewaspadaan dan ingin membunuh.


"Entahlah, perasaanku tidak enak," gumam Asep berbisik sembari tangannya merasa kantong untuk sedikit meraih pistol miliknya.


Berlin yang mengetahui perbuatan Asep pun langsung menghentikannya dengan hanya melirik tajam rekannya itu. Asep pun menghentikan tindakannya yang mungkin akan membuat mereka berempat berada dalam situasi yang jauh lebih berbahaya.


"Bagaimana? Apakah aku boleh bertanya sesuatu pada kalian?" tanya Berlin ramah kepada pria yang tampaknya ketua dari geng motor itu.


"Ashgard sekarang adalah bagian dari kepolisian, bagaimana kami bisa menjamin keamanan dan kerahasiaan?" tanya pria itu menatap tajam Berlin.


Berlin membalas tatapan itu dengan tatapannya yang penuh dengan ketenangan, dan lalu menjawab, "meski begitu, kami tetap memiliki prinsip serta pendirian kami sendiri sebagai kelompok."


"Dan aku ... bisa menjamin keamanan serta kerahasiaan lokasi keberadaan kalian dari pihak kepolisian," lanjut Berlin.


Pria ketua geng motor itu kembali bertanya, "jika kami memenuhi permintaan mu. Maka ... apa keuntungan yang kami dapat?"


Berlin tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang menurutnya sepele itu. Ia menjawab, "aku sudah menyiapkan sesuatu hal yang bagus untuk kalian, jika kalian mau dan bersedia kooperatif dengan kami."


"Apa 'sesuatu hal' itu? Kami harus tahu terlebih dahulu!" sahut ketua geng motor itu.


"Sesuatu itu adalah ... ada barang, dan ada nominal. Dan mungkin dua hal ini adalah hal yang dibutuhkan untuk kelompok kalian." Berlin langsung menjawabnya sesaat setelah pertanyaan tersebut ia dengar.


Pria ketua dari geng motor tersebut pun menatap Berlin dengan tatapan percaya, namun juga sedikit menaruh rasa curiga. Ia tampak percaya karena sikap Berlin yang begitu tenang dan lirikan serta tatapan matanya yang tidak mencurigakan.


"Baiklah, apa yang kau inginkan?" tanya ketua geng motor kepada Berlin. Rekan-rekan geng motornya juga tampak sedikit menurunkan kecurigaan serta kewaspadaan mereka terhadap Berlin.


Merasa mendapatkan persetujuan untuk memastikan beberapa kecurigaannya. Berlin yang tidak mau basa-basi pun langsung memberikan beberapa pertanyaan sensitif mengenai Clone Nostra kepada geng motor itu.


"Kalian yang melakukan perampokan di bank cabang dini hari tadi, dan beberapa perampokan sebelumnya, 'kan?" cetus Berlin seraya menunjukkan beberapa bukti foto yang dibawa oleh Kimmy.


Terlihat orang-orang geng motor itu sangat terkejut dan langsung menatap tajam Berlin dengan tatapan ingin membunuhnya di tempat. Namun sang ketua geng motor meredakan amarah dari anak buahnya dengan hanya mengangkat satu tangannya.


"Ya, benar. Itu orang-orang ku yang melakukannya," jawab tegas ketua geng motor. "Tetapi, untuk perampokan mini market kemarin bukan dari kami. Bahkan kami tidak tahu mereka dari kelompok apa," lanjutnya.


"Mini market?" gumam Berlin mengerenyitkan dahinya.


"Orang-orang ku tidak ada yang memiliki mobil semewah pelaku perampokan mini market itu," sahut pria itu.


Berlin sempat melirik ketiga rekannya ketika mendengar hal tersebut. Dirinya merasa curiga dengan pernyataan dan pengakuan itu.

__ADS_1


"Baik, lalu bisakah kau jelaskan ini?" Berlin langsung memberikan pertanyaan keduanya, sembari menunjukkan sebuah foto yang menggambarkan tiga orang pelaku dengan jaket kulit, dan pistol berwarna putih keperakan.


Seketika suasana hening dan dingin. Tidak ada suara sama sekali setelah Berlin bertanya dan meminta penjelasan tentang foto tersebut. Ketua geng motor serta semua anak buahnya tampak terpaku dan terkejut. Bahkan ketiga rekan kepercayaan Berlin pun terkejut ketika Berlin meminta penjelasan soal pistol yang digunakan pelaku pada foto di lokasi perampokan itu.


"Bagaimana? Apa kau tidak bisa menjawabnya?" cetus Berlin menyela keheningan tersebut dan menatap dingin pria yang ada di hadapannya.


"Um, aku benci suasana ini," bisik Adam melirik ke arah Asep yang berdiri di sampingnya.


"Ya, aku juga," sahut Asep berbisik.


Ketua geng motor itu tampak menghela napas dan lalu berkata, "ku akui ... kau memang jeli, Berlin."


"Pistol itu memang bukan milik kami, kami mana punya pistol berkelas dan mewah seperti itu. Itu hanya pinjaman."


Berlin mengangkat satu alisnya dan bergumam, "pinjaman, ya?"


"Ya, Clone Nostra yang meminjamkannya." Ketua geng motor itu langsung berbicara demikian.


Berlin merasa dugaannya benar. "Clone Nostra? Apa kalian memiliki hubungan dengan sindikat itu?" tanya Berlin kemudian.


"Apa yang ku dapat, dan jaminan apa yang kami dapat jika aku menjawabnya?" sahut ketua geng motor itu. Ia tampak tidak ingin membocorkan atau memberikan informasi secara cuma-cuma.


"Kau meremehkan ku?" Berlin tersenyum tipis. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari saku hoodienya, dan lalu mengatakan, "benda di dalam kotak ini yang akan kau dapat."


"Kami dibayar oleh mereka untuk melakukan semua itu," ucap ketua geng motor.


Berlin melirik ketiga rekannya ketika mendengar jawaban tersebut. Dibayar? Dugaan yang sebelumnya sudah Berlin pikirkan.


~


Pukul 22:20 malam.


Markas Ashgard.


Setelah selesai dan merasa puas dengan apa yang didapat. Berlin pun segera kembali ke markasnya bersama dengan rekan-rekannya. Ia pulang tanpa tangan hampa. Ia mendapat apa yang ia inginkan. Tak lupa juga Berlin membayar semua informasi yang ia dapat.


"Syukurlah semuanya aman," gumam Kimmy.


"Semuanya, terima kasih untuk hari ini, silakan nikmati waktu malam kalian!" Berlin membubarkan rekan-rekannya untuk bisa mengambil waktu untuk beristirahat atau untuk melakukan hal yang mereka suka.


"Siap, bos."


"Baik."


Beberapa rekan-rekannya pun membubarkan diri dan pergi dari markas. Sedangkan beberapa lagi tampak masih ingin menghabiskan waktunya di markas. Berlin hanya membiarkannya.

__ADS_1


"Dari awal mereka sudah terlihat cukup segan dengan Berlin," timpal Asep duduk di sebuah sofa ruang utama.


"Aku tahu itu, maka dari itu aku ingin mencoba untuk memanfaatkan kesan ku," sahut Berlin duduk di sofa yang sama dengan Asep.


"Um, berarti ... kita sekarang tahu ... kalau kasus-kasus perampokan itu adalah ulah Clone Nostra yang membayar geng motor untuk melakukan pekerjaan kotor itu." Adam mengambil sebuah minuman kaleng dari kulkas di belakang, dan lalu ikut duduk di sofa dengan rekannya.


"Tetapi kita masih tidak tahu di mana keberadaan pasti dari Clone Nostra," sela Kimmy yang berdiri dan bersandar di sofa tepat di samping Berlin.


"Namun kurasa cukup untuk hari ini, aku ... um ... kita mendapat beberapa informasi berharga yang penting untuk kita." Berlin tampak cukup lelah dan bersandar pada sofa tersebut.


Adam tiba-tiba menyenggol Berlin dengan sikunya dan mengatakan, "udah jam berapa, nih? Kau nggak langsung pulang?" ucapnya sembari melirik rekannya itu.


"Sebentar lagi, lah," jawab Berlin.


"Kim, aku mau catat," cetus Sasha berjalan menghampiri Kimmy bersama dengan Kina dan Vhalen.


"Oh, baik." Kimmy pun langsung menanggapinya, ia berjalan bersama rekan-rekannya itu menunju ke ruang brankas di belakang.


"Dam, minuman masih ada, 'kan?" cetus Asep beranjak dari sofanya.


"Ada, ambil aja tuh di kulkas!" sahut Adam.


"Bos, bagaimana soal pulau itu? Dan bagaimana pihak kepolisian menanggapinya?" tanya Asep ketika membuka sebuah kulkas kecil dan mengambil dua minuman kaleng dari dalamnya.


"Aku tidak tahu, Prawira belum memberitahuku apapun soal pulau itu," jawab Berlin.


Asep berjalan kembali dan memberikan satu minuman kalengnya kepada Berlin, lalu duduk di sebelahnya.


"Dahulu kita sering bingung mencari kegiatan untuk kelompok, tetapi sekarang kita punya tugas yang harus dikerjakan. Aku masih tidak percaya ini," gumam Adam.


"Ya, kita sering bingung mencari kegiatan, tetapi dahulu kegiatan kita kebanyakan berurusan dengan kelompok lain, entah mengapa dahulu kita sering sekali disenggol dan diganggu." Asep ikut menambahkan apa yang dikatakan Adam.


"Kalau diingat-ingat benar juga, dahulu kita lebih sering tertindas, karena di mata kelompok-kelompok itu kita adalah anak baru di dunia kelam itu," lanjut Berlin.


Perbincangan ringan itu pun terus berlanjut. Beberapa kali mereka mengingat-ingat masa-masa awal di mana Ashgard dibentuk. Masa-masa di mana Ashgard dianggap dan remehkan oleh kebanyakan kelompok kriminal.


Di tengah perbincangan, Berlin tiba-tiba terpikirkan suatu hal. "Sep, bisakah kau urus semua kasus perampokan yang belum terselesaikan itu?" tanya Berlin tiba-tiba terpikirkan hal tersebut.


"Urus? Bagiku bisa saja mengurusnya, bahkan membuat kepolisian tinggal membersihkan sisanya saja," jawab Asep.


"Baiklah, kalau begitu urus segera!"


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2