
Rintik hujan yang awalnya hanya sekedar gerimis, kini perlahan mulai deras. Udara pun menjadi cukup dingin, meski ini masih di siang hari. Namun langit sudah gelap berwarna abu-abu yang cukup pekat.
"Jangan pakai baju yang tipis, ya!" ucap Berlin kepada istrinya yang hendak berganti baju.
"Yang ini, nggak boleh?" Nadia mengambil dan menunjukan sebuah dress selutut berwarna putih. Lagi-lagi dress menjadi pilihan utamanya.
"Nggak! Di luar dingin, sayang." Berlin langsung melarangnya, apalagi melihat betapa tipisnya bahan dari dress yang dipilih oleh Nadia layaknya baju musim panas. Di sisi lain, Berlin memiliki alasan lain mengapa melarang istrinya memakai pakaian itu. Dirinya sangat tidak ingin wanitanya menjadi pusat perhatian laki-laki lain.
"Ini, nih! Yang ini saja." Berlin mengambil sebuah baju berwarna hitam dan sedikit berlengan dari dalam lemari milik Nadia. Bahan dari baju tersebut juga cukup tebal, dan cocok dipakai pada cuaca dingin seperti saat ini.
Beberapa saat kemudian, setelah Nadia berganti pakaian menuruti apa yang diinginkan oleh suaminya. Ia terlihat sedikit kurang percaya diri, meskipun pakaian yang kini ia pakai sangat cocok. Baju berwarna hitam yang sedikit berlengan, dan celana jeans panjang berwarna abu. Di saat yang bersamaan, Berlin juga selesai mengganti pakaiannya agar lebih hangat ketika berada di luar ruangan.
"Bagus, nggak?" tanya Nadia sedikit canggung di hadapan laki-lakinya.
Berlin tersenyum dan mendekat, bahkan hingga jarak di antara mereka terkikis. "Bagus, dan cocok! Aku sangat menyukainya," ucapnya sembari mengulas senyuman senangnya, dan menyelipkan helaian rambut milik Nadia ke balik telinga dengan jemarinya.
Nadia harus sedikit mendongak untuk menatap wajah laki-laki itu, karena memang dirinya sedikit lebih pendek dari Berlin. Namun sesaat ia menatap wajah tampan milik suaminya, ia kembali menundukkan kepalanya karena tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Kedua pipinya cukup merona, dan ia tak sanggup untuk menatap langsung kedua mata milik Berlin yang kini sedang menatapnya.
***
Waktu menunjukkan pukul dua siang hari. Namun suasana di siang ini cukup dingin. Diikuti oleh semakin derasnya air hujan yang turun ke bumi. Meski begitu, sepertinya hujan tidak menjadi hambatan bagi orang-orang yang masih sibuk beraktivitas di siang hari. Jalanan tetap saja tampak ramai dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Di tengah derasnya hujan. Berlin mengemudikan mobilnya melalui jalanan di lereng bukit kota. Dirinya tidak ingin terlalu kencang dalam mengemudi karena mengingat keselamatan, dan juga ingin menikmati waktu lebih lama bersama Nadia.
Meskipun dalam keadaan hujan. Nadia kelihatannya sangat menikmati suasana ini, dan sangat senang karena Berlin menuruti keinginannya meskipun sedang dalam keadaan hujan.
__ADS_1
"Berlin."
Mendengar namanya dipanggil. Berlin langsung melirik dan sedikit menoleh ke arah wanita itu, namun tetap tak lupa untuk tetap fokus ke jalanan saat mengemudi.
"Apa, sayang?" tanya Berlin dengan intonasi yang sungguh lembut nan tulus.
"Ngomong-ngomong, kita belum makan siang, ya?" ucap Nadia. Sikap dan cara berbicaranya terlihat cukup canggung, seolah ada yang ia inginkan namun cukup susah untuk tersampaikan.
Tetapi, Berlin sepertinya dapat memahami hal tersebut. Ia tersenyum senang jika memang dugaannya benar. "Kamu mau makan apa? Apa yang kamu inginkan?" tanyanya.
"Nasi goreng!" sahut Nadia tanpa basa-basi dan cukup antusias.
Berlin dibuat terkekeh mendengar jawaban tersebut, "makanan favoritmu sepertinya belum berubah dari dahulu, ya?" ucapnya.
"Ehehe," Nadia ikut tertawa kecil. "Um, tetapi ... aku maunya makan sambil lihat pemandangan yang menyejukkan mata," lanjutnya dan tanpa ia sadari dirinya telah menyampaikan keinginannya saat ini kepada Berlin.
Mendengar keinginannya akan dikabulkan. Nadia tersenyum manis dengan sendirinya, dan mengucapkan terima kasih dengan sangat tulus sembari menatap laki-laki yang sedang menyetir itu. Yah, walaupun dirinya cukup dibuat tersipu ketika mengucapkan kata "terima kasih" itu.
***
Tiga puluh menit pun berlalu, tepatnya pukul dua lewat tiga puluh siang. Hujan cukup mereda, dan kini menyisakan rintik-rintik kecilnya saja. Namun suasana dingin tetap masih terasa. Apalagi kini Berlin sampai di sebuah restoran kecil yang letaknya berada di atas bukit kota.
Nama tempat atau restoran tersebut adalah Oriental Rest. Tempat yang indah untuk menyaksikan pemandangan lereng-lereng perbukitan, dan sekaligus dapat menyaksikan gedung-gedung kota dari restoran ini.
Tak hanya pemandangannya saja yang indah. Tempat atau restoran ini juga meninggalkan kenangan yang sangat indah bagi Berlin dan Nadia tentunya. Karena restoran ini menjadi satu-satunya restoran di mana mereka mengadakan kencan sebelum akhirnya menikah. Dan di tempat inilah, Berlin menceritakan serta mulai terbuka kepada Nadia untuk pertama kalinya soal semua tentang keluarga besarnya.
__ADS_1
"Kamu masih mengingatnya?" tanya Nadia ketika mobil mereka berhenti dan parkir di halaman parkir yang kala ini cukup sepi, hanya ada beberapa mobil saja di sana.
Berlin melepas sabuk pengamannya, tersenyum mendengar pertanyaan itu, dan menjawab, "tentu saja, karena di momen itulah, pertama kalinya bagiku untuk mulai benar-benar terbuka kepada seseorang yang ku cintai."
"Kamu benar-benar masih mengingatnya ...." Nadia hanya diam berkata di dalam hati sembari tersenyum bahagia, dan merasa sangat senang ketika mengetahui kalau Berlin tidak melupakan momen indah itu.
Tanpa menunggu lama lagi. Berlin segera turun dengan membawa sebuah payung, dan membukakan pintu untuk istrinya. "Yuk!" ajaknya seraya mengulurkan satu tangan untuk digenggam kepada Nadia. Dengan sangat senang hati, Nadia meraih tangan tersebut dan menggenggamnya dengan erat.
***
"Sampai kapan kita harus melakukan tugas ini?" tanya seorang pria dengan hoodie berwarna abu kepada rekannya yang mengenakan hoodie dengan warna hitam.
"Sampai kita menemukan informasi yang menarik," jawab rekannya.
Mereka berdua berada di dalam sebuah mobil yang terparkir di sudut halaman parkir Restoran Oriental Rest. Keempat pasang mata mereka terus mengamati mobil berwarna hitam, dan sepasang suami istri yang turun dari mobil tersebut.
Ketika sepasang suami istri itu memasuki restoran. Kedua pria itu langsung kehilangan pantauan target mereka. "Ayo!" ajak rekannya untuk turun dan juga masuk ke restoran.
"Apakah harus membawa senjata?" tanyanya kepada rekannya itu.
"Tidak usah, misi kita bukan untuk membunuh mereka," jawab rekannya ketika membuka pintu dan turun dari mobil. Ia pun turun dan mengikuti langkah dari rekannya yang akan menuju restoran.
Ketika berjalan di bawah rintik hujan dan melalui halaman parkir yang cukup luas serta terbuka itu. Rekannya berkata, "jangan lupakan sesuatu," ucapnya dengan tajam dan dingin.
Pria dengan hoodie berwarna putih itupun mengeluarkan sebuah ponsel dari saku hoodienya, dan tampak mengutak-atik ponsel tersebut sembari terus berjalan menuju pintu masuk restoran.
__ADS_1
.
Bersambung.