
Pada hari berikutnya, Berlin kembali menemui Garwig untuk berkoordinasi dengan regu aparat yang berada di pulau. Keberangkatannya belum bisa dipastikan kapan, namun dirinya termasuk Ashgard terlihat sudah benar-benar siap.
Pertemuannya dilakukan di ruang pertemuan Gedung Balaikota, dan dihadiri juga oleh sang walikota beserta Prawira di sana. Garwig telah membuat sebuah rencana untuk Ashgard masuk ke pulau itu. Sepertinya itu tidak akan mudah, karena berdasarkan informasi yang didapatkan dari Prime selaku pemimpin regu tersebut, intensitas Clone Nostra sangatlah tinggi.
"Jadi ... apakah kau sudah menentukan keberangkatan kalian?" tanya Garwig kepada Berlin yang duduk tepat bersebrangan dengannya.
"Keberangkatan bisa ditentukan kapan saja," jawab Berlin.
"Apakah kau sudah yakin dengan keputusan mu itu?" tanya Prawira. Ia tampak cukup khawatir dan sangat tidak setuju dengan keputusan yang dibuat Berlin.
"Ya," jawaban singkat Berlin dengan tatapan tajam dan sikapnya yang dingin seperti biasa.
Garwig pun menyerahkan sebuah dokumen kepada Berlin, dan memintanya untuk membaca isi dokumen tersebut. Dokumen itu berisikan soal koordinasi Ashgard dengan regu yang saat ini masih berada di pulau. Regu yang dikirim oleh Garwig telah mengetahui keputusan Berlin dan kelompoknya. Mereka juga setuju untuk dapat bekerjasama dengan Ashgard.
"Tentu aku tidak dapat melepaskanmu begitu saja tanpa adanya pengawasan. Regu itu berisikan 14 orang, dan mereka akan membantumu di sana. Namun perintah mutlak mereka tetaplah berada di diriku," ucap Garwig.
"Pimpinan regu tersebut adalah Prime, dan aku yakin kau sudah mengenalnya. Semua perlengkapan kalian akan ku cukupi, dan regu itu juga akan ku siagakan untuk keselamatan mu di sana, Berlin," lanjut Garwig.
"Biarkan ku peringatkan kau sekali lagi, Berlin! Keputusan yang kau ambil sangatlah berisiko, kau bisa pergi ke sana namun belum tentu kau dapat kembali dari pulau itu dalam keadaan hidup atau selamat." Prawira ikut menambah untuk memperingatkan Berlin soal keputusan yang diambilnya. Ia masih menyimpan harapan untuk Berlin mengurungkan niatnya. Namun sepertinya itu adalah hal yang mustahil, karena Berlin bukanlah tipe orang yang mudah menarik kembali keputusan yang telah ia buat.
"Terima kasih atas peringatannya, Prawira," sahut Berlin menoleh dan menatap Prawira yang duduk tak jauh di sebelahnya.
"Apa yang akan kau lakukan ketika kau berhadapan dengan Nicolaus?" Boni sebagai walikota tiba-tiba saja melontarkan sebuah pertanyaan kepada Berlin.
Berlin memberikan jawabannya dengan tenang dan terkesan dingin seolah memiliki hasrat untuk melukai orang. "Aku ingin memastikan beberapa hal yang penting bagiku, dan kemudian ... aku akan memutuskan kehendak ku tentang apa yang akan ku lakukan terhadapnya," jawabnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban yang terkesan cukup ambigu karena tidak memberikan kepastian. Boni menghela napas berat dan merasa cukup kurang puas.
"Anda ... ingin saya melakukan apa?" celetuk Berlin dengan tatapan tajamnya mengarah kepada walikota. Tentunya tatapan itu cukup kurang sopan jika ditujukan kepada orang yang memiliki kedudukan sangat penting. Namun Berlin tidak peduli dengan hal tersebut.
Boni terdiam dan tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Namun Berlin tetap mendesak seolah ia tahu apa yang dipikirkan oleh sang walikota.
"Katakan saja, pak! Katakan saja bahwa anda ingin saya menangkap buronan nasional itu, atau bahkan menghabisinya di sana. Tentu untuk hal itu tidak gratis, akan ada regulasi pembayaran yang harus anda bayarkan ke saya."
Secara blak-blakan Berlin berbicara demikian di depan walikota, dan hal itu sepertinya berhasil membuat walikota terkejut sekaligus kikuk. Prawira dan Garwig hanya diam ketika Berlin berbicara seperti itu.
"Apa maksudmu?!" sahut Boni terlihat cukup tidak terima. Ia begitu terlihat panik ketika Berlin beranggapan seperti itu.
"Sebelumnya maafkan saya atas sikap saya yang lancang kepada anda. Tetapi ... mata tidak bisa berbohong, Pak." Berlin menundukkan pandangannya namun tidak dengan kepalanya. Ia meminta maaf atas kelancangannya kepada walikota. Namun tatapan tajamnya masih saja tidak bisa lepas dari Boni yang terlihat cukup kikuk di kursinya.
"Pak, jika memang begitu keinginan anda, maka kita bisa bicarakan baik-baik," lanjut Berlin bersandar dengan santai pada sandaran kursinya sembari mengulas senyuman sinis.
"Aku menginginkan bayaran yang sepadan dengan risiko yang tinggi, jika memang anda berkenan membayar kami ... Ashgard untuk menghadapi Nicolaus," lanjut Berlin tanpa menghiraukan kedua orang itu. Pandangannya tertuju kepada Boni yang duduk di balik meja kerjanya.
"Apa yang kau inginkan?" sahut Boni sepertinya tertarik dengan pembicaraan Berlin.
Tanggapan dari walikota tentu menimbulkan kontra dari Prawira dan Garwig. Mereka berdua cukup menentang hal tersebut. Namun pertentangan mereka tidak ada artinya, karena Berlin tidak menghiraukan kedua orang penting itu.
***
Pukul 16:00 sore, Pulau La Luna.
__ADS_1
"Aku sudah mengirim orang-orang ku untuk memantau pergerakan regu milik aparat yang berada di Utara pulau. Aku memberikan tanggung jawab perintah tertinggi kepada Karina, sebelum kau bergabung dengan mereka."
Tokyo terlihat sedang berbicara dengan teman dekatnya yaitu Nicolaus di taman belakang vila. Ia membicarakan soal Karina dan anak-anak buahnya di pulau yang sudah bergerak. Tak hanya itu, ia juga memberikan kedudukan untuk Nicolaus memimpin beberapa anak buahnya.
"Bagaimana? Apakah menurutmu Berlin akan datang?" tanya Nico berdiri memandangi laut yang terlihat dari posisinya saat ini.
"Tenang saja, dia akan datang sesuai dengan rencana dan keinginanmu, Nico. Orangku sudah mendapatkan informasi mengenai hal tersebut," jawab Tokyo dengan santainya.
"Nicolaus, akan ada saatnya aku akan pergi ke kota untuk melakukan aksi, dan di saat itu juga kau akan menggantikan ku di sini. Jadi bersiaplah ...!" lanjut Tokyo sebelum dirinya beranjak pergi dari sana kembali masuk ke dalam vila.
Kini hanya ada Nicolaus seorang diri di taman itu. Ia beranjak ke tepi taman, dan bersandar di sebuah pagar pembatas yang ada di sana. Dirinya meraih sebuah pistol berwarna perak yang bergelantung di pinggangnya, dan kemudian memandangi senjata api tersebut.
Senjata api yang kelihatannya memiliki harga yang sangat mahal, apalagi berlapis warna perak yang semakin membuatnya terlihat berkelas. Pistol tersebut terisi oleh amunisi yang penuh, dan belum pernah sama sekali digunakan oleh Nicolaus untuk menembak.
"Sepertinya aku harus memanaskan pelatuknya," gumamnya sendiri sembari mengulurkan kedua tangannya yang menggenggam pistol itu ke arah depan. Bidikannya ia arahkan ke sebuah pohon kelapa yang berjarak cukup jauh dari lokasinya berdiri.
Pengaman pelatuk telah ia lepaskan, dan kini jari telunjuknya sudah siap untuk menarik pelatuk tersebut. Tatapannya tajam dan begitu fokus untuk membidik beberapa buah kelapa yang bergelantung pada pohon itu. Niat untuk menembak cukup membara di dalam hatinya.
DOR ...!!
Tembakan pun ia lepaskan dari kejauhan mengarah ke arah pohon kelapa itu. Sesaat kemudian, sebuah objek berwarna putih jatuh dari atas pohon kelapa itu. Bukannya berhasil menembak jatuh buah-buah kelapa yang bergelantungan di sana. Timah yang ia tembakkan justru mengenai seekor burung camar yang hinggap di atas pohon tepat beberapa saat sebelum pelatuknya ia tarik.
"Hewan yang malang," gumamnya tanpa terlihat memiliki belas kasih, dan kemudian beranjak pergi sembari menyarungkan kembali senjata apinya.
.
__ADS_1
Bersambung.