Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Hajar Mereka Semua! #103


__ADS_3

"Masuki saja semua rumah-rumah yang ada di sini, dan ambil barang-barang sesuka kalian! Atau kalian mau lakukan hal yang lebih besar pun terserah kalian!"


Suara salah satu orang di antara sekelompok bersenjata milik Clone Nostra terdengar. Mereka melakukan tindakan kejahatan yakni perampokan bahkan hingga pembunuhan serta penawanan terhadap beberapa pemilik rumah di Distrik Timur.


Suara-suara tembakan dari senjata api yang mereka bawa terdengar berkali-kali, bahkan mungkin tidak ada hentinya. Kengerian itu juga sampai dapat didengar oleh Helena dan Alana beserta beberapa pekerja wanita dan seluruh anak di panti asuhan.


Helena berserta anak-anak panti asuhan kini masih terjebak dan tidak dapat keluar dari bangunan itu. Jika mereka keluar, maka mereka akan tertangkap oleh orang-orang Clone Nostra, dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka tertangkap oleh orang-orang jahat itu.


Sebuah harapan masih mereka taruh, meskipun Helena sendiri tidak tahu apakah dirinya berhasil menyampaikan pesan kepada Nadia beberapa waktu lalu melalui telepon. Sinyal yang menjadi penghambat komunikasi yang sempat ia lakukan beberapa waktu yang lalu. Dirinya tidak yakin kalau Nadia bisa mendengar semua yang ia ucapkan.


"Hanya Nadia yang bisa ku hubungi, namun aku tidak yakin apakah suaraku dapat dia dengar," ucap Helena menghampiri Alana yang berkumpul bersama dengan anak-anak di area belakang panti asuhan.


"Semoga saja ada bantuan," ucap Alana.


BRAAKK ...!! BRAAKK ...!!


Di saat yang bersamaan, pintu masuk panti asuhan terdengar seperti sedang didobrak oleh seseorang. Mendengar hal tersebut, Helena pun menyuruh seluruh anak asuhnya beserta kedua pekerjanya untuk bersembunyi. Berharap orang-orang bersenjata itu segera pergi dan meninggalkan bangunan ini.


"Tempat apa ini?!"


"Dari sejak menguasai Distrik Timur, kita belum sama sekali menjamah bangunan ini."


"Dobrak! Periksa dalamnya, dan pastikan apakah masih ada orangnya!"


Percakapan dari orang-orang bersenjata itu terdengar cukup keras, bahkan hingga ke telinga Alana dan Helena. Mereka berdua langsung mengambil benda-benda di sekitar seperti balok kayu ataupun sebuah tongkat besi yang dapat dijadikan sebagai senjata.


Anak-anak terlihat sangat ketakutan mendengar beberapa kali dobrakan dari luar. Namun Alana beserta dua pekerja panti asuhan berusaha untuk tetap membuat mereka tenang.


***


"Bos, kami melihat orang-orang Clone Nostra memasuki gang panti asuhan."


"Ya, dan tampaknya mereka hendak menerobos masuk bangunan itu."

__ADS_1


Mendengar laporan dari beberapa rekan pengendara motornya yang telah sampai terlebih dahulu di lokasi. Berlin pun memberikan perintahnya dengan berkata, "hajar dan tunjukkan kedatangan kalian!"


"Oke! Sesuai keinginanmu, Bos!" sahut beberapa rekannya melalui radio komunikasi dengan penuh semangat.


Tiga pengendara motor dari pihak Ashgard mengambil ke beberapa posisi di rumah-rumah warga yang sudah kosong. Sesaat setelah itu, mereka pun segera mengambil pistol yang dibawa dan kemudian menarik pelatuknya sembari membidik orang-orang berbaju putih itu.


Baku tembak pun tidak terelakkan. Kedatangan Ashgard yang tiba-tiba sepertinya cukup membuat beberapa orang dari Clone Nostra berlarian panik kocar-kacir. Mereka orang-orang berbaju putih itu tidak mengetahui dari mana asal tembakan yang dilakukan oleh Ashgard.


"Habisi mereka, dan jangan ada yang tersisa ...!" titah Berlin dengan intonasi bicara yang terdengar rendah, namun terkesan kejam dan mengerikan seolah menyimpan amarah serta dendam tersendiri.


Keempat mobil dari pihak Ashgard ketika sampai di lokasi, mereka langsung menutup satu-satunya akses masuk gang tersebut dan membuat sekelompok bersenjata itu tidak dapat lari kemana-mana.


"Ashgard?!"


"Kenapa mereka bisa di sini?!"


"Bukankah seharusnya mereka mati di pulau?!?"


DESING ...!!!


Berlin membidik serta menarik pelatuknya, menjatuhkan bahkan hingga menghabisi beberapa orang dari pihak Clone Nostra tanpa ampun dan rasa bersalah. Meskipun mereka juga memberikan tembakan perlawanan, namun posisi Berlin saat ini berada di balik mobil miliknya yang anti peluru serta anti ledakan itu.


...


"Pak, Flix melaporkan adanya kontak senjata di Distrik Timur antara sekelompok orang berpakaian hitam itu dengan pihak Clone Nostra."


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Prawira mendapatkan laporan tersebut dari salah satu polisi wanita yang sempat menemuinya sebelumnya. Terlihat Prawira tengah berpikir sebelum kemudian memberikan perintah, "kirim satu regu ke sana ...! Bantu sekelompok orang berpakaian serba hitam itu!"


"Namun itu akan cukup melenceng dari rencana awal yang Pak Garwig sempat sampaikan," ucap polwan itu.


"Ya, ada sedikit penambahan rencana," sahut Prawira dengan sikap yang begitu tenang.


...

__ADS_1


Dalam waktu yang cukup singkat, hanya memerlukan sekiranya dua puluh menit saja. Seluruh orang-orang Clone Nostra yang hendak merangsek masuk ke bangunan panti asuhan, kini semuanya telah dibuat tergeletak tak berdaya. Meskipun mereka melakukan perlawanan terhadap tembakan-tembakan yang dilakukan oleh Ashgard. Namun posisi mereka yang tidak diuntungkan karena terhimpit di dalam gang itu, membuat mereka semua tewas ditempat.


"Bersih! Aman, Bos!" teriak Asep.


"Adam, Asep, kalian tetap siap di mobil! Kimmy, kau ikut aku! Sedangkan yang lain, buat perimeter sementara di sekitar area ini, dan laporkan segala pergerakan yang kalian lihat!"


Dengan langkah sigap, Berlin berlari menuju bangunan panti asuhan yang berada di ujung gang itu sembari memberikan arahannya kepada seluruh rekannya. Bangunan itu terlihat sudah tidak ditinggali lagi, bahkan ketika Berlin mengetuk pintu masuk, dirinya tidak mendapati jawaban atau respons dari dalam.


"Apakah masih ada orang?!" Berlin sempat teriak agar terdengar sampai ke dalam bangunan. Namun tetap saja, suasana hening yang tercipta.


"Aku tidak yakin jika bangunan ini benar-benar sudah ditinggalkan," cetus Kimmy yang memeriksa ke dalam bangunan melalui sela-sela jendela. Dirinya mendapati situasi ruang tamu bangunan tersebut yang tampak masih rapi dan bersih.


Berlin sedikit mundur dari pintu kayu itu, dan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak paksa pintu tersebut.


BRAAKKK ...!!!!


Situasi ruang tamu dan ruang tengah panti asuhan benar-benar sunyi dan sepi. Berlin tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di dalam. Benar-benar sunyi, sepi, dan sangat gelap.


"Bos, ini mencurigakan," bisik Kimmy, dirinya terus bersikap waspada dengan sebuah pistol yang masih berada dalam genggamannya.


"Turunkan senjatamu ...!" pinta Berlin kepada rekannya.


Pria itu perlahan melangkah lebih masuk ke dalam panti asuhan, "Nyonya Helena? Alana? Akira? Apakah kalian ada di dalam?" cetusnya ketika menyusuri ruang tengah yang amat gelap itu.


"Papa?" Ketika bersembunyi di area belakang dan dapur. Akira mendengar suara yang sangat tidak asing di telinganya. Dirinya tiba-tiba langsung keluar dari persembunyian dan berlari ke arah ruang tengah.


"Akira, jangan ...!" pinta Alana sedikit berbisik. Dirinya hendak menarik tangan Akira untuk tidak keluar dari tempat persembunyian, namun itu sudah terlambat. Anak perempuan itu langsung berlari ke arah ruang tengah, menghampiri sumber suara yang memanggil namanya.


"Papa! Papa, Akira di sini!"


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2