
Dua orang yang dipilih oleh Berlin kini tengah bergerak melalui sisi timur gedung. Tujuan mereka adalah mengambil mobil yang diparkiran di suatu tempat pada lereng bukit sebelah timur itu. Tentu mereka tidak bergerak hanya dua orang, beberapa rekan mereka yakni Ashgard tetap melakukan pemantauan terhadap dua orang itu dan siap melakukan perlindungan jika diperlukan.
Beberapa titik dan posisi di atap gedung kini ditempati oleh beberapa orang dari Ashgard. Mereka melakukan pemantauan atas pergerakan dari Galang dan Rony yang mulai menyebrangi sebuah jalan setapak menuju ke lereng bukit sebelah timur. Setidaknya terdapat tiga orang dari Ashgard yang menempati posisi atap gedung putih itu, dan tiga orang itu adalah Aryo, Sasha, dan Kina.
"Flix, kau tidak kembali bergabung dengan regumu?" tanya Berlin. Dirinya masih berada di salah satu sudut aula bersama dengan Flix, dan dua orang rekannya yakni Adam dan Kimmy beserta Kent yang masih terbaring lemah dengan luka pada sekujur tubuhnya.
"Aku sudah bilang padamu sebelumnya, bukan? Aku akan tetap bersamamu, bersama kalian mungkin lebih tepatnya," jawab Flix, kemudian melihat ke arah Adam dan Kimmy.
"Tampaknya kau mendapatkan pengawal baru, bos," celetuk Kent tiba-tiba, dengan senyuman pahit karena menahan rasa sakit yang ia rasakan pada sekujur tubuhnya.
Kent masih tergeletak dan tidak bergerak sama sekali, namun kesadarannya sudah kembali meskipun tampaknya masih sangat lemah. Pendarahan pada lukanya masih terjadi, tetapi itu dapat ditahan untuk sementara oleh sosok wanita medis berseragam militer yang berada tepat di sisi Kent.
Berlin tersenyum kecil melihat salah satu rekannya itu. Walaupun dalam keadaan sangat melemah, tetapi Kent memaksakan diri untuk bisa berceletuk dan sedikit bergurau padanya.
"Singkat saja, dia Flix yang juga salah satu anggota keluargaku," ucap Berlin memperkenalkan sosok Flix kepada tiga rekannya.
"Sudah ku duga," gumam Kimmy sembari memeriksa dan mengobati luka yang diterima oleh Adam.
"Ya, aku tidak terkejut, kok ...!" timpal Adam.
"Kalian sudah tahu ...?!" cetus Berlin terkejut.
"Ya, karena kami sempat bertem---"
"Kami berhasil membawa mobilnya!"
Ucapan Kimmy terpotong oleh suara dari salah satu rekannya yakni Galang yang kedengarannya berhasil membawa mobil yang dimaksud.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saja!" ucap Berlin, dan dibantu oleh Flix yang memapahnya untuk berdiri.
__ADS_1
"Sesuai rencana, ya!" cetus Adam juga beranjak berdiri.
Adam, Kimmy, bersama dengan satu anggota medis itu pun mempersiapkan sebuah tandu darurat dari dalam tas yang dibawa oleh anggota medis tersebut. Mereka pun dengan sigap memindahkan Kent yang tergeletak dari lantai ke atas tandu, dan kemudian membawanya menuju ke sebuah ruangan di mana Berlin sempat ditahan sebelumnya. Di ruangan tersebut terdapat sebuah dinding yang sudah dihancurkan oleh Carlos, dan Berlin memiliki ide untuk menggunakannya sebagai akses keluar tanpa harus melalui pintu belakang yang sedikit jauh, dan pintu depan yang sangat berbahaya karena dapat menjadi sasaran tembak yang terbuka.
"Kami sudah berada di posisi!" cetus Rony melalui radio komunikasi tersebut.
Sebuah mobil Jeep berwarna hitam tampak sudah siap tepat di depan dinding yang hancur pada ruangan itu. Di saat itu juga, Berlin bersama dengan rekan-rekannya yang membawa Kent di atas tandu itu keluar dari ruangan tersebut.
"Sesuai dengan rencana, kalian berdua bawa Kent bersama dengan anggota medis ini ke rumah sakit! Tidak usah pedulikan kami di sini, teruslah mengemudi ke arah rumah sakit!" tegas Berlin kepada dua rekannya yang membawa mobil tersebut, terutama kepada Rony yang bertugas mengemudikan mobil itu.
"Ba-baiklah ...! Serahkan saja padaku," sahut Rony meski terdengar ada keraguan ketika ia berbicara. Karena baginya tidak mungkin meninggalkan Berlin yang cedera di sini. Namun karena itu adalah perintah dari Berlin sendiri, dirinya hanya dapat menyakini dan mempercayai titah atau perintah tersebut.
DESING ...!!
"MEREKA DATANG ...!" teriak salah satu rekannya yang melakukan pantauan dari atap gedung.
Beberala serangan dan tembakan tiba-tiba saja melayang menghujani Gedung Balaikota, bahkan beberapa peluru tersebut sempat hampir mengenai Berlin dan teman-temannya.
BRRUUUMMM ...!!!
Rony langsung melajukan mobilnya dengan menerjang segala rintangan ranting dan semak belukar di lereng bukit itu. Dirinya bersama dengan Galang telah berhasil membawa Kent di kursi belakang bersama dengan salah satu anggota medis milik kemiliteran yang terus menahan pendarahan yang terjadi pada luka milik Kent. Dalam beberapa saat, mereka berdua berhasil membawa Kent dalam keadaan terluka sangat parah dari area konflik yang mengerikan itu.
Namun Berlin dan beberapa rekannya yang tersisa harus bertahan di gedung putih tersebut. Dirinya bisa saja pergi bersama dengan Rony dengan menggantikan kursi Galang dengan dirinya sendiri. Tetapi Berlin tidak memilih untuk itu, dan lebih memilih untuk tinggal karena merasa ada yang belum terselesaikan.
Begitu pula dengan Adam, yang memilih untuk tetap tinggal meskipun luka tembak pada bahu kirinya masih terasa cukup menyakitkan. Dirinya tidak dapat meninggalkan Berlin dan rekan-rekannya di sana begitu saja. Apalagi dengan kondisinya yang masih dapat berjalan dan berlari. Ia merasa tidak cocok jika harus pergi sekarang, ditambah lagi ada yang lebih membutuhkan dibanding dirinya sendiri.
Situasi gedung pemerintahan itu kembali dibuat kacau dengan adanya serangan tiba-tiba dari arah perbukitan seberang gedung. Personel gabungan yang terdiri dari pihak kepolisian dan militer kini telah menguasai gedung, dan mengamankan beberapa sisa dari Clone Nostra yang masih hidup serta mengumpulkan mereka semua di tengah aula utama.
Namun di antara orang-orang Clone Nostra yang tersisa, Berlin merasa ada yang sangat janggal. Doma El Claunius sudah tewas, dan Karina sudah tertangkap serta dipisahkan dari anak-anak buahnya. Namun dirinya tidak melihat dua sosok petinggi lagi dari Clone Nostra yang tidak terlihat di antara kumpulan orang yang kini berlutut di tengah aula.
__ADS_1
"Di mana Prawira atau Garwig? Apakah aku bisa menemuinya?" tanya Berlin sembari dipapah berjalan kembali ke aula tengah bersama dengan Flix dan dua rekannya yakni Kimmy dan Adam.
"Aku dapat memanggil salah satu dari mereka jika perlu," jawab Flix yang memapahnya.
"Panggil mereka, atau beritahu suatu hal kepada mereka!" pinta Berlin sebelum membisikkan sesuatu kepada Flix. Dirinya tak ingin apa yang dikatakannya didengar orang lain, apalagi kini posisinya berada cukup dekat dengan kumpulan orang-orang Clone Nostra yang telah diamankan.
Flix terlihat langsung terbelalak dan terkejut mendengar apa yang dibisikkan oleh Berlin padanya. "Baik, aku akan segera memberitahu mereka," ucap Flix.
Berlin pun menuju ke salah satu sudut aula untuk duduk di sana, dan kini dirinya dibantu oleh Adam dan Kimmy yang memapahnya untuk berjalan. Sedangkan Flix, ia langsung beranjak pergi dan menghilang guna mencari serta memberitahu suatu hal kepada Prawira atau Garwig.
"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Adam ketika sudah sampai di sudut aula, dan membiarkan Berlin untuk duduk bersandar pada dinding.
Berlin sempat melirik ke arah orang-orang Clone Nostra yang tersisa, dan memastikan kalau jarak dirinya dengan mereka sudah sangat jauh.
"Farres El Claunius, dan Tokyo El Claunius. Mereka berdua tidak ada di antara mereka, dan sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya." Berlin menjawab pertanyaan Adam.
"Benar juga!" gumam Adam cukup terkejut mendengar kabar tersebut.
"Apakah Asep tidak dapat melacak keberadaannya?" cetus Kimmy bertanya-tanya.
"Kau boleh tanyakan langsung kepada Asep," jawab Berlin sebelum kemudian menambahkan, "namun jika jawabannya 'tidak', maka asumsiku adalah kedua orang itu berada di salah satu ruangan khusus di dalam gedung ini."
"Ruangan khusus?" gumam Kimmy.
"Apakah maksudmu ... ruangan yang biasa digunakan untuk mengamankan sang walikota ketika terjadi suatu keadaan yang sangat darurat?" cetus Adam.
Berlin mengangguk pelan dengan tatapan serius ketika mendengar jawaban dari Adam, "kurasa seperti itu ...," jawabnya.
.
__ADS_1
Bersambung.