
Setelah perbincangan pada pertemuan di kantor pusat dengan Prawira dan Garwig selesai. Berlin langsung mengarahkan rekan-rekannya untuk segera kembali ke Kediaman Ashgard, mengingat juga waktu yang perlahan sudah mulai larut. Tepat pada pukul delapan malam, Ashgard akhirnya sampai di kediaman untuk istirahat dan menikmati waktu malam mereka secara bebas dan santai.
Namun sebelum semuanya istirahat serta bebas menghabiskan waktunya. Seperti biasa, Berlin mengumpulkan terlebih dahulu rekan-rekannya di bangunan utama, tepatnya di ruang tengah untuk evaluasi atas semua aksi yang dilakukan hari ini. Tak hanya itu, Berlin juga ingin menyampaikan beberapa kata untuk rekan-rekannya.
"Selamat malam, bagaimana keadaan kalian? Sehat, ya? Tidak ada yang kurang, 'kan?" ucap Berlin, menyapa rekan-rekannya yang berkumpul di ruang tengah.
Wajah dari rekan-rekannya terlihat cukup lelah dan letih. Berlin mewajarkan hal tersebut, karena memang hari ini menjadi hari yang cukup menyibukkan Ashgard tanpa henti selama lebih dari dua belas jam. Namun untuk membayar serta menjawab semua rasa kelelahan itu. Ada beberapa kabar yang menyenangkan yang akan disampaikan oleh Berlin untuk rekan-rekannya.
"Aman, Bos ...!"
"Ngantuk aja, nih."
Sahut beberapa rekannya dengan intonasi bergurau diikuti oleh beberapa tawa kecil mereka. Berlin tersenyum melihat rekan-rekannya, walaupun mereka terlihat lelah, namun mereka masih tetap setia ada di hadapannya sampai ada arahan darinya untuk membubarkan diri.
"Langsung saja dan juga aku tidak ingin menyita waktu kalian lama. Aku ingin mengucap terima kasih atas kerjasama yang sudah kalian tunjukkan mulai dari awal hingga di detik ini, dan aku sangat mengapresiasi kalian semua."
"Untuk evaluasi aku rasa tidak ada yang perlu dievaluasi, karena aku tidak melihat adanya permasalahan di antara kita selama di lapangan. Cukup pertahankan dan terus tingkatkan kualitas serta kekompakan kita ...!"
Berlin langsung berbicara di depan rekan-rekannya tanpa harus berbasa-basi lama lagi agar tidak terlalu menyita banyak waktu. Setelah menyampaikan beberapa hal tersebut, Berlin lanjut berkata, "untuk hari esok dan lusa, aku sudah membicarakannya dengan Garwig dan Prawira. Keputusan yang diambil bersama untuk hari esok dan lusa adalah hari libur untuk kita, jadi nikmati waktu kalian untuk bersantai sejenak."
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Berlin, cukup untuk membuat rekan-rekannya menghela napas lega. Mereka terlihat sangat senang sekali ketika mendengar kabar soal keputusan yang disampaikan oleh Berlin.
Berlin tersenyum melihat ekspresi senang dari rekan-rekannya, "kurasa cukup, selamat malam, dan selamat menikmati waktu malam kalian untuk beristirahat atau bersenang-senang ...!" ucapnya kemudian membubarkan rekan-rekannya dan membebaskan mereka untuk menikmati waktu mereka masing-masing.
"Terima kasih, Bos!"
"Selamat malam, Bos."
Ucap beberapa rekannya sebelum kemudian beberapa dari mereka beranjak pergi dari ruang tengah. Mereka langsung berpencar masing-masing, ada yang meninggalkan bangunan utama dan kembali ke asrama, namun ada juga yang masih di bangunan utama untuk menghabiskan waktu berbincang dengan yang lainnya.
__ADS_1
Berlin memeriksa jam tangan yang melingkar di salah satu pergelangannya, dan mendapati waktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di saat yang bersamaan, Adam datang menghampirinya dan bertanya, "balik sekarang?"
"Iya, aku tidak ingin terlalu malam," jawab Berlin, dan kemudian berpamitan dengan rekan-rekannya yang ada di ruang tengah.
***
Berlin langsung perjalanan kembali ke kediaman ternyamannya, dengan diantar oleh Adam menggunakan mobil SUV hitam miliknya. Sepanjang perjalanan, mereka berbincang beberapa hal mengenai pembicaraan yang dilakukan oleh Garwig dan Prawira dengan Berlin waktu di kantor pusat, karena kedua orang penting itu hanya ingin berbicara dengan Berlin saja.
"Apa saja yang mereka bicarakan denganmu? Sepertinya hal yang serius," ucap Adam, mengendarai mobil tersebut dan mulai memasuki area perbukitan kota.
"Kurasa ... hal yang dibicarakan tidak terlalu serius, sih. Hanya saja mereka sempat membahas serta ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, terutama pada saat pertemuan yang tidak terduga itu terjadi," jawab Berlin, bersandar santai duduk di bangku penumpang tepat di sebelah Adam yang sedang mengemudi.
"Aku juga sudah menerima informasi mengenai bayaran dari kontrak yang sudah berhasil kita kerjakan hari ini," lanjut Berlin, menoleh kepada Adam.
Adam sempat melirik dan bergumam, "menarik, berapa?" tanyanya secara spontan.
"Aku tidak ingin menyebutkannya, akan ku transfer besok langsung ke setiap rekan-rekan," sahut Berlin, tersenyum tipis dan kemudian memalingkan pandangannya ke arah luar jendela kaca.
"Tentu saja tidak, lagipula keuangan kita sudah tercatat menggunakan sistem komputer, jadi mustahil bagiku untuk mengkorupsi uang-uang itu," jawab Berlin setelah selesai tertawa mendengar pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. Sedangkan Adam hanya tersenyum dan tertawa dengan pertanyaannya sendiri, pandangannya terus fokus ke arah jalanan di depan.
Suasana sempat hening seketika, dan keheningan tersebut terpecah oleh rasa penasaran Adam yang tidak dapat terbendung. Pria itu kembali bertanya dengan rasa penasaran sangat tinggi, "tetapi serius, aku sangat penasaran ...!" cetusnya.
Berlin terkekeh kecil dan kemudian berkata, "analoginya seperti kau kerja keras dalam sehari dengan risiko nyawa sebagai taruhan, namun setelah selesai kau akan dapat langsung membeli motor sport dua unit dengan segala jaminan yang ada, jika memang nyawamu masih selamat dan pulang dalam keadaan utuh."
"Bagaimana? Sudah paham? Tidak perlu ku sebut nominalnya, seharusnya kau bisa menerka-nerka sendiri," lanjut Berlin, menoleh dan menatap serius rekan kepercayaannya itu.
Adam seketika terdiam dan terbungkam, membisu tidak berkata-kata lagi alias kehabisan kata-kata. Mengingat risiko yang disebut oleh Berlin, ia jadi tidak terlalu bersemangat seperti di awal. Namun bayaran serta banyak jaminan yang diberikan, tentu menjadi hal yang sepadan jika mengingat adanya risiko dengan tingkat bahaya sangat tinggi, bahkan berpotensi berjangka waktu lama.
"Namun tingkat kesulitan serta bahaya pada suatu misi atau tugas yang diberikan kepada kita-lah yang akan menentukan bayaran yang kita dapat, jadi itu bukanlah bayaran tetap yang dapat kita peroleh setiap waktu," ujar Berlin, meluruskan serta memberikan kejelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
__ADS_1
"Yah ... setidaknya dengan begini masa depan Ashgard cukup terjamin, tidak terlalu luntang-lantung dengan bahaya yang mengintai kapan saja dan tanpa adanya jaminan seperti dahulu," sahut Adam, berbicara dengan intonasi yang sungguh tenang. Berlin hanya mengangguk setuju serta sependapat dengan apa yang dikatakan oleh rekannya itu.
***
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Berlin sampai juga di kediaman ternyamannya untuk beristirahat dan menghabiskan waktu malam. Waktu menunjukkan setengah sebelas malam, dan keadaan di kediaman sudah sangat sepi serta sunyi, bahkan lampu di ruang tengah sudah dimatikan, gelap.
Berlin perlahan masuk dan sebisa mungkin tidak terlalu membuat banyak suara, apalagi ketika membuka pintu depan. Setelah menutup kembali pintu tersebut dan menguncinya rapat-rapat, dirinya cukup dibuat terkejut dengan kehadiran Nadia yang terlihat tengah tertidur di sofa putih panjang ruang tengah. Laki-laki perlahan menghela napas, beranjak mendekati istrinya dan kemudian mencoba untuk membangunkannya.
"Hei, kenapa tidur di sini? Aku sudah bilang sama kamu sebelumnya, 'kan?" ucap Berlin dengan intonasi serta sikap yang sungguh lembut ketika dihadapkan kepada wanita tercintanya.
Nadia perlahan membuka matanya ketika salah satu pipinya merasakan adanya telapak tangan yang hangat menyentuhnya, "oh, kamu sudah pulang ternyata," ucapnya ketika sudah menyadari adanya kehadiran Berlin yang duduk di ujung sofa, ia pun perlahan merubah posisinya untuk duduk.
"Aku sudah bila--"
Perkataan Berlin langsung terpotong dengan sebuah pelukan hangat yang tiba-tiba saja ia dapatkan secara perlahan dari sang istri. Laki-laki itu pun segera bereaksi dengan juga memeluk bumil itu dengan lembut dan perlahan.
"Aku kesulitan untuk tidur di kamar, dan aku milih untuk nungguin kamu di sini," ucap Nadia dengan intonasi yang terdengar sungguh rendah dan lembut, apalagi dalam keadaan yang masih mengantuk.
Berlin perlahan tersenyum mendengar alasan tersebut, dan perlahan melepaskan pelukan itu sembari berkata, "yaudah, sekarang kita ke kamar, yuk?" ajaknya. Ajakan tersebut langsung mendapat jawaban dari Nadia hanya dengan anggukan dan kedua mata yang sepertinya benar-benar mengantuk berat.
Lelaki itupun segera beranjak dari ruang tengah bersama istrinya, menuju serta menaiki anak tangga untuk berpindah ke kamar yang berada di lantai tiga. Sebelum benar-benar meninggalkan lantai satu, Berlin tak lupa untuk memeriksa semua pintu serta jendela untuk sudah dalam keadaan terkunci. Setelah selesai memeriksa, ia pun segera pergi ke lantai tiga bersama istrinya.
"Akira sudah tidur?" tanya Berlin ketika berjalan menaiki anak tangga dan sebentar lagi sampai di lantai ketiga rumah.
"Sudah, dia ada di kamarnya," jawab Nadia.
Sebelum masuk ke kamar, Berlin memutuskan untuk memeriksa terlebih dahulu keberadaan putrinya. Ia pergi membuka pintu kamar milik putrinya yang berada tepat di sebelah kamar miliknya. Ketika pintu tersebut terbuka, kedua matanya langsung mendapati sosok menggemaskan yang sedang tertidur pulas di balik selimutnya. Akira benar-benar sudah tertidur dengan nyenyak ditemani oleh boneka beruangnya yang juga ikut tidur bersamanya.
Setelah selesai memastikan, Berlin pun segera kembali ke kamarnya sendiri bersama dengan Nadia agar bisa segera beristirahat. Hari ini menjadi hari yang sangat melelahkan baginya, apalagi harus terus berada di bawah guyuran air hujan dalam waktu yang sangat lama. Tentu istirahat yang cukup serta lebih akan sangat dibutuhkan olehnya.
__ADS_1
.
Bersambung.