
Berita tentang apa yang terjadi di Distrik Barat Kota sampai ke telinga dan mata Berlin. Berita tersebut sangat terangkat oleh publik karena cukup menggemparkan, dan dapat disaksikan melalui ponsel serta televisi.
"Sedikit ... mengingatkan suatu hal," gumam Faris.
"Suatu hal tentang kekacauan," sambung Aryo.
"Dan kekacauan yang pernah terjadi," timpal Kent.
Berlin dan rekan-rekannya berkumpul di ruang utama dan membicarakan soal berita yang baru saja mereka simak. Di saat yang lain sedang membicarakan soal berita itu, Berlin terlihat hanya diam dan termenung di sofa pada ruang utama itu. Ditambah lagi Berlin sudah mengetahui soal beberapa senjata militer yang digunakan oleh kelompok merah saat aksi tersebut, karena berita itu juga muncul ke dunia maya.
"Kau dari tadi diam saja, apa yang kau pikirkan?" tanya Kimmy mendekati Berlin dan duduk di sofa sebelahnya.
"Aku hanya ... sedang menebak-nebak saja," jawab Berlin menoleh kepada Kimmy.
"Menebak? Menebak apa? Permainan apa yang sedang kalian mainkan?" sela Asep terlihat bingung dengan jawaban Berlin. Ia berdiri di belakang Berlin dan bersandar di sofa tersebut sembari bertanya-tanya.
Berlin tertawa mendengar pertanyaan dari rekannya itu. "Aku tidak sedang mengejar pangkat dalam permainan daring yang kompetitif itu, Asep," jawabnya.
"Lalu apa maksudmu dengan 'menebak' itu, Bos?" tanya Rony yang bersandar di dinding sembari meneguk minuman kalengnya.
Seketika rekan-rekan yang ada di sekelilingnya diam dan pandangan mereka tertuju kepada Berlin.
"Aku hanya ... memikirkan, beberapa waktu lalu kita melihat kelompok merah itu membeli persenjataan kepada Clone Nostra, lalu hari ini mereka membuat kegaduhan di Distrik Barat dengan motif yang belum diketahui." Berlin berbicara dan terlihat cukup serius dalam hal ini.
"Aku hanya ... ingin menebak-nebak permainan apa yang sedang mereka buat," lanjutnya lalu bersandar dengan santainya di sofa tersebut.
Apa yang dikatakan oleh Berlin membuat semua rekannya di situ berpikir, dan mulai menimbulkan beberapa asumsi dari mereka. Namun Berlin sendiri tidak ingin berasumsi terlalu cepat soal ini.
Drrtt ... Drrtt ...!!!
Tiba-tiba ponsel milik Berlin bergetar yang menandakan ada panggilan masuk dari seseorang. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku jaket yang ia kenakan, lalu menerima panggilan tersebut yang ternyata dari Nadia.
Ia pun beranjak dari sofa dan sedikit menjauh dari teman-temannya untuk menerima panggilan tersebut.
Ketika Berlin mengangkat panggilan itu, ia langsung disambut oleh satu pertanyaan dari istri tercintanya. "Kamu ada di mana?" pertanyaan itu muncul dengan rasa khawatir dan resah. Ditambah lagi ketika di rumah Nadia sudah melihat berita-berita yang disiarkan di televisi.
"Aku ada di markas, sayang." Berlin menjawab dengan santainya.
"Kamu tidak terlibat ... di ... um ... apa yang terjadi di Distrik Barat, 'kan?" Terdengar sekali nada bicara yang terdengar sedikit gelisah dan cemas.
Berlin tersenyum dan sedikit tertawa kecil ketika mendengar pertanyaan itu. Ia pun menjawab, "sepertinya aku sangat lekat sekali dengan semua yang berhubungan dengan kriminal, ya? Ya ... walaupun ... aku memang seperti itu dari dahulu."
"Kamu belum menjawabnya, ya!" sahut Nadia sepertinya sangat ingin mendengar jawaban dari pertanyaannya.
Berlin tersenyum dan sangat paham dengan sikap Nadia yang sangat ingin tahu jawaban tersebut. "Jangan khawatir, aku tidak terlibat di sana, sayang. Jika tadi aku terlibat, maka aku sudah memberi kabar kepadamu sebelum aku melakukan aksi," jawabnya.
__ADS_1
Nadia menghela napas lega mendengar jawaban yang sesuai dengan apa yang ia inginkan. "Syukurlah jika seperti itu, aku melihat beritanya di televisi, dan ... itu cukup ... mengerikan," ujar Nadia.
"Habis ini aku akan aku akan pulang, dan aku tidak akan pulang malam," ucap Berlin seraya bersandar di dinding dekatnya.
"He'em!" Nadia mengangguk, "aku sudah menanti mu di rumah!" serunya.
Setelah dirasa cukup, Berlin pun mengakhiri panggilan suara itu dan kemudian melihat ke arah jam tangan yang ia pakai. Ia melihat waktu yang terus berjalan tanpa henti.
"Waktu sering kali membuat kejutan jika tidak diperhatikan," gumamnya tidak menyadari hari sudah gelap dan sudah saatnya untuk pulang baginya.
***
Pukul 21:15 malam.
Kediaman Berlin.
Sesampainya Berlin di rumah, ia mendapati Nadia yang terlihat duduk bersantai di halaman belakang dekat dengan kolam berenang. Nadia duduk di rerumputan yang halus di sana, dengan pandangan memandangi ke arah kota yang terlihat cantik dengan lampu-lampunya.
"Kenapa masih di luar, udara malam dingin, loh ...!" Berlin berjalan menghampiri istrinya itu seraya menyelimukan jaketnya pada tubuh wanitanya yang hanya mengenakan dress tidur. Kemudian ia pun duduk tepat di samping Nadia.
"Aku hanya menunggu mu di sini," jawab Nadia menyadari kehadiran lelakinya di sana. Ia pun menyandarkan kepalanya pada bahu milik Berlin seraya berkata, "aku sedikit terkejut dan berpikiran ke mana-mana saat melihat berita tadi."
"Berita tadi sedikit mengingatkan ku pada ... apa yang terjadi lima bulan yang lalu," ucap Nadia. Apa yang dikatakan Nadia juga dirasakan oleh Berlin ketika pertama kali melihat serta mendengar berita tersebut. "Semoga saja kekacauan itu tidak kembali terjadi," lanjutnya seraya memeluk erat lengan lelakinya.
"Aku juga tidak ingin itu kembali terjadi. Maka dari itu, Nadia. Izinkan aku melakukan apapun agar itu tidak terjadi lagi, aku ingin suasana damai ini berlangsung lama, atau bahkan ... selamanya." Berlin berbicara sembari menatap dalam-dalam kekasihnya itu.
"Satu hal?" Nadia menatap penasaran.
"Aku ingin ... kamu lebih jaga diri jika tidak sedang bersama ku, terutama pada saat kamu bepergian sendirian. Aku tidak bermaksud mengekang dirimu, atau bahkan melarang serta mengurung mu agar di rumah saja, aku tidak ingin membatasi kebebasan mu selama itu baik untuk dirimu. Aku hanya khawatir saja, karena seperti yang kamu ketahui, aku memiliki banyak musuh, Nadia."
Berlin menatap lembut kekasih hatinya dengan penuh rasa sayang ketika berbicara. Tatapannya benar-benar dalam dan serius dengan apa yang ia bicarakan. Terlihat juga kekhawatiran ataupun kecemasan yang cukup mendalam pada kedua bola matanya, dan Nadia dapat menyadari hal tersebut.
"Baik, aku paham itu, dan aku juga sudah biasa dengan hal tersebut." Nadia tersenyum seakan tidak ada rasa ketakutan di dirinya setelah Berlin berkata seperti itu. "Berlin, hubungan kita sudah belangsung selama dua tahun baik sebelum ataupun sesudah kita menikah, dan aku sudah tidak terkejut dengan hal-hal yang seperti itu. Aku tahu apa yang harus ku lakukan, jadi aku akan berhati-hati serta waspada terhadap sekitar di mana pun aku berada."
Berlin tersenyum membalas senyuman yang diberikan oleh Nadia, dirinya merasa tenang mendengar apa yang dikatakan oleh wanitanya. Nadia lalu kembali menyandarkan kepalanya pada Berlin seraya berkata, "bolehkah aku berlatih kembali? Sudah lama sekali aku tidak mencoba kemampuan menembak ku, dan juga kemampuan bela diri ku. Terakhir kali aku berlatih sekitar ... empat atau lima bulan yang lalu."
"Aku juga ingin menjadi kuat, sama seperti mu, Berlin. Dan sama seperti kalian, Ashgard."
Berlin tertawa kecil mendengar permintaan sederhana itu. Ia pun menjawab, "tentu aku memperbolehkannya selama itu baik untukmu, tetapi ... tidak untuk sama seperti Ashgard, ya!" ucap Berlin juga menegaskan satu hal.
"Namun aku belum bisa membantu mu berlatih," lanjut Berlin sedikit tertunduk.
Nadia menoleh menatapnya dan menyela, "um ... sebenarnya ... Siska dan Netty sudah mengabari ku soal itu, dan mereka yang mengajak ku."
"Di mana tempatnya?"
__ADS_1
"Di ... Kediaman Gates," jawab Nadia.
"Oh, baguslah jika begitu, dan ingat untuk tidak memaksakan diri, ya!" ucap Berlin serta mengingatkannya seraya mengulas senyum.
"Baik!" Nadia terlihat sangat senang.
Berlin melihat waktu pada jam tangannya dan berkata, "bagaimana kalau kita masuk saja? Sudah mulai larut, dan udara malam juga akan semakin dingin," ucapnya beranjak berdiri dari tempatnya duduk.
"Iya, dingin ...." Nadia juga ikut berdiri dan ingin segera masuk ke rumah karena udara mulai dingin. Berlin tiba-tiba menggandeng erat jari-jemarinya kemudian berkata, "maka dari itu, ayo kita ke dalam biar hangat.
Nadia tiba-tiba tersipu dengan kata-kata yang sedikit ambigu baginya. Berlin dibuat tertegun melihat Nadia tersipu padanya, ditambah lagi dengan penampilannya yang hanya mengenakan dress tidur selutut berwarna putih dan berkain cukup tipis itu. Dirinya pun mulai menggoda wanita di hadapannya dengan berkata, "kok malah tersipu, sih? Apa jangan-jangan ... kamu sedang menginginkannya ...?" ucapnya sembari menatap dalam-dalam dengan tatapan sedikit nanar seolah menginginkan sesuatu dari Nadia.
"Eh?" Nadia terkejut dan wajahnya semakin dibuat merona dengan apa yang dikatakan Berlin baru saja. "Ti-tidak, bukan seperti itu, Berlin!"
"Ah sudahlah, lebih baik kita ke dalam saja dahulu, kita bisa melakukannya di dalam jika engkau mau," cetus Berlin seraya menarik tangan istri cantiknya berjalan menuju teras rumah dan masuk ke dalam rumah. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah, dan tidak lupa Berlin untuk mengunci pintu rumahnya rapat-rapat.
***
Pukul 23:47 malam.
Kantor Polisi Pusat.
Prawira menemui Garwig di ruang atasan. Ia tampak lelah karena sedari tadi dikejar-kejar dan dihujani pertanyaan dari para wartawan dan media. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan kepada Prawira baik saat di lokasi kejadian bahkan sampai Kantor Polisi Pusat. Para wartawan itu sempat mengejar dan mengikutinya sampai ke Kantor Polisi Pusat.
"Hufftt!!! Media selalu membuatku kewalahan, aku benar-benar benci mereka." Seraya sedikit mengeluh dan menghela napas berat. Prawira berjalan masuk ke dalam ruangan dan menemui Garwig di sana. Ia datang tidak sendiri karena ada Netty yang hampir selalu menemaninya.
Garwig terkekeh mendengar keluhan tersebut. Ia dapat memahami keluhan itu karena dirinya juga pernah bahkan sering dikejar-kejar oleh media. "Yah ... namanya juga media, terkadang mereka terlalu egois dan tidak memperhatikan narasumbernya," ucapnya.
"Lalu bagaimana situasi di sana? Aku tidak ada di lapangan, bisakah kau jelaskan?" Garwig duduk di kursi atasan disusul oleh Prawira yang juga ikut duduk pada sofa ruangan. Sedangkan Netty terlihat hanya berdiri di samping Prawira saja, dirinya merasa tidak enak jika ikut duduk karena mengingat perannya yang hanya sebagai seorang sekertaris.
Prawira menoleh ke arah Netty yang berdiri di sampingnya dengan sikap dan ekspresi cukup canggung. "Duduklah!" pinta Prawira agar Netty ikut duduk di sampingnya.
"Ba-baik," Netty pun ikut duduk tepat di samping Prawira.
Prawira pun mulai menjelaskan semua situasi yang ada di lokasi kejadian dari awal sampai akhir. Ia juga menceritakan kronologis kejadian itu kepada Garwig secara rinci. Garwig hanya diam dan mendengarkan semua cerita serta penjelasan yang diberikan.
"Situasi saat ini sudah aman, namun tempat kejadian masih disterilkan dari masyarakat dan dijaga ketat." Setelah menjelaskan panjang lebar, Prawira pun mengakhiri penjelasannya.
Ia juga memberitahukan kepada Garwig soal kepemimpinan Flix sepanjang situasi, bahkan masih sampai detik ini. Prawira juga memberitahukan Garwig soal apa yang sempat terjadi pada Flix setelah kekacauan itu selesai.
"Setelah ini ... segera kirimkan Tambun ke sana untuk menggantikan Flix! Setelah apa yang terjadi, kurasa dia memerlukan waktu untuk istirahat." Garwig meminta hal tersebut kepada Prawira. Dirinya ingin Flix digantikan oleh Tambun untuk sementara waktu agar bisa beristirahat.
Tambun Gates Gallahad adalah salah satu perwira tertinggi, dan dia sudah terbiasa memegang rantai komando untuk semua rekan-rekannya.
"Baik, segera saya laksanakan," jawab Prawira.
__ADS_1
.
Bersambung.