
Di keesokan harinya, tepatnya pada pukul tiga sore. Berlin dan rekan-rekannya mencoba untuk memantau serta menjadi penguntit di transaksi yang dilakukan Clone Nostra. Berlin mendapatkan beberapa informasi mengenai lokasi yang akan digunakan transaksi. Ia dan Ashgard pun segera pergi ke lokasi tersebut, dengan persiapan yang matang tentunya.
Lokasi pertemuannya terletak di lereng dari sebuah bukit paling barat dari wilayah Shandy Shell. Tempat itu adalah hutan yang sangat lebat dan rindang. Tempat yang cocok untuk transaksi ilegal karena jauh di dalam hutan, dan tidak dilewati jalur patroli kepolisian.
Berada di lokasi tersebut, Berlin pun menyebar rekan-rekannya di berbagai posisi. Ia juga memerintahkan rekan-rekannya untuk menjaga keheningan suara, dan fokus memantau.
"Jadi itu mereka?" gumam Berlin berbisik bersembunyi di balik pepohonan rindang dan semak belukar. Tidak sendiri, dirinya ditemani oleh Kimmy dan Adam di tempatnya kini bersembunyi.
Di kejauhan terdapat sebuah gubuk di tengah hutan itu, dan di sana pertemuan pun dilakukan. Terdapat banyak sekali orang-orang berjaket serba merah bertemu dengan orang-orang berjas serba putih. Mereka juga sangat tampak dan terang-terangan membawa persenjataan, dan tampak sangat siap bertempur jika terjadi sesuatu di luar rencana.
"Aku melihat mereka," ucap Galang berbisik melalui radio komunikasi.
"Beberapa kotak kayu terlihat dikeluarkan dari dalam mobil box berwarna hitam yang terparkir," ujar Bobi melalui radio.
Berlin dapat melihat kotak-kotak kayu itu dikeluarkan dari dalam mobil box yang terparkir di sana. Dirinya tidak tahu apa yang ada di dalam kotak-kotak kayu itu. Tetapi dirinya bisa tahu kalau isi dari kotak-kotak kayu itu sangat berharga, karena terlihat dari cara mereka menurunkan kotak-kotak kayu itu dengan sangat hati-hati.
"Apakah isinya bom?" celetuk Kimmy berspekulasi.
"Mana mungkin bom, dasar kau ini," sahut Adam geleng-geleng.
Ketika mereka pihak dari kelompok merah membuka kotak-kotak kayu itu. Berlin dibuat sangat terkejut dengan apa yang ia lihat, benda yang ada di dalam kotak-kotak kayu di sana.
"Tidak mungkin ...," gumam Berlin terpaku.
"Apa-apaan itu? Bukankah itu ...." beberapa rekan-rekannya juga ikut terkejut di radio komunikasi ketika menyaksikan isi dalamnya.
"Persenjataan militer?" bisik Adam juga menyaksikan ketika isi dari kotak-kotak kayu itu berada di tangan pihak kelompok merah.
"Dam, rekam semua yang kau lihat! Aku perlu dokumentasi sebagai bukti," pinta Berlin.
"Baik!" Adam pun melaksanakan apa yang Berlin minta. Ia merekam transaksi itu menggunakan ponsel genggam miliknya.
Terlihat persenjataan militer sangat lengkap tertata di dalam kotak-kotak kayu yang dibeli oleh kelompok merah. Berlin merasa curiga dengan senjata-senjata itu. Lantaran seharusnya persenjataan itu tidak diperjualbelikan, karena itu aset milik pemerintah.
"Senjata berat, senapan serbu, senapan runduk, peluncur roket beserta bahan-bahan peledak lainnya. Mereka menjual barang-barang itu? Dari mana mereka mendapat semua itu?" tanya Kimmy kebingungan.
__ADS_1
Berlin hanya terdiam melihat semua persenjataan itu berpindah tangan dari Clone Nostra ke pihak kelompok merah di sana. Justru dirinya merasa cukup khawatir secara tiba-tiba.
"Kim, tarik mundur semua rekan! Kita segera pulang," pinta Berlin kepada Kimmy.
"Oh, baik," jawab Kimmy sedikit bingung dengan sikap Berlin yang tiba-tiba aneh menurutnya. Namun ia pun melaksanakan apa yang diminta oleh Berlin. Sedangkan Berlin sendiri segera berjalan kembali menuju mobil yang terparkir sedikit jauh dari tempat bersembunyi.
"Semuanya, ku rasa cukup, jadi lebih baik kita segera kembali!" perintah Kimmy melalui radio komunikasi kepada seluruh rekannya.
"Udahan?" cetus Kent melalui radio.
"Oh, oke," jawab Kina.
"Siap, segera menuju markas," ujar Salva.
...
Sesampainya di markas, Berlin tampak tidak banyak bicara. Bahkan sepanjang perjalanan kembali, ia tidak berbicara sama sekali. Tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Berlin, apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya lembut Kimmy ketika menghampiri Berlin yang tampak sedang berdiam diri di atap.
"Baik, tentu aku akan melakukannya," jawab Kimmy. Namun dirinya masih berdiri di sana tepat di samping Berlin dan tidak segera melaksanakan apa yang Berlin minta.
Berlin menghela napas, sedikit tertunduk lalu berkata, "aku hanya takut, aku hanya tidak ingin ... kekacauan itu terulang kembali, atau mungkin kekacauan yang lebih parah dari yang pernah terjadi."
Kimmy dapat memahami ketakutan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh Berlin. Dirinya tersenyum tipis dan berkata, "jangan lupakan kami yang selalu siap dan ada untuk dirimu, Berlin. Kamu tidak sendiri, dan kami siap menerima perintah serta arahan mu."
Berlin merasa senang dan tenang mendengar hal itu. "Terima kasih banyak, kalian memang rekan-rekan yang baik," ucapnya lalu tersenyum tipis sembari menoleh dan menatap kepada Kimmy yang berdiri di sampingnya.
WUUSSHHH ...!!!
Seketika angin berhembus sangat kencang di sore hari itu. Kimmy tiba-tiba merasa berdebar ketika Berlin menatapnya. Perasaan senang dapat ia rasakan, dan tanpa ia sadari pipinya sedikit merona seperti memakai blush on.
"Bagaimana caranya aku bisa mencari penggantimu untuk hatiku, Berlin? Aku tahu kau sudah menikah, tetapi tetap saja kau selalu hadir di hatiku, meskipun aku berkali-kali sudah mencoba untuk menyingkirkannya." Kimmy melamun dengan tatapannya yang tak bisa lepas dari wajah tampan seorang pria yang ada di sampingnya.
"Kim?" cetus Berlin menatap dan memecah lamunan Kimmy.
__ADS_1
"Oh, ma-maaf, aku malah melamun dan memikirkan yang tidak-tidak," sahut Kimmy sedikit terkejut.
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera membuat laporan," lanjut Kimmy lalu segera beranjak pergi dari atap itu.
Sedangkan Berlin masih berada di sana, menikmati suasana sore hari di atap itu. Cuaca yang cerah sangat mendukung dirinya untuk merenung sejenak. Burung-burung tampak berbondong-bondong untuk segera terbang pulang ke rumah mereka diikuti dengan kicauan yang merdu.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumam Berlin dengan sendirinya seraya menatap ke arah langit.
"Ku rasa aku harus berbicara kepada seseorang mengenai hal ini," lanjutnya berbicara dengan sendiri.
Berlin menghela napas panjang, memejamkan matanya lalu berkata, "aku ingin suasana rumah," lalu membuka kembali matanya dan menatap indahnya langit jingga.
.
~
.
Pukul 19:00 malam.
Kediaman Berlin.
"Selamat datang!" Nadia menyambut kedatangan Berlin di rumah dengan wajah cantik dan ceria.
Berlin melangkah mendekati wanita yang ada di hadapannya itu, memeluknya seperti bocah laki-laki yang meminta dimanjakan, dan lalu berkata, "aku lapar."
Nadia hanya terkekeh kecil melihat sikap manja Berlin kepadanya itu. "Aku sudah menunggumu untuk makan malam," ucapnya sambil mengelus lembut kepala milik Berlin yang kala itu tersandar di dadanya.
"Yuk?" ajak Nadia.
Berlin hanya mengangguk dan tersenyum. Ia pun mengikuti langkah Nadia menuju ke ruang makan, dan menikmati makan malam bersama.
.
Bersambung.
__ADS_1