Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Dia Adalah Kunci #114


__ADS_3

"Ssttt ...!!!"


Adam dan Kent terpaksa menghentikan langkah mereka, begitu pula dengan rekan-rekannya yang mengikuti tepat di belakang. Dalam hujan yang begitu deras, bahkan hingga menciptakan sedikit kabut putih. Mereka mengendap-endap tepat di bawah dinding pembatas halaman belakang.


Tepat di atas mereka terdapat dua penjaga yang tengah mengawasi area belakang gedung dengan sebuah senapan di tangannya. Beruntung penjaga berbaju putih itu tidak dapat melihat Adam dan rekan-rekannya yang saat ini berada tepat di sisi lain dinding pembatas itu.


"Untung saja dia tidak melihat ke bawah," bisik Kimmy menghela napas lega sesaat setelah penjaga itu melangkah pergi.


"Ayo! Kita harus bergegas ...!"


Adam kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh rekan-rekannya. Dengan langkah perlahan, mereka berhasil melewati para penjaga itu tanpa harus diketahui.


"Di mana jendela itu berada?" gumam Kent.


Kimmy kembali melihat tablet yang diberikan oleh Asep padanya, dan menunjukkan tablet tersebut kepada Adam. "Itu jendelanya ada di sana ...! Ruangan itu adalah ruangan di mana para sandera ditawan," ucap Kimmy menunjuk ke sebuah jendela yang cukup besar di samping halaman belakang itu. Hanya saja jendela itu cukup tertutup oleh beberapa pohon semak belukar yang menjulang, yang membuat lokasinya tidak terlalu terlihat.


"Namun masalahnya adalah ...." Rony menunjuk ke arah sebuah kamera pengawas yang berada di sudut kiri atas jendela yang dimaksud. Kamera itu mengarah ke arah jendela dan area halaman belakang.


"Aku yakin kamera yang digunakan bukanlah kamera pengawas biasa. Benda itu memiliki teknologi untuk melihat suhu panas dan mendeteksi adanya pergerakan di setiap hal yang terlihat olehnya," ucap Adam tampak sedang memikirkan cara untuk mengelabuhi kamera pengawas itu.


"Bagaimana kita suruh Asep untuk menanganinya? Apakah dia bisa meretas cctv yang ada?" cetus Kimmy.


***


Farres masih sibuk dengan laptop yang ada di sampingnya, sampai-sampai dirinya tidak mempedulikan layar-layar monitor yang ada di dinding sampingnya. Beberapa layar itu menampilkan rekaman gambar yang ditangkap oleh setiap kamera pengawas yang berada di beberapa sudut Balaikota.


Tiba-tiba saja dirinya tersenyum tipis dan berkata, "sepertinya dia lengah ...!"


Jari jemarinya begitu lihai di atas keyboard serta mouse yang ada pada laptop miliknya. Farres tampaknya masih fokus pada tujuannya, yakni meretas kembali pesawat tanpa awak milik militer yang sampai saat ini masih berada tepat di atas Area Balaikota, dan sepertinya dirinya menemukan sedikit celah untuk melakukan peretasan itu.


Namun di tengah fokusnya, tiba-tiba perhatiannya teralih pada layar-layar monitor yang berada di dinding tepat di sampingnya. Yang seharusnya semua layar itu menampilkan rekaman gambar dari setiap kamera pengawas yang ada di gedung ini. Namun secara tiba-tiba berubah menjadi gelap dan kehilangan visualnya.


"Apa?! Apa yang terjadi?!!!!"


"SIALAN ....!!!"

__ADS_1


BRAAKKK ...!!!


Farres seketika menggebrak meja degan begitu keras, bahkan membuat meja kayu itu sedikit retak. Ternyata yang lengah bukanlah lawan yang saat ini sedang ia hadapi, melainkan dirinya sendiri.


***


"Mereka benar-benar rela mati demi sindikat itu, Pak. Jumlah mereka juga sangatlah banyak, bahkan kami juga mendeteksi adanya pergerakan dari Shandy Shell mengarah ke sini."


Garwig mendapatkan laporan dari salah satu aparat militernya mengenai Clone Nostra. Perbukitan kota telah menjadi medan peperangan yang sangat berdarah. Clone Nostra seolah tidak peduli dan tidak takut meskipun mereka tahu lawan mereka adalah pihak militer. Justru mereka terlihat seperti menantang pihak militer untuk memberikan perlawanan yang lebih.


"Kuras mereka benar-benar ingin menghabisi kita," gumam Garwig.


"AWAS!"


"PELUNCUR ROKET!!!"


DUAARR ...!!!


Sebuah ledakan terjadi tak jauh dari Garwig berada, dan ledakan tersebut berasal dari peluncur roket yang ditembakkan oleh pihak Clone Nostra.


Garwig sendiri memang tahu posisi serta pangkatnya dalam instansi tersebut. Namun dirinya tidak ingin hanya tinggal diam, dan menonton para bawahannya terluka bahkan terbunuh. Dirinya ikut angkat senapan dan berlari menuju ke barisan terdepan.


"Prime, di mana kau berada?" gumam Garwig sembari terus berlari mengarah ke pepohonan, dan menjadikan salah dari pohon tersebut sebagai tempatnya berlindung.


Desing peluru tak bertuan terus terdengar, bahkan terdapat salah satu peluru yang hampir menyerempet lengannya. Ketika melihat sasaran, Garwig mengangkat senapan serbunya dan kemudian menembak orang-orang Clone Nostra itu tanpa ampun.


Tidak sendiri, dirinya ditemani oleh banyak aparat miliknya yang berada di sekitarnya. Garwig merasa beruntung baku tembak ini terjadi di kala hujan deras yang mengguyur dan menyebabkan sedikit kabut. Karena dengan begitu secara tidak langsung akan mengganggu pengelihatan musuh, namun juga pengelihatan dari pihaknya.


"Jika terus begini, yang ada justru kita yang akan tersudut dan habis!" gumam Garwig.


DESING ...!!!


"Awas! Penembak jitu!!"


Satu orang rekannya tewas seketika dengan sebuah tembakan yang mengenai wajah pria tersebut. Garwig melihat itu dan segera berusaha mencari di mana penembak jitu milik Clone Nostra berada.

__ADS_1


"Sial!"


"Semuanya, gunakan semak serta alam yang ada untuk berlindung!" teriaknya kepada seluruh anggota militernya yang berada di dekatnya.


"Hei, kalian berdua! Mundurlah sedikit ke belakang, dan kemudian ambil posisi terbaik kalian untuk cari serta lumpuhkan penembak jitu itu!" titah Garwig kemudian kepada dua orang aparat yang membawa senapan laras panjang.


"Siap!"


Garwig untuk sementara menahan pasukannya dan membuat pertahan di lereng bukit itu. Dirinya beserta pasukannya tidak dapat banyak bergerak, apalagi masih dihantui dengan keberadaan penembak jitu musuh yang belum diketahui.


***


Tokyo tampak tengah bersantai di ruang utama gedung putih itu. Dirinya dapat dengan jelas mendengar segala keributan dan kerusuhan yang terjadi di luar gedung. Peperangan terjadi di luar sana, sedangkan dirinya hanya bersantai di dalam gedung dengan aman.


"Karina, perintahkan seluruh anak buah kita untuk lebih merapatkan garis pertahanan! Namun tetap jangan ragu dan jangan beri ampun kepada setiap aparat yang dilihat, bunuh mereka semua!"


Tokyo yang duduk di sebuah sofa tampak memberikan sebuah perintah kepada Karina yang kala itu berdiri tepat di samping sofanya.


"Baiklah ...!" Karina melaksanakan perintah tersebut, dan beranjak pergi ke luar gedung.


Tokyo tahu bahwa pasukan personel gabungan milik Garwig dan Prawira sedang sangat kesulitan, dan keuntungan berada di pihaknya. Ketika dirinya sedang bersantai di tengah peperangan serta baku tembak yang terjadi di luar sana. Boni Jackson tiba-tiba saja berjalan menghampirinya dan bertanya, "apa yang akan kau lakukan pada Berlin?"


"Tentu aku akan menghabisinya," sahut Tokyo.


"Aku sarankan pada dirimu untuk segera melakukan itu tanpa menunda," sahut Boni.


"Jangan terburu-buru, Boni." Tokyo melirik tajam kepada Boni yang berdiri tepat di samping sofanya, sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, "Berlin adalah kunci kemenangan kita, dan kunci untuk melumpuhkan pasukan militer serta polisi itu."


"Aku berencana untuk kembali menunjukkan tawanan berharga ku itu kepada personel gabungan itu. Dengan begitu, semua serangan yang mereka lakukan akan terhenti seketika," lanjut Tokyo.


Tokyo tahu kalau Berlin Gates Axel memiliki hubungan dekat dengan Garwig dan juga Prawira. Maka dari itu dirinya menahan tawanannya yang berharga itu, dan menyimpannya untuk akhir pesta peperangan yang sedang terjadi di luar sana. Tampaknya Tokyo benar-benar ingin memanfaatkan hubungan kekeluargaan yang dimiliki oleh Berlin dengan dua orang penting itu yakni Garwig dan Prawira untuk memenangkan perang yang sedang terjadi di luar sana.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2