Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pengganggu Berhasil Dijauhkan #83


__ADS_3

Adam menyalakan suar yang ia genggam, dan kemudian berlari menyusuri semak belukar sedikit menjauh dari rekan-rekannya. Akibat suar yang menyala begitu terang itu, setiap orang dari Clone Nostra yang melihatnya pun langsung menghujaninya dengan tembakan. Namun sayangnya, mereka yang justru tertembak akibat perlawanan yang diberikan oleh rekan-rekan Berlin.


Di saat situasi musuh tengah terfokus kepada Adam yang membawa suar menyala dan berasap berwarna merah itu. Berlin pun memanfaatkan momen tersebut untuk segera ke batu tempat Salva bersembunyi, dan kemudian dengan langkah sigap membawanya pergi dari sana lebih masuk ke dalam hutan.


"Dam, cukup! Bisakah kau kembali?"


"Sepertinya sulit, bos. Namun aku bisa melakukan sesuatu yang meriah, jadi tolong tetap berikan tembakan perlindungan itu!"


Adam terus berlari dan mengarah ke bagian belakang dari gudang tersebut. Dirinya mengetahui bahwa isi dari gudang itu adalah persenjataan dan bahan peledak. Ketika berada di belakang gudang, ia melihat adanya sebuah jendela kaca.


Seketika kaca tersebut ia pecahkan, dan kemudian suar yang ia genggam pun ia lemparkan ke dalam gudang tepat mendarat di atas dari kotak yang isinya adalah bahan peledak. Setelah itu dengan langkah cepat, Adam langsung kembali ke dalam hutan. Semua hal itu dilakukan begitu cepat, sampai akhirnya ....


DUUAAARRR ....!!!!


Ledakan yang cukup hebat pun terjadi. Berlin terkejut mendengar ledakan itu, dan sontak ia menoleh ke arah sumber ledakan. "Dam, katakan bahwa kau baik-baik saja ...!" pinta Berlin melalui radio yang ia genggam.


"Aman, bos! Aku sedikit menyulut kembang api barusan, haha!" Adam menjawabnya dengan intonasi bergurau dan tertawa setelah ledakan itu terjadi.


Berlin tersenyum mendengar kabar baik dari salah satu rekan kepercayaannya. Namun senyuman itu kembali menghilangkan ketika ia melihat salah satu dari rekannya yang terluka akibat peluru.


"Kim, bagaimana kondisi lukanya?"


"Sasha, mana peralatan ku?" tanya Kimmy kepada Sasha yang baru saja mendatanginya dengan sebuah tas yang berisikan peralatan medis pertolongan pertama.


Sasha memberikan tas tersebut, dan dengan sigap Kimmy melakukan pertolongan pertama pada luka di lengan kiri milik Salva.


"Lukanya tidak terlalu parah dan harus segera dioperasi, jika tidak maka akan menjadi semakin parah." Kimmy menjawab pertanyaan Berlin sembari mengeluarkan beberapa peralatan medisnya, dan kemudian melakukan tugasnya.

__ADS_1


"Mohon bantuannya, Kimmy," ucap Vhalen dengan kedua mata yang cukup berkaca-kaca melihat pria itu tergeletak.


Salva meringis menahan rasa sakit dan perih yang amat pedih itu. "Maafkan aku, bos. Aku malah menghambat," celetuknya yang sontak membuat Berlin menyangkal hal tersebut.


"Tidak! Memang sudah menjadi risiko kita bersama," sahut Berlin dengan sedikit senyuman pahit.


"Bos! Jika kita menetap di satu tempat begini, kita akan habis tak lama lagi!" teriak satu orang rekannya yang berlarian datang ke arahnya. Laki-laki yang datang itu adalah Aryo.


Memang baku tembak seolah tiada hentinya bagaikan konflik peperangan yang antar dua pihak besar. Namun di sini pihak yang dirugikan adalah Ashgard, karena jumlah mereka yang sangat sedikit dan sangat tidak ada bandingannya dengan jumlah Clone Nostra.


"Vhalen, Kimmy, Sasha, dan kau. Menjauh dan carilah tempat aman untuk menangani lukanya!" titah Berlin.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?!" sahut Kimmy namun dengan fokus tidak melepaskan tugasnya.


"Asep dan Adam akan membawa rekan-rekan yang lain menuju ke ruang bawah tanah serta membebaskan yang ditahan di dalam sana. Sedangkan aku ... aku akan menemui Nicolaus." Jawaban yang diberikan Berlin tampaknya sangat tidak memuaskan bagi Kimmy dan keempat rekannya yang mendengar di sana.


"Berlin, apakah kau sudah gila?" cetus Vhalen.


Berlin menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan sendirinya sembari menjawab, "itu sudah menjadi tujuanku untuk datang ke sini. Ada suatu urusan yang membawaku datang ke pulau ini untuk menemuinya."


"Kau jangan mengira aku tak punya rencana ketika bertemu dengan pria berbahaya itu. Kimmy, tentu aku punya rencana," lanjut Berlin berbicara kepada Kimmy dan lalu beranjak pergi begitu saja dari sana.


"Tunggu, Berlin! Kimmy menyuruhmu untuk memakai ini! Katanya siapa tahu kamu memerlukannya dalam situasi darurat." Sasha tiba-tiba saja berlari mengejar Berlin dan menghentikan langkah lelaki itu. Ia memberikan sebuah pakaian berubah jubah panjang berwarna hitam namun juga tidak terlalu panjang.


Berlin sempat melirik ke arah Kimmy yang sibuk mengobati Salva di sana, dan seolah tidak lagi menghiraukan kehadirannya. "Terima kasih," jawabnya menerima dan kemudian memakai jubah tersebut.


Kimmy tidak ada pilihan lain selain mengutamakan untuk mengobati rekannya terlebih dahulu, dan hanya bisa melihat Berlin berjalan menjauh dengan jubah itu yang sudah ia kenakan dari belakang.

__ADS_1


***


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Clone Nostra yang berada di kota kini sudah terbagi menjadi tiga bagian. Namun tetap saja, tampaknya itu tidak mengurangi jumlah mereka yang tetap terlihat banyak meskipun sudah terbagi-bagi.


Lebih dari ratusan orang bersenjata kini bersiap di balik gelapnya malam dan suasana tenang nan sunyinya perkotaan serta pedesaan. Tokyo telah bersiap dan seolah tidak sabar untuk memulai sesuatu yang baru.


Semua persenjataan telah dipersiapkan, dan semua perlengkapan juga telah dipenuhi. Kini hanya tinggal eksekusi terakhir untuk Tokyo bersama dengan sindikatnya meraih puncak dari rencana yang sudah ia siapkan dan dambakan dari bertahun-tahun yang lalu.


"Sayang, kita hanya tinggal menunggu waktu untuk bergerak, ya?" ucap Karina ketika berada satu mobil dengan pria itu. Ia tiba-tiba menyandarkan kepalanya tepat pada bahu milik pria yang berada di kursi pengemudi sampingnya.


"Kira-kira bagaimana dengan pulau, ya? Apakah Nicolaus berhasil mencapai keinginannya?" gumam Karina bertanya-tanya ketika asyik bersandar.


"Entahlah, aku tidak yakin dia dapat menghabisi Ashgard," jawab Tokyo.


"Bukankah kamu menyerahkan banyak anak buah beserta persenjataan kepadanya untuk memerangi Ashgard?" cetus Karina mengangkat kepalanya dari sandaran tersebut dan kemudian menatap Tokyo.


"Tetapi tetap saja, Ashgard akan mencari celah dengan berbagai rencana-rencana nekat dan muncul secara tiba-tiba yang dimiliki oleh Berlin." Tokyo menjawab hal tersebut dengan seolah ia mengetahui lebih dalam soal pria bernama Berlin itu, bahkan Karina saja terheran-heran ketika mendengar dan melihat ekspresinya.


"Kamu kayak kenal dekat gitu sama Berlin ketika kamu mengatakannya," celetuk Karina menyipitkan mata dan menatap tajam pria yang berada di dekatnya.


Tokyo melirik tajam dan menatap dalam-dalam wanita itu seraya kemudian berkata, "dia adalah ketua dari Ashgard, yang berarti adalah kelompok yang memiliki dunia yang sama dengan dunia yang diarungi oleh Clone Nostra. Jadi wajar jika aku mencari tahu tentangnya."


"Apalagi tentang beberapa bentrok yang terjadi antara Ashgard dengan kelompok lain ... bahkan juga sempat bentrok dengan kita. Rekam jejak mereka sangat baik, bahkan sangat jarang sekali Ashgard dipukul mundur oleh kelompok lain ketika terjadi bentrok."


"Maka dari itu, selagi Ashgard berada jauh di pulau. Kita dapat menjalankan aksi kita sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, tanpa adanya pengganggu seperti mereka yang akan sangat merepotkan," ucap Tokyo sangat serius di kalimat terakhirnya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2