
"Boni dan aku sudah berencana untuk memperkuat keamanan, terutama untuk menghadapi Clone Nostra. Meskipun mereka hanyalah sindikat atau kelompok kejahatan. Tetapi aku merasa ... kalau ... keberadaan mereka sangat membahayakan banyak pihak, terutama masyarakat tak bersalah."
Dengan sangat serius Garwig berbicara kepada Berlin di sana. Sedangkan Berlin terlihat sangat menyimak dengan saksama. Dari semua apa yang dikatakan oleh Garwig, sepertinya Garwig belum mengetahui bahwa Clone Nostra tidaklah sendiri.
"Bagaimana menurutmu, Berlin? Dan apa saja yang kau ketahui soal mereka?" tanya Garwig bersedekap dan bersandar pada kursinya.
Berlin sedikit menghela napas. Menaruh kedua tangannya di atas meja dan mengatupkannya. Lalu berkata, "itu rencana yang bagus, memperkuat pertahanan."
"Namun, sepertinya ada hal yang belum kau ketahui soal mereka." Berlin menatap serius kedua pria paruh baya di hadapannya. Mendengar apa yang dikatakannya ini, membuat penasaran Garwig dan Boni.
Berlin pun melanjutkan berbicaranya dengan berkata, "Clone Nostra tidak bergerak sendirian."
Sepertinya Berlin berhasil membuat kedua orang penting di depannya terkejut. Mereka langsung menerka-nerka maksud dari ucapan Berlin.
"Apa maksudmu, ada kelompok lain yang membantunya?" tanya Boni mengerutkan dahinya dan menatap bingung Berlin.
"Apa kau mengetahui kelompok-kelompok itu?" tanya Garwig dengan tenangnya.
"Dari yang kami ketahui, hanya ada dua kelompok yang berada di pihak Clone Nostra, satu di antaranya kami sudah mengetahui kelompok apa, namun satu lagi masih belum diketahui."
Jawaban yang diberikan Berlin semakin membuat Garwig penasaran. Kelompok siapa dan mana yang dimaksud, dan seperti apa kelompok itu. "Kelompok apa?" tanyanya.
"Red Rascals." Jawaban yang singkat Berlin sebutkan, dan langsung menyebutkan nama kelompok tersebut.
Garwig pernah mendengar nama atau julukan itu, namun hanya terdengar sekali dalam seumur hidupnya dan sepanjang karirnya di bagian keamanan. Sedangkan Boni terlihat sangat asing dengan nama yang disebutkan.
"Red Rascals adalah sebuah kelompok yang memiliki kekuatan hampir sama dengan Mafioso dan Clone Nostra. Wajar jika kelompok ini asing di telinga kalian, karena mereka termasuk kelompok baru, dan informasinya memang sangat tertutup dari luar." Berlin sedikit menjelaskan soal kelompok yang disebutkannya dengan sangat serius.
Dari sedikit penjelasan yang diberikan saja, Garwig langsung dapat memahami betapa berbahayanya kelompok itu. Begitupula dengan Boni ketika mendengar soal kekuatan kelompok itu.
"Dari mana kalian mengetahui itu?" tanya Garwig menegapkan tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di atas meja dan mengatupkannya. Ia melihat ke arah Berlin dengan tatapan tidak sedang bermain-main.
"Kami diberitahu langsung oleh salah satu dari mereka, Red Rascals ini," jawab Berlin dengan sikap yang dingin.
"Diberitahu langsung?" Boni kembali mengerutkan keningnya.
"Pagi ini, salah satu rekanku menjadi korban atas tindak kejahatan mereka, dan di tempat kejadian mereka memberitahukan hal tersebut kepadanya," jawab Berlin.
"Oh, soal itu." Garwig menghela napas. Dirinya sudah mengetahui apa yang dikatakan Berlin barusan, karena laporan dari pihak kepolisian mengenai hal tersebut. Ia kembali bersandar dan berkata, "kalau begitu, lawan kita tak hanya satu pihak," ucapnya seraya menoleh dan menatap Boni.
"Aku masih belum tahu tujuan mereka, jadi lebih baik perlahan kita tetap laksanakan rencana awal kita, Garwig." Boni memberikan pernyataannya, dan terlihat sangat tidak ingin berlama-lama jika soal pertahanan atau keamanan.
Berlin melirik kedua pria di hadapannya dengan mata tajam, terutama kepada Garwig. Garwig menyadari hal tersebut kemudian melemparkan pertanyaan, "bagaimana dengan dirimu, Berlin? Apakah kau mengetahui motif mereka, setelah melakukan beberapa kericuhan di beberapa penjuru kota?" kepada Berlin.
Berlin bersandar pada kursinya dengan tenang, dan menjawab, "untuk awal yang ku ketahui hanyalah, mereka mengincar ku dan Ashgard."
Garwig cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Berlin. Dirinya tahu Berlin tak pernah main-main dalam hal-hal seperti ini. Dia tampak sangat serius.
"Lalu bagaimana dengan Nicolaus itu, Garwig?" sela Boni bertanya.
Garwig menggelengkan kepalanya dan menjawab, "aku masih belum memiliki petunjuk soal itu."
"Tetapi aku tahu soal itu," timpal Berlin dengan tiba-tiba. Keempat mata itu langsung memandang kepadanya dengan ekspresi penasaran.
__ADS_1
"Apa itu ada hubungannya dengan Clone Nostra, dan ... posisimu dan Ashgard yang sedang diincar itu?" celetuk Garwig berusaha menerka.
Berlin mengangguk pelan menjawabnya. "Beberapa waktu yang lalu kami sempat bentrok dengan beberapa dari mereka di sudut kota. Dan salah satu dari mereka mengatakan bahwa Nicolaus menginginkan kami," ucapnya.
"Oh, peperangan antar kelompok itu?" gumam Garwig. Dirinya sudah mengetahui soal apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu di sudut kota sana.
"Baik, jadi tujuan mereka adalah dirimu dan Ashgard?" Boni langsung menarik kesimpulan dari apa yang dikatakan Berlin.
Namun, Berlin menambahkan, "kurasa begitu, namun juga tidak. Karena hasil dari interogasi dua narapidana Clone Nostra yang pernah ku lakukan. Mereka sempat mengatakan petinggi Clone Nostra ada 'beberapa'."
"Tetapi bukankah waktu itu mereka berkata, bahwa Clone Nostra menginginkanmu, Berlin?" sahut Garwig. Dirinya juga menyimak selama interogasi di Penjara Federal pada saat itu berlangsung.
"Memang benar, tetapi aku tidak yakin mereka hanya menginginkan diriku, dengan semua usaha mereka yang bahkan sampai bekerjasama dengan kelompok lain."
Seketika ruangan itu tiba-tiba hening dengan Berlin berkata seperti itu. Garwig dan Boni langsung berpikir, terutama Boni yang langsung menarik kesimpulannya.
"Aku yakin kalian berdua sudah mengetahui, kalau Clone Nostra adalah kelompok dengan personel yang sangat banyak. Jika mereka menginginkan diriku, mengapa mereka tidak langsung saja mendatangiku?"
Lagi dan lagi, apa yang Berlin ucapkan kembali membuat kedua orang penting itu berpikir. Memang apa yang dikatakan Berlin ada benarnya juga. Jika mereka menginginkan Berlin. Mengapa mereka tidak langsung saja mendatangi Berlin dengan kekuatan mereka yang banyak personel itu?
Diskusi dan pembicaraan mereka terus berlanjut, bahkan Garwig sampai sedikit membahas mengenai Pulau La Luna.
***
Diskusi itu berlangsung kurang lebih selama satu jam. Banyak hal telah mereka bahas mengenai Clone Nostra, Nicolaus, dan rencana keamanan selanjutnya. Berkat diskusi atau pertemuan di acara minum teh ini. Berlin jadi mengetahui bahwa Garwig atau pemerintah akan membuat sedikit perubahan dalam hal keamanan kota.
Setelah diskusi yang cukup intens itu. Berlin bersantai sejenak. Ditambah lagi Garwig mengizinkan dirinya untuk berkeliling rumah yang sangat mewah itu. Sedangkan Boni sudah terlebih dahulu meninggalkan rumah itu bersama para pengawal pribadinya.
Berlin dapat langsung sadar, kalau pelayan wanita yang bersama Garwig adalah pelayan wanita yang menyambut kedatangannya di awal.
"Berlin, ada yang ingin ngobrol bersamamu," ucap Garwig dan melirik ke arah pelayan wanitanya di sampingnya. Kemudian dirinya melangkah satu langkah lebih dekat kepada Berlin dan berbisik, "dia adalah penggemarmu, Berlin."
Penggemar? Tentu saja Berlin bingung dan bertanya-tanya soal itu. Namun dirinya tak melarang jika ada seseorang yang ingin berbicara dengannya secara baik-baik.
Berlin tersenyum dan berkata, "baiklah."
Setelah itu, Garwig pun segera beranjak pergi dari sana meninggalkan pelayannya bersama dengan Berlin.
Krik ... Krikk ... Krikk ...!
Keheningan dan suasana yang sangatlah canggung tiba-tiba saja tercipta. Pelayan wanita itu tampak berdiri di sampingnya, dan sangat memberikan jarak padanya. Dia masih terdiam, belum berbicara. Wajahnya terlihat sangat tersipu dan bingung harus bagaimana ia berbicara.
"Siapa namamu?" tanya Berlin mencoba untuk membuka pembicaraan. Ia menatap kepada wanita muda berbaju pelayan itu yang tampak sedikit tertunduk tak mau menatapnya.
Mendengar pertanyaan itu. Pelayan itu pun menjawab dengan canggungnya, "um ... nama saya ... Lia," ucapnya seraya mengatupkan kedua tangannya di bawah.
"Jadi, apa yang ingin dibicarakan, Lia?" tanya Berlin kembali.
Mendengar namanya disebut oleh seseorang yang sangat ia sukai, tentu membuatnya berdebar. Pertanyaan itu semakin membuat Lia kikuk. Namun setelah mengingat kembali bahwa laki-laki yang sedang bersamanya ini telah memiliki seorang istri. Lia langsung menundukkan kepalanya di hadapan Berlin dan berkata, "sebelumnya, maafkan saya jika lancang ingin berbicara dengan anda berdua seperti ini."
Berlin pun bingung dibuatnya. "Tidak apa-apa. Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?" sahutnya.
Lia mengangkat kembali kepalanya, dan menjawab dengan sedikit malu-malu. "Sebenarnya, saya ingin berbicara kepada anda, bahwa ... saya sudah sangat lama menggemari sosok anda."
__ADS_1
Ternyata apa yang dibisikkan Garwig benar. Berlin tertawa kecil ketika mendengar hal tersebut. "Apa yang kau gemari dariku? Aku bukanlah tokoh politik, atau bahkan tokoh publik."
Lia terdiam dan terlihat bingung bagaimana menjawabnya. Dirinya memiliki alasannya sendiri mengapa begitu menggemari Berlin. Namun tak mungkin baginya mengungkapkan alasan tersebut kepada seorang laki-laki beristri itu. Di sisi lain dirinya sangat malu jika harus mengungkapkannya.
Melihat wanita itu hanya diam saja. Berlin pun mencoba untuk sedikit menggeser topik. "Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau bekerja menjadi pelayan di sini?" tanyanya dengan santai tanpa memandang Lia.
Lia terkesima dengan cara Berlin berbicara. Tak seperti kesan pertamanya ketika bertemu dengan Berlin di awal. Berlin terlihat lebih hangat dan ramah dibandingkan sikapnya yang dingin dan cuek di awal bertemu.
"Sudah empat tahun, semenjak saya remaja usia 17 saya sudah bekerja di sini," jawabnya.
"Apakah kau kerepotan dengan pekerjaan di sini?" tanya Berlin kembali, ia melangkah sedikit ke depan dan mendengar taman bunga di sana.
Lia menggeleng dan tersenyum, "tidak, justru aku senang bisa bekerja di sini, karena dengan berada di sini aku tidak kesepian lagi." Wajahnya tiba-tiba terlihat murung setelah menjawab. Berlin tidak tahu apa yang membuatnya murung, dan sempat menerka mungkin saja masa lalu dari Lia-lah yang membuatnya murung. Namun dirinya tidak peduli dengan masa lalu orang lain, dan mulai menggeser topik pembicaraan lagi agar suasana murung itu bisa menghilang.
"Hmm, tetapi aku masih penasaran. Mengapa kau begitu menggemari ku?" gumamnya.
"Eh?" Lia sedikit terkejut dan terlihat malu. Karena pertanyaan soal itu kembali ia dengar untuk kedua kalinya. Dirinya merasa tidak enak jika tidak menjawabnya. Ia berusaha merangkai kata dan membuat jawaban dari pertanyaan tersebut.
"Sa-saya ... sudah mengetahui soal anda sejak saya remaja dan bekerja di rumah ini. Saya hanya kagum kepada anda, Tuan Berlin. Dari yang saya lihat dan baca di buku tentang Keluarga Gates, anda begitu tangguh dan hebat, dan juga ... keren."
Berlin tertawa kecil mendengar jawaban tersebut. "Begitukah diriku di matamu?" tanyanya.
"I-iya, ehe," jawab Lia tertawa kecil kemudian menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Buku Keluarga Gates, ya? Tak sembarang orang dapat membaca dan mengetahui isi buku itu. Sepertinya Garwig memanglah memilihmu untuk menjadi pelayan di rumah ini." Berlin membatin setelah mendengar alasan Lia menggemari sosoknya. Buku yang berisikan tentang struktur keluarga, dan generasi keturunan keluarga. Tak sembarang orang bisa membacanya. Sedangkan Lia dapat membaca serta mengetahuinya.
"Lalu, apa saja yang kau ketahui lagi dari buku itu?" tanya Berlin kembali.
Lia memandangi ke arah bunga-bunga yang terlihat cantik meski di bawah langit gelap malam. Meski sedikit malu untuk menjawab, tetapi ia menjawab dengan jujur, "um ... soal struktur keluarga, dan sebenarnya ... yang menarik perhatian ku hanyalah ... soal diri anda, Tuan Berlin. Hanya bagian itu yang saya baca lengkap, hehehe," jawabnya lalu tertawa malu.
***
Setelah pembicaraan itu. Berlin pun selesai. Dirinya memutuskan untuk segera pulang. Hari pun juga perlahan mulai semakin larut. Dirinya pamit kepada Garwig dan berterima kasih kepadanya karena sudah mengundangnya untuk hadir ke acara minum teh itu.
Setelah berpamitan dan pergi dari sana. Garwig pun bertanya kepada pelayanan yang sedari tadi tampak begitu gembira, "bagaimana? Apa kau senang?" tanyanya tersenyum.
"Terima kasih banyak, Tuan!" Lia menundukkan kepalanya dan sangat berterima kasih kepada Garwig.
"Haha," Garwig tertawa kecil dan berkata, "tidak perlu berterima kasih, aku hanya melakukan apa yang ingin ku lakukan saja." Dirinya merasa sangat senang dapat mewujudkan keinginan pelayannya itu.
"Bagaimana Berlin menurutmu? Apakah dia orang yang galak, atau ...?" belum selesai bertanya. Tiba-tiba saja Lia menyambar, "tidak! Dia sama sekali tidak galak! Ketika aku berbicara dengannya, dia sangatlah ramah dan tidak pernah mengabaikan apapun yang ku ucapkan."
"Tak seperti orang-orang yang dahulu selalu menganggap ku tidak ada," lanjutnya dengan sedikit memandang ke bawah dan murung.
Garwig tersenyum kecil mendengarnya. Meskipun baru kali ini ucapan seorang Tuan dipotong begitu saja oleh seorang Pelayan. Tetapi itu tak menjadi masalah baginya. Lia memang sedang terlihat sangat senang dan gembira malam ini setelah bertemu dan berbicara dengan Berlin.
"Anggap saja orang-orang itu tidak ada lagi, ya! Karena di sini, kapanpun kau akan selalu ada, dan aku selalu menganggap dirimu di sini." Garwig tersenyum kepada wanita itu. Meskipun dia hanyalah seorang pelayan yang bekerja untuknya dan rumahnya. Tetapi ia sudah menganggap Lia seperti saudara sendiri.
Lia tersenyum senang mendengar hal itu. Ia kembali menundukkan kepalanya dan mengucap, "terima kasih," untuk sekian kalinya. Dirinya merasa beruntung dapat bertemu dan bekerja langsung di rumah ini. Karena selain dirinya dapat tempat bernaung, dirinya juga merasa telah mendapatkan keluarga baru. Keluarga yang lebih menganggapnya ada, dan keluarga yang lebih bisa menghargainya.
.
Bersambung.
__ADS_1