
Sinar mentari kembali menyinari jendela kamar yang masih tertutup oleh tirai. Ketika tirai itu dibuka oleh seorang wanita, sinar mentari pun menyorot masuk melewati jendela dan menyinari kamar tersebut.
Kicauan burung juga terdengar bersahutan di pagi hari itu. Ditambah lagi ucapan penyambut hari yang diberikan oleh Nadia, "sayang, bangun ... ini sudah pagi ...!" Nadia menarik selimut yang digunakan oleh Berlin yang tampak masih terbaring dan tertidur.
Berlin pun terbangun dari tidurnya, dan beranjak duduk di atas ranjang tersebut. Ia menatap sipit ke arah Nadia yang duduk di tepi kasur dan membelakangi cahaya mentari yang masuk melalui jendela.
Dengan rasa kantuk dan lelah yang masih melekat. Berlin tiba-tiba menidurkan kepalanya tepat di atas pangkuan Nadia, dan memeluk tubuh wanita itu sembari berkata, "aku masih lelah, lagipula ini akhir pekan, bisakah kita sedikit lebih lama di kamar?" ucapnya dengan nada bicara yang masih lemas dan terdengar sangat berat.
Nadia tersenyum manis melihat sikap yang begitu manja menurutnya. Ia mengelus lembut kepala milik lelakinya itu yang kini berada di pangkuannya seraya mengatakan, "baiklah, istirahatlah jika kamu masih perlu istirahat," ucapnya dengan nada dan sikap yang sangat lembut.
"Tetapi habis ini aku akan pergi berbelanja," lanjut Nadia.
"Berbelanja?" Berlin tiba-tiba bangkit dari pangkuan Nadia, dan menatap kedua mata wanita itu dengan penuh semangat.
"I-iya, banyak yang harus dibeli," jawab Nadia sedikit terkejut dengan Berlin yang tiba-tiba bersemangat seperti itu.
"Aku ikut kamu berbelanja, ya!" cetus Berlin dengan tatapan berseri dan sangat dekat dengan Nadia.
Nadia terlihat bingung dengan perubahan sikap yang secara tiba-tiba itu. "Tadi katanya kamu masih capek," ucap Nadia mengernyitkan dahinya.
"Uh, eng-enggak, kok! Lagipula ikut kamu berbelanja sudah membuat rasa penatku hilang," sahut Berlin sedikit kikuk.
"Memangnya ... a-aku nggak boleh ikut kamu berbelanja, ya?" lanjut Berlin memasang wajah memelas seraya menatap istrinya itu.
"Aku tidak melarang mu untuk ikut, justru aku merasa senang jika kamu menemaniku. Tetapi, kamu yakin mau ikut? Soalnya kegiatan berbelanja biasanya sangat membosankan bagi kalangan pria. Aku hanya tidak mau membuatmu bosan," ucap Nadia seraya menatap lembut lelakinya.
"Kurasa aku tidak akan merasa bosan, selama bersamamu," sahut Berlin perlahan mendekatkan wajahnya dan lalu bersandar di bahu milik wanitanya. Perilakunya sekilas membuat dirinya seperti anak laki-laki yang ingin mendapatkan dekapan serta pelukan hangat.
Nadia hanya tertawa kecil dan tersenyum seraya mendekap lembut lelaki yang kini berada di dalam pelukannya. "Dahulu ... aku sempat tidak menyangka, dirimu yang dingin dan menakutkan itu ... akan menjadi sangat manja dan melunak seperti ini," ucap Nadia sangat halus seraya membelai lembut Berlin yang tampak sangat nyaman dalam dekapan tersebut.
"Memangnya aku menakutkan, ya?" tanya Berlin mendongak untuk menatap Nadia.
__ADS_1
"Ya ... begitulah," jawab Nadia.
"Lalu bagaimana dengan dirimu?" tanya Berlin kembali seraya menatap lembut kedua mata milik wanitanya dengan cukup dekat.
Nadia langsung tersipu malu. Secara tiba-tiba ia teringat pertemuan pertamanya dengan Berlin yang sangat tidak terduga, namun ia bersyukur Berlin ada di sana karena kehadirannya menyelamatkan nyawanya.
"Um, Berlin, apakah kamu masih ingat ... pertemuan pertama kita?" cetus Nadia bertanya dengan sedikit tersipu menatap lelakinya.
***
Kilas balik: On.
5 tahun yang lalu.
"Mau apa kalian?! Jangan halangi jalan ku!" teriak seorang gadis berusia 17 tahun kepada sekelompok pria yang tampaknya adalah preman.
Para preman itu tampak menghadang jalan gadis itu. Tampak mereka berusaha menyudutkan gadis tersebut ke dalam sebuah gang kecil yang gelap dan sempit.
Gadis berpakaian coklat itu tidak bisa lari ke mana-mana, karena kini ia benar-benar sudah tersudut. Ia sangat berharap ada orang yang melihat dan menolongnya, namun sepertinya harapan tersebut akan sirna karena daerah tersebut sangat sepi jika di malam hari. Apalagi daerah tersebut terkenal dengan tingkat kriminalitas yang cukup tinggi.
"Hei, dia akan bernilai sangat tinggi jika kita menangkap dan membawanya, kita pasti langsung kaya." Para preman itu menatap gadis yang mereka hadang dengan tatapan yang aneh bagi gadis itu.
"Ya, dia gadis yang sangat cantik, pasti sangat berharga. Tetapi aku ingin bermain dan bersenang-senang dengannya terlebih dahulu," cetus salah satu dari mereka dengan tatapan yang aneh bagi gadis itu.
"Apalagi ... dia mengenakan seragam akademi itu, pasti sungguh berharga," lanjut rekan di antara para preman itu. Ia tampaknya mengomentari baju coklat yang digunakan oleh gadis yang kini tersudut.
"Jangan macam-macam!" ancam gadis itu seraya mengeluarkan senjata kejut yang ia simpan di kantongnya.
"Kami tidak akan melukaimu, sayang. Tenang saja, selama kau menurut!" cetus salah satu dari mereka.
"Cuih! Siapa yang sudi menurut kepada kalian, para bedebah merepotkan!" ketus gadis itu sesaat setelah meludah ke arah preman-preman itu.
__ADS_1
"Sialan! Aku akan membuatmu menangis dan menarik kata-kata mu!" ketus satu preman dan lalu langsung berlari dengan menghunuskan sebilah pisau ke arah gadis itu.
Dengan beraninya meski terdapat tatapan ketakutan di bola matanya. Gadis itu bersiap dan akan menggunakan senjata kejutnya untuk melawan.
Bughh!!!
Belum sempat gadis itu memberikan perlawanan. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan mantel berwarna hitam di hadapannya, ia memukul keras preman yang akan menyerang dari arah samping. Preman itu terpukul dengan sangat keras dan terpental membentur dinding dengan sangat keras juga. Serangan yang tiba-tiba dan sangat cepat itu tampaknya sangat tidak diduga oleh preman tersebut, dan tidak sempat baginya untuk menghindar atau memberikan perlawanan.
"Keren ...." Ketika itulah gadis yang tadinya tersudut dibuat terpana dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki yang tiba-tiba saja muncul. Dirinya merasa sangat beruntung dan bersyukur masih ada yang peduli dan menyelamatkannya. Dan di matanya, apa yang dilakukan laki-laki itu sangatlah keren.
"Si-siapa kau ...?" rintih preman yang terpukul dan terduduk di tanah seraya menahan rasa sakitnya.
"Tidak mungkin ...!" rekan-rekan preman itu tampak sangat ketakutan dengan kehadiran laki-laki yang tiba-tiba datang.
"Aku sudah memberi peringatan kepada kalian, ini bukan wilayah kalian! Ini bukan wilayah kekuasaan kalian!" ucap laki-laki itu dengan nada yang pelan namun terdengar dingin dan mengancam. Tatapan dan auranya sangat terasa mengerikan layaknya aura seorang pembunuh berantai.
"A-ampuni kami ...! Ka-kami akan pergi dari sini," ucap para preman itu yang tiba-tiba bertekuk lutut di hadapan laki-laki itu, dan lalu berlarian kalang kabut ketakutan begitu saja.
Setelah para preman itu pergi. Laki-laki itu sedikit menoleh dan melirik ke arah gadis yang baru saja ia selamatkan. "Kau tidak terluka, 'kan?" tanyanya dengan sikap dan nada yang sangat dingin tanpa melihat atau menatap gadis yang barusan ia selamatkan.
"Ti-tidak. Terima ---" belum sempat mengucapkan terima kasih, laki-laki itu berjalan pergi begitu saja keluar dari gang sempit itu.
"Tu-tunggu ...!" gadis itu berlari menyusulnya.
Menyadari dirinya diikuti dan disusul oleh gadis yang baru saja ia selamatkan. Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan berdiri membelakangi gadis itu.
"A-aku ingin berterima kasih banyak padamu karena telah menyelamatkan ku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi jika kau tidak datang, aku hanya bisa pasrah di sana dan melawan sebisaku," ucap gadis itu. Namun laki-laki yang berdiri di hadapannya tampak sangat cuek, dan tidak mengacuhkan kehadirannya. Bahkan dia tidak berbicara sama sekali dan masih berdiri membelakanginya.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa membalas kebaikan mu, tetapi aku sangat berterima kasih," lanjut gadis itu dengan menundukkan kepalanya, namun masih saja laki-laki itu tampak tidak menghiraukannya.
Gadis itu mengangkat kembali kepalanya dan bertanya, "bolehkah aku tahu namamu? Aku ingin membalas kebaikan mu suatu saat nanti," seraya menatap ke arah laki-laki yang berdiri di hadapannya dan masih di posisi yang sama, tidak berbalik badan ke arahnya.
__ADS_1
.
Bersambung.