Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Keberadaan Berlin #107


__ADS_3

"Di mana? Di mana terakhir kali kalian melihatnya?!"


Kimmy sekaligus seluruh rekannya telah sampai di lokasi dimana Berlin melalui jalur tersebut setelah berbisa dengan Rony dan Aryo. Namun sesampainya di jalur satu arah itu, mereka tidak menemukan apapun di sana bahkan tak mendapati adanya tanda-tanda dari Berlin.


"Bagaimana jika kita cek lebih ke depan?" tanya Sasha.


Mereka pun kembali menaiki kendaraan masing-masing, dan menyusuri jalan tersebut terus ke depan berharap ada tanda-tanda dari keberadaan Berlin.


Setelah beberapa ratus meter ke depan. Kimmy dikejutkan dengan adanya sebuah motor yang hancur dan terbakar di tepi jalan. Dirinya tahu dan mengenal betul pemilik dari motor tersebut.


"Tidak ...," gumam Kimmy dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Asep mendekati motor yang sudah hampir sepenuhnya hangus itu dan mengatakan, "sepertinya roda belakang motor ini terkena tembakan ketika melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi."


"Kimmy, aku menemukan sesuatu di sini!" cetus Kina yang berdiri tepat di pinggir pembatas jalan yang juga hancur di sana.


Kimmy berlari ke arah temannya itu, dan menemukan sebuah radio komunikasi genggam yang tergeletak tepat di balik tumpukan besi pembatas jalan itu.


"Ini milik Berlin," gumamnya ketika mengambil radio genggam itu.


"Kami juga menemukan sesuatu di sini!" cetus Adam.


Sebuah radio dan pistol yang hampir selalu dibawa Berlin telah ditemukan oleh mereka. Namun di area itu sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Berlin berada. Lelaki itu seolah menghilang begitu saja semenjak hilang kontak komunikasi dengan rekan-rekannya.


"Cepat cari di sekitar sini! Semoga saja Berlin masih berada di antara gang-gang kecil itu," titah Kimmy kepada seluruh rekan-rekannya.


Di saat ketika seluruh temannya hendak melakukan apa yang Kimmy perintahkan. Tiba-tiba saja sebuah mobil SUV berwarna hitam datang dan berhenti tepat di depan Kimmy yang berdiri di pinggir trotoar.


Melihat kedatangan mobil hitam yang sangat tiba-tiba itu, membuat Kimmy dan rekan-rekannya langsung menodongkan pistol yang mereka bawa. Kimmy sendiri tidak tahu pasti siapa orang di balik kaca-kaca hitam mobil SUV tersebut. Namun mengingat dirinya dan rekan-rekannya berada di wilayah yang masih dikuasai oleh Clone Nostra, itu cukup membuat mereka meningkatkan kewaspadaan terhadap orang asing siapapun itu.


"Tenanglah, kehadiran saya di sini bukan untuk memberikan ancaman kepada kalian, Ashgard."

__ADS_1


Seorang pria dengan pakaian taktis santai berwarna hitam, dan sebuah lambang resmi kecil berwarna biru di bahu kirinya yang melambangkan logo Departemen Kepolisian Metro.


"Kau ...? Tolong tunjukkan identitasmu!" pinta Kimmy dirinya sedikit terkejut ketika melihat wajah tampan pria itu.


Pria itu meraih sebuah kartu anggota miliknya dari dalam kantong celana, dan kemudian menunjukkan identitas tersebut kepada Kimmy.


"Flix Gates Samudera" begitulah nama yang tercantum pada kartu anggota yang ditunjukkan. Tentu setelah membaca nama tersebut, Kimmy cukup dibuat bertanya-tanya, "Gates?" batinnya. Kimmy sendiri tahu bahwa marga tersebut adalah marga dari keluarga besar yang Berlin miliki.


"Apa hubungan mu dengan Gates?" cetus Kimmy langsung menanyakan poin yang ingin ia tanyakan.


"Aku salah satu anggota keluarga besar itu," ucap Flix menjawab sebelum menambahkan, "walaupun aku bukan anggota keluarga itu sejak lahir," lanjutnya.


Melihat bahwa pria bernama Flix itu tidak memberikan gerak-gerik mencurigakan dan tidak membuat ancaman terhadap dirinya dan rekan-rekannya. Kimmy pun memerintahkan kepada teman-temannya untuk menurunkan pistol yang mereka arahkan kepada Flix.


"Baik, sekarang apa yang sedang dilakukan oleh aparat kepolisian seperti dirimu ada di sini? Bukankah kalian seharusnya bersiap untuk melakukan pendesakan terhadap Clone Nostra di area Gedung Balaikota?" tanya Kimmy, tentu dengan sedikit menaruh rasa curiga.


"Prawira mengutus diriku beserta timku untuk ke sini," jawab Flix yang kemudian langsung disahut oleh Kimmy dengan mengatakan, "tim?" cetusnya dengan lirikan ke sekitar Flix, bahkan sempat melirik ke arah dalam mobil namun tidak menjumpai seorang pun selain Flix.


Flix mengangguk dan berkata, "rekan-rekanku sedang mengintai seseorang yang sepertinya kalian cari-cari di sini."


"Apa yang kau ketahui soal keberadaan Berlin?" cetus Adam.


"Katakan sekarang!" timpal Asep.


Mereka berdua langsung mendesak Flix untuk menjawab dua pertanyaan mereka, dan berharap Flix memberikan jawaban serta petunjuk untuk itu.


Dengan sikap berbicara yang tenang. Flix pun menjawab, "Berlin tertangkap, dan dibawa oleh salah satu regu milik Clone Nostra menuju ke Gedung Balaikota."


DEG.


Kimmy tidak begitu siap untuk mendengar kabar tersebut. Hati dan jantungnya secara tiba-tiba berdebar, diikuti oleh rasa khawatir dan gelisah yang begitu mendalam.

__ADS_1


"Apa kau bilang?!" cetus Adam.


"Ya, bisa dikatakan kalau dia sekarang menjadi tawanan Clone Nostra," jawab Flix.


"Dia masih hidup, 'kan?" cetus Kimmy dengan tatapan yang dipenuhi dengan rasa khawatir.


Flix mengangguk ragu dan berkata, "seharusnya begitu untuk saat ini, namun aku tidak tahu untuk kedepannya."


Setelah mendengar kabar soal dibawanya Berlin menuju Balaikota oleh komplotan Clone Nostra. Kimmy beserta rekan-rekannya langsung hendak pergi dari sana untuk menuju ke Gedung Balaikota. Namun langkah mereka terhenti dengan Flix yang berkata, "tunggu! Kalian tidak dapat ke sana tanpa rencana, bukan?"


"Jika berkenan, kami ingin membicarakan soal rencana tersebut dengan salah satu petinggi dari kalian," lanjut Flix.


Mendengar hal tersebut. Tiga orang kepercayaan Berlin yakni Kimmy, Adam, dan Asep saling menatap satu sama lain.


"Siapa yang akan jadi pengganti Berlin untuk sementara waktu ini?" tanya Asep kepada dua rekannya itu.


"Aku tidak terlalu percaya diri jika harus mengambil peran yang berat itu," jawab Adam.


"Namun jika berdasarkan keputusan yang sering dibuat oleh Berlin, dia hampir selalu menunjuk dirimu sebagai pemimpin sementara," ucap Kimmy.


Ya, ketiga orang penting dalam Ashgard itu saling menunjuk satu sama lain untuk menggantikan posisi Berlin sebagai ketua. Memang peran dan posisi tersebut sangat penting, dan juga krusial. Menurut ketiganya, tidak ada yang lebih baik dari Berlin yang dapat menjalani peran penting itu.


"Apakah kalian bertiga petinggi dari Ashgard itu?" tanya Flix sedikit menyela pembicaraan antar tiga orang itu, dan ketiganya menjawab, "mungkin bisa dibilang begitu, namun lebih tepatnya Berlin sering memberikan kepercayaannya kepada kami."


"Baiklah, kalian bertiga ikut saya! Petinggi kepolisian ingin berbicara dengan kalian," pinta Flix.


"Petinggi kepolisian?" gumam Kimmy bertanya-tanya, dan berasumsi siapakah petinggi kepolisian yang dimaksud. Di kepalanya, petinggi kepolisian yang ia tahu adalah Prawira seorang.


"Dengar, kami tidak memiliki waktu untuk berdiskusi! Nyawa salah satu rekan kami sedang dalam bahaya!" cetus Adam dengan nada bicara yang begitu tegas kepada Flix. Dirinya tidak peduli apapun posisi Flix sebagai aparat, sampai-sampai berbicara menggunakan intonasi yang begitu tinggi padanya.


"Tidak, kami tidak ingin berdiskusi apalagi membuang waktu. Namun melakukan pegerakan tanpa adanya rencana dan gegabah, itu juga dapat menjatuhkan kalian," sahut Flix, berbeda dengan Adam. Dirinya berbicara dengan sikap yang begitu tenang.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2