
"Akira usia berapa tahun, Bos?" cetus Kimmy, bertanya kepada Berlin ketika dalam perjalanan di mobil yang sama bersama dengan Adam dan Asep.
"Lima tahun di tahun ini," jawab Berlin, datar.
"Lima tahun? Kenapa tadi dia masih di rumah? Enggak sekolah?" sahut Kimmy, kembali bertanya. Wanita itu terlihat cukup penasaran dan antusias dengan topik pembicaraan itu.
Berlin sedikit menoleh dan melirik ke belakang, sebelum akhirnya menjawab, "sekolah masih libur pasca kekacauan pekan kemarin, dan dijadwalkan pemerintah baru masuk pekan depan. Bukankah kau seharusnya tahu soal berita itu?"
Kimmy tertawa kecil dan menjawab, "hehe, iya juga, maaf lupa."
"Dasar, Kimmy ...!" gumam Asep yang duduk tepat di sebelah Kimmy.
Perjalanan siang yang cukup padat, melalui lika-liku jalanan menuruni perbukitan kota, menuju ke kota bagian Barat yakni area Kediaman Gates. Namun posisi titik lokasi yang diberikan oleh Garwig sedikit bergeser ke arah Utara dari Kediaman Gates, masuk ke sebuah kompleks elit yang kelihatannya dijaga oleh beberapa orang berbaju hitam di beberapa sudut serta titik area.
Ashgard perlahan memasuki area tersebut. Area itu memang terlihat seperti perumahan dari luarnya, namun ketika masuk ke area dalam kompleks, hanya ada sebuah bangunan yang amat besar di tengah-tengah sana, dikelilingi oleh taman dan halaman yang cukup luas.
Adam memberhentikan mobilnya di halaman, sebelum kemudian turun serta terpana kagum melihat betapa bagusnya bangunan di depannya. Sebuah bangunan layaknya sebuah rumah yang cukup megah, dengan desain futuristik modern dominan berwarna putih, dan didominasi oleh kaca-kaca tebal. Di bagian sampingnya terdapat sebuah pintu garasi yang amat besar, yang jika pintu itu terbuka akan memperlihatkan sebuah jalan luas menuju ke bawah, dan di bawah sana terdapat sebuah basemen yang amat luas serta biasa digunakan sebagai garasi.
"Selamat datang, Ashgard. Kelak tempat ini akan menjadi rumah kalian," ucap Garwig, melangkah keluar melalui sebuah pintu kaca tebal yang tergeser, menyambut kedatangan Berlin dan rekan-rekannya.
"Silakan, jangan sungkan, ini adalah tempat kalian, jadi jika kalian ingin berkeliling silakan saja!" lanjut Garwig, ketika melihat beberapa rekan Berlin yang tampak terkagum-kagum dengan tempat itu.
__ADS_1
"Izin, Bos ...?" ucap Adam, berdiri tepat di sebelah Berlin.
Berlin menjawab dengan mengangguk dan menjawab, "silakan!" setelah menerima jawaban tersebut. Rekan-rekannya kemudian segera beranjak dari halaman itu, mereka terpencar, dengan antusias dan penasaran melihat-lihat setiap sudut tempat itu.
"Ayo, masuk! Aku akan menunjukkan beberapa hal padamu, Berlin." Garwig langsung mengajak Berlin, masuk melalui pintu kaca yang tergeser itu, dan langsung berada di sebuah ruang tengah yang amat luas dan megah dengan desain modern.
"Bangunan ini memang didesain dengan tema dan konsep futuristik, dan didukung oleh banyak fasilitas keamanan tingkat tinggi. Semua kaca dan dinding yang digunakan memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap segala model peluru dan segala ledakan." Garwig berbicara sembari berjalan melalui ruang tengah yang amat luas itu, ditambah ruangan itu memiliki kesan yang cerah karena didominasi dengan warna putih.
"Oh, ya? Jika memang kaca-kaca dan dinding di sini anti peluru, bisakah aku mencobanya?" sahut Berlin, seketika membuat langkah Garwig berhenti ketika baru sampai di ruang tengah.
Garwig menoleh ke belakang, menatap Berlin dan menjawab, "tentu saja bila kau ingin mencobanya."
Tanpa basa-basi, Berlin meraih sebuah pistol yang bergelantungan pada ikat pinggangnya, membidik, mengarahkannya menuju ke sebuah kaca yang dekat dengan halaman belakang, dan kemudian menarik pelatuknya satu kali.
"Tembakan?!"
Suara satu tembakan dari pistolnya sempat membuat teman-temannya terkejut. Mereka terlihat langsung bergegas menuju ke ruang tengah, dan memastikan apa yang terjadi.
"Bos, apakah kau baik-baik saja?" teriak Kimmy dari lantai atas dan celingukan ke arah ruang tengah di bawah.
"Kau nembak apa, Bos?" cetus Adam, berlari dan berhenti ketika sudah berada dekat dengan Berlin.
__ADS_1
Berlin sempat terkekeh, sebelum akhirnya berkata, "maaf mengejutkan kalian. Tenang saja, tadi aku hanya menguji ketahanan kaca di sini," ucapnya kepada beberapa rekannya sembari melangkah perlahan mendekati kaca yang ia tembak. Mereka sudah berkumpul di ruang tengah dalam kurun waktu lima detik pasca tembakan tersebut, menyangka sesuatu telah terjadi.
Berlin kembali menyarungkan pistolnya, dan kemudian melihat kaca yang berhasil menangkal timah panas yang melesat begitu cepat. Kaca itu tidak pecah, tidak cukup retak, dan kerusakan yang diterima juga tidak terlalu memiliki diameter yang besar. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Garwig memang benar, kaca itu memang kaca anti peluru dengan kasta tertinggi dan memiliki ketahanan yang sangat hebat.
"Aku bisa mengganti kacanya nanti," ucap Garwig, berdiri tepat di belakang Berlin yang tampak cukup terkesan dengan ketahanan dari kaca tersebut.
"Mengesankan ...!" gumam Berlin menghela napas, mengangguk dan tersenyum tipis. "Apalagi yang perlu kau tunjukkan? Dan juga perlu ku ketahui?" tanya Berlin kemudian.
Garwig pun kembali melanjutkan perannya sebagai tour guide, menunjukkan satu-persatu ruangan yang ada di bangunan yang cukup megah itu beserta kegunaannya. Bangunan itu dua lantai, atau mungkin bisa dihitung tiga lantai jika basemen dihitung sebagai lantai dasar. Cukup banyak ruangan yang ada di bangunan itu, beberapa ruangan penting di antaranya adalah ruang persenjataan, loker keanggotaan, ruang penyimpanan, ruang rapat pertemuan, dan beberapa ruangan lainnya.
Banyak dari rekan-rekannya yang terlihat sangat terkesan dengan fasilitas ini. Mereka terlihat asyik berkeliling tanpa henti, dan dengan antusias memeriksa satu-persatu ruangan yang ada.
Benar-benar tempat yang berhasil membuat Ashgard terkesan kagum. Dengan desain yang modern futuristik, banyak sekali fasilitas yang dapat digunakan, dan dengan sistem keamanan yang tidak perlu diragukan lagi. Tempat ini jauh lebih baik jika dibandingkan bengkel yang digunakan sebagai markas Ashgard sebelumnya.
"Di sini tidak hanya ada bangunan utama ini, di area taman belakang juga terdapat sebuah bangunan yang di sana dapat digunakan sebagai tempat bersinggah atau tinggal," ucap Garwig, berdiri di sebuah balkon lantai dua yang memiliki pemandangan langsung ke arah taman belakang yang begitu luas. Berlin memang dapat melihat bangunan lain di tepi taman tersebut.
"Bisakah aku ke sana untuk melihatnya?" sahut Berlin.
Garwig tersenyum, menoleh dan menjawab, "tentu saja!"
Mereka berdua pun berjalan melalui tengah-tengah taman yang cukup luas itu, dan hanya ada hamparan rumput lembut berwarna hijau. Berlin melangkah mengikuti langkah Garwig yang berjalan di atas jalanan taman yang terbuat dari beberapa lempeng batu yang tipis dan tidak terlalu kasar.
__ADS_1
.
Bersambung.