
Berlin membahas semua yang pernah dan bahkan sedang terjadi, semua yang telah atau bahkan sedang dihadapi oleh Ashgard. Ia membahas semua itu yang berhubungan dengan Clone Nostra, karena situasi Ashgard saat ini memanglah sedang memanas dengan kelompok itu.
Berlin juga ikut membahas persoalan yang menimpa Kent. Tentang orang-orang yang mencelakai Kent, dan tentang peringatan yang diberikan oleh orang-orang itu soal tiga kelompok yang Ashgard hadapi.
Di saat ini, Ashgard mengantongi dua nama kelompok yang sedang dihadapi dan sangat membahayakan. Red Rascals, dan Clone Nostra. Kedua kelompok ini bukanlah kelompok sembarangan, dan keduanya memiliki reputasi yang sangat tinggi dalam dunia kriminalitas.
Namun sayangnya hanya dua nama kelompok itu saja yang diketahui untuk saat ini dari ketiga kelompok yang disebutkan. Sedangkan satu kelompok lagi masih belum diketahui, dan menurut Berlin ini sangat berpotensi membahayakan keselamatan dirinya termasuk dengan rekan-rekan serta semua orang-orang terdekat mereka.
"Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah kita akan terus dihantui dan diam begitu saja tanpa perlawanan?!" tanya Faris sedikit menaikkan nada bicaranya kepada Berlin.
Berlin dapat melihat betapa marah dan kesal dari salah satu rekannya itu. "Tentu aku tidak ingin terus diam! Karena menurutku jika kita diam di saat terinjak, itu justru adalah bentuk penghianatan terhadap diri kita sendiri," tegasnya.
"Aku hanya kesulitan untuk mencari celah agar kita bisa bergerak, karena tentunya aku juga harus memikirkan keselamatan kalian!"
Berlin tidak dapat lagi menyembunyikan wajahnya yang sangat terlihat sedang kehabisan akal. Benar. Dirinya benar-benar kehabisan rencana dan ide. Dirinya juga harus memikirkan rekan-rekannya.
Mendengar dan melihat betapa pedulinya Berlin, itu langsung membuat semua rekan-rekannya terdiam dan tertegun. Tak seperti seorang bos yang selalu memperbudak anak buahnya untuk mengerjakan dan menuruti egonya. Berlin peduli dengan mereka semua. Ia menghela napas berat, kemudian berkata, "aku sayang kepada kalian semua, kalian adalah rekan-rekan ku yang berharga, jadi aku juga harus memikirkan keselamatan kalian."
"Keputusan memang ada di tanganku, dan aku harus memikirkannya matang-matang," lanjutnya dengan pandangan sedikit tertunduk seraya melihat kedua telapak tangannya.
Mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Berlin, tampaknya itu cukup menyentuh hati rekan-rekannya. Adam berjalan mendekati Berlin dan berkata, "maka dari itu, apapun yang terjadi kita harus hadapi bersama, bukan?"
"Ya, kau benar," sahut Berlin. Kemudian ia berjalan ke sofa, dan duduk di sofa itu dengan ekspresi wajah terus berpikir.
"Kalau aku boleh menyarankan, mungkin untuk sementara lebih baik kita bermain sangat pasif terlebih dahulu. Jangan ada yang pergi sendiri, dan tetap terus menjalin kontak di radio."
Adam mengusulkan sarannya kepada Berlin yang duduk di sofa itu. Berlin mengangguk dan setuju dengan sarannya, begitu pula dengan semua rekannya. Untuk sementara mereka akan menerapkan saran yang diberikan oleh Adam.
***
Di malam harinya, Berlin pun berkendara dengan mobil pribadinya menuju ke sebuah kompleks yang letaknya berada perbukitan kota dan tak jauh dari Balaikota. Kompleks itu bukanlah sembarang kompleks, karena dijaga sangat ketat oleh banyak pihak keamanan dengan pakaian serba hitam mereka.
Mobil yang dikendarai oleh Berlin tiba-tiba saja dihentikan oleh tiga orang berjas hitam dan kacamata hitam. Mereka tampak tidak bersenjata, tetapi tidak tahu jika mereka menyimpan sesuatu di balik lengan jas hitam mereka.
"Selamat malam, pak. Ini adalah kompleks steril, dan hanya orang-orang dengan keperluan penting saja yang boleh melalui jalanan ini." Salah satu dari ketiga pria itu berbicara kepada Berlin yang membuka kaca jendela mobilnya.
__ADS_1
"Bapak ada keperluan apa datang ke mari dan melalui jalan ini?" tanyanya kemudian kepada Berlin. Meskipun mengenakan kacamata hitam. Tetapi aura mengerikan sangat dapat dirasakan bahwa pria itu sedang menatap dirinya dengan tatapan sangat tajam.
Ketika salah satu dari ketiga pria itu berbicara kepada Berlin. Dua pria lainnya terlihat sedang mengecek ke sekeliling mobil yang dikendarai oleh Berlin. Bahkan mereka juga sampai melihat ke bagian bawah mobil menggunakan sebuah kaca dan seperti sebuah alat pendeteksi.
"Maaf, saya tidak begitu mengetahui soal berapa sterilnya tempat ini. Tetapi saya ke mari dengan alasan tertentu." Dengan santainya Berlin berbicara seraya menunjukan surat resmi yang ia bawa.
"Oh! Surat ini. Kalau begitu silakan dilanjut, mohon maaf menghambat perjalanan anda." Tampaknya pria itu sedikit terkejut melihat surat resmi itu. Setelah itu Berlin pun kembali melanjutkan perjalanan. Dirinya hanya memerlukan beberapa ratus meter lagi untuk sampai ke kediaman Garwig.
Berlin melirik dan melihat ke sana ke mari ketika berada di tempat atau wilayah itu. Kompleks ini dijaga sangat ketat. Meski tidak begitu terlihat penjaganya. Tetapi mereka ada di setiap sudut. Dan meski tidak terlihat para penjaga itu bersenjata. Tetapi kita tidak tahu apa yang mereka sembunyikan di balik jas hitam yang mereka pakai.
Tak hanya dijaga oleh manusia atau orang. Kompleks itu juga dijaga dan diawasi sangat ketat oleh banyaknya kamera pengintai, serta beberapa teknologi keamanan tingkat militer.
Sesampainya Berlin di sebuah rumah yang sangat mewah nan modern. Dirinya langsung disambut oleh dua penjaga dengan jas hitam, dan satu wanita muda dengan baju pelayan. Kedatangan disambut dengan sangat ramah. Kemudian dirinya diantarkan untuk menemui Garwig dan Walikota yang sudah menunggu kehadirannya oleh seorang pelayan wanita muda itu.
"Mari ikuti saya, Tuan." Wanita itu berjalan melalui ruang tamu, ruang utama, ruang keluarga, dan beberapa kamar serta koridor di lantai satu rumah itu. Bersama dengan Berlin yang ikut berjalan bersampingan.
Berlin kagum dengan tempat atau rumah ini, bahkan vila dan rumah mewah miliknya masih kalah jauh dengan kemewahan rumah ini. Sedangkan pelayan wanita itu tampaknya kagum dengan paras Berlin. Beberapa kali ia terlihat melirik dan sulit melepas perhatiannya dari Berlin yang sedari tadi berjalan di sampingnya.
"Dia memiliki ikatan darah murni keluarga Gates. Dari yang ku baca, dia sangat berbakat dalam menggunakan senjata serta beladiri, usianya bahkan masih sangat muda untuk seorang pria, dan ... itu memang benar. Aku tak menyangka dia akan setampan ini."
Berlin menyadari hal tersebut, namun dirinya hanya diam selama itu tidak mengancam atau membahayakannya. Dirinya hanya cuek dan memasang sikap yang sangat dingin seperti biasa. Namun sepertinya sikapnya yang seperti itu justru membuat si pelayan semakin terkesima.
Berlin pun hanya menjawab singkat, "ya." Dirinya memutuskan untuk hadir sendiri tanpa ada yang mendampingi.
Di sebuah ruang keluarga bagian belakang rumah. Berlin langsung bertemu dengan Garwig dan Walikota Boni Jackson yang sudah duduk di sebuah meja bundar di sana.
"Wah, senang bertemu denganmu, Berlin." Boni pun sangat ramah dengan kehadiran Berlin di sini.
"Saya sangat senang bisa diundang ke sini, terima kasih banyak." Berlin tersenyum dan berterimakasih kepada Garwig.
"Haha," Garwig tertawa kecil lalu berkata, "duduklah! Jangan terlalu tegang dan jangan terlalu formal, santai saja."
Berlin pun duduk di sebuah kursi di sana. Sedangkan pelayan yang mengantarnya tadi langsung pergi untuk mempersiapkan teh yang akan disajikan.
"Sayang sekali Prawira tak bisa hadir malam ini, padahal aku sudah mengundangnya, tetapi dia masih terlalu sibuk dengan pekerjaannya," gumam Garwig.
__ADS_1
"Berlin, senang bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu? Dari dahulu aku sangat ingin bertemu denganmu," ucap Boni kepada Berlin lalu berjabat tangan padanya.
Berlin menjawab ramah, "lumayan baik, senang bertemu dengan anda juga." Nada dan sikap bicaranya sangat formal sekali, mengingat lawan bicaranya adalah seorang walikota.
Boni terkekeh dengan sikap yang sangat formal itu, "santai saja, Berlin. Tidak perlu terlalu formal seperti itu."
Di saat yang bersamaan, si pelayan tadi kembali dengan sebuah nampan yang berisikan tiga cangkir teh yang masih kosong dan satu buah teko penuh. Perlahan ia menyajikan teh tersebut dengan hormat kepada tiga orang penting di meja bundar itu.
"Oh iya, bagaimana dengan istrimu, kabarnya baik, 'kan?" cetus Boni bertanya lagi kepada Berlin.
Pelayan itu tiba-tiba terkejut dan menjadi sangat gugup ketika menyajikan teh untuk Berlin. Cangkir yang dibawanya sedikit goyang ketika meletakkannya di depan Berlin. Ia terkejut dengan pertanyaan itu.
"Ma-maaf, aku sedikit grogi," ucap si pelayan ketika melihat Berlin meliriknya dan menatapnya dengan penuh tanya. Dirinya menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Berlin.
Namun Berlin malah tersenyum dan berkata, "tak apa, terima kasih."
"Ka-kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu, jika memerlukan saya maka silakan panggil saja saya." Pelayan itu menundukkan kepalanya di depan tiga orang penting itu, terutama kepada Garwig atas kegugupannya. Kemudian ia beranjak pergi dari sana menuju ke dapur. Ketika berada di dapur, pelayan itu bersandar di dinding dan membatin, "ternyata dia sudah memiliki istri? Padahal baru saja aku berharap lebih," batinnya sembari tertunduk dan terlihat sedikit kecewa. Namun dirinya harus kembali fokus pada pekerjaannya.
"Jarang sekali dia terlihat gugup seperti itu, baru kali ini ketika melayanimu, Berlin." Garwig melihat ke arah pelayannya yang barusan pergi itu dengan satu alis terangkat. "Sudahlah, biarkan saja dia. Maaf jika dia sedikit membuatmu tidak nyaman atau terganggu, ya?" ucapnya kepada Berlin.
Berlin tersenyum dan berkata, "tidak masalah bagiku, wajar saja jika dia gugup seperti itu, apalagi di sini hadir seorang walikota."
"Kau ini bisa aja," sahut Boni tertawa.
"Ngomong-ngomong soal pertanyaan tadi," Berlin pun menjawab pertanyaan yang belum terjawab itu, "tentu kabarnya baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Setelah beberapa basa-basi, dan sudah dirasa cukup. Garwig pun mulai membahas apa tujuannya membuat sebuah pertemuan dan acara minum teh malam ini. Boni Jackson, rekannya sekaligus walikota sudah tahu apa alasan serta tujuan Garwig. Namun Berlin sengaja belum ia beritahu.
"Jadi begini, Berlin. Aku membuat pertemuan ini tentu memiliki alasan dan tujuan, yang belum kau ketahui dan sengaja tidak ku beritahu sebelum kau hadir di sini."
Berlin menatap serius pria paruh baya itu. Selain tujuan dan alasan yang dimiliki oleh Garwig. Berlin juga memiliki alasan dan tujuan tersendiri untuk menghadiri acara ini.
"Aku ingin membahas soal Clone Nostra, dan Nicolaus denganmu, Berlin. Selain itu, aku juga ingin membahas sedikit soal Pulau La Luna itu."
Berlin sempat sedikit terkejut ketika Garwig sudah mengetahui nama pulau itu. Namun ketika mengingat Garwig adalah orang penting pemerintah, dirinya tidak jadi terkejut. Sudah seharusnya Garwig mengetahuinya.
__ADS_1
.
Bersambung.