
DESING ...!!!
Dua orang berbaju putih di atas bangunan itu langsung jatuh, begitu pula dengan satu orang yang berjaga di ujung jalan setapak itu. Mereka langsung terlumpuhkan oleh tembakan yang berasal dari Ashgard yang berada di lereng bukit.
"Tunggu! Mungkin kalian akan membutuhkan ini," ucap Flix kepada Adam yang hendak menyebrang. Ia memberikan sebuah tablet yang menampilkan denah bangunan dari Gedung Balaikota itu.
Adam mengangguk dan berkata, "baik!"
"Cepat!" cetus Flix dan kemudian mengambil posisi menembak.
Flix berhasil melumpuhkan dua orang sekaligus yang berjaga di bagian samping gedung, dan di saat yang bersamaan itulah satu persatu dari Ashgard menyebrangi jalanan setapak itu.
"Semoga keberuntungan ada di pihak kalian, dan bawalah Berlin kembali dengan selamat!" gumam Flix melihat Ashgard yang hanya berjumlah delapan orang itu telah berhasil menyebrang dan mendekat ke arah bagian belakang gedung.
Flix mengambil radio komunikasi miliknya dan melaporkan, "Ashgard telah berhasil mendekati gedung."
"Baik, kembali dan bergabunglah segera dengan regu Prime! Aku akan menyiapkan tugas untuk kalian," suara Prawira terdengar menanggapi apa yang Flix baru saja katakan.
"Baik, pak." Flix segera meninggalkan lereng bukit itu dan mundur dari peperangan yang terjadi di sana untuk segera menemui Prime.
***
Adam bersama dengan rekan-rekannya terus merapat ke dinding bagian samping Gedung Balaikota. Mereka terus menyusuri tepian dinding itu, dan mencari pintu belakang bangunan itu.
"Berdasarkan denah yang ada, kita perlu sedikit memutar untuk mencapai pintu belakang," ucap Adam sembari melihat tablet yang diberikan oleh Flix untuknya.
Suara baku tembak yang terjadi di area perbukitan masih saja terdengar, bahkan tidak ada henti-hentinya. Namun Ashgard memilih untuk tidak mempedulikan peperangan atau konflik tersebut, sebelum mereka berhasil membawa dan membebaskan Berlin.
__ADS_1
"Aku sepertinya menemukan di mana pintu belakang itu berada," ucap Kent melalui radio komunikasi. Ia sudah lebih dahulu jauh di depan dibandingkan rekan-rekannya.
"Namun, sepertinya kita harus mengatasi beberapa penjaga terlebih dahulu," lanjut Kent.
Ketika Adam dan juga rekan-rekannya sampai ke posisi Kent berada, yakni sisi luar dinding Balaikota dan di balik sebuah tembok pembatas antara tepian gedung dengan halaman belakang gedung.
"Kurasa, itu bukan beberapa lagi, Kent." Adam menyangkal apa yang dikatakan Kent sebelumnya, setelah melihat jumlah penjaga yang terus mondar-mandir di halaman belakang gedung.
"Iya, lebih dari sepuluh orang tuh," timpal Kimmy.
"Kurasa kita akan kesulitan jika harus melawan para penjaga itu, lebih baik kita cari jalan lain," ucap Rony.
Adam setuju dengan pendapat dari Rony. Namun harus lewat mana lagi, selain pintu belakang itu tidak ada lagi akses masuk ke dalam gedung. Bahkan pada dinding di sisi Ashgard berada benar-benar tidak ada jendela yang bisa digunakan untuk akses keluar masuk.
"Sep, apakah kau masih ada di sana?" Adam sedikit mundur dan menjauh untuk berbicara menggunakan radio komunikasi agar tidak terdengar oleh para penjaga itu.
"Bukan waktunya untuk bercanda!" sahut Adam tegas.
"Oh, oke, baik!" jawab Asep dan kemudian bertanya, "apa yang kau butuhkan?"
"Aku butuh akses masuk gedung ini selain dari pintu depan dan pintu belakang!" jawab Adam.
"Hmm, baiklah, semua akses masuk gedung akan ku tandai biru pada tablet yang ku berikan kepada Kimmy."
Semua akses masuk telah ditandai oleh Asep melalui tablet tersebut. Beberapa tanda berwarna biru telah muncul, dan yang terdekat ada satu yakni ruangan yang digunakan untuk menahan para tawanan.
"Tunggu! Tetapi pada denah yang diberikan Flix, tidak ada jendela di sana," cetus Adam sembari mencocokkan antara dua tablet yang dibawa.
__ADS_1
"Denah? Flix?" gumam Asep bertanya-tanya, sebelum kemudian menjawab kebingungan itu dengan berkata, "denah yang kalian maksud itu mungkin saja denah yang dimiliki oleh aparat selain aparatur negara serta para petugas Balaikota."
"Ah, sudahlah! Tidak ada waktu untuk memikirkan itu!" cetus Adam dan kemudian berkata, "terima kasih, Sep!" ucapnya kepada Asep melalui radio komunikasi tersebut.
"Baik, kita akan sedikit menyebrangi halaman belakang ini. Namun bagaimana caranya melalui para penjaga itu agar tidak memancing lebih banyak keributan?" gumam Kent terlihat berpikir.
Lalu tiba-tiba saja Kina menyela dengan berkata, "mungkin kita bisa sedikit menyelinap di bawah sana?" ucapnya sembari menunjuk ke suatu arah. Telunjuknya menunju ke arah dinding pembatas halaman belakang yang cukup tinggi yang mengelilingi halaman belakang. Dirinya berpikir bisa berjalan sedikit menunduk dan berjongkok mengelilingi dinding tersebut hingga sampai ke sisi lain halaman yang dimaksud oleh Kent.
Adam, Kimmy beserta rekannya yang lain saling menatap dan seolah dapat membaca serta memahami pemikiran masing-masing. "Mungkin kita bisa mencoba ide yang tidak terlalu buruk itu," celetuk Adam.
"Berlin, bertahanlah! Kami sebentar lagi sampai," batin Kimmy dengan hati yang dipenuhi rasa khawatir terhadap kondisi Berlin yang tidak diketahui.
***
Pukul 07:15 pagi.
Kondisi di luar sana masih hujan, dan kedengarannya semakin deras. Napas Berlin terengah-engah secara tiba-tiba seolah dirinya akan kehabisan oksigen. Kepalanya terasa cukup sakit dan pusing, dan wajahnya terlihat cukup pucat.
Seluruh pakaian yang digunakan oleh Berlin masih basah akibat sebelumya terkena air hujan. Dirinya merasa cukup kedinginan, dan sepertinya suhu badan miliknya naik alias demam.
Kedua tangannya masih dalam keadaan terikat di belakang. Berlin sempat mencari beberapa benda tajam yang dapat ia gunakan untuk memutuskan ikatan pada kedua lengannya. Namun di ruang hampa itu benar-benar hampa, tidak ada benda lain selain hanya debu dan jaring laba-laba yang memenuhi sudut-sudut ruangan.
Napasnya kian berat, dan tubuhnya kesulitan menopang keseimbangannya yang akhirnya membuatnya tergeletak ke samping.
"Tenang saja, Akira. Aku pasti menepati janjiku, jagalah mamamu sebentar, ya ...?" Berlin berbicara sendiri dengan intonasi yang begitu berat untuk bersuara, dan kemudian tersenyum dengan sendirinya setelah selesai berbicara.
.
__ADS_1
Bersambung.