
"Dokter, apa kaki Papa udah sembuh?" tanya Akira, menatap seorang dokter laki-laki yang selesai memeriksa kaki kanan milik Berlin. Kini anak itu duduk di pangkuan Berlin, sedangkan di sebelahnya ada Nadia yang selalu mendampingi.
Ketiga orang dewasa di ruangan tersebut dibuat terkekeh kecil dan tersenyum atas pertanyaan dan ekspresi yang Akira tunjukkan. Dengan ramah dokter tersebut tersenyum dan menjawab, "tentu saja sudah! Kamu tidak perlu khawatir, ya ...!"
Akira tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dan putih, wajahnya riang dan ceria yang begitu menggemaskan, terlebih ketika mendengar kabar yang sangat baik itu. Ia kemudian menoleh kepada Berlin yang memangku dirinya, dan tanpa berkata-kata gadis kecil itu menyandarkan kepalanya seraya memeluk pria itu.
Setelah pemeriksaan yang menghabiskan kurang lebih tiga puluh menit. Berlin akhirnya selesai, dan keluar dari rumah sakit dengan berjalan normal, tanpa alat bantu tongkat sama sekali. Ia dapat merasakan betapa bebasnya pergelangan kaki kanannya yang sudah dapat digerakkan secara leluasa tanpa terhalang perban. Sebuah hasil pemeriksaan yang tentunya sesuai dengan harapan.
Dengan begini, Berlin dapat kembali beraktivitas normal tanpa harus terganggu dan bergantung dengan tongkat bantu jalan miliknya. Bahkan dirinya langsung mengambil alih kemudi setelah keluar dari rumah sakit, menyetir menggantikan istrinya yang selalu menyetir ketika kakinya belum benar-benar sembuh.
__ADS_1
Sesuai dengan janji yang sudah pernah dibuat olehnya dengan putrinya. Sepanjang akhir pekan ini, Berlin telah memutuskan untuk benar-benar menghabiskan waktunya bersama dengan keluarganya, tanpa memikirkan apapun soal pekerjaan. Di hari Sabtu ini, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan mengunjungi sebuah wilayah yang berada di Shandy Shell. Sebuah tempat yang indah, di atas sebuah bukit yang berada tepat di Utara dari Danau Shandy Shell, dan tempat yang menjadi saksi ketika Berlin melamar istrinya yakni Nadia, bahkan memberikan cincin lamarannya di lokasi atau tempat tersebut.
Dahulu tempat itu cukup sepi, namun tidak untuk sekarang. Lokasi yang berada tepat di atas bukit, tentunya menjadi daya tarik untuk berwisata, dan menyadari potensi tersebut pemerintah setempat langsung membangun sebuah restoran kecil di atas bukit itu. Namun tetap tidak mengurangi indahnya pemandangan dari atas bukit itu.
Berlin sampai tepat di jam makan siang, dan memutuskan untuk mampir ke restoran sederhana itu, memilih tempat duduk yang memiliki posisi sangat strategis, serta dapat menyaksikan langsung bagaimana indahnya pemandangan danau dan pemukiman Shandy Shell yang terlihat dari kejauhan. Tak hanya danau dan pemukiman, dari tempat tersebut juga dapat terlihat hamparan rumput yang luas, serta hutan-hutan yang memenuhi pegunungan di sekitar Shandy Shell.
Shandy Shell, wilayah di mana Berlin memiliki banyak kenangan, baik kenangan buruk sampai kenangan yang indah. Kenangan buruknya adalah ketika Mafioso menciptakan kekacauan, dan menjadikan Shandy Shell sebagai tempat utama kekacauan mereka, melibatkan Berlin dan rekan-rekannya, bahkan juga melibatkan istrinya yakni Nadia yang sempat menjadi tawanan saudara laki-lakinya sendiri yakni Carlos Gates Matrix di sebuah gudang yang berada di perbukitan sebelah Barat danau. Itu benar-benar kenangan yang tentunya sangat ingin dilupakan oleh Berlin, namun mustahil untuk melupakannya.
"Papa sama Mama kenapa melamun, dan senyum-senyum begitu, sih?! Aku bingung! Jangan merahasiakan sesuatu dari Akira!" cetus Akira yang duduk tepat di sebelah Berlin, menatap satu-persatu wajah milik kedua orang tuanya dengan tatapan penuh tanya dan penasaran.
__ADS_1
Berlin dan Nadia tertawa kecil, saling melempar senyum sebelum kemudian lelaki itu menjawab, "tidak ada yang dirahasiakan dari Akira, kok! Hanya saja Papa sama Mama punya kenangan indah di sini, tepat di meja ini posisinya."
"Kenangan? Kenangan seperti apa?" tanya Akira, menatap polos dan bingung Berlin.
Nadia menatap suaminya yang duduk bersebrangan dengannya dan kemudian berpindah menatap putrinya sembari menjawab, "kalau diberitahu pun Akira pasti nggak bakal mengerti, deh ...!" jawabnya, kemudian terkekeh kecil dan tersenyum hangat.
"Huft!" Akira mendengus sebal dan kemudian berkata, "tetapi aku ingin mengetahuinya! Mama, kasih tahu, dong!" lanjutnya, namun hanya mendapatkan respons tawa serta senyuman dari kedua orang tuanya. Di saat yang bersamaan, seorang pelayan wanita datang dengan membawa nampan, di atas nampan tersebut terdapat beberapa menu makan siang yang sudah dipesan.
.
__ADS_1
Bersambung.