
Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih lima puluh lima menit malam, lima menit menuju tengah malam. Tokyo menemui perwakilan dari dua kelompok yang beraliansi dengan Clone Nostra. Ia memilih sebuah tempat yang sangat terpencil dan tertutup di pinggiran kota. Tempat itu seperti gedung parkiran yang sudah tidak terpakai, namun masih kokoh dan tidak terlalu rapuh.
Tokyo sudah lebih dahulu berada di lantai paling atas gedung parkiran itu. Dirinya hanya tinggal menunggu dua orang perwakilan dari dua kelompok yang akan ia temui.
Waktu perlahan terus berjalan, dan akhirnya waktu menunjukkan pukul tepat tengah malam. Dua orang pria yang ditunggu akhirnya datang dengan mobil mereka masing-masing. Kedua orang itu juga mengenakan pakaian dengan warna yang sama dengan Tokyo, yaitu pekat berwarna putih.
"Lama menunggu?" tanya seorang pria yang sudah diketahui pasti adalah Kibo, perwakilan dari kelompok bernama Cassano.
Tokyo hanya menggelengkan kepala dan menjawab, "tidak." Jawaban yang sangat singkat dengan sikap berbicara yang begitu dingin.
"Felix, bagaimana dengan perkembangan Red Rascals? Apalagi dengan banyaknya anggotamu yang tewas dan tertangkap setelah aksi terkahir kali." Karena sudah berkumpul dengan dua orang yang ingin ia temui. Tokyo langsung saja memulai pembicaraan pada pertemuannya kali ini dengan dua petinggi dari dua kelompok yang berbeda.
Felix menatap tajam Tokyo dan menjawab, "jangan cemas, aksi yang kami lakukan di Distrik Barat tidak terlalu berpengaruh pada anggota kami. Hanya saja cukup berdampak terhadap perlengkapan kami."
"Lagipula, menurutku ... aksi yang kalian lakukan waktu itu terlalu frontal. Maka dari itu kerugian yang kalian terima cukuplah fatal," celetuk Kibo secara tiba-tiba memberikan komentarnya terhadap Felix dan Red Rascals.
Felix melirik tajam Kibo yang berdiri di sampingnya. Lirikannya memberikan tanda bahwa dirinya sangat tidak suka dengan komentar yang Kibo berikan.
"Yang gagal untuk membawa Berlin ke pulau mending diam saja, dan tidak perlu sok-sokan mengomentari!" Felix menanggapi komentar tersebut juga dengan komentar yang cukup pedas bagi Kibo.
"Cukup!" ucap Tokyo dengan nada yang datar, namun terkesan tegas dan mengerikan. Tatapannya tajam mengarah kepada kedua orang yang kini berdiri di hadapannya.
"Apa saja yang kalian ketahui sepanjang empat bulan ini? Semua tentang pemerintah, semua tentang kepolisian, dan semua tentang para pengganggu yang akan kita hadapi. Katakan semua yang kalian ketahui padaku!" Tokyo tampak cukup ambisius ketika bertanya dan meminta hal tersebut kepada dua orang yang bekerja sama dengannya.
Kibo dan Felix sempat diam dan melirik satu sama lain. Mereka mungkin mengetahui hal-hal yang dipertanyakan oleh Tokyo. Namun mereka tampak sedikit bingung untuk menjawabnya.
"Menurut beberapa relasi yang kami miliki, pemerintah atau walikota sedang fokus untuk memperkuat keamanan mereka, dan juga melibatkan seseorang bernama Garwig." Felix berbicara singkat dan kemudian kembali diam. Ia tampaknya tidak ingin terlalu terbuka ketika berbicara atau memberikan jawaban.
"Informasi yang kami dapatkan soal kepolisian sangatlah sulit, terlebih lagi Prawira sangat mewaspadai tentang keberadaan ku dan beberapa relasiku. Yah, seperti yang sudah kau ketahui, statusku masih buronan yang pernah berperan sebagai jenderal kepolisian. Jadi cukup sulit untuk bergerak di dalam sana," jawab Kibo. Sebelum menjadi tangan kanan Nicolaus di kala Mafioso masih ada.
Kibo Gates Hadi sempat menduduki kursi jabatan tinggi dalam struktur instansi pemerintah yaitu kepolisian, bersama dengan Bagas Gates Lacartus dan Prawira Gates Putra.
"Namun persiapan kami belum sepenuhnya terpenuhi, terlebih dalam hal persenjataan," ucap Felix sedikit menyela.
"Dan juga bayaran untuk kami jangan sampai kau melupakannya, atau semua rencanamu tak akan sepenuhnya berjalan," timpal Kibo dengan nada bicara sedikit tegas namun datar dan mengancam.
"Baik, aku akan penuhi segala kekurangan kalian ... juga dengan bayaran kalian. Clone Nostra tidak akan pernah mengingkari janji, kalian jangan khawatir dengan hal tersebut. Jika aku mengingkari janji, maka kepalaku yang akan menjadi jaminannya kelak." Tokyo benar-benar memiliki sikap bicara yang dingin dan berani, terlebih dirinya tahu segala resiko yang akan ditanggung.
"Ngomong-ngomong, tadi kau sempat menyebut soal 'para pengganggu'. Apakah pengganggu yang kau maksud adalah ... Ashgard?" Felix bertanya akan hal itu kepada Tokyo secara langsung.
Tokyo terdiam sejenak mendapat pertanyaan tersebut, sebelum akhirnya menjawab, "mungkin saja benar, mereka dapat menjadi penghalang dari rencana kita selain para aparat."
"Apakah kau ingin kami melakukan sesuatu terhadap Ashgard?" tanya Felix sekali lagi.
Tatapan Tokyo menajam dan sangat serius memikirkan pertanyaan itu. "Tidak perlu!" jawabnya dengan tegas namun datar. Jawaban itu sudah ia pertimbangkan, karena di lain sisi dirinya sudah menyiapkan rencana soal itu.
"Di pertemuan kita kali ini. Aku meminta kepada kalian untuk persiapkan diri kalian! Karena dalam waktu yang tidak akan lama lagi, kita akan mulai bermain."
Tokyo mengakhiri pertemuannya dengan memberikan sepenggal kata pengingat kepada kedua rekannya. Meskipun ia tidak memberi kejelasan mengenai waktu tersebut, tetapi Kibo dan Felix dapat memahaminya.
__ADS_1
"Kalian, jalankan rencananya sesuai dengan perintah yang akan ku berikan di waktu yang akan datang!" tegas Tokyo.
***
Di hari yang berbeda, Prawira tampak sedang mengumpulkan anggotanya di halaman utama Kantor Polisi Pusat. Dirinya sedang memberikan arahan dan sedikit wejangan kepada anggotanya, sebelum mereka menjalankan tugas di siang hari ini.
Tidak berlama-lama, Prawira akhirnya selesai dan membubarkan barisan para aparatnya. Setelah selesai, ia berjalan menemui Netty sekretarisnya yang tampak sudah menunggunya di lobi utama kantor polisi.
"Bagaimana?" tanya Prawira berjalan menghampiri Netty, sekertaris sekaligus istrinya itu.
Netty memberikan sebuah lampiran yang berisikan laporan soal Clone Nostra yang sama sekali tidak bergerak selama empat bulan ini. Menerima laporan itu, Prawira langsung beranjak menuju ruang kerjanya diikuti oleh Netty di sampingnya.
"Bagaimana dengan informan yang kepolisian miliki? Apa mereka tidak mendapatkan apapun?" cetus Prawira dengan nada sedikit kesal ketika masuk dan menutup pintu ruangannya rapat-rapat.
"Yang mereka temui hanyalah soal aliansi itu, informasi yang sama yang didapat dan dimiliki oleh Garwig. Selebihnya, Clone Nostra benar-benar sangat tertutup dan pandai dalam menjaga informasi mereka."
Jawaban yang diberikan oleh Netty sepertinya tidak membuat Prawira puas. Namun jawaban tersebut sesuai dengan kenyataannya, dan Prawira harus terima itu.
"Informan kita juga telah menyelidiki dua kelompok yang bersekutu dengan Clone Nostra. Namun, tidak ditemui petunjuk mengenai tujuan ataupun rencana mereka," lanjut Netty berbicara di hadapan Prawira yang duduk di balik meja kerjanya.
Netty berbicara dengan ekspresi sedikit takut, karena tentu Prawira sudah pasti tidak puas dengan apa yang ia katakan. Dan sepertinya, Prawira menyadari hal tersebut.
"Duduklah!" pinta Prawira dengan intonasi yang cukup ramah kepada sekretarisnya, sembari ia mengulurkan tangannya mengarah ke arah sofa di depan mejanya. Netty pun menuruti hal tersebut, dan duduk dengan tenang di sana.
"Netty, bagaimana keadaan Ashgard? Dan bagaimana perkembangannya?" celetuk Prawira tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Ah! Um, maaf, sa-saya ... tidak begitu mengetahui hal itu. Apakah perlu saya hubungi Kimmy sekarang? Atau bahkan mau langsung saya hubungi Berlin?" Netty berbicara dengan sedikit kikuk karena tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu.
"Tentu!" jawab Netty.
***
Pukul 13:43 siang.
Ashgard.
Pada siang ini, Berlin kelihatannya memiliki waktu yang cukup senggang. Ia bersantai di atap dari bangunan yang dijadikan markas untuk Ashgard itu. Kebetulan cuaca di siang hari ini cukup berawan, dan tidak terlalu panas.
Menikmati waktu untuk diri sendiri, tanpa ada seseorang pun di sisinya. Meskipun ada banyak temannya yang saat ini sedang perbincang di lantai dasar. Tetapi Berlin memilih waktu untuk sendiri. Dirinya hampir selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk sendiri, jika memang dirinya tidak sedang ingin atau perlu bersama dengan seseorang.
"Ada apa?" cetus Berlin menoleh dan mendapati seorang wanita di belakangnya. Dia adalah Kimmy, dengan sebuah surat resmi dengan logo departemen kepolisian di tangannya.
"Maaf mengganggu, ada surat untukmu," jawab Kimmy berjalan mendekati Berlin dan memberikan surat tersebut.
"Terima kasih," jawab Berlin menerima surat tersebut. Kimmy pun segera beranjak pergi dari sana, meskipun dalam hatinya ingin menemani Berlin.
Berlin membuka surat itu, dan sempat menduga-duga bahwa terdapat pesan penting atau sesuatu yang sangat penting di dalamnya.
Namun ketika dirinya membuka surat itu, dan kemudian membacanya. Berlin sama sekali tidak mendapatkan sesuatu yang ia kira penting. Justru yang ada hanyalah beberapa ucapan yang ditujukan untuk personal, serta ucapan selamat.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Berlin? Maaf, kita belum bisa bertemu bahkan sudah empat bulan ini. Padahal kita tidak saling berjauhan sampai ke luar kota atau bahkan luar negeri. Tetapi aku malah belum bisa menemuimu. Payah sekali memang diriku ini, hahaha!"
"Berlin, jika terjadi sesuatu pada dirimu, atau orang-orang terdekatmu, dan kau memerlukan bantuanku. Maka kau bisa katakan saja padaku, dan jangan sungkan!"
"Oh iya, salam untuk Nadia, apalagi ku dengar usia kandungannya sudah memasuki empat bulan. Wah, semakin dekat untukmu yang akan menjadi seorang ayah, ya?"
Berlin membaca semua isi tulisan tersebut, dan dibuat ketawa dengan semua isinya. Lantaran tidak cocok dan tidak seharusnya pesan ini dimasukkan ke dalam surat resmi.
"Surat yang sangat resmi dan penting sekali, ya?" gumam Berlin setelah selesai membaca sampai akhir kalimat.
Namun ketika ia membalikkan surat tersebut. Berlin menemui tulisan dengan isi yang lain lagi. Tulisan itu berisikan peringatan untuk berhati-hati.
"Berlin, berhati-hatilah dengan Clone Nostra dan dua kelompok yang bersekutu dengannya! Entah mengapa firasatku buruk mengenai mereka dan tujuan mereka. Meskipun tujuan mereka masih belum diketahui pasti. Tetapi aku ingin kau lebih berhati-hati lagi kedepannya!"
Begitulah isi dari tulisan singkat di bagian belakang surat tersebut, sebelum akhirnya Prawira benar-benar menyudahi kalimatnya dengan menuliskan, "mungkin sampai sini saja untuk surat ini, karena akan lebih afdal jika aku banyak bicara ketika kita bertemu nanti. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca ini, Berlin. Dan tolong, jaga Nadia baik-baik, ya!"
"Sudah pasti dia akan ku jaga baik-baik, Prawira." gumam Berlin ketika membaca kalimat paling akhir dari surat tersebut. Mengingat Prawira adalah orang yang pernah mengadopsi Nadia di usia lima belas tahun, dan Nadia sendiri sudah menganggap Prawira sebagai pamannya. Maka dari itu, Berlin cukup bisa memaklumi jika Prawira beberapa kali mengkhawatirkan dan ingin tahu kabar tentang istrinya.
"Tujuan, ya?" Berlin tiba-tiba terpikirkan satu hal yang ada di surat yang baru saja ia baca. Dirinya tiba-tiba saja mengingat kejadian di mana Ashgard sempat bentrok dengan beberapa orang dari Clone Nostra.
*
Kilas balik: ON
Episode #21
Wajah pria itu meringis kesakitan dan terlihat sangat pasrah, bahkan ia tampak sangat siap untuk mati di saat itu juga. Luka pada sekujur tubuhnya sudah sangat menyiksa bagi dirinya.
"Nico ... Nicolaus yang menginginkan kalian! Maka dari itu kami mengejar kalian tadi!"
Belum sempat Berlin bertanya, pria yang berlutut di hadapannya sudah langsung memberikan jawaban tanpa ia minta. Mendengar jawaban tersebut dirinya tidak begitu terkejut.
"Si Br*ngs*k itu?!" gusar Adam mengepalkan tangannya.
"Apa alasannya mencari kami?" tanya Asep.
"Aku ... tidak tahu, ka-karena ... aku hanya ... dipekerjakan olehnya," jawab pria itu sangat terbata-bata karena harus menahan rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya.
"Sudah, cukup! Kita tinggalkan saja dia, polisi dan pihak medis akan segera ke sini, dan sebaiknya kita segera meninggalkan lokasi sebelum mereka datang." Berlin menyudahi percakapan tersebut, dan segera pergi dari lokasi kejadian.
Kilas balik: OFF
*
"Nicolaus ... menargetkan diriku, aku sudah mengetahui tujuannya. Namun, aku tidak yakin bahwa Tokyo juga memiliki tujuan yang sama dengan Nicolaus. Aku bahkan juga tidak yakin bahwa hanya Tokyo yang menjadi sosok penting dalam Clone Nostra itu."
Berlin jadi berspekulasi dan beberapa kali berbicara dengan sendirinya. Dirinya benar-benar memikirkan hal tersebut, dan seolah tidak bisa lepas dari masalah ini. Apalagi mengingat Clone Nostra adalah kelompok yang sangat berbahaya.
.
__ADS_1
Bersambung.