Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Hanya Pengalihan #53


__ADS_3

Situasi pada halaman parkir yang sangat luas di Distrik Komersial semakin menegangkan. Sekelompok bersenjata alias para pelaku perampokan itu mengumpulkan beberapa tawanan yang masih mereka bawa di tengah lapangan parkir yang sangat terbuka itu. Beberapa tawanan yang mereka bawa di antaranya adalah dua orang dari bagian keamanan bank, dan lima orang wanita yang bekerja di bagian teller bank.


"Kami sudah berada di posisi, pak. Siap melaksanakan sesuai dengan perintah dan arahan selanjutnya." Dua penembak jitu yang ditempatkan di atas dari salah satu gedung di sekitar distrik tersebut memberikan laporannya. Mereka sudah siap dalam posisi menembak atau clear shoot.


Prawira menerima konfirmasi laporan mengenai posisi dari dua aparat yang memiliki peran penting dan krusial. Kini dirinya berada di balik sebuah mobil baja yang terparkir di tepi perimater yang dijaga oleh pihak kepolisian.


"Baik, diterima," ucap Prawira menjawab laporan tersebut melalui radio komunikasinya.


Sebuah mobil beroda enam berjalan mendekat dan berhenti tepat di belakang para perampok itu. Ketika berhenti di sana, mereka langsung memindahkan beberapa kantong yang berisikan uang ke dalam mobil tersebut. Dan ketika itu juga mereka sepertinya terlalu fokus untuk memindahkan sejumlah uang itu, sehingga tidak fokus untuk menjaga para tawanan.


"Dalam aba-aba ku, penembak jitu langsung lumpuhkan dua pria yang berada di dekat para sandera, dan di saat itu juga regu taktis langsung lakukan penyergapan serta tembakan perlindungan untuk para sandera."


"Objektif utama kita adalah keselamatan sandera, dan jangan sampai peluru kalian mengenai serta melukai sandera!"


Prawira melihat sedikit celah tersebut dan kemudian memberikan instruksi kepada seluruh anggotanya untuk bersiap melakukan penyergapan. Delapan pelaku, enam orang terlihat sibuk memindahkan uang-uang kertas itu ke dalam mobil, dan hanya menyisakan dua pelaku saja yang berada dekat dengan tujuh tawanan tersebut.


Karena tidak ingin melepas celah dan kesempatan itu. Prawira pun langsung memberikan aba-aba nya melalui radio komunikasi dan dapat didengar oleh seluruh anggotanya.


Jleebb ...!!!


Dengan sangat senyap dan tanpa terdengar suara tembakan. Dua penembak jitu milik kepolisian langsung dapat melumpuhkan dua pelaku yang berada sangat dekat dengan para tawanan. Dan di saat itu juga semua aparat termasuk dengan regu taktis langsung menyergap para pelaku serta mengamankan para tawanan.


Baku tembak sempat terjadi, dan di tengah-tengah baku tembak itu ada dua mobil baja milik kepolisian yang tiba-tiba masuk, dan kemudian berhenti tepat di antara baku tembak itu. Para tawanan langsung diamankan ke dalam mobil baja tersebut yang tentunya anti peluru.


"Sial!" gusar pria berjaket putih yang tampaknya kesal. Ia mengambil alih kemudi mobil beroda enam itu, dan langsung menancap gas tanpa berlama-lama.


Semua aksi itu berlangsung cepat. Arahan dan pergerakan beserta tindakan yang dilakukan oleh kepolisian berlangsung sangat cepat. Bahkan seolah mereka tidak ingin memberikan kesempatan untuk para pelaku perampokan.


"Kalian diizinkan untuk menembak mobil itu!" perintah dan pemberian izin dari Prawira terdengar sangat-sangat tegas. Apalagi wilayah ini sudah diamankan sejak awal kejadian perampokan, sehingga tidak terdapat warga sipil satupun di lokasi.


Perintah dan izin tersebut didengarkan oleh anggota berpakaian taktis lengkap. Mereka yang berjumlah lebih dari lima orang itu langsung menembaki mobil yang digunakan oleh salah satu pelaku untuk melarikan diri.


Sontak tembakan tersebut membuat dua ban mobil yang sedang melaju itu pecah, dan akibatnya membuat mobil tersebut terpelanting ke sisi jalan lalu menabrak sebuah pohon di trotoar.

__ADS_1


Mobil beroda enam yang kini sudah rusak parah akibat kecelakaan tersebut membuatnya tidak dapat melaju lagi. Bagian depan mobil sudah benar-benar hancur, bahkan pohon besar yang ditabrak tidak bergeming sama sekali.


"Kepung, dan amankan pelaku! Tetap waspada terhadap perlawanan pelaku yang secara tiba-tiba!" perintah Prawira kepada seluruh anggota polisi di lokasi. Mobil-mobil polisi yang diwarnai dengan raungan sirine langsung mendekati mobil yang sudah hancur itu. Tak hanya itu, dua mobil baja lainnya milik kepolisian langsung merapat ke depan mobil yang sudah hancur itu.


***


"Kasus perampokan bank cabang di Distrik Komersial telah berhasil ditangani oleh pihak kepolisian, dan para tawanan telah berhasil dibebaskan tanpa ada yang terluka. Beberapa pelaku dinyatakan tewas di tempat akibat melakukan perlawanan terhadap aparat, dan beberapa lagi telah diamankan dalam kondisi luka-luka." Begitulah ucap seorang reporter wanita yang tampak sibuk menyiarkan berita secara langsung di televisi.


"Kok ada orang-orang seperti itu, ya? Kira-kira apa yang ada di pikiran si pelaku?" gumam Nadia bertanya-tanya setelah melihat berita tersebut. Ia menyandarkan kepalanya tepat pada bahu milik Berlin yang duduk di sofa yang sama dengannya.


Berlin menghela napas sejenak sebelum kemudian menjawab, "orang-orang seperti itu memang ada di dunia ini, apalagi di dunia yang kejam itu sudah menuntut mereka untuk terbiasa melakukan hal-hal yang seperti itu," jawabnya sembari merangkul dan mengelus kepala milik sang istri.


"Mengerikan, kejam," gumam Nadia sembari memeluk pria itu.


"Kamu takut sama orang-orang yang seperti itu?" cetus Berlin bertanya.


"Ya, iya, karena kita nggak bakal tau apa yang sebenarnya mereka pikirkan, dan mereka bisa saja melukai kita kapanpun," sahut Nadia menoleh dan sedikit mendongak untuk bisa menatap lelakinya.


Nadia langsung menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba saja merona entah kenapa. "Ya, um, a-aku ... aku tetap takut kok kalau lihat kamu marah. Selebihnya, aku nggak takut sama kamu!" jawabnya dengan sedikit kikuk sembari memanyunkan bibirnya, dan kemudian memberanikan diri untuk kembali menatap kedua bola mata milik sang suami.


Berlin tertawa kecil dan tersenyum mendengar jawaban tersebut, ditambah lagi saat melihat betapa imutnya eskpresi sang istri tercinta. Ia menghela napasnya kembali dan kemudian berkata, "sulit bagiku untuk marah padamu, sayang. Aku nggak bisa melakukan itu," ucapnya dengan begitu tulus dari hati yang terdalamnya.


"Baguslah!" sahut Nadia tersenyum, dan kemudian kembali menyandarkan kepalanya sembari memejamkan matanya di bahu milik sang lelaki.


Di saat yang bersamaan. Ponsel milik Berlin tiba-tiba saja bergetar sesaat. Ia pun mengambil ponsel tersebut dari dalam saku, dan kemudian membaca pesan masuk yang ada pada ponselnya. Pesan tersebut berasal dari salah satu rekan kepercayaannya.


***


Pukul 16:00 sore.


Seorang pria dengan tuksedo putih bernama Doma terlihat sedang menunggu orang untuk ditemui. Di sebuah gudang tidak terpakai yang sangat-sangat tertutup dan dijaga oleh beberapa orang berpakaian putih dengan senapan-senapan mereka. Ia tampak begitu sabar untuk menunggu.


Di tengah ia menunggu, Tokyo pun datang dan berjalan masuk ke dalam gudang tersebut. Tampaknya ia tidak sendirian. Tokyo datang didampingi oleh dua orang wanita, satu di antaranya adalah orang yang memiliki peran sebagai penjaga di gedung balaikota. Sedangkan satu lagi adalah wanita yang sudah dekat dan hampir selalu bersamanya.

__ADS_1


"Kalau saja tidak terjadi perampokan itu, mungkin aku akan kesulitan untuk keluar dari gedung putih yang di sana," gumam wanita itu ketika berjalan masuk gudang dan berhenti di depan Doma.


"Bos, tempat ini sudah diamankan, aku sudah menyebarkan orang-orang kita untuk berjaga di setiap sudut gudang ini." Doma langsung berbicara kepada Tokyo mengenai tempat pertemuan yang ia pilih ini.


"Ngomong-ngomong, bagaimana caramu membawa orang ini keluar dari gedung balaikota? Meskipun perampokan itu cukup mengalihkan perhatian, tetapi bukan berarti mengacaukan fokus orang-orang pemerintahan, 'kan?" Doma lanjut bertanya hal tersebut secara langsung kepada Tokyo.


Namun Tokyo hanya diam, dan wanitanya yang menjawab pertanyaan tersebut. "Haha, bagi Tokyo itu adalah hal yang mudah. Benar begitu 'kan, sayang?" sahut wanita berpakaian putih itu.


"Ya, iya juga, sih. Lupakan saja pertanyaan bodohku itu!" ucap Dom.


Setelah percakapan tersebut, Tokyo pun mulai mengalihkan topik pembicaraan menuju ke hal yang serius. Ia bertanya kepada wanita yang baru ia bawa itu.


"Apa saja yang kau dapat dari sana?" tanya Tokyo.


"Cukup banyak, mengenai rencana pertahanan, sampai kehadiran Berlin yang sempat datang beberapa kali ke balaikota." Wanita itu memberikan jawaban berdasarkan apa yang ia tahu. Jawaban yang ia berikan tentu membuat Doma, Tokyo dan wanitanya tertarik. Apalagi wanita itu sempat menyebutkan nama 'Berlin' dalam jawabannya.


"Berlin? Apa urusannya datang ke sana?" tanya Dom.


"Beberapa waktu lalu, walikota mengundang untuk menemui Berlin di balaikota, dan undangan tersebut aku tidak tahu akan membicarakan apa. Karena ... sepertinya ... Berlin sudah lebih dahulu mencurigai ku sebelum pembicaraan dari pertemuan itu dilakukan," jawab wanita tersebut dengan singkat dan jelas.


Mendengar apa hal tersebut. Rekan wanita yang sangat dekat dengan Tokyo tiba-tiba saja menimpalkan sedikit peringatan untuk Tokyo sendiri. "Berlin sangat dekat dengan Garwig, dan juga kelihatannya cukup mengenal baik Boni sebagai walikota. Sebaiknya kita harus mewaspadai nya, apalagi riwayat anak-anak buah kita ketika bentrok dengan Ashgard hampir semuanya terbantai."


"Ya, aku setuju dengan Karina, Bos," sahut Dom celetuk menyebutkan nama dari wanita yang sangat dekat dengan Tokyo.


"Baik, jika memang Berlin atau Ashgard itu menghalangi jalan kita, maka kita kerahkan semuanya untuk membunuh serta menghabisi mereka semua. Tenang saja, sayang. Aku sudah memikirkan hal tersebut," ucap Tokyo kepada Karina yang saat ini berdiri tepat di sisinya.


"Lalu, laporkan semua informasi yang kau punya sekarang! Sebelum aku mengembalikan mu ke sana lagi, dan sebelum kau semakin dicurigai karena pergi terlalu lama!" tegas Tokyo kepada wanita yang memiliki peran sebagai informan miliknya.


Sesuai dengan apa yang diminta oleh Tokyo. Informan wanita itu mengakatakan dan membocorkan semua yang ia ketahui selama berada di dalam gedung balaikota. Termasuk dengan rencana pertahanan dan langkah yang akan diambil pemerintah untuk menangani kelompok atau sindikat bernama Clone Nostra.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2