Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Aku Pulang #95


__ADS_3

"Bergabung dan ikutlah bersamaku, saudaraku Carlos," tanpa ada keraguan Berlin berkata demikian di hadapan Carlos.


"Tunggu! Berlin, apakah kau sudah gila?!"


"Kau mengajaknya untuk bergabung?!"


Tentu ajakan serta permintaan Berlin kepada Carlos langsung mendapat penolakan serta pertentangan dari teman-temannya. Namun Berlin hanya diam dan melirik tajam ke arah rekan-rekannya, dan membuat rekan-rekannya terdiam setelah melihat kedua matanya yang amat tajam menatap mereka.


"Ba-baiklah, namun apakah kau yakin dengan keputusan itu, Berlin?" cetus Adam.


Tetapi Berlin hanya diam dan menatap ke arah Carlos yang tampaknya masih tertegun dengan permintaannya. "Tentu aku yakin, namun bukan aku yang menentukan," ucap Berlin sembari melihat ke arah saudaranya yakni Carlos.


Carlos menghela napas sebelum kemudian memberikan jawabannya, "Berlin, kurasa aku tidak dapat menerima permintaanmu yang itu," ucapnya.


"Aku hanya merasa tidak pantas," lanjutnya.


"Lalu, akan ke mana kau setelah ini, Carlos?" sahut Berlin bertanya.


Tiba-tiba saja Carlos memasang wajah ragu dan bingung. Pada awalnya dirinya berencana akan langsung kembali ke Federal setelah tugas yang diberikan oleh Berlin padanya selesai, yaitu memastikan keamanan Nadia. Namun secara tiba-tiba terlintas keraguan dalam hatinya untuk kembali ke tempat bernama Federal itu, karena memang tentunya tempat itu adalah tempat yang sangat dingin dan tidak nyaman untuk ditinggali.


Berlin dapat melihat adanya keraguan itu di mata milik saudara laki-lakinya. Dirinya mendekati Carlos dan berkata, "setelah dari sini aku akan berada di Rumah Sakit Pusat, ke sanalah dan temui aku jika kau berubah pikiran," ucapnya tanpa adanya nada paksaan.


Setelah berkata seperti itu, Berlin pun memutuskan untuk segera beranjak pergi dari kediamannya bersama dengan rekan-rekannya, dan dirinya meninggalkan Carlos seorang diri di sana.


***


"Bos, apa tidak apa-apa meninggalkan Carlos di sana?" tanya Kimmy.


"Ya, kau tau sendiri Carlos itu orangnya seperti apa, 'kan?" timpal Sasha yang juga berada di mobil yang sama dengan Berlin.


Kini bukan Berlin yang mengemudikan mobil tersebut, melainkan Adam. Ia dibuat diam sejenak dengan pertanyaan-pertanyaan dari kedua rekannya, sebelum kemudian ia menjawab, "aku hanya ingin memberikannya kesempatan."


Sepanjang perjalanan, Berlin dan rekan-rekannya sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda manusia lain, seolah memang yang tersisa hanyalah mereka.


"Aku masih tidak percaya jika semua ini ulah Clone Nostra," gumam Sasha.


"Clone Nostra adalah sindikat besar, dan aku mengira kalau mereka dapat melakukan semua ini dengan mudah," timpal Adam.


"Namun aku merasa tidak yakin jika Clone Nostra hanya bergerak sepihak. Aku merasa ada pihak-pihak lain yang membantunya melakukan aksi hingga seperti ini," cetus Kimmy.


"Ya, berdasarkan apa yang kita saksikan dan kita alami sejauh ini, kita pernah berhadapan dengan Cassano yang terindikasi memiliki keterikatan dengan Clone Nostra, dan kita juga dapat melihat betapa masifnya Red Rascals melakukan pergerakan jauh-jauh hari," ucap Adam.


Beberapa perbincangan dan obrolan terjadi di antara mereka bertiga, kecuali Berlin. Berlin terlihat lebih sering diam tanpa begitu mempedulikan sekitarnya. Pikirannya saat ini hanya tertuju dan terfokus pada satu hal, yaitu keberadaan dan kondisi Nadia.


"Berlin, kau baik-baik saja?" cetus Kimmy yang menyadari kalau Berlin yang duduk di samping kursi kemudi tengah melamun sedari tadi.


"Ya, aku baik-baik saja," sahut Berlin begitu tersadar dari lamunannya.


"Bos, melihat keadaan kota yang begitu kacau, apakah kau memiliki niat atau rencana tertentu?" tanya Adam sedikit menoleh dan melirik ke arah Berlin di sampingnya sebelum akhirnya kembali fokus ke jalanan di depan.

__ADS_1


Berlin sempat melirik rekannya yang bertanya seperti itu, dan mencoba menelaah apa maksudnya sebelum kemudian memberikan jawaban, "entahlah, untuk sementara mungkin tidak."


"Rencana ku sudah habis, Dam," lanjutnya.


Jika dilihat dari kedua mata milik Berlin, begitu terlihat kalau lelaki itu tengah kelelahan dan bahkan sulit berpikir jika harus memikirkan rencana-rencana lagi. Setelah semua yang terjadi di pulau, wajar bagi Berlin terlihat begitu lelah dan sudah seharusnya ia beristirahat sejenak setelah melalui semua konflik di pulau itu.


"Lagipula ada banyak aparat yang akan turun tangan menangani situasi ini, kita percayakan saja pada mereka," ucap Sasha.


Namun tampaknya Berlin tidak begitu setuju dan sedikit memberikan penentangan terhadap pemikiran rekan wanitanya itu. "Ya, percayakan saja pada mereka, namun aku tetap tidak dapat percaya sepenuhnya terhadap mereka," ucap Berlin.


Ketidak percayaannya terhadap aparat memang sudah dari dahulu, meskipun Berlin sendiri berasal dari keluarga yang memiliki dasar kepolisian. Teman-temannya sudah begitu mengenali sifatnya yang seperti itu, dan sudah menganggap itu adalah hal yang wajar bagi Berlin.


"Jika nanti kau memiliki keputusan serta rencana, katakan saja pada kami, Bos! Kami siap menerima serta menjalankannya sesuai dengan keputusan apa yang akan kau ambil," ucap Adam.


"Ya, setidaknya ajak kami jika kau mengambil keputusan dan juga mungkin jika kau akan turun aksi," celetuk Kimmy menambahkan apa yang dibicakan oleh Adam.


"Kami akan selalu mengikuti dirimu, Berlin. Entah apapun itu keputusan serta perintahmu," timpal Sasha.


Berlin tersenyum mendengar semua itu dan berkata, "kalian memang tidak ada gantinya, dari dahulu kalian seperti itu."


"Hahaha!" Adam terkekeh melihat ekspresi Berlin dan kemudian berkata, "ya, begitulah kami."


"Yup, yup!" seru Sasha.


"Karena kami selalu percaya denganmu, Berlin," timpal Kimmy dan kemudian mengulas senyuman tipisnya.


***


Sesampainya di rumah sakit, Berlin dan rekan-rekannya dibuat cukup terkejut dengan kondisi rumah sakit yang begitu ramai. Di pagi hari buta ini, rumah sakit dipenuhi oleh orang-orang yang mengungsi akibat invasi yang dilakukan oleh Clone Nostra. Tak hanya itu, terdapat juga beberapa orang tak bersalah yang terluka akibat invasi tersebut.


"Kalian, berhenti dan jangan bergerak!"


"Angkat kedua tangan kalian, dan jangan ada yang melakukan tindakan yang tidak kooperatif, atau akan kami tindak tegas!"


Ketika hendak masuk ke area rumah sakit. Langkah Berlin dan rekan-rekannya dihentikan oleh beberapa aparat militer dan juga polisi di sana. Mereka dihentikan karena kedapatan menbawa senjata api, dan bahkan para aparat itu tidak segan untuk menindak tegas jika Berlin dan rekan-rekannya tidak kooperatif.


"Apa-apaan ini?!" cetus Aryo terlihat tidak terima.


"Sudah, ikuti saja permintaan mereka dan jangan bertindak sesuka hati ...!" ucap Kimmy.


Terpaksa, Ashgard harus berlutut dengan kedua tangan di atas kepala, namun tidak dengan Berlin. Ia langsung berhadapan dengan salah satu aparat yang tampaknya memiliki pangkat tinggi, dan mengusulkan untuk berbicara dengan mereka.


"Maaf, tetapi kami bukanlah salah satu pihak dari 'mereka'," ucap Berlin di hadapan aparat itu. Tatapannya tajam, dan dirinya sama sekali tidak menghapus sikap serta ekspresi dinginnya ketika berhadapan dengan aparat itu.


"Apa yang dapat membuat saya percaya dengan perkataan anda," sahut aparat itu. Wajah aparat itu tidak dapat terlihat karena mengenakan masker serta pakaian taktis yang begitu lengkap.


Berlin meraih sebuah kartu identitas dari dalam kantongnya, dan kemudian menunjukkan kartu identitas miliknya kepada aparat tersebut.


"Berlin Gates?!" kedua mata milik aparat itu terbelalak terkejut ketika melihat membaca nama lengkap Berlin pada kartu identitas itu.

__ADS_1


"Maafkan kami, kembalilah berdiri dan angkat kepala kalian!" pinta aparat itu kepada rekan-rekan Berlin yang masih berlutut.


"Nah, gitu, dong!" gumam Kent merasa sedikit kesal dengan sambutan yang tidak ramah dari para aparat yang berjaga di sana.


"Mereka nggak tau kita yang meringkus Nicolaus, apa?" timpal Aryo dengan berbisik dan nada serta sikap bicara yang cukup tengil.


"Hush!" tegas Kimmy dan membuat kedua rekannya itu berhenti berbicara dan terdiam.


"Apakah kami sudah bisa lewat?" tanya Berlin.


"Oh, tentu! Tentu saja, silakan!" sahut aparat itu.


Berlin dan rekan-rekannya pun dipersilakan untuk memasuki area rumah sakit tanpa harus kehilangan senjata api mereka. Meski begitu, Berlin tetap memperingatkan teman-temannya untuk bersikap profesional dan tidak mengeluarkan senjata api seenaknya di area rumah sakit.


Ketika melangkah masuk ke dalam rumah sakit, Berlin langsung disambut dengan banyaknya orang yang menggunakan tempat itu sebagai tempat sementara untuk mereka berlindung. Kedua matanya menangkap tak hanya orang dewasa, namun juga orang yang lanjut usia sampai dengan anak-anak kecil berada di tempat itu. Dirinya juga dapat melihat bahwa mereka semua menyimpan trauma serta ketakutan yang sangat mendalam.


Melihat kondisi tersebut, tampaknya cukup untuk menggoyahkan sedikit hatinya. Berlin merasa sangat kasihan kepada mereka, dan juga sekaligus merasa sedih ketika melihat pemandangan itu.


"Oh, Berlin!" suara yang tidak cukup asing terdengar melalui telinganya. Seorang wanita berjalan ke arah Berlin yang ternyata wanita itu adalah Netty, sekertaris Prawira.


"Kapan kau kembali? Syukurlah kau kembali dalam keadaan selamat," ucap Netty terlihat cukup senang dengan kehadiran Berlin dan juga rekan-rekannya, meskipun tidak lengkap.


"Baru saja kami sampai," jawab Berlin.


Netty tersenyum lebar ketika menatap paras tampan milik pria di hadapannya itu, dan seolah mengisyaratkan sesuatu melalui tatapannya sembari berkata, "Berlin, segeralah temui dia ...!"


"Di mana aku bisa menemuinya?" sahut Berlin.


"Ikuti aku!" pinta Netty dan kemudian berjalan menuju lorong-lorong rumah sakit.


Berlin mengikuti ke mana langkah Netty akan mengantarnya, sebelum itu dirinya sudah lebih dahulu menyuruh teman-temannya untuk bebas beristirahat tanpa harus terus mengikuti dirinya.


Langkah Berlin terhenti ketika Netty juga berhenti dan mengahadap ke arah sebuah pintu ruang rawat inap. Netty memberikan isyarat melalui kedua matanya dan senyumannya seolah menyuruh Berlin membuka pintu kamar itu.


KLeeeKk ...!!!


Dengan secara perlahan Berlin membuka pintu kamar inap itu, dan ketika pintunya terbuka lebar. Kedua matanya langsung tertuju kepada sosok wanita yang benar-benar membuat hatinya senang dan tenang ketika melihatnya.


"Berlin ...?" ucap wanita yang tengah terduduk di atas sebuah brankar dengan tatapan penuh haru serta bahagia melihat kehadiran Berlin kembali.


DRAPP ...!!!


Tanpa basa-basi, Berlin mengambil langkah cepat dan langsung memeluk istri tercintanya dengan penuh kerinduan dalam hatinya. Menyadari kehadiran sang suami yang tengah memeluk dirinya, itu membuat kedua mata milik Nadia berlinang air mata bahagia dan penuh dengan rasa syukur.


"Aku pulang, Nadia," ucap Berlin ketika memeluk ibu hamil itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2