
"Persidangan akan dimulai beberapa hari kemudian, dan bagaimana keputusan kalian? Apakah kalian menerima tawaranku sebelumnya, atau tidak? Tentu aku tidak memaksa."
Pada malam yang sungguh dingin sang sangat tenang, seorang pria berjas putih tampak kembali menemui dua sosok pria berjaket kulit hitam di sebuah gang kecil di sudut kota.
Salah satu dari mereka menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, "jawabannya adalah, tidak ...!"
Rekan dari pria berjaket kulit pertama juga turut menambahkan dengan mengatakan, "kami tidak seberani kalian, Clone Nostra. Karena setelah kami pikir-pikir ... risikonya sangatlah tinggi, dan kami belum siap untuk itu."
Pria berjas putih menghela napas, mengangguk, dan menanggapi keputusan yang berujung pada penolakan atas penawaran yang beberapa pekan lalu sempat ia berikan.
"Baiklah, seperti apa yang ku bilang sebelumnya, aku tidak ingin memaksa kalian. Permisi ...!" pria berjas putih itu berbicara, sebelum kemudian berbalik badan dan hendak beranjak pergi keluar dari gang yang amat gelap itu.
SET ...!!!
"Sshhh ...!!! Jangan buru-buru, dong!"
Belum ada satu langkah keluar dari gang tersebut. Tiba-tiba saja sekelompok orang-orang berjaket merah menghadang, dan menodongkan beberapa senjata api kepada dirinya. Tentu hal itu membuat pria tersebut tidak dapat melanjutkan langkahnya, mengangkat kedua tangannya, dan hanya diam.
__ADS_1
"Clone Nostra, ya ...? Sindikat yang sedang diambang kehancuran, dan saat ini nasibnya sedang amburadul. Sayang sekali, sungguh miris aku melihat nasib kelompok kalian." Seorang pria berjaket merah melangkah mendekati pria berjas putih tersebut. Langkahnya mengelilingi pria berjas putih yang hanya bisa terdiam, sembari berbicara beberapa hal.
Pria berjaket merah itu tidak menggunakan masker atau topeng untuk menutupi identitas wajahnya, berbeda dengan rekan-rekannya yang rata-rata mengenakan masker berwarna hitam.
"Clovis El Claunius, aku mendengar beberapa hal soal dirimu. Katanya kau adalah anak tiri terakhir dari marga keluarga Claunius, ya? Apakah itu benar?" cetus pria berjaket merah itu, berhenti tepat di belakang pria berjas putih yang ia panggil dengan nama Clovis.
Sosok Clovis hanya terdiam, tidak dapat berbuat apapun, bahkan bergerak sedikitpun tidak bisa. Banyak pelatuk yang saat ini mengarah kepada dirinya, lebih tepatnya mungkin mengarah tepat ke kepalanya.
"Tidak apa, jika kau tidak mau angkat bicara dan menjawab, aku juga tidak butuh jawabanmu soal itu." Pria berjaket merah itu kembali melangkah, dan berhenti tepat di depan Clovis dengan tatapannya yang tajam.
Clovis hanya terdiam, dalam benaknya menduga beberapa hal bahwa dirinya telah dijebak di lokasi atau tempat ini oleh kedua pria berjaket kulit di belakangnya. Tatapannya tajam kepada pria yang berdiri di hadapannya, dan kemudian berucap, "apa yang kau inginkan dariku, Felix ...?!" tanyanya dengan intonasi rendah dan terdengar dingin.
"Aku mendengar banyak informasi mengenai aset-aset yang kalian miliki, dan itu cukup membuatku tertarik," ucap Felix, sedikit mendongakkan kepalanya dan berbicara demikian dengan tatapan ke arah langit malam dan terang rembulan di atas sana.
Namun pandangan itu kembali tertunduk, dengan lirikan yang tertuju kepada pria berjas putih itu dengan sebuah pernyataan, "aku tahu Clone Nostra sedang tidak baik-baik saja. Maka dari itu, jika kau mau ... aku akan mengakui sisi kelompok kalian, dan kalian dapat melakukan tindakan yang sudah kalian rencana untuk persidangan itu."
"Jika tidak," Felix kembali menghela napas, mengangkat sedikit kedua bahunya sebelum kemudian melanjutkan, "jangan salahkan aku jika kau tewas di sini."
__ADS_1
Tentu pernyataan itu adalah sebuah ego, ancaman, sekaligus pemaksaan yang berasal dari sosok Felix terhadap Clovis. Ancaman yang diberikan kelihatannya tidak main-main, terlebih dengan banyaknya personel Felix yang menutup akses gang tersebut dan masih menodongkan senjata api mereka kepada Clovis.
Clone Nostra memang sebuah sindikat yang sangat besar, itu dahulu. Sekarang kelompok itu bagaikan debu yang tertiup oleh hembusan angin, hampir menghilang dan tidak terlihat lagi.
Clovis mengangkat kepalanya, menatap tajam dan serius Felix sebelum kemudian berkata, "berikan jaminan dan keuntungan untuk kami pada hitam di atas putih, maka aku akan berikan keputusan untuk kalian. Jika itu tidak menguntungkan bagi kami, maka aku akan menolak dan kau boleh menembak mati diriku di tempat ini juga ...!" ucapnya, tajam, dan tidak gentar, bahkan tidak terlihat adanya ketakutan dalam dirinya.
***
Di keesokan harinya, Garwig kembali mendatangi Markas Ashgard. Kali ini dirinya tidak sendiri, karena didampingi oleh sosok Siska yang berpakaian rapi dengan jas hitamnya, dan salah satu tangan yang tampak sibuk menenteng tas tipis berwarna hitam.
Di lokasi tersebut, kedatangan Garwig dan Siska langsung disambut dengan hangat oleh Berlin dan rekan-rekannya. Mereka kemudian masuk ke ruang tengah, duduk di sofa-sofa yang ada, dan mulai berbincang beberapa hal.
Garwig datang dengan membawakan kejelasan, informasi, dan kepastian soal tugas atau misi pertama yang akan ia berikan kepada Ashgard. Sesuai dengan janji yang sempat ia buat di hari kemarin, dirinya datang dengan membawa berkas-berkas yang diperlukan, karena dalam kurun waktu tiga hari kemudian persidangan tersebut akan dilaksanakan.
Siska meletakkan tas tipis berwarna hitam tersebut di atas sebuah meja kaca, dan meraih serta menunjukkan beberapa berkas yang harus diketahui kepada Berlin serta beberapa rekannya.
Mengetahui akan mendapatkan misi atau tugas pertama, dan sepertinya itu adalah tugas yang memiliki tingkat kepentingan sangat-sangat tinggi. Tentu itu cukup membuat teman-teman Berlin terlihat antusias dan bersemangat. Namun di sisi lain mereka harus menyiapkan berbagai hal terlebih dahulu sebelum hari persidangan tiba.
__ADS_1
.
Bersambung.