
"Orang-orang itu menuju ke arah tenggara, dan jika terus begitu mereka akan memasuki Area Pelabuhan. Kira-kira ada apa di pelabuhan, ya?" ucap Asep, bersandar pada kursinya dan berbicara dengan Berlin yang duduk di kursi yang berada di sebelahnya.
"Entahlah, aku tidak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat. Untuk sementara kita serahkan saja kepada mereka yang berada di lokasi," jawab Berlin, tenang dan datar dengan pandangan terus memantau setiap pergerakan yang terlihat melalui layar-layar monitor yang ada di hadapannya.
Berlin telah menerima laporan dari Adam mengenai pergerakan Red Rascals yang terpantau di lokasi, dan juga menerima laporan mengenai beberapa pistol berwarna perak yang seharusnya milik Clone Nostra. Berdasarkan laporan tersebut, tentu membuat dirinya langsung terpikirkan beberapa kesimpulan atau asumsi. Namun dirinya tidak ingin terlalu cepat, karena menurutnya ini masih awal dan masih banyak yang bisa terjadi.
Asep tiba-tiba saja menoleh ke arah layar monitor di sebelah kanannya yang menunjukkan setiap rekaman dari setiap kamera pengawas yang terpasang di area Kediaman Ashgard.
"Bos, sepertinya kita kedatangan seorang tamu," cetus Asep, melihat sosok seorang laki-laki dengan pakaian baju santai hitam, berdiri tepat di depan gerbang utama yang tertutup rapat.
Berlin melihat laki-laki itu, dan kemudian langsung berkata, "aku mengenalnya, biarkan aku menyambut dirinya untuk masuk," ucapnya kemudian beranjak dari kursi tersebut. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu ruangan karena Asep tiba-tiba saja berseru, "tunggu!" sahut Asep dan kemudian bertanya, "apakah tidak apa? Maksudku ... ya memang dia adalah saudara mu, tetapi dia juga orang jahat."
"Aku yang mengundangnya untuk datang," jawab Berlin singkat, menoleh dan menatap kepada Asep yang masih duduk di kursinya dengan menorehkan senyuman tipis.
...
__ADS_1
"Aku kira kau tidak akan datang, Carlos."
Berlin melangkah menuju gerbang, membuka gerbang utama yang berukuran sangat besar itu dengan senyuman yang terlihat ramah kepada Carlos yang sudah berdiri di depan sana.
"Aku hanya mengikuti keinginanmu saja, Berlin. Di sisi lain, Prawira dan Garwig pernah berkata padaku kalau aku memang harus bertemu dengan dirimu," sahut Carlos, terlihat begitu tenang dan datar.
Perlahan gerbang besar itu bergeser dan terbuka. Berlin pun segera mengajak saudara laki-lakinya itu untuk masuk, dan kemudian gerbang itu tertutup dengan sendirinya setelah ditinggal oleh Berlin beberapa langkah.
"Apakah tidak masalah kau mengundangku datang ke tempat ini? Aku tidak ingin mencari keributan dengan teman-teman mu, Berlin. Aku tahu dan aku yakin mereka pasti tidak suka dengan keberadaan diriku," cetus Carlos, berbicara dengan Berlin yang berjalan menggunakan tongkat tepat di sebelah dirinya, menyusuri halaman depan yang amat luas dan rerumputan berwarna hijau menyejukkan mata yang melihat.
Berlin melangkah masuk melalui pintu kaca besar yang terbuka dengan cara tergeser, bersama dengan Carlos yang mengikuti dirinya di belakang. Berlin sempat menoleh ke belakang, memandang kepada wajah saudaranya yang tampak menyimpan rasa kagum terhadap tempat yang kini milik Ashgard. Namun Carlos seolah tidak ingin menunjukkan kekaguman itu, dan berusaha untuk menunjukkan ekspresi datar seperti dengan sikapnya yang terasa begitu tenang dan dingin.
Carlos perlahan melangkah masuk, dirinya dapat menyaksikan sosok Asep yang berdiri dan bersandar di pagar tepian lantai dua dan memandangi kedatangan Carlos di ruang tengah dengan tatapan tajamnya. Beberapa detik kemudian, Asep beranjak pergi dari tempatnya, melangkah menuju anak tangga dan turun ke lantai dasar menemui Berlin.
"Duduklah sebentar, aku akan ambilkan minum untukmu. Kau mau apa? Kopi? Teh? Susu?" ucap Berlin, ramah kepada tamunya yakni Carlos.
__ADS_1
Carlos menggeleng dan menjawab, "air mineral saja, terima kasih," jawabnya, kemudian duduk di sofa panjang berwarna putih dan sangat empuk itu.
Berlin pun beranjak ke arah belakang, bersama dengan Asep menuju ke dapur sembari berbicara beberapa hal. Apalagi mengingat Asep terlihat sangat tidak suka dan terus memasang sikap waspada terhadap sosok Carlos Gates Martrix yang kini hanya duduk diam di ruang tengah.
"Bos, apa kau sudah benar-benar gila ...?! Dia bukan orang sembarangan, dan juga berbahaya. Kau tidak melupakan kalau dia sempat bertindak untuk melukai dirimu, teman-teman mu, dan bahkan istrimu, 'kan?" Asep berceloteh beberapa hal, dan mengingatkan kepada Berlin soal saudaranya sendiri yakni Carlos.
Berlin sempat menghentikan langkahnya tepat di depan dapur, berbalik badan kepada Asep yang sedari tadi mengikutinya dari belakang, dan kemudian menjawab semua pertanyaan itu dengan berkata, "tentu aku tidak melupakan semua itu, semua kejadian itu tidak dapat ku lupakan begitu saja," jawabnya, terdengar datar namun tajam seperti tatapannya ketika memberikan jawaban tersebut.
"Namun aku ingin memberikan serta membebankan kewajiban dan sebuah peran kepada dirinya, dan peran tersebut akan menguntungkan kita, karena aku bisa pastikan kalau suatu saat nanti kita memerlukan perannya," lanjut Berlin.
Asep cukup terkejut dan berhasil dibuat tertegun sejenak dengan jawaban serta sedikit penjelasan yang diberikan oleh Berlin, "peran seperti apa yang kau maksud? Dan apa yang sebenarnya kau rencanakan, Berlin?"
Berlin menghela napas dan menjawab, "aku minta maaf karena aku tidak pernah bercerita soal ini kepada kalian. Untuk sementara aku tidak bisa langsung menjelaskannya padamu, dan lebih baik kau menyimak perbincangan kami nantinya."
.
__ADS_1
Bersambung.