Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Distrik Selatan Kota #6


__ADS_3

Pukul 16:00 sore.


Markas Ashgard.


Kimmy yang berhasil mendapatkan data laporan soal kasus-kasus perampokan yang terjadi akhir-akhir. Ia pun langsung memberikan data-data tersebut kepada Berlin sesuai permintaannya.


Di ruang kerja milik Berlin. Ia dan ketiga orang kepercayaannya melihat data-data yang diberikan oleh pihak kepolisian tentang perampokan. Baik dari catatan laporan tentang kronologi, ciri-ciri pelaku, senjata yang digunakan oleh pelaku, dan foto-foto Tempat Kejadian Perkara kini ada di atas meja kerja milik Berlin.


"Hanya ada dua kasus yang terselesaikan, dari lima kasus perampokan yang terjadi akhir-akhir ini." Kimmy berkata seraya melhat semua laporan yang ada di atas meja milik Berlin.


"Ya, dan tiga kasus lagi adalah perampokan bersenjata api," timpal Adam.


"Apa yang akan kita lakukan dengan semua data ini?" tanya Asep kepada Berlin yang duduk dan tampak begitu serius melihat semua data itu.


Berlin menemukan sedikit keanehan dan merasa curiga dengan para pelaku perampokan. Rata-rata para pelaku mengenakan atribut jaket kulit hitam dengan gambar elang kecil pada lengan mereka. Dirinya menduga kalau dalang dari semua perampokan yang terjadi adalah pihak yang sama.


"Kalian tahu atribut ini, bukan?" tanya Berlin menunjuk ke sebuah foto yang menampakkan tiga pelaku bertopeng hitam, bersenjata api, dan dengan jaket kulit mereka.


Adam menatap curiga dengan pelaku-pelaku yang ditunjuk oleh Berlin. Begitu pula dengan kedua rekannya. Karena mereka mengetahui soal identitas di balik atribut jaket kulit lambang elang itu.


"Geng motor?" tanya Asep keheranan.


"Nggak, seharusnya mereka tidak melakukan hal-hal seperti ini, sih." Kimmy sedikit tidak menyangka dengan apa yang ia lihat pada foto itu.


"Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mereka melakukan sebuah perampokan seperti ini. Kelompok mereka juga memiliki personel yang banyak serta persenjataan," ucap Adam.


"Ya aku sependapat dengan mu, Dam." Berlin memiliki pemikiran yang sama dengan Adam. Di pikirannya, "orang bisa jahat jika ada kesempatan atau didesak oleh suatu hal. Dan orang juga bisa jahat karena adanya fasilitas, atau adanya dukungan untuk melakukan kejahatan".


"Lalu ... apa yang akan kita lakukan dengan semua ini?" tanya Asep menatap bingung Berlin.

__ADS_1


Berlin mengatupkan kedua telapak tangannya di atas meja, memasang tatapan dinginnya, dan lalu menjawab, "kita akan memastikan mereka secara langsung, memastikan soal tujuan sebenarnya dari apa yang mereka perbuat."


"Memastikan?!" Ketiga rekanya terkejut mendengar jawaban itu.


"Maksudmu, kita akan mendatangi mereka, gitu?!" tanya Adam.


"Ya, kita akan berkunjung ke rumah mereka, rumah geng motor itu," jawab Berlin memasang wajah datar dan santainya.


"Apa kau sudah gila?!" ucap Kimmy ketus dan tampak tidak setuju dengan ide gila itu.


"Kau tahu resiko jika kita mengunjungi rumah kelompok lain, 'kan?! Dahulu kita juga pernah mengalami hal yang sama, namun berakhir dengan bentrok dan peperangan antar kelompok. Beruntung kita masih bisa hidup dari peperangan antar kelompok itu!" Kimmy langsung menghujani Berlin dengan kata-kata itu.


Apa yang dikatakan Kimmy memang ada benarnya. Beberapa tahun yang lalu, waktu awal-awal Ashgard didirikan. Berlin pernah melakukan hal yang sama, yaitu melakukan kunjungan ke rumah atau wilayah milik kelompok lain. Namun berakhir dengan pertumpahan darah.


"Dahulu tujuanku memang untuk memperingatkan. Tetapi berbeda dengan yang sekarang, aku hanya ingin memastikan." Berlin dengan santainya menanggapi semua perkataan yang ia dapat dari Kimmy yang sudah kesal dan sangat tidak setuju dengan idenya.


Kimmy hanya bisa pasrah, karena percuma saja jika dirinya ingin menghentikan langkah Berlin yang tekadnya sudah bulat. Namun berbeda dengan Adam. Adam tampak sedikit curiga dengan ide milik Berlin. Dirinya merasa Berlin memiliki alasannya tersendiri untuk melakukan ide gila itu.


"Ya, apa alasanmu?" timpal Asep. "Waktu kekacauan yang dibuat Mafioso lima bulan yang lalu. Kau menggila membantai banyak personel Mafioso sendirian, karena ada alasan kuat di balik semua itu. Dan yang ini pasti juga memiliki alasannya, dong?" lanjunya.


Berlin tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan oleh Asep padanya. Dirinya jadi mengingat apa alasan kuat di balik keberaniannya untuk menghabisi banyak dari personel Mafioso saat itu. Alasannya hanya karena, ada banyak hal berharga dan harus dilindungi pada saat itu.


"Ya, aku memiliki alasan, kok. Aku hanya ingin memastikan kalau mereka merampok bukan hanya sekedar iseng atau bersenang-senang. Aku curiga mereka dibayar untuk melakukannya." Berlin memberikan alasannya, dan membuat ketiga rekannya terdiam.


Adam sudah menduga alasan tersebut, dan dirinya juga memikirkan hal yang hampir sama. Karena menurutnya tidak mungkin sebuah kelompok melakukan perampokan secara berturut-turut jika tidak ada yang menyuruh. Persentase dalam hal ini sangatlah kecil menurutnya.


"Baiklah, apa rencanamu?" tanya Adam.


Berlin menatap serius ketiga rekannya. Sepertinya ia memiliki rencana yang sangat matang di pikirannya, dan sudah ia siapkan sedari awal melihat semua data-data dari kepolisian itu.

__ADS_1


.


~


.


Pukul 19:00 malam.


Distrik Selatan Kota.


Di distrik atau wilayah selatan kota adalah salah satu wilayah yang tidak begitu disukai oleh kebanyakan masyarakat. Karena wilayah tersebut digunakan sebagai wilayah industri. Banyak sekali pabrik-pabrik besar yang didirikan di wilayah ini. Wilayah ini juga sangat dekat dengan pelabuhan kargo atau pelabuhan tempat di mana kapal-kapal dagang berlabuh. Dan di wilayah inilah sering sekali terjadinya transaksi barang baik legal ataupun ilegal.


Di malam hari ini. Berlin berencana untuk mengunjungi sebuah gudang yang sangat besar yang ada pada sudut keramaian industri. Gudang tersebut adalah tempat nongkrong dari anggota-anggota geng motor yang ingin Berlin temui.


Tidak ada perjanjian sebelumnya, dan ini adalah pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya. Tentu rekan-rekan Ashgard sangat waspada dengan lingkungan sekitar, karena mereka tidak begitu mengetahui seluk-beluk tempat atau wilayah itu.


"Simpan senjata kalian, jangan ada yang mengeluarkan persenjataan apapun, dan jangan menunjukkan gerak-gerik agresif!" Berlin memberikan arahannya kepada semua rekan-rekannya.


"Kimmy, Asep, Adam. Kalian bertiga akan mendampingi ku! Sedangkan yang lain, silakan tunggu dan berjaga di area luar gudang!" pinta Berlin kembali kepada rekan-rekannya.


Tentu rekan-rekannya tampak cukup khawatir dengan perintah tersebut. Lantaran gudang tempat pertemuan sangatlah tertutup, dan sangat sulit terlihat dari luar. Jadi jika terjadi sesuatu pada Berlin, mereka akan sedikit sulit untuk mengetahui serta melihatnya.


"Jangan khawatir! Aku akan memberikan sinyal suara radio tiga kali jika terjadi sesuatu di dalam sana," ucap Berlin kembali.


"Baik, bos." Rekan-rekannya pun segera berpencar dan mengambil posisi mereka masing-masing. Ada yang berjaga tepat di depan pintu masuk gudang. Ada juga yang berjaga di atas dari tumpukan kargo dan rongsokan yang ada di sekitar gudang.


Berlin yang tampak sudah siap pun segera masuk ke dalam gudang tersebut, diikuti oleh ketiga rekan kepercayaannya. Di dalam sana dirinya langsung disambut oleh anggota dari geng motor itu. Dengan tatapan curiga dan penuh dengan kewaspadaan. Para anggota geng motor itu menghampiri Berlin dan ketiga rekannya dengan senjata api di tangan mereka.


"Sepertinya ... kita kedatangan tamu spesial," cetus salah satu dari mereka, seorang pria berambut ikal menyambut kedatangan Berlin dengan tatapan penuh curiga. Tangan pria tersebut tampak tak bisa lepas dari sebuah pistol yang selalu ia bawa.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2