
"Empat target mulai masuk," ucap Kent terdengar di radio milik Berlin.
Berlin berada di balik dari sebuah semak dan pepohonan tepat di dekat jalur yang akan dilalui oleh keempat orang itu. Dirinya tak sendiri, ada Kimmy dan Mavi yang ikut bersamanya. Sedangkan rekan-rekannya yang lain berada di posisi mereka masing-masing yang siap untuk mengepung keempat target itu. Bahkan terdapat empat rekannya yang sudah siap di atas pepohonan seusai dengan permintaan Berlin sebelumnya untuk melakukan sergapan.
TAP ... TAP ...!!
Setiap langkah dari orang-orang berbaju putih itu mulai terdengar, dan semakin mendekat. Mereka benar-benar terlihat siaga terhadap lingkungan di sekitar yang benar-benar sangat gelap.
Ashgard sangat diuntungkan dengan gelapnya malam, apalagi tanpa adanya cahaya bulan di malam ini. Keadaan hutan di pulau itu sangat gelap, bahkan akan sulit untuk melihat jika tidak ada penerangan.
"Tidak ada laporan status dari empat rekan kita. Apa kau yakin mereka baik-baik saja?" ucap salah satu dari keempat target itu ketika melangkah perlahan.
"Jangan terlalu berpikiran baik! Situasi kita sedang darurat," sahut pria kedua yang membawa senapan serbu kepada rekannya.
"Ya, apalagi seperti yang sudah kita ketahui, Ashgard sudah berada di pulau kita," cetus pria ketiga.
"Jika memang seperti itu, bukankah lebih baik kita yang langsung saja hantam Ashgard tanpa harus menunggu?" sahut pria keempat.
Pembicaraan keempat penjaga yang sedang berjalan perlahan-lahan itu dapat didengar oleh Berlin dan rekan-rekannya. Pada saat kalimat terakhir yang dikatakan oleh salah satu dari mereka, Berlin semakin dibuat waspada.
"Bos, lebih baik cepat sebelum terlambat," bisik Kimmy kepada Berlin tepat di sampingnya.
Berlin melirik dan mengangguk paham dengan apa yang dikatakan. Ia melirik ke arah rekan-rekannya yang bersembunyi tak jauh dari dirinya berada, dan memberikan kode kepada.
"Tetapi ku dengar Ashgard sulit untuk dilumpuhkan, bahkan sebagian dari kita sempat bentrok dengan mereka di kota dan kita yang kalah," ucap pria kedua.
"Aku penasaran dengan orang yang bernama Berlin itu. Emang sehebat apa sih dia? Bahkan Bos Nico mencari-cari orang itu," celetuk pria ketiga.
"Cih, kalau ketemu mungkin akan ku habisi orang itu," sahut pria keempat di barisan paling belakang dengan intonasi meremehkan.
"Oh ya? Kalau begitu buktikan padaku sekarang!" Berlin tiba-tiba saja keluar dari persembunyiannya tepat di belakang orang keempat yang berbicara seperti itu.
SET!
BUGH!!!
Berlin langsung menghantam pria itu, dan membuat senapan yang dibawa oleh pria itu melayang jauh. Ketiga rekannya dibuat sangat terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Seketika seluruh rekan-rekan Berlin pun langsung ikut membantu dirinya. Beberapa pisau tiba-tiba saja melayang dan langsung menusuk mengenai dua orang dari mereka yang hampir membuka tembakan ke arah Berlin.
__ADS_1
"Sial, dari atas pohon!" teriak salah satu dari mereka dalam keadaan bersimbah darah di lengan kanannya akibat sayatan.
"Singkirkan mereka dari senjata mereka!" teriak Berlin.
Baku hantam pun tak terelakkan. Berlin berhasil membuat lawannya bungkam, bahkan tidak sempat menggunakan senjata apinya.
"Tidak! Ampuni aku!" salah satu dari mereka berusaha untuk melarikan diri dari sana. Namun sayangnya ....
JLeeb!!!
Berlin melayangkan sebuah pisau ke arah pria itu dan menusuk tepat di leher bagian belakang dari pria itu, seketika pria langsung tersungkur tak bergerak lagi.
"Kau kira bisa lari dariku tanpa harus setor nyawa?" gumam Berlin dengan tatapan tajam dan sikap yang begitu dingin nan terkesan kejam.
"Bereskan mereka! Bagaimana dengan Asep? Kita akan segera bergerak masuk ke area vila sesegera mungkin sebelum fajar tiba!" ucap Berlin mencabut pisau yang menancap pada tengkuk milik pria tersebut, dan kemudian dengan santainya membersihkan lumuran darah pada mata pisau dengan sehelai daun.
"Bos, ada yang masih hidup," cetus Sasha berlari menghampirinya.
Berlin pun berjalan menghampiri salah satu dari keempat penjaga yang masih hidup itu. Pria itu menatap Berlin dengan tatapan penuh kebencian dan rasa tidak suka. Ambisi untuk membunuh dirinya sangat terlihat jelas pada kedua mata milik pria itu.
"Apakah kau ada kata-kata terakhir?" lanjutnya.
"Mereka pasti akan menghabisimu, terutama dia. Dia pasti akan menghabisimu di sana, Berlin," racau pria itu seolah ingin menjatuhkan mental dan membuat Berlin ketakutan. Namun sayangnya itu sangat tidak berpengaruh. Justru Berlin merasa ingin menguji sendiri apakah 'mereka' atau 'dia' yang dimaksud pria itu memang dapat menghabisi dirinya sesuai dengan apa yang dikatakan atau tidak.
Berlin sedikit tersenyum dan menghela napas sebelum kemudian berkata, "aku serahkan saja dia kepada kalian, segera selesaikan!" ucapnya kepada rekan-rekannya dan kemudian beranjak pergi menuju ke tempat Asep.
CRAATT ...!!!
Suara sayatan terdengar begitu Berlin berbalik badan dan beranjak pergi dari sana. Seketika pohon yang berada tepat di belakang pria tadi terkena cipratan berwarna merah darah.
Mavi menyaksikan itu semua, dan semua kekejaman itu benar-benar membuatnya tidak percaya. Dirinya tidak percaya akan berada begitu dekat dengan orang-orang seperti itu, terutama dengan Berlin yang sudah berbicara dengannya beberapa kali.
"A-apakah ... tidak apa-apa?" tanya Mavi langsung memalingkan pandangannya dari darah-darah itu, dan kemudian mengambil langkah cepat mengejar Berlin.
"Mereka penjahat, dan sudah konsekuensi mereka," jawab Berlin.
"Tetapi jika kalian melakukan hal yang begitu kejam seperti itu, bukankah ... kalian sama saja dengan mereka?" celetuk Mavi.
__ADS_1
DEG.
Langkah Berlin terhenti dan langsung dibuat terdiam dengan kata-kata itu. Secara tiba-tiba terlintas bayang-bayang istrinya yang menyimpan harapan untuk dirinya dapat berubah dari sifat yang seperti itu.
Namun Berlin tidak menjawab sama sekali pertanyaan yang dilempar oleh Mavi untuknya. Dirinya lanjut berjalan begitu saja, dan mendekati Asep yang tampaknya akan selesai dengan tugasnya.
"Kau siap, Bos? Dalam hitungan ... tiga ... dua ... satu."
Klik ...!!
Seluruh listrik di dinding perbatasan hingga area vila tersebut mati seketika. Asep pun membereskan beberapa alat-alatnya. Berlin melihat waktu pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, dan waktu setempat menunjukkan pukul satu dini hari.
"Persiapan! Kita akan segera bergerak masuk!" pinta Berlin tegas menggunakan radio komunikasi miliknya. Kemudian ia mendekati Mavi dan menatap nelayan pria itu dengan tatapan serius sebelum akhirnya berkata, "kemungkinan akan terjadi baku tembak dan situasi yang sangat kacau sangatlah besar. Aku menyarankan kepadamu untuk tidak ikut."
Mavi menggelengkan kepalanya dan menyangkal, "aku akan tetap ikut dengan kalian! Bukankah kalian membutuhkan pemandu untuk lingkungan ini?"
"Ya, dia benar sih, bos. Meski kita punya peta, tetapi kita tetap masih sangat awam dengan kondisi medan di pulau ini," timpal Asep sembari menyerahkan kembali alat-alat miliknya kepada Galang.
Berlin tersenyum tipis dan mengangguk pelan sembari mengatakan, "baiklah, tetapi pastikan kau selamat! Adik perempuan mu menunggumu di rumah, bukan?"
Mavi tersenyum sembari melirik ke arah sebuah cincin yang melingkar di jari manis sebelah kiri milik Berlin dan berkata, "pastikan dirimu juga!"
"Oh ya, bawa ini! Kau pasti memerlukannya nanti untuk melindungi diri," lanjut Berlin menyerahkan sebuah pistol berwarna hitam kepada Mavi.
Kedua tangan Mavi cukup bergetar ketika menerima senjata api itu, karena memang sepanjang hidupnya ini adalah pertama kalinya ia memegang benda ini.
"Te-tetapi, aku belum pernah sama sekali menggunakan senjata seperti ini," ucap Mavi.
"Asep, beritahu beberapa hal yang harus dia ketahui soal penggunaan senjata api!" pinta Berlin.
"Baik, bos!" Asep langsung mendekati Mavi dan mulai sedikit mengajarkan pria itu cara menggunakannya.
Tak hanya senjata api jenis pistol saja, Berlin juga memberikan sebuah rompi untuk melindungi badan milik nelayan itu. Setelah itu dirinya segera mengumpulkan rekan-rekannya, dan menyusun rencana untuk menyusup masuk sebelum kemudian berhadapan langsung dengan Nicolaus.
.
Bersambung.
__ADS_1