Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Detik-detik #72


__ADS_3

Langit berwarna jingga indah mewarnai sore hari ini. Cuaca yang sangat cerah, ditambah dengan pemandangan pantai berpasir putih yang amat indah. Di sebuah bibir pantai, Berlin berdiri seorang diri dan terpaku kagum melihat betapa indahnya pemandangan di depan matanya. Gelombang air laut yang tidak begitu besar, disusul dengan kicauan burung camar yang berbondong-bondong menuju sarang mereka.


"Aku yakin kau pasti suka dengan apa yang ku lihat ini, Nadia." Berlin bergumam dan lalu tersenyum dengan sendirinya ketika melihat pemandangan pantai yang sangat indah itu.


Di kala dirinya berdiri seorang diri di atas putihnya pasir pantai yang terasa lembut itu. Seorang wanita berjalan mendekatinya dari perlahan dan sembari berkata, "andai saja tidak ada Clone Nostra di pulau ini, orang-orang pasti dapat dengan nyaman dan aman menikmati tempat yang indah seperti ini."


"Kau benar, Kim." Rupanya wanita itu adalah Kimmy, salah satu orang kepercayaannya.


"Ngomong-ngomong, teman-teman sedang berkumpul di kamp, kau tidak mau ikut?" ucap Kimmy ketika berada tepat di samping rekan prianya.


"Dahuluan saja, nanti aku menyusul." Berlin menjawab jawaban singkat, dan sepertinya sedang ingin sendiri terlebih dahulu sembari menikmati suasana sore yang indah itu.


Mendengar jawaban itu, Kimmy pun menjawab, "baiklah," dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Berlin di sana.


Padahal baru saja beberapa jam berlalu sejak Ashgard berlabuh di Pulau La Luna. Namun Berlin sudah merasa jauh dari rumah selama berhari-hari. Tersirat keraguan dan timbul sebuah pertanyaan di dalam benaknya, "apakah aku salah mengambil keputusan? "


Berlin menghela napas panjang dan kemudian berucap kepada dirinya sendiri, "tenangkanlah dirimu, Berlin."


"Tunggu!"


"Tangkap aku, dong! Kalau bisa!"


Di tengah ia sedang berdiam diri di sana. Tiba-tiba saja terdengar suara anak-anak kecil yang tengah asyik tertawa dan berlari-larian. Sumber suara tersebut berasal dari dermaga kecil yang letaknya tidak jauh dari dirinya berdiri. Sontak anak-anak kecil yang sedang bermain di dermaga itu menarik perhatiannya, dan membuatnya tersenyum dengan sendirinya ketika melihat mereka asyik bermain.


Namun tidak lama kemudian senyumannya pudar dengan sendirinya, mengingat tujuan dan apa yang kemungkinan akan terjadi tidak lama lagi di pulau ini. Dirinya sangat berharap dapat melihat dan mendengar kembali canda tawa itu setelah semua permasalahan dan urusan selesai.


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka nantinya," gumamnya dengan pandangan masih melihat ke arah anak-anak yang masih bermain di atas dermaga itu.

__ADS_1


...


Beberapa menit kemudian, Berlin pun beranjak pergi dari bibir pantai itu kembali menuju kamp. Sebelum sampai ke kamp, dirinya harus berjalan melewati sebuah desa atau kampung kecil yang berada dekat dengan kamp tersebut.


Sepanjang ia berjalan melalui jalanan tanah berkerikil itu. Banyak pasang mata penduduk di sana yang secara terus-menerus memandanginya. Rata-rata sepasang mata yang memandangi dirinya menaruh ekspresi ramah dan seolah menaruh sebuah harapan tersendiri. Kedatangan Ashgard di pulau benar-benar disambut ramah oleh penduduk setempat.


Di tengah Berlin berjalan, tiba-tiba saja dirinya dihampiri oleh seorang gadis cantik berambut cokelat panjang yang tampaknya memiliki status sosial lebih tinggi dibanding penduduk lainnya. Karena Berlin tidak menghentikan langkahnya, perempuan itupun menghampirinya dan berjalan tepat di sampingnya sembari bertanya, "permisi, apakah benar anda salah satu dari orang-orang yang baru saja berlabuh tadi siang?" tanyanya dengan intonasi berbicara yang sangat baik dan sopan.


"Iya, benar." Berlin memberikan jawaban singkat dengan sedikit melirik perempuan yang kini ikut berjalan di sisinya. Seperti biasa dan sepertinya sikapnya memang sudah menjadi bawaan. Dirinya lebih menaruh sikap yang dingin dan cuek ketika menjawab, meskipun sudah berusaha untuk lebih peduli dan ramah ketika ada orang lain yang sedang berbicara dengannya.


"Kami harap ... kalian betah dengan situasi yang ada, ya," ucap perempuan itu dengan pandangan sedikit tertunduk sendu sebelum akhirnya melanjutkan kembali bicaranya, "jika ada sesuatu yang kalian butuhkan dari kami, maka jangan sungkan untuk mengatakannya, ya!" lanjutnya kemudian memasang wajah yang ceria ketika menoleh kepada Berlin.


Berlin melirik dan sedikit mengulas senyuman tipisnya sebelum kemudian berkata, "baik, terima kasih."


Mendengar ucapan terima kasih dari Berlin sepertinya membuat perempuan itu tambah senang, bisa terlihat dari ekspresi yang bertambah ceria tanpa pudarnya senyuman yang terus terpampang pada paras cantiknya.


Berlin tidak begitu menghiraukan dengan apa yang baru saja gadis itu perbincangkan dengannya. Dirinya terus saja berjalan sampai di kamp tanpa begitu mempedulikan orang-orang sekitar.


"Bos, ku lihat tadi ... kau sama cewek, ya?" celetuk Aryo ketika menyadari kedatangan Berlin di kamp.


"Oh, yang berambut cokelat?" sahut Berlin sembari mengambil sebuah minuman kaleng yang terletak di atas meja kecil di sana.


"Iya!" sahut Aryo.


"Entahlah, dia tiba-tiba menghampiriku dan bertanya apakah aku salah satu dari kalian," ucap Berlin dan kemudian duduk di sebuah kursi santai yang tepat di depan tendanya.


Adam tertawa kecil dengan sendirinya sebelum kemudian menimpali apa yang Berlin katakan, "padahal kau bos-nya."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, siapa namanya, bos? Cantik juga dia." Aryo perlahan mendekati Berlin dan bertanya demikian dengan intonasi berbisik.


Berlin sedikit terkekeh mendengar pertanyaan itu sebelum kemudian menjawab, "aku tidak menanyakan namanya, sih. Tanya sendiri padanya aja, ya!"


"Aryo kebiasaan memang," timpal Sasha dan beberapa teman lainnya dengan penuh gurauan mereka.


Berlin hanya tersenyum menyaksikan canda tawa dari rekan-rekannya. Dirinya membiarkan mereka saling bergurau dan santai terlebih dahulu, sebelum mengeksekusi sebuah aksi dalam waktu yang sangat dekat bahkan dalam beberapa jam lagi.


***


Pukul 17:00 sore.


Farres berada di dalam kursi kemudi dari sebuah mobil besar beroda enam dan tahan dari gempuran peluru-peluru panas. Hanya ada dirinya di dalam mobil tersebut, dan sebuah senapan serbu yang ia letakkan tepat di bangku penumpang sampingnya.


Mobil miliknya terparkir tepat di seberang dari sebuah gedung bertuliskan Bank Central Metro. Bangunan dari bank tersebut sangatlah besar, bahkan besarnya hampir menandingi gedung putih balaikota. Aktivitas pada sore hari di bank tersebut terlihat cukup ramai dengan nasabah. Tak hanya itu, terlihat beberapa aparat keamanan dan anggota polisi juga ikut berjaga di sekitar area bank.


"Semuanya sudah berada di posisi masing-masing?" tanya Farres menggunakan sebuah radio komunikasi miliknya.


Beberapa suara pria menjawab pertanyaannya dengan berkata, "siap kapanpun menerima perintah lanjutan."


Farres melirik ke arah beberapa aparat keamanan bank yang berjaga di sana. Jumlah mereka memang tidaklah terlalu banyak, bahkan tidak sebanding dengan jumlah dari pihak miliknya.


"Meski sedikit, tetapi tetap saja dapat merepotkan. Aku tidak bisa meremehkannya." Farres bergumam dengan sendirinya sembari meraih senapan miliknya, dan mempersiapkan senjata api itu.


Senapan dengan amunisi yang sudah terisi penuh oleh butiran-butiran peluru itu kini sudah berada di kedua tangannya. Sekarang hanya tinggal menunggu detik demi detik sebelum Clone Nostra benar-benar melancarkan aksinya.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2