Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Papa Baik-baik Saja? #145


__ADS_3

Di keesokan harinya, Berlin mendapatkan pesan atau kabar dari seseorang yang sangat penting, yakni Garwig Gates. Garwig tampaknya ingin bertemu dan berbicara empat mata dengan dirinya, secara empat mata di suatu tempat masih di area rumah sakit tersebut.


Ketika menerima pesan atau kabar itu melalui ponselnya. Berlin mendapatkan lokasi pasti di mana pertemuan itu akan berlangsung. Lokasi atau tempat itu dipilih oleh Garwig sendiri, dan lokasi tersebut berada di sebuah rumah makan yang terletak tepat di halaman parkir depan rumah sakit.


"Sayang, aku pergi bentar, ya?" ucap Berlin tampak meminta izin kepada istrinya. Ia sudah berganti pakaian dengan baju putih dan rapi.


Nadia yang duduk di sofa menemani Akira yang tampaknya masih tertidur pulas di sana. Melihat suaminya hendak pergi menggunakan kursi rodanya, ia pun menjawab, "kamu sendirian? Aku temenin, ya ...!?"


"Kayaknya nggak usah, deh. Aku sama temen-temen, kok! Lagipula setelah sampai tempatnya, temen-temen ku bakal pergi lagi nggak nungguin aku," jawab Berlin.


"Memangnya kamu mau ketemu siapa?" sahut Nadia tampak cukup mengkhawatirkan dirinya. Berlin pun menjawab jujur kalau Garwig ingin bertemu dan berbicara empat mata dengan dirinya.


Setelah memberikan jawabannya, Berlin tersenyum melihat ekspresi istrinya yang tampak cukup mencemaskan dirinya. Ia pun berusaha untuk menenangkan bumil itu dengan berkata, "tenang saja, aku pergi tidak lama, sayang. Janji! Kamu bisa pegang kata-kata ku ini!"


Di tengah perbincangan mereka berdua. Tiba-tiba saja Akira menguap dengan cukup keras, sebelum kemudian anak kecil itu duduk dengan mengedipkan serta mengusap kedua matanya yang masih lengket.


Berlin dan Nadia langsung terdiam, mereka berdua melihat ke arah Akira yang kini duduk di samping Nadia. Gadis kecil itu tampaknya masih mengumpulkan nyawanya, dan masih diam dengan beberapa kali mengedipkan kedua mata sayunya.


"Papa? Loh, papa udah pulang?!" pekik Akira dengan kedua mata terbuka lebar melihat ke arah Berlin yang duduk di atas kursi roda tepat di depan sofa tersebut.


Seketika Akira langsung turun dari sofa tersebut, dan melangkah mendekati Berlin dengan langkah cepat. Berlin tersenyum melihat reaksi gadis kecil itu yang sejak kemarin belum menyadari kehadirannya.


"Dari kemarin papa udah di sini, sayang." Berlin menjawab sembari mengelus perlahan kepala milik Akira yang kini berada pada pangkuannya.


Mendengar jawaban dari Berlin. Akira langsung menoleh ke belakang, dan melihat ke arah Nadia yang duduk di sofa tersebut dengan memasang sepasang wajah sedih bercampur kecewa.


"Mama, kenapa Akira tidak diberitahu pas papa pulang? Akira 'kan mau sambut papa pas pulang ...!" cetus Akira dengan intonasi bicara sedih dan kecewa.


"Habisnya, Akira tidurnya nyenyak banget, sih. Dan mama nggak mau mengangguk tidurnya Akira," jawab Nadia sembari mengulas senyumannya yang sungguh manis dilihat.


"Iya, padahal papa sempet colek-colek pipi Akira pas tidur, tetapi Akira nggak bangun. Jadi yaudah, deh," timpal Berlin.


Akira menghela napas setelah mendengar jawaban dari kedua orang tuanya. Namun sesaat setelahnya, perhatiannya tertuju kepada Berlin yang duduk di atas kursi roda.

__ADS_1


"Papa, papa terluka aja? Kaki papa kenapa?" celetuk Akira sempat melirik ke arah kaki kanan milik Berlin, sebelum kemudian menatap pria itu dengan kedua bola mata indah yang menggambarkan jelas kekhawatirannya.


Berlin tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia mengelus kepala milik gadis kecil yang ada di atas pangkuannya dengan sungguh lembut, dan kemudian menjawab, "cuma cedera kecil, kok! Kamu tenang saja, papa baik-baik saja! Lagipula ini sudah diobati, dan hanya membutuhkan waktu untuk pulih."


"Oh, gitu, ya? Lalu bagaimana cara papa jalan?" sahut Akira dengan ekspresi yang sungguh polos nan imut.


"Akira lihat papa sedang naik apa sekarang? Ini namanya kursi roda, papa bisa jalan pakai ini," Berlin menjawab pertanyaan itu dengan senang hati dan senyuman yang tak pudar dari wajahnya.


"Tetapi nanti papa bisa jalan pakai kaki lagi, 'kan?" cetus Akira dengan kedua mata berbinar menyimpan harapan tersebut.


"Bisa, dong! Setelah cedera papa sembuh," sahut Berlin dengan intonasi yang sangat bersemangat. Tak hanya dirinya saja yang dibuat tersenyum melihat betapa lugunya anak itu, namun Nadia juga.


***


Setelah mendapat izin dari Nadia, dan berbincang sedikit dengan putrinya yakni Akira. Berlin bersama dengan Kimmy dan Adam kini berjalan melalui lobi rumah sakit menuju ke pintu keluar.


"Nadia benar-benar sayang padamu, ya?" cetus Kimmy ketika mendorong perlahan kursi roda yang diduduki oleh Berlin menuju ke pintu keluar. Tepat sebelum dirinya bersama dengan Adam menjemput Berlin di kamar inap. Nadia sempat menitipkan beberapa pesan serta sebuah amanah padanya untuk terus menjaga Berlin selama di luar. Nadia tampaknya cukup takut jika Berlin melakukan hal-hal yang nekat dan gegabah lagi.


"Dasar!" gumam Berlin kepada Adam yang berjalan tepat di sampingnya.


"Bagaimana perkembangan teman-teman kita yang mendapat perawatan?" lanjut Berlin yang tampaknya cukup penasaran terhadap kondisi rekan-rekannya yang terluka.


"Mereka sudah membaik, kenapa? Kau mau mengunjungi mereka?" sahut Adam.


"Ya, kurasa begitu, setelah pertemuan dengan Garwig, deh!" jawab Berlin.


Mereka bertiga perlahan berjalan melalui banyak aktivitas orang di rumah sakit tersebut. Ketika ketiga orang itu berjalan keluar dari lobi rumah sakit. Banyak pasang mata yang tertuju kepada mereka, terutama kepada sosok Berlin yang duduk di kursi roda.


Berlin dapat merasakan semua tatapan mereka, baik tatapan dari para masyarakat yang ada sampai beberapa aparat yang masih berjaga di area rumah sakit. Tak hanya dirinya, namun kedua temannya juga dapat merasakan hal tersebut.


"Mengapa mereka semua melihat ke arah kita?" bisik Adam.


"Entahlah, tetapi sepertinya perhatian mereka lebih ditujukan padamu, Berlin." Kimmy menjawab pertanyaan Adam. Dirinya terus mendorong kursi roda tersebut menjauh dari orang-orang di sana.

__ADS_1


***


Sesampainya Berlin di rumah makan, atau lebih tepatnya bisa disebut sebagai kantin bagian depan rumah sakit. Dirinya langsung disambut oleh Garwig di sana, dan kelihatannya bukan hanya Garwig yang ada di tempat tersebut. Melainkan terpantau ada beberapa aparat dari pihak Garwig yang berada di sekitar kantin. Hanya saja mereka berpakaian layaknya warga biasa seperti sedang menyamar.


"Selamat pagi, Berlin." Garwig langsung menyapa kedatangan Berlin dan kedua rekannya.


"Pagi, apa yang kau perlukan dariku?" sahut Berlin dan langsung bertanya tanpa berbasa-basi.


Garwig tersenyum senang melihat sikap Berlin yang tidak berubah sedari dahulu. Sebelum berbicara mengenai beberapa hal, dirinya melihat ke arah kedua rekan Berlin dan mengatakan, "kalian berdua, silakan ikut rekan ku terlebih dahulu, ya? Tenang saja, aku tidak memiliki niat macam-macam terhadap kalian," ucapnya, yang dengan tiba-tiba seorang aparat wanita datang dan berdiri tepat di sebelahnya.


Adam dan Kimmy menatap ke arah Berlin seperti sedang menunggu keputusan serta arahan darinya. Berlin mengangguk, dan berkata, "ikuti saja ...!" titahnya.


Mereka berdua pun mengikuti langkah aparat wanita itu menuju ke sebuah meja yang terletak di ujung. Mereka duduk di sana, dan tetap dapat melihat gerak-gerik Berlin dari sana. Hanya saja jarak di antara mereka berdua dengan Berlin cukuplah jauh, dan mereka tidak dapat mendengar perbincangan Berlin dan Garwig.


"Jika kalian ingin memesan menu yang ada di sini, maka pesan saja ...! Jangan sungkan! Tenang saja, semua biayanya ditanggung oleh Pak Garwig," ucap aparat wanita itu dengan intonasi yang terdengar sangat sopan. Mendengar intonasi bicara dan sikap sopan itu, Adam merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu pula dengan Kimmy yang tampaknya cukup percaya dengan pihak Garwig di lokasi ini. Setelah berbicara demikian, aparat tersebut beranjak pergi dan kembali berjaga tepat di depan kantin.


"Kira-kira ... apa yang ingin dibicarakan mereka, ya?" gumam Kimmy bertanya-tanya kepada Adam yang duduk bersebrangan dengan dirinya.


Namun tampaknya Adam tidak begitu mendengarkan apa yang diucap oleh Kimmy. Laki-laki itu justru terlihat fokus membaca dan memilih makanan atau minuman yang ada pada menu di atas meja tersebut.


BraakK!!


Adam dibuat terkejut dengan tindakan Kimmy yang tiba-tiba saja menggebrak meja tepat di atas menu yang tengah ia baca.


"Apa? Ada apa?" cetus Adam sesaat setelah terkejut, dan melihat ke arah Kimmy yang menatap tajam dirinya.


"Sudah menentukan mau pesan apa ...?!" tanya Kimmy dengan tatapan tajamnya.


"Hehehe," Adam tertawa kecil begitu saja mendengar pertanyaan tersebut, "mumpung kita ditraktir oleh Garwig, 'kan? Jadi jangan lewatkan kesempatan ini! Pas banget pula aku belum sarapan," lanjutnya sebelum kemudian dirinya mengangkat satu tangannya dan memanggil salah seorang pelayan yang berdiri tepat di depan meja kasir.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2