
Satu hari setelahnya, siang hari ini Garwig kembali membuat pertemuan dengan dua orang penting. Prawira dan Boni kembali ia panggil untuk membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan Clone Nostra, dan juga rencana selanjutnya untuk Pulau La Luna.
Pertemuan ini kembali dilakukan secara pribadi di kediaman milik Garwig yang dijaga sangat ketat oleh orang-orang khusus yang dimiliki Garwig. Di pertemuan kali ini, Boni hadir bukan sebagai walikota. Ia hadir tanpa dikawal dan dijaga oleh regu penjaga walikota yang biasa selalu mendampinginya ke manapun ia pergi.
"Ini belum pasti, tetapi kurasa Clone Nostra sudah mulai memasuki wilayah kita. Selain dari itu, di Pulau La Luna masih terpantau kalau orang-orang dari Clone Nostra masih ada banyak di sana."
"Hmm, mereka sudah bergerak, ya?" gumam Boni.
"Namun, kita tidak tahu mereka melalui jalur akses mana. Bahkan kita sempat terkecoh di pelabuhan kota kemarin sore." Prawira ikut angkat bicara.
"Jika mereka dapat melewati penjagaan yang sangat ketat dari kita. Aku jadi mencurigai sesuatu --" belum selesai Garwig berbicara. Prawira tiba-tiba menyela dengan berkata, "koneksi orang dalam?"
Ketika membahas soal 'orang dalam'. Garwig jadi teringat tentang kecurigaan Berlin terhadap salah satu pengawal walikota ketika beberapa bulan yang lalu berkunjung ke Gedung Balaikota.
Boni yang mendengar hal itu cukup dibuat terkejut, dan kemudian berpikir karena tahu ini adalah masalah yang sangat serius jika memang benar.
"Aku tidak begitu menyangka kalau memang mereka memiliki koneksi di internal kita," ucap Boni sembari mengatupkan kedua tangannya di atas meja.
"Aku mencurigai satu orang, sih. Prawira, mungkinkah kau bisa menyelidikinya?" tanya Garwig.
***
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Berlin menemui Asep di ruang kerja milik rekannya itu. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah komputer dengan layar monitor yang cukup besar. Pada layar monitor itu terdapat rekaman ulang kamera pengawas yang diberikan oleh Berlin kemarin.
"Bos, sepertinya orang kau cari adalah lawan kita," ucap Asep ketika menyadari kehadiran Berlin yang pada saat ini berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Lawan kita?" sahut Berlin bertanya-tanya kepada rekannya yang duduk tepat di depannya itu. Kemudian ia berpindah tepat di samping Asep.
Asep pun membuka menu lain pada layar monitor itu, dan mengambilkan sebuah identitas dari seorang pria yang tentunya sudah sangat tidak asing bagi Berlin. Pria itu adalah Nicolaus Matrix.
"Pada saat kejadian itu, sepertinya terjadi konflik internal antara keluarga besar Gates dan Matrix yang sudah terjadi cukup lama. Jujur aku tidak menemukan petunjuk soal konflik seperti apa itu."
"Namun yang jelas, komplotan pelaku di dalam rekaman ini adalah orang-orang dari Keluarga Matrix yang dipimpin atau diketuai oleh Nicolaus Matrix."
Asep memberikan sedikit penjelasan mengenai identitas pria yang ia tunjukkan kepada Berlin.
"Bos, apa yang akan kau lakukan selanjutnya setelah mengetahui ini?" tanya Asep menoleh dan melihat Berlin yang berdiri tepat di samping kursinya.
Tatapan Berlin benar-benar tajam masih tertuju pada identitas diri milik Nicolaus yang terpampang pada layar monitor itu. Mendengar pertanyaan itu, ia pun menjawab, "aku akan menemuinya," jawabnya dengan nada dan sikap berbicara yang terlihat sangat dingin. Meskipun Berlin tidak begitu memperlihatkan emosionalnya ketika mengetahui ternyata Nicolaus dalang di balik tragedi itu. Namun tidak ada yang tahu apa yang ia simpan di dalam hatinya yang sudah cukup panas itu.
Mendengar jawaban singkat itu, Asep sendiri tidak dapat mencegah keputusan Berlin. Meskipun dirinya sebagai rekan yang sudah mengenal Berlin sejak lama bahkan sebelum Ashgard berdiri, dirinya hanya mengikuti keputusan terbaik yang diambil oleh Berlin saja.
***
Pukul 16:00 sore.
"Hari ini adalah hari pertama, awal permainan kita. Kita akan menjalankan permainan ini secara perlahan, tanpa harus terburu-buru untuk mengeksekusi setiap aksi dan rencana."
Doma berbicara di depan sebuah perkumpulan yang terdiri dari pasukan aliansi. Dua kelompok besar yang dipimpin oleh Felix Alarico dan Kibo Gates Matrix tengah berkumpul di tempat ini. Di tempat lapang yang sangat luas dan tepat di depan dari sebuah gudang yang cukup besar bagaikan hanggar.
"Aku tahu kalau kalian sudah tidak sabar untuk melakukan berbagai aksi nantinya. Namun, santai saja. Clone Nostra tengah mempersiapkannya untuk kalian agar dapat melakukan aksi kalian dengan sepuasnya."
__ADS_1
Dengan suara yang lantang, Doma berjalan mondar-mandir di depan banyak orang dari tiga kelompok kriminal itu. Tepat di belakangnya terdapat seorang pria yang rupanya adalah Farres yang berdiri diam di sana.
Doma menghentikan langkahnya dan kemudian berbicara dengan nada yang cukup rendah. "Clone Nostra tidak akan pernah mengecewakan kalian, apapun yang kalian butuhkan akan kami sediakan. Yang kami inginkan hanyalah kesetiaan kalian! Jika ada pengkhianatan di antara kerja sama ini, maka ... kami tidak akan segan untuk memberikan pelajaran."
Setelah berbicara seperti itu dengan nada dan sikap berbicara yang terkesan cukup kejam. Doma berjalan pergi dari sana memasuki gudang yang dijaga ketat oleh banyak sekali anak buah Clone Nostra. Farres juga berjalan mengikuti dirinya tepat di belakangnya.
Ketika berada di dalam gudang atau lebih tepat jika disebut hanggar itu. Farres berbicara, "bos, beberapa koneksi orang dalam kita sepertinya sudah dicurigai, salah satunya koneksi kita yang berada di Gedung Balaikota."
Doma menghentikan langkahnya dan berkata, "informasi yang bagus, terima kasih," ucapnya dengan sikap yang begitu santai seolah tidak mendengar masalah apapun.
Setelah mendengar informasi tersebut. Dirinya pun meneruskan informasi itu kepada Tokyo yang masih berada di Pulau La Luna bersama kekasihnya dan sebagian orang-orang Clone Nostra.
Beberapa waktu kemudian. Informasi yang diberikan oleh Doma sampai kepada Tokyo. "Sesuai dengan prediksi, mereka pasti akan dicurigai," ucapnya ketika duduk santai di dalam ruang pribadinya.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan, sayang?" tanya Karina berjalan menghampiri pria itu, dan kemudian duduk tepat di atas pangkuan sang kekasih sebelum akhirnya mendaratkan kecupan mesra pada pipi milik lelakinya.
"Cukup jalankan saja sesuai dengan rencana, ini hanyalah masalah dasar." Tokyo memberikan jawaban dan menganggap masalah ini hanyalah masalah sepele.
"Kini ... kekuatan kita sudah melebihi para aparat itu, jadi ... tidak perlu khawatir," lanjutnya kemudian menghela napas dan merangkul erat pinggul sang kekasih yang kini ada di atas pangkuannya.
Tokyo terlihat begitu tenang, meskipun ia tahu apa saja yang akan Clone Nostra hadapi kedepannya. Ia tidak begitu mengkhawatirkan soal lawan atau musuh yang akan ia lawan yang kebanyakan adalah pihak berwajib.
Namun tetap saja, ada satu hal yang tentu tidak bisa ia anggap sepele, yaitu pengganggu yang tidak diharapkan seperti Ashgard. Apalagi ditambah Nicolaus menyimpan dendam terhadap mereka, terutama kepada ketua Ashgard yaitu Berlin. Maka tentu ini dapat menjadikan masalah tersendiri untuk Clone Nostra.
.
__ADS_1
Bersambung.