Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Panas, Sesak #87


__ADS_3

"Berlin, mengapa kamu mengambil keputusan itu? Bukankah pulau itu tempat yang berbahaya? Banyak berita tidak baik berasal dari sana."


"Lalu berapa lama jika kamu akan pergi ke sana?"


"Namun ... yang ku inginkan hanyalah satu, aku ingin ... tidak terjadi ... sesuatu yang buruk padamu, Berlin."


"Kamu jahat, Berlin. Kamu lebih mementingkan egomu dibandingkan keselamatan dirimu. Kamu juga nggak mikirin perasaan ku bakal gimana nantinya jika terjadi sesuatu yang buruk padamu."


"Berlin, kamu tidak ingin mengurungkan niatmu ...?" tatapan Nadia begitu menyimpan harapan dengan pertanyaan yang ia utarakan.


"bisakah aku memohon satu hal padamu sebelum kamu berangkat?"


"Kumohon ... jangan melakukan hal yang gegabah di sana, jagalah dirimu dan keselamatan mu."


Nadia sedikit menunduk sembari mengelus perut besar miliknya sendiri sembari melanjutkan perkataannya, "aku -- lebih tepatnya kami ... menunggu kedatanganmu di rumah, Berlin," lanjutnya sembari kembali mengangkat kepalanya dan menatap Berlin dalam-dalam.


...


DRAAPP!!!


Berlin terbangun setelah secara tiba-tiba terlintas dan terbanyang banyak hal tentang Nadia di dalam benaknya, apa yang dia ucapkan dan apa yang dia harapkan untuknya.


"Aduh, duh! Uhuk!"


Ketika Berlin tersadar, ia menyadari kalau dirinya sedang terjebak di dalam reruntuhan vila yang terbakar itu. Ia menyingkirkan beberapa puing-puing kecil yang menimpa tubuhnya.


"Tidak terbakar?"


Dirinya dibuat terkejut ketika jubah hitam yang ia kenakan bersentuhan berkali-kali dengan api yang membara di sekitar dirinya, namun jubah tersebut tidak terbakar. Bahkan ketika ledakan dan beberapa puing-puing tajam terhempas ke arahnya. Tubuhnya terlindungi oleh jubah tersebut, bahkan jubah itu tidak tergores sama sekali. Namun tetap saja beberapa benda tajam berhasil menggores pipi sebelah kanannya dan membuatnya berdarah.


"Sial, aku kehilangannya," celetuk Berlin ketika meraba sarung pistol yang bergelantung di pinggangnya, namun ia tidak menemukan adanya senjata api tersebut di sana.


Udara panas dan asap hitam yang cukup tebal membuatnya cukup sesak untuk bernapas. Berlin harus segera mencari jalan keluar di antara puing-puing bangunan yang panas itu, dan di antara si jago merah yang masih mengganas.


Namun ketika ia berusaha untuk mencari jalan keluar yang entah berada di mana karena puing-puing yang runtuh beserta asap yang membuatnya sulit untuk bernapas. Tiba-tiba saja langkahnya harus dihentikan oleh seseorang yang muncul dari balik puing-puing yang terbakar di hadapannya.

__ADS_1


Pria itu melangkah perlahan ke hadapan Berlin dengan kondisi tangan kanan memegangi bahu kirinya yang berdarah akibat luka tembak yang cukup dalam, sedangkan tangan kiri menodongkan pistol ke arah Berlin.


"Tak ku sangka ternyata kau masih bisa bertahan dari apa yang baru saja terjadi," ucap pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Nicolaus. Meskipun bahu kirinya terluka, namun Nicolaus tetap saja memaksakan dirinya untuk mengangkat lengannya dan menodongkan senjata api itu ke arah Berlin.


Berlin menyunggingkan sedikit senyumannya seraya berkata, "mencoba trik lama, huh?"


"Waktu Mafioso mungkin aku gagal untuk menghabisimu, namun tidak untuk kali ini!"


Nicolaus mengetahui bahwa Berlin tidak memiliki senjata untuk melakukan perlawanan kepadanya. Maka dari itu ia begitu optimis bahwa dirinya dapat dengan mudahnya melumpuhkan Berlin di tempat itu juga.


Tidak peduli dengan kondisi sekitar yang begitu panas membara, ditambah asap hitam yang cukup tebal menyesakkan dada. Nicolaus tetap saja ingin untuk menghabisi atau membunuh Berlin di sana.


"Selamat tinggal, Berlin." Nicolaus mengencangkan jari jemarinya dan bersiap untuk menarik pelatuk pistolnya.


KreekK ...!


BRAAKK ...!!!!


Namun tindakan Nicolaus tiba-tiba saja digagalkan oleh sebuah kayu terbakar yang runtuh dan menimpa tepat di belakangnya. Akibat hal tersebut, baju bagian belakang Nicolaus sedikit terbakar terkena percikan api.


"ARGHH!!"


Nicolaus mengerang kesakitan ketika segenggam abu yang dibawa oleh Berlin dilemparkan ke arahnya, dan mengenai tepat di kedua bola matanya.


BUGHHH!!


Berlin langsung menendang keras tangan kiri milik Nicolaus yang mengakibatkan tangannya patah serta pistol yang dia bawa terlempar ke arah kobaran api di dekatnya.


"Nico, yang ada aku tidak akan melepaskanmu untuk kali ini!" ucap Berlin ketika meraih dan mencengkeram erat leher milik pria itu.


"Kau ...!!!" kedua mata Nicolaus rasanya tertutup rapat akibat abu yang dilemparkan oleh Berlin ke arahnya. Ia cukup kesulitan untuk bernapas dan berbicara, apalagi kondisinya sedang dicekik erat oleh salah satu tangan milik Berlin.


Merasa benci dan kesal karena harus bertatapan dengan Nicolaus dengan cukup dekat. Berlin mengangkat tubuh pria itu dan kemudian melemparnya sekuat tenaga, yang mengakibatkan Nicolaus membentur reruntuhan yang masih terbakar api dengan sangat keras.


"ARGHH!! SIALAN! PANAS ...!!!"

__ADS_1


Berlin tersenyum sinis dan kemudian tertawa melihat pria yang paling ia benci mengerang kepanasan dan kesakitan. Orang yang membuatnya kehilangan kedua orang tuanya, dan orang yang hampir membuatnya kehilangan orang-orang berharganya lagi. Kini mengerang kesakitan dan kepanasan berkat dirinya.


Perlahan ia melangkah dan mendekati Nicolaus yang sudah setengah melepuh dan berdarah itu. Melihat kedatangan Berlin, Nicolaus sudah pasrah bahkan sempat berteriak, "bunuh aku! Bukankah itu yang kau inginkan?" cetusnya dengan cukup ketakutan melihat ekspresi dingin nan kejam yang ditunjukkan oleh Berlin. Ekspresi yang seolah menyimpan hasrat untuk menyiksa seseorang hingga mencapai titik puas atau hingga seseorang yang disiksa telah tewas.


"Tenanglah, aku tidak akan membiarkanmu mati di sini, Nicolaus. Karena algojo yang akan mengeksekusi dirimu bukanlah aku," ucap Berlin dengan intonasi bicara rendah dan dengan tatapan tajam.


"Berlin!"


"Bos, kau baik-baik saja?!"


Suara kedua rekannya yang sangat tidak asing di telinganya tiba-tiba saja terdengar. Benar saja, Adam dan Asep berlari ke arahnya di antara reruntuhan yang membara itu. Mereka berdua dibuat terkejut dengan keberadaan Nicolaus yang ternyata masih hidup. Mereka menduga Nicolaus tewas akibat tindakannya sendiri yang membuat ledakan hebat itu. Namun ternyata dugaan kedua rekan kepercayaannya salah.


"Apa kau terluka?" tanya Adam menghampiri Berlin dengan penuh kekhawatiran.


Berlin menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, "amankan dan bawa dia!" pintanya sembari menunjuk ke arah Nicolaus yang masih tersungkur di sana.


Asep pun segera menegakkan Nicolaus untuk berdiri dan kemudian memaksanya untuk tertunduk dengan kedua tangan di belakang. Kedua matanya sempat melihat sebuah luka tembak yang terukir pada bahu kirinya. Dirinya tak menyangka ternyata tembakan yang sempat ia luncurkan tidak sampai membuat Nicolaus terbunuh.


"Uhuk! Uhukk!!"


Di tengah Berlin berjalan bersama dengan kedua rekannya dan juga Nicolaus yang hanya bisa tertunduk serta terdiam, apalagi kedua matanya tidak dapat terbuka akibat abu yang dilemparkan oleh Berlin.


Tiba-tiba saja Berlin sempoyongan dan kehilangan keseimbangan tubuhnya. Napasnya begitu sesak seolah kehabisan oksigen akibat dari tadi menghirup asap.


"Bos! Bertahanlah! Kita akan segera keluar dari kobaran ini." Adam langsung membantu menuntun Berlin untuk berjalan.


Namun kesadaran Berlin perlaha menurun dan semakin menurun. Napasnya terasa sangat sesak seolah oksigen dalam dirinya sudah habis, ditambah kepalanya juga terasa cukup pusing.


"Berlin, sadarlah! Pintu keluar ada di depan kita, jadi bertahanlah!"


Meski Adam dan Asep sempat meneriaki dirinya. Namun suara tersebut seolah menjauh, disusul dengan pandangannya yang semakin gelap.


"Berlin ...! Berlin!"


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2