
Keempat rekan Berlin termasuk dua aparat yang bersamanya langsung menodongkan senjata api yang mereka bawa ke arah Tokyo dan Farres. Sedangkan Berlin sendiri hanya berdiri di belakang mereka semua, bersama dengan Kimmy yang dengan sigap langsung memapahnya ketika hampir kehilangan keseimbangan.
"Apakah kalian yakin dengan ini?" celetuk Tokyo bertanya.
"Jika kau menembak, maka kami akan pastikan kau mati di sini!" sahut Adam dengan tegas, pistol miliknya masih terus membidik tepat ke arah kepala milik Tokyo El Claunius.
"Baiklah ...!" Dengan sikapnya yang santai. Tiba-tiba saja Tokyo menurunkan todongan pistolnya, melepaskannya hingga senjata api tersebut jatuh ke lantai, dan kemudian mengangkat kedua tangannya sebagai tanda penyerahan diri.
Apa yang dilakukan oleh Tokyo tentu langsung membuat rekan-rekan Berlin beserta Prime dan Flix kebingungan. Tak hanya mereka saja yang dibuat bingung dengan keputusan Tokyo yang bisa dibilang tidak diduga-duga. Namun Farres yang berdiri tepat di sisi Tokyo juga sangat dibuat kaget dan bingung.
"Tu-tunggu! Hei, apa yang kau lakukan?! Kau menyerahkan diri begitu saja, huh?!" cetus Farres mendengus kesal dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut dengan keputusan yang dibuat oleh Tokyo.
Farres langsung berada di hadapan Tokyo, dan menarik kasar kedua kerah jas berwarna putih milik pria itu sembari berbicara, "mereka sudah datang, dan semuanya sesuai dengan rencana! Mengapa kau memutuskan untuk mengangkat tangan dan tunduk kepada mereka?!!"
Namun apa yang dilakukan oleh Farres langsung dihentikan dengan adanya sebuah senapan serbu milik Prime yang kini moncong senjata menempel tepat pada punggung milik Farres.
"Jangan bergerak!" titah Prime.
Dengan sigap, Prime dan Flix langsung mengambil tindakan dengan meringkus dan memborgol sosok Tokyo dan Farres di tempat. Sedangkan beberapa rekan Berlin menghampiri sosok Boni di sudut ruangan, dan menarik paksa walikota itu tanpa melepaskan ikatan yang mengikat kuat kedua tangan dan kakinya.
"Apakah baiknya kalau kalian melepaskan ikatanku terlebih dahulu?" ucap Boni kepada dua rekan Berlin yang menyeret paksa dirinya.
"Diam saja! Mau aku lepaskan dengan timah panas? Paling efek sampingnya tembakan itu mengenai tubuhmu, sih." Tiba-tiba saja Aryo menjawab tanpa harus melihat ke arah Boni yang ia tarik dan seret. Sosok walikota itu di detik ini seolah tidak memiliki harga diri lagi, setelah Berlin mengecapnya sebagai penghianat dan langsung dipercayai oleh rekan-rekannya.
"Bawa mereka ke atas!" titah Berlin kepada Prime dan juga Flix yang meringkus Farres dan Tokyo. Dari raut wajahnya, tampaknya Berlin memiliki sebuah rencana tersendiri atas tertangkapnya Tokyo El Claunius itu. Dirinya tidak peduli dengan kehadiran serta sosok bernama Boni Jackson yang saat ini berada di ruang lingkup yang sama.
***
__ADS_1
"Di mana petinggi kalian? Katakan!" teriak Carlos di tengah-tengah ributnya suara-suara baku tembak yang masih terjadi.
Carlos menghampiri dan melewati beberapa aparat di halaman depan yang tengah terus melakukan perlawanan terhadap gempuran serangan yang diberikan oleh Cassano dan Red Rascals.
Laki-laki itu berlari menuju ke dalam gedung, dan hendak menemui sosok yang ingin ia temui yakni Garwig ataupun Prawira. Ketika dirinya sampai di aula utama gedung tersebut, Carlos langsung dapat menemui Prawira yang terlihat tengah mencari orang di sana.
"Carlos?! Apa yang kau lakukan di sini?! Dan mengapa kau bisa di sini?!!" Prawira dibuat sangat terkejut dengan kehadiran Carlos Gates Matrix di gedung itu. Ia sangat terkejut dan benar-benar tidak menyangka akan kehadiran laki-laki tersebut.
"Aku bisa jelaskan nanti, tetapi selain dari itu ada yang lebih penting lagi!" sahut Carlos.
"Ada apa? Katakan!" ucap Prawira.
"Siapapun yang mengirim pasukan khusus untuk menyerang mereka dari belakang, perintahkan mereka untuk mundur! Karena Cassano menyiapkan rencana yang buruk, dan itu dapat membunuh mereka semua di sana."
"Apa yang kau katakan?! Rencana apa yang kau maksud?" sahut Prawira bingung dengan apa yang dikatakan oleh Carlos. Ia terlihat tidak begitu percaya, lantaran posisi dari pasukan khusus yang menyerang sangatlah menguntungkan dan berhasil menghabisi banyak dari mereka.
BOOMM ..!!! BOOOMMM ...!!!
Pasukan yang dikirim dan diterjunkan oleh Garwig untuk mengembalikkan keadaan, kini malah terkepung dan dibombardir berkali-kali oleh komplotan berjaket ungu. Beberapa aparat dari pasukan khusus itu terlihat ada yang tergeletak menjadi korban, namun juga masih ada yang selamat tampaknya dengan langsung masuk ke dalam kendaraan militer mereka.
"AWAS!"
DUAARR ...!!!
Sebuah roket peledak meluncur dan menghantam tepat di sisi kanan pintu utama gedung, tempat di mana Prawira dan Carlos berdiri saat ini.
Namun mereka berdua beruntung karena sempat melompat menjauh ketika sebuah ledakan terjadi dan meruntuhkan bagian pintu utama gedung tersebut.
__ADS_1
"Mereka tidak akan bisa bertahan lama di sana, jika tidak kita bantu!" ucap Carlos yang kini berlindung di balik sebuah reruntuhan bangunan yang ada di pinggir halaman depan gedung tersebut.
Terlihat empat kendaraan milik pasukan khusus yang saat ini benar-benar digempur habis-habisan oleh personel dari Cassano. Sedangkan orang-orang dari Red Rascals terus saja memberikan penyerangan secara telak ke arah gedung.
Mobil-mobil atau kendaraan yang digunakan oleh pasukan milik militer itu memang tahan terhadap berbagai hantaman peluru dan ledakan. Namun apakah dengan begitu mereka dapat bertahan lama? Gempuran dan serangan yang dilakukan oleh Cassano benar-benar dilakukan secara masif, bahkan tidak ada waktu bagi kelompok militer itu untuk memberikan perlawanan.
"Meskipun mobil yang mereka pakai memiliki ketahanan yang luar biasa, tetapi aku tidak yakin ketahanan itu dapat bertahan lama dan tidak berkurang," lanjut Carlos.
Prawira beranjak pergi begitu saja dengan sebuah pistol di tangannya, sesaat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Carlos. Ia tampak memiliki sebuah rencana untuk menangani situasi tersebut.
Setelah Prawira pergi darinya. Carlos kembali bangkit dan beranjak masuk ke dalam gedung dengan satu tujuan, yakni mencari keberadaan saudaranya dan kemudian menemuinya serta memastikan keadaannya. Dirinya menduga dan menerka-nerka kalau Berlin pasti akan bertindak melakukan sesuatu.
***
"Sial, apakah benda itu tidak dapat digunakan untuk menyerang?!" dengus kesal dari seorang Asep yang sedari tadi terus mengendalikan pesawat tanpa awak milik kemiliteran.
Posisi dan lokasinya berada saat ini di sebuah taman yang terletak di pusat kota. Dirinya dipindahkan dan dibawa oleh pihak aparat dari taman perumahan elite yang berada cukup dekat dengan Gedung Balaikota, menuju ke taman pusat kota yang berada cukup jauh dari area Balaikota dengan alasan keamanan.
"Sebenarnya bisa, namun fitur tersebut belum pernah digunakan. Bahkan saya saja belum pernah menggunakannya," sahut seorang pria berseragam militer yang duduk tepat di sebelahnya, dan mengendalikan sebuah tuas yang mirip dengan tuas yang saat ini tengah digenggam oleh Asep.
"Oh, ya? Tunjukkan fiturnya!" sahut Asep terlihat sempat melirik tajam ke arah sampingnya, sebelum kemudian kembali melihat ke arah layar monitor yang ada tepat di depan matanya.
"Tetapi saya tidak mendapatkan izin untuk itu," jawab aparat itu.
"Kau belum pernah mencobanya, dan kau penasaran untuk mencobanya, 'kan?" sahut Asep terlihat ingin menggoda aparat di sampingnya untuk melanggar aturan.
Lirikan Asep tajam dan serius ke arah aparat yang duduk di sebuah kursi di sampingnya sebelum akhirnya berkata, "lakukan dan tunjukkan cara menggunakan fiturnya padaku! Soal nanti Garwig atau petinggimu itu akan menghukum mu, biar aku yang menanganinya."
__ADS_1
.
Bersambung.