
Pada sore hari, tepatnya pukul empat sore. Prime bersama regunya telah sampai, bahkan mereka sudah sampai di pulau sejak dua jam yang lalu. Setelah berlabuh di pulau tropis yang sangat indah itu. Mereka langsung mengunjungi sebuah pemukiman kecil yang letaknya tak jauh dari dermaga. Hanya memerlukan waktu lima belas menit saja.
"Sepertinya kalian sangat waspada sekali, ya?" cetus Prime ketika berjalan mengikuti langkah dari seorang pria yang merupakan nelayan yang mengantar regunya.
Sepanjang ia berjalan, dan bahkan sampai ke pemukiman tersebut. Lirikan mata Prime tak jauh-jauh dari beberapa warga yang tampak sangat waspada terhadap pendatang, terutama bagi orang yang mengenakan baju putih. Bahkan beberapa penduduk setempat sempat menghentikan langkah dari dua orang turis asing yang mengenakan baju berwarna putih.
"Iya, beginilah kondisi kami selama 23 tahun," jawab nelayan itu.
Sesampainya di pemukiman kecil dengan rumah-rumah sederhana, bahkan mayoritas hanyalah gubuk. Prime dan regunya disambut sangat ramah dan meriah. Bahkan sambutan mereka sudah seperti sedang menyambut sekelompok pahlawan yang datang.
Langkah demi langkah, Prime pun akhirnya sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Rumah tersebut adalah rumah milik sang nelayan, yang ternyata juga merupakan kepala desa.
"Um ... beginilah kondisi kami, maaf jika tidak begitu membuat kalian nyaman," ucap nelayan itu dengan sangat sopan kepada Prime.
Prime tersenyum dan berkata, "tidak masalah, kami sudah terbiasa dengan seperti ini."
"Oh ya, kalian bisa mendirikan tenda di sebelah sana," cetus nelayan itu seraya menujuk ke sebuah tanah lapang yang cukup luas di tepi pemukiman.
Prime pun langsung menyuruh regunya untuk membangun sebuah kamp di atas tanah lapang itu. Seraya mereka membangun, tak lupa mereka berinteraksi dan terus mendekatkan diri dengan penduduk di sekitar. Begitu pula dengan Prime.
"Ngomong-ngomong, saya belum mengenal nama anda," ucap Prime kepada sang nelayan.
Nelayan itu sedikit terkejut, lantaran dirinya juga lupa untuk memperkenalkan diri. "Oh iya, anda bisa memanggil saya Mavi, saya sudah menjadi nelayan sejak umur 17 tahun hingga sekarang," ucapnya.
"Salam kenal, Prime. Senang bisa bekerjasama dengan anda." Kemudian Prime tersenyum dan langsung menjabat tangan milik Mavi.
Setelah itu, Mavi melangkah menuju ujung dari tanah lapang tersedia. Diikuti oleh Prime di belakangnya. Mereka pun sampai dan langsung bertatapan dengan bibir pantai dengan pasir putihnya, serta birunya air laut yang berkilauan memantulkan sinar mentari. Kondisi air laut dan pantai siang ini cukup tenang, diikuti dengan angin laut yang berhembus tidak terlalu kencang namun lembut.
__ADS_1
"Ini adalah bibir pantai di bagian utara pulau ini, dan tadi kita berlabuh di pintu masuk utara pulau. Dari sini pun kita dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam," ucap Mavi seraya menunjuk ke arah timur dan barat.
"Dan ... hanya wilayah utara ini yang tersisa untuk kami," lanjutnya. Pada raut wajahnya terpampang jelas kesedihan yang cukup mendalam.
Prime hanya diam ketika berdiri di samping Mavi, dan mendengarkannya berbicara. Dirinya tidak begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada pulau ini. Tetapi dirinya sangat ikut berempati dengan kesedihan yang dirasakan Mavi.
"Apa saja yang Clone Nostra telah perbuat di pulau ini?" tanya Prime.
Mavi justru terkejut dan menyuruh untuk Prime berbisik ketika menyebut nama sindikat tersebut. "Sstt!!! Jangan keras-keras menyebutkan nama itu!" ucapnya dengan intonasi berbisik dan satu telunjuk ia letakkan di bibirnya. Matanya melirik ke sana ke mari, seolah memastikan tidak ada yang mendengar Prime berbicara. Kekhawatiran bercampur ketakutan tampak sangat jelas di matanya.
"Mereka ... mereka menguasai hampir 95% pulau, dan ... memperbudak beberapa dari kami yang tidak sempat menyelamatkan diri ke wilayah utara pulau." Mavi tertunduk ketika mengatakannya. Matanya cukup berkaca-kaca, dan raut muka yang muram itu tidak dapat disembunyikan lagi.
Prime hanya diam mendengar hal tersebut. Ia beralih mendekati sebuah pohon kelapa yang tak jauh darinya berada, dan bersandar pada pohon tersebut.
***
Malam, pukul tujuh. Di tengah padatnya perkotaan. Tidak terdapat tanda-tanda dari orang-orang jahat yang akan melakukan tindakan kriminal. Malam yang damai. Diwarnai dengan hiruk-pikuk orang-orang yang sibuk dengan diri mereka ataupun kesibukan mereka masing-masing.
Kehadiran pihak kepolisian yang terus berpatroli itu, tentu membuat masyarakat jauh merasa lebih aman dan nyaman untuk melakukan aktivitas mereka di malam hari ini. Namun di tengah rasa aman dan nyaman itu. Terdapat rasa resah dan gelisah untuk melangkah serta membuat keputusan.
Orang-orang berjaket merah, lebih tepatnya adalah Red Rascals. Di malam ini mereka dibuat tidak bisa bergerak ke mana-mana. Mereka hanya dapat bersembunyi dan berdiam diri di sebuah tempat yang sangat terpencil di pinggiran kota. Hanya tempat itu yang tidak tersentuh dan terjamah oleh para aparat yang sedang berpatroli. Kecuali, jika ada yang membocorkan atau melaporkan tempat tersebut ke polisi. Maka akan beda cerita.
Sekalinya mereka keluar dari wilayah mereka. Tentu mereka akan langsung dapat diketahui aparat dengan mudah. Apalagi identitas mereka sebagai Red Rascals, dan sebagai kelompok yang beraliansi dengan Clone Nostra sudah diketahui oleh pihak berwajib.
"Tch! Aku sangat bosan dengan situasi seperti ini!" seorang pria berjaket merah tampak sedang berdecak kesal dan menggerutu dengan sendirinya.
"Kita akan mengikuti cara main Clone Nostra, maka dari itu temponya sangat lambat seperti sekarang." Tiba-tiba saja terdengar suara pria dengan intonasi yang berat nan dingin. Pria berjaket merah itu berjalan mendekati rekannya yang sedang kesal dan menggerutu dengan sendirinya.
__ADS_1
Pria itu rupanya adalah orang yang sangat penting bagi Red Rascals, atau bisa dibilang dialah ketua dari kelompok tersebut.
"Tetapi kita tidak bisa terus menjadi bawahan dan suruhan mereka terus, Felix. Apakah kita akan terus mau menjadi budak milik kartel itu?"
Tiba-tiba terdengar suara lain yaitu suara dari seorang wanita. Wanita itu melangkah mendekati Felix, dan secara langsung melingkarkan tangannya ke leher milik Felix serta mencium pipinya dengan penuh kelembutan. Wanita itu memang sangat cantik. Namun di balik parasnya yang cantik, tampak jelas menyimpan aura jahat dan licik tersendiri.
"Tentu tidak. Aku memiliki tujuanku sendiri, Sayang. Namun, kita harus mengikuti Clone Nostra terlebih dahulu di awal. Lagipula, kita dibayar dengan bayaran yang sangat pantas kita dapatkan dari mereka." Felix menjawab perkataan dari wanita yang ia panggil dengan panggilan "sayang" itu.
***
Kembali ke Pulau La Luna. Clone Nostra tampak sedang sibuk. Memang, seperti biasa dan hampir selalu mereka akan terus sibuk. Sebagai sindikat atau sebuah kelompok yang memiliki "bisnis" yang banyak dan di mana-mana. Clone Nostra hampir tidak pernah tidur, bahkan mungkin juga hampir tidak ada waktu untuk beristirahat.
Di malam ini, tampak sangat banyak sekali anak buah Tokyo di halaman vila mewahnya. Orang-orang yang memakai pakaian sama yaitu tuksedo berwarna putih. Mereka tampak sedang sibuk memindahkan beberapa kotak kayu, dan beberapa persenjataan yang terlihat jelas ke gudang senjata.
Gudang senjata tersebut terletak tepat di sebelah vila. Hanya perlu sedikit menuruni bukit kecil di mana vila itu berada, maka akan langsung sampai ke gudang senjata itu.
"Oi! Hati-hati saat membawanya! Jika tidak maka kalian akan meledak, jangan sampai vila ini rubuh gara-gara kecerobohan kalian." Suara Tokyo terdengar jelas dengan intonasi tegas. Ia berdiri di balkon, dan memberi peringatan kepada dua orang di halaman yang sedang susah payah membawa kotak kayu berukuran besar.
"Si-siap, Bos!" Dengan cukup ketar-ketir ketika membawanya, karena mendengar benda di dalam kotak ini dapat meledak. Kedua orang itu menjadi sangat hati-hati dalam melangkahkan kaki mereka menuju gudang senjata.
Tokyo hanya bersandar dan diam di balkon lantai dua. Namun meski begitu, matanya tidak bisa diam. Ia terus memantau anak-anak buahnya yang terlihat sedang sibuk di halaman serta gudang senjatanya. Jumlah mereka sangatlah ramai, bahkan mungkin hampir ratusan orang ada di vilanya malam ini. Mereka semua mengenakan pakaian yang sama yaitu tuksedo putih, meksipun ada yang hanya mengenakan hoodie. Namun warnanya tetaplah sama, warna putih.
"Kurasa tujuanku bisa tercapai, jika aku menggunakan semua kuasa yang ku punya," gumam Tokyo dengan sendirinya. Pandanganya tertuju kepada orang-orangnya yang tampak sedang menata rapi kotak-kotak kayu di depan gudang senjatanya. Ya, gudang senjata itu dapat terlihat dengan jelas melalui balkon di mana saat ini dirinya berada.
Angin malam berembus cukup kencang di atas situ. Meskipun dinginnya malam mulai merasuk ke tulang. Namun Tokyo sama sekali tidak merasakan kedinginan tersebut. Karena memang hati dan dirinya sudah sangatlah dingin, bahkan mungkin beku.
Senyuman tipis namun dengan ekspresi licik terukir. Tatapannya tajam. Kala ini, pikirannya sedang melayang ke mana-mana. Yang ia pikirkan hanyalah segudang rencana jahat, serta langkah selanjutnya yang akan ia ambil. Dirinya bersama Clone Nostra sangat berambisi, akan mengambil langkah tersebut. Apapun yang terjadi. Ambisinya yang membara akan sangat sulit dipadamkan.
__ADS_1
.
Bersambung.