
Ashgard perlahan bergerak maju dengan serangan yang tidak mereka tahan-tahan lagi. Ashgard benar-benar menembak dan melumpuhkan hampir semua orang berjaket merah yang terjebak di tengah jalan dan hanya memanfaatkan kendaraan-kendaraan mereka yang sudah terbakar. Distrik Komersial, benar dengan apa yang dikatakan oleh Berlin. Wilayah tersebut saat ini seolah menjadi wilayah bermain Ashgard.
Waktu menunjukkan pukul dua siang tepat, dan dalam kurun waktu kurang lebih lima menit, Ashgard berhasil membereskan sekelompok pertama dari pihak Red Rascals yang ada di tengah jalan. Beberapa dari mereka masih ada yang hidup, hanya tergeletak dan terluka sangat parah. Namun itu hanya beberapa, karena yang lainnya tewas seketika ditempat.
"Kimmy, Kina, urus mereka yang terluka ...! Jika ada yang terluka dari kita, maka prioritaskan terlebih dahulu!" titah Berlin, kemudian berjalan menghampiri salah satu tubuh seorang laki-laki berjaket merah yang sudah tergeletak tak bernyawa di dekat dari sebuah mobil yang masih terselimuti oleh api.
Warna merah pada jaket yang dikenakan oleh jasad laki-laki itu semakin berwarna merah tua, darah yang keluar dari luka tembak yang ada pada dada, perut, dan paha dari jasad tersebut terus mengalir deras keluar dan perlahan bercampur luntur dengan rintik air hujan. Berlin melihatnya dari dekat, dan menyaksikan saksama wajah dari jasad tersebut dengan tatapan tajam. Wajah yang sangat asing baginya, "terlalu muda untuk seorang penjahat," gumamnya, menghela napas dan kemudian memandang ke arah Timur.
Di arah Timur sana, terlihat dan masih terdengar jelas bahwa baku tembak sedang terjadi. Kedua mata Berlin juga melihat kehadiran Clone Nostra dan Cassano yang terlihat sungguh bersikeras menghajar serta menghabisi Red Rascals. Berlin melihat kedua kelompok kriminal yang bekerja sama itu seolah dan terlihat memiliki dendam atau permasalahan personal dengan Red Rascals. Tidak peduli dengan banyaknya gedung dan bangunan yang menghalangi, kedua kelompok itu terus saja maju, memanfaatkan gedung-gedung pertokoan sebagai pelindung, dan menyerang Red Rascals yang jumlahnya lebih banyak dari mereka.
"Mereka seharusnya melihat jelas kehadiran kita, namun mereka tidak menembak kita. Bagaimana menurutmu, Berlin?" cetus Adam, melangkah dan berhenti ketika sudah berada tepat di sebelah Berlin.
Berlin menoleh ke belakang, dan melihat masing-masing kondisi fisik dari rekan-rekannya. Tidak dipungkiri beberapa dari rekannya juga ada yang luka-luka, namun beruntungnya masih luka ringan dan sedang, tidak terlalu parah yang dapat membuat pergerakan mereka terhambat.
"Apakah kita hanya akan menonton, dan melihat siapa yang akan bertahan dari mereka?" lanjut Adam kembali bertanya.
__ADS_1
"Tidak, tugas kita adalah menjaga serta membereskan segala ancaman yang ditujukan kepada persidangan," sahut Berlin, kembali menoleh dan kemudian menatap ke arah Timur lalu lanjut berkata, "dari alur baku tembak yang sedang terjadi, cukup sulit untuk Clone Nostra dan Cassano dapat memenangkannya. Yang ada ... mereka yang akan dihabisi oleh Red Rascals, terlebih dari segi persenjataan jelas Red Rascals lebih diunggulkan."
"Lalu apa keputusan serta arahanmu?" tanya Adam kembali.
Berlin sempat menoleh dan melihat ke arah belakangnya, dan dirinya dapat melihat Kimmy dan Kina yang tanpa mengobati beberapa rekannya yang terluka, sebelum akhirnya mereka berdua menangani beberapa pelaku yang kritis.
"Kita akan bagi dua, jumlah total kita adalah 22 personel, dan menurutku sudah lebih cukup jika kita letakkan tiga personel untuk menjaga Kimmy dan Kina. Sisanya kita maju dan habisi Red Rascals. Bagaimana menurutmu?" Berlin berbicara, dan kemudian mengakhirinya dengan mempertanyakan pendapat Adam mengenai rencana serta keputusannya.
Adam bersedekap dan menjawab, "kurasa empat personel lebih baik, yang berarti terdapat enam orang di garis paling belakang kita, dan akan ada sembilan orang yang akan berada di garda terdepan bersama dengan delapan personel titipan itu."
"Bobi, Rony, Galang, Aryo. Kalian berempat tetap di sini, jaga Kimmy dan Kina, serta bantu mereka jika membutuhkan bantuan! Sedangkan yang lainnya, termasuk kalian para aparat, kita akan pergi dan menuntaskan sisa Red Rascals yang ada ...!" Berlin sempat berbalik badan, dan kemudian berbicara dengan lugas dan lantang di depan rekan-rekannya.
Selesai berbicara seperti itu, tatapannya kemudian tertuju kepada saudara laki-lakinya yakni Carlos yang sepanjang aksi hari ini tidak begitu mencolok, "Carlos, aku membutuhkanmu di sampingku ...!" ucapnya, tegas meminta kepada Carlos yang berdiri tak jauh dari mobil yang hangus terbakar.
"Baik," jawab Carlos, mengangguk patuh, dan kemudian melangkah untuk bisa lebih dekat di samping Berlin.
__ADS_1
***
Felix berdiri di atap dari sebuah gedung yang memiliki ketinggian lebih dari seratus meter, dan memandangi ke arah Distrik Komersial yang terlihat sangat kacau di bawah guyuran hujan yang masih tetap sama. Dari kejauhan terlihat sangat jelas meskipun kecil, kalau para anak buahnya sedang dibuat acak-acakan oleh Clone Nostra dan Cassano. Apalagi dengan dengan kehadiran sekelompok orang bermantel hitam yang tiba-tiba saja muncul dari Utara. Meski begitu, masih ada gelombang kedua yang masih ada di distrik, dan saat ini masih melakukan serangan dan baku tembak tanpa henti dengan Clone Nostra dan Cassano.
"Ini terlalu nekat dan memaksa, bukankah lebih baik kita mundur agar tidak terlalu mengalami kerugian yang lebih besar?" cetus seorang wanita yang dekat dengan dirinya sedari awal. Wanita berambut pendek sebahu dan berjaket merah itu kini berdiri tepat di sebelah Felix.
"Apakah kau mengetahui sesuatu mengenai identitas kelompok keempat?" sahut Felix, terlihat tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh rekannya, dan langsung menyahutnya dengan melemparkan pertanyaan sembari menoleh serta menatap tajam kepada wanita itu.
"Aku ragu untuk memberitahukannya kepadamu," jawab wanita itu.
Jawaban tersebut sepertinya tidak membuat Felix puas, dan justru malah membuatnya cukup kesal. Ia melihat rekannya tahu sesuatu, namun dengan sengaja menutupi sesuatu itu dari dirinya, "katakan padaku sekarang, siapa pihak keempat itu!?" tegasnya dengan kedua mata semakin tajam.
Wanita berjaket merah itu tidak terlihat takut, dan hanya menghela napas sembari merogoh saku jaket merahnya yang basah kuyup itu. Ia mengambil sebuah ponsel dari saku tersebut, menyalakannya, dan kemudian menunjukkannya kepad Felix sembari berkata, "mereka adalah Ashgard."
.
__ADS_1
Bersambung.