Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Bola Basket #211


__ADS_3

Hari terakhir untuk melakukan persiapan telah tiba, dan di hari berikutnya adalah hari di mana persidangan tersangka Tokyo El Claunius akan digelar atau dilaksanakan. Pada pagi ini, Berlin terlihat cukup santai dan tenang. Menurutnya Ashgard sudah cukup siap untuk tugasnya di hari esok. Kesiapan tersebut mencakup dari segi informasi atau pengetahuan, serta perlengkapan yang akan digunakan. Namun meski begitu, Berlin merasa harus menciptakan sentuhan terakhir agar kelompok atau timnya bisa benar-benar dikatakan siap. Dirinya telah menyiapkan serta merencanakan sesuatu yang dapat dilakukan Ashgard pada hari ini, atau lebih tepatnya sore ini.


Pada pagi ini, tepatnya satu jam setelah sarapan yakni pada pukul delapan. Nadia dikejutkan dengan sosok suaminya yang tiba-tiba saja asyik mencari barang atau sesuatu di gudang. Ia pun melangkah mendatangi gudang kecil yang terletak di sebelah tangga karena sedari tadi dirinya mendengar suara bising kardus-kardus yang berjatuhan.


"Berlin, kamu sedang cari apa, sih?" tanya Nadia berdiri di pintu gudang tersebut.


"Nah! Akhirnya ketemu jug--"


DUG!!


"Aduh!"


Ketika hendak membawa sebuah benda berbentuk bulat yang sudah berada di tangannya keluar dari gudang. Pria itu tidak memperhatikan kalau pintu gudang lebih kecil dan pendek dari tubuhnya, sehingga membuat jidatnya terbentur cukup keras ketika hendak melangkah keluar.


Nadia hanya tertawa dengan satu telapak tangan menutupi mulutnya ketika melihat kejadian yang lucu baginya, apalagi ketika melihat ekspresi Berlin yang kesakitan namun juga bercampur dengan kepuasan karena telah menemukan benda yang sedari tadi ia cari.


"Suara apa itu tadi? Mama sama Papa mendengarnya, nggak?" cetus Akira dengan wajah polosnya melangkah mendatangi mereka berdua, karena ketika anak itu menuruni tangga, tiba-tiba saja dirinya mendengar suara seperti benda tumpul yang membentur dinding, dan suara tersebut berasal dari mereka berdua.


"Eh, eng-enggak, enggak ada apa-apa, kok!" sahut Berlin, meringis sedikit kesakitan dengan satu tangan masih memegangi jidatnya.


"Papa, itu bola, ya!" seru Akira, pandangannya langsung tertuju kepada salah satu tangan Berlin yang membawa benda berbentuk bulat.


"Yup! Dan ini namanya bola basket," jawab Berlin, kemudian beranjak menuju ke halaman belakang untuk mencoba apakah bola itu masih dapat dimainkan dengan baik.


Akira terlihat sungguh antusias ketika melihat mainan itu. Langkahnya mengikuti Berlin sangatlah lekat, begitu pula dengan pandangannya yang berseri-seri terus tertuju pada bola yang masih berada di tangan Berlin.

__ADS_1


"Papa, coba dong mainin!" ucap Akira bersemangat.


Berlin pun menghentikan langkahnya ketika sudah berada di atas rerumputan lembut, lalu kemudian memantulkan bola tersebut ke atas tanah sebelum akhirnya kembali lagi ke tangannya, dan bola itu bergerak naik turun secara berulang-ulang terus seperti itu.


"Aku mau coba! Aku mau coba, dong!" Akira terlihat girang ketika melihat bola itu memantul berulang kali. Ia mengulurkan kedua tangannya dengan tatapan berseri-seri antusias ke arah Berlin.


"Tangkap!"


Perlahan Berlin melempar bola itu kepada putrinya, dan kemudian berhasil ditangkap dengan cukup sempurna, walaupun kedua tangan kecil milik Akira tidak dapat menjangkau diameter keseluruhan bola basketnya. Ya, bola itu berukuran lebih besar dari pada tubuh dari anak itu.


"Hyaa!!" Akira berseru kencang dengan mengangkat bola itu hingga berada di atas kepalanya, dan sesaat kemudian ia melemparkan bola tersebut dengan penuh semangat ke tanah. Hentakan yang terjadi sangatlah kencang, sehingga membuat bola basket itu kemudian memantul cukup tinggi. Melihat bola yang ia lempar memantul tinggi, Akira terlihat tertawa kegirangan dan segera berlari mengejar ke mana bola itu akan jatuh untuk segera ditangkapnya.


Untuk sejenak, Berlin hanya tersenyum dan berdiri diam di sana membiarkan putrinya yang sedang asyik dengan bola basket itu. Nadia melangkah mendekatinya sambil tertawa kecil melihat kelakuan putrinya ketika bermain-main dengan bola basket.


"Dia tidak tahu cara memainkannya," ucap Nadia, masih tertawa kecil, dan kemudian berakhir dengan senyuman yang terkesan sungguh lembut nan cantik.


"Biarkan saja dia bermain dengan caranya," ucap Berlin, perlahan membalikkan badannya, dan hendak beranjak menuju ke sofa ruang tengah.


"Akira, kalau cari Mama atau Papa, kami ada di ruang tengah, ya!" teriak Nadia kepada Akira yang terlihat asyik mengejar bola yang menggelinding di atas rerumputan hijau itu.


"Iya, Ma!" sahut Akira, berseru dengan wajah riangnya.


Berlin kembali ke ruang tengah, dan duduk di sofa sembari menikmati secangkir teh hangat yang ada di atas meja itu ditemani oleh sang istri.


"Ini sudah jam berapa, kok kamu belum berangkat? Emangnya nggak terlambat, apa?" tanya Nadia, sempat menoleh ke arah jam dinding yang ada tepat di atas pintu kaca halaman belakang.

__ADS_1


"Habis ini aku berangkat, setelah teh ini habis, deh." Berlin menjawab pertanyaan tersebut dengan santai, dan kemudian kembali meraih serta menyeruput teh miliknya yang masih hangat.


Nadia tertawa kecil, menoleh dan menatap dalam suaminya sembari berkata, "kamu santai sekali."


"Dibawa santai saja, sayang. Jangan terlalu tegang dan kaku, ah! Capek," sahut Berlin, meraih dan merangkul istrinya kemudian membuat kepala wanita itu berbaring di atas dada miliknya.


Nadia sedikit mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap wajah lelaki itu dari dekat, dan kemudian bertanya, "kamu enggak takut, ya?" tanyanya dengan intonasi yang terdengar sungguh rendah nan lembut.


"Takut apa? Takut kepada siapa?" sahut Berlin, melemparkan pertanyaan kembali.


"Setelah telepon asing kemarin, dan besok kamu akan bertugas," ujar bumil itu dengan pandangan yang terkesan seperti sedang banyak memikirkan sesuatu. Wajah cemasnya juga begitu terlihat, dan Berlin dapat memahami serta mengetahui hal tersebut.


Berlin membelai rambut panjang berwarna hitam pekat milik wanita itu dengan begitu lembut, "kamu tenang saja, jangan khawatir, dan jangan sampai kamu pusing memikirkannya!"


"Semua akan berjalan dengan baik-baik saja!" ucapnya dan kemudian lanjut berkata, "aku akan baik-baik saja, selama kamu selalu mendoakan yang terbaik untuk diriku, aku merasa ... aku selalu bisa menghadapi serta melalui apapun rintangan yang datang menghalangi."


Nadia tersenyum tipis dan sempat tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Ia sedikit menundukkan pandangannya, mendekatkan telinganya tepat pada dada milik lelakinya, sehingga dirinya dapat merasakan detak jantungnya yang terasa sungguh menenangkan.


"Kayaknya ... besok aku yang bertugas, tetapi kok malah kamu yang tegang?" celetuk Berlin dengan intonasi seperti sedang menggoda wanitanya.


"Ish, wajar, dong, kalau seorang istri khawatir dengan suaminya yang akan bertugas dengan risiko yang tinggi!" sahut Nadia merasa sedikit kesal dan sebal ketika mendengar intonasi bicara yang baru saja digunakan oleh suaminya. Sedangkan Berlin hanya tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Pria itu kemudian mengelus puncak kepala milik istrinya, dan sempat mendaratkan kecupan mesra pada kening milik wanita itu.


"Papa, main, yuk!!" seru Akira, berlari mendatangi Berlin di ruang tengah dengan kedua tangan membawa bola basket itu.


"Boleh, tetapi sebentar saja, ya!" sahut Berlin, tersenyum lembut, dan perlahan beranjak dari posisi nyamannya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2