
Kendaraan-kendaraan besar dan anti peluru dikerahkan, dan mereka terlihat bergerak secara masif dari Kantor Polisi Pusat. Kepolisian telah melakukan pergerakan, menuju ke Gedung Pengadilan Negeri Metro Pusat yang tentunya terletak di pusat kota. Tanpa suara sirine dan lampu rotator yang dinyalakan, pihak dari kepolisian melakukan pergerakan itu dengan senyap tanpa kebisingan selain dari suara deru mesin dari masing-masing kendaraan mereka.
Setelah personel gabungan itu dikerahkan dari kantor pusat. Kini halaman belakang itu digunakan untuk berkumpul oleh sekelompok orang dengan baju santai mereka. Mereka adalah aparat yang dipilih oleh Prawira dan dibuatkan regu khusus, dan seperti dengan apa yang disampaikan oleh Garwig di malam sebelumnya. Mereka akan didandani tanpa menggunakan seragam polisi atau aparat yang tentu akan terlihat sangat mencolok. Mereka hanya mengenakan baju santai layaknya warga biasa, namun dibalik baju-baju santai mereka tetap tersimpan atau terpasang rompi anti peluru, dan masing-masing dari mereka tetap dibekali senjata api atau lebih tepatnya pistol serta beberapa senjata tajam.
Di bawah derasnya hujan yang masih mengguyur. Prawira berdiri di depan sekelompok orang yang hanya berjumlah delapan personel itu.
"Kalian adalah orang-orang terpilih, dan akan menjalani misi atau tugas yang lebih berisiko dibandingkan hanya menjaga perimeter. Jika di antara kalian ada yang gentar dan ingin mundur atau pulang, maka sekaranglah waktu yang tepat bagi kalian untuk keluar dari barisan!" ujar Prawira, ketus dan tegas. Bahkan saking nyaring dan tegasnya, intonasi suaranya seolah berhasil mengalahkan suara derasnya air hujan.
Beberapa detik berjalan, dan Prawira hanya diam, menunggu apakah ada yang ingin mengundurkan diri atau keluar dari misi yang akan ia berikan. Apalagi mengingat tugas atau misi tersebut sudah dapat dipastikan akan memiliki tingkat berbahaya jauh lebih tinggi dibandingkan personel gabungan yang hanya menjaga cincin perimeter.
Tidak ada reaksi dari kedelapan orang yang berbaris di depannya. Mereka semua diam, dengan badan berdiri tegap membusungkan dada. Raut wajah mereka juga terlihat garang, dan tidak ada yang menyimpan rasa gentar, ragu, maupun takut.
"Baik, tugas kalian adalah berjaga dan melakukan patroli di antara masyarakat sipil, dan bisa dipastikan kalian akan diposisikan berada di luar dari perimeter yang sudah ditentukan."
"Kami mengindikasi akan terjadi sebuah penyerangan yang ditujukan untuk mengacaukan persidangan yang akan berlangsung, dan tentunya penyerangan tersebut berasal dari luar."
"Maka dari itu aku membentuk kalian sebagai regu khusus, yang tentunya kalian akan memiliki tanggung jawab besar jika penyerangan itu benar-benar terjadi."
"Karena kalian-lah garda terdepan yang akan menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi, mau itu kerusuhan ataupun berbagai kontak senjata seperti yang sudah diwaspadai."
__ADS_1
"Kalian juga dibentuk dengan tujuan yakni meminimalisir terjadinya penyerangan tersebut. Jadi sudah bisa dipastikan kalian akan memikul tanggung jawab yang sangat besar pada misi atau tugas ini."
Prawira berbicara dengan lugas, dan menjelaskan mengenai tugas atau misi serta tanggung jawab besar yang akan dipikul oleh regu khusus yang ia bentuk.
"Apakah sampai di sini kalian paham?!" tanya Prawira tegas, mengakhiri seluruh penjelasan singkatnya.
"Siap, paham!" jawab mereka serempak dengan tegas dan tegap.
Prawira mengangguk dan tersenyum tipis mendengar semangat dari para anggotanya, "tenang saja, kalian tidak akan menjalani tugas ini sendiri," ucapnya.
Sesaat setelah Prawira berbicara demikian. Dua buah mobil besar, dan empat buah motor off-road tiba-tiba saja datang memasuki halaman melalui gerbang belakang kantor polisi. Setelah kendaraan mereka terparkir rapi di sisi halaman. Mereka pun segera turun dari masing-masing kendaraan, dan berjalan melangkah mendekati Prawira secara bersamaan.
Meskipun melangkah masih setia ditemani oleh tongkat kesayangannya. Namun tidak terlihat penurunan semangat dan antusias dari Berlin. Lelaki itu langsung melangkah menghampiri Prawira, dan kemudian berjabatan tangan dengannya.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Berlin, selesai berjabat tangan. Di belakangnya terlihat keempat belas rekannya yang berkumpul dan berbaris.
"Sudah, sesuai dengan ide atau saran dari Garwig, yang katanya saran tersebut berasal dari akalmu?" jawab Prawira.
"Ya, memang benar," jawab singkat Berlin, kemudian menoleh dan melihat masing-masing wajah milik aparat-aparat tanpa seragam itu.
__ADS_1
"Aku tahu fisik mereka pasti sangat tangguh, tetapi setidaknya berikanlah mereka mantel ...! Tenang saja, orang-orang lain juga pasti mengenakan mantel seperti kita, jadi tidak akan terlalu mencolok," lanjut Berlin ketika melihat para anggota itu berdiri tegap.
"Yup! Sekalian biar sedikit ... kelihatan keren jika dilihat!" lanjut Asep dari belakang Berlin.
Prawira terkekeh kecil mendengar saran tersebut, dan kemudian menanggapinya, "baik, akan ku lengkapi mereka sesuai dengan yang kau inginkan."
"Lalu bagaimana dengan rencananya? Soal ... komando," tanya Berlin, dengan intonasi cukup memelan bahkan cukup membaur dengan suara hujan.
"Tenang saja, aku sudah mengaturnya. Mereka akan tetap satu regu dengan kalian, Ashgard. Dan kepemimpinan atau komando regu tetap berada di tanganmu, yang berarti komando mereka pun juga sama," jawab Prawira.
Berlin mengangguk pelan, melirik dan menatap tajam orang-orang dari pihak kepolisian itu. Mereka sama sekali tidak berkutik dari posisi mereka berdiri. Sangat disiplin, dan terlihat sangat tangguh serta menjanjikan.
"Aku juga sudah mempersenjatai mereka, dan juga melengkapi segala kelengkapan mereka. Lalu bagaimana dengan kalian? Apakah perlengkapan kalian masih ada yang kurang?" Prawira berbicara, dan mengalihkan topik pembicaraan di tengah ia berbicara untuk menanyakan soal kelengkapan yang dimiliki oleh Ashgard.
"Tidak perlu khawatir, kami sudah siap semua, hanya perlu tinggal jalan dan aksi untuk menjalani tugasnya saja," jawab Berlin, lugas dan sangat percaya diri karena apa yang ia katakan memang benar. Semua perlengkapan Ashgard telah siap, bahkan dari kemarin lusa atau hari kedua persiapan.
"Baik, kalau begitu ikut aku sebentar! Ada yang harus aku beritahukan kepadamu, soal posisi dan lokasi kalian nantinya," ucap Prawira, kemudian melangkah kembali ke teras bagian belakang kantor, dan kemudian berjalan masuk ke dalam kantor melalui pintu belakang. Tentunya langkahnya diikuti oleh Berlin, beserta dua orang kepercayaannya yakni Kimmy dan Asep. Sedangkan Adam menunggu di halaman belakang bersama dengan yang lain, bersama dengan kedelapan personel itu tentunya.
.
__ADS_1
Bersambung.