
Pukul tiga sore, Prawira kembali menerima laporan mengenai baku tembak yang terjadi di Distrik Komersial. Saat pertama kali mendengar laporan kedua telah sampai, dirinya langsung bergegas keluar dari ruang sidang menuju ke tenda peristirahatan yang berada tepat di sebelah tenda medis di halaman samping gedung pengadilan.
"Bagaimana situasinya?" cetus Prawira ketika pertama kali sampai meneduh di bawah tenda tersebut dan langsung bertemu dengan sekretarisnya yakni Netty.
Netty kembali melaporkan mengenai perkembangan yang terjadi di Distrik Komersial. Dirinya sudah menerima banyak laporan yang ia terima dari beberapa anggota, dan kemudian merangkum serta mencatatnya pada tablet miliknya.
"Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Ashgard telah mengambil alih situasi di Distrik Komersial," ucap Netty, kemudian menyerahkan tablet yang sedari tadi ia bawa untuk bisa dibaca serta dilihat oleh Prawira.
Prawira menerima benda tersebut, dan kemudian membaca serta melihat beberapa laporan yang sudah terlampir di layarnya. Namun di tengah pria itu membaca beberapa lampiran laporan yang ia terima, sebuah laporan susulan pun tiba-tiba saja muncul.
Seorang aparat pria yang bertugas di divisi komunikasi tiba-tiba saja datang sebuah pernyataan, "maaf menyela, tetapi kurasa ada yang perlu anda saksikan, Pak."
Prawira bersama dengan Netty pun segera mengikuti langkah dari anggotanya, keluar dari tenda, menuju ke sebuah karavan milik kepolisian yang terparkir di halaman depan. Di dalam karavan tersebut terdapat beberapa aparat lain yang memang meja kerja mereka ada di dalam mobil karavan itu.
"Lima menit yang lalu, kami memantau adanya pertemuan antar kelompok yang terjadi setelah baku tembak di Distrik Komersial selesai," lapor aparat yang mengantar Prawira dan Netty sampai ke dalam mobil karavan.
Di dalam mobil tersebut terdapat beberapa layar monitor, dan di salah satu dari sekian layar tersebut terlihat adanya rekaman gambar yang diambil dari helikopter milik kepolisian. Pada rekaman gambar yang diperlihatkan, terlihat terdapat dua orang pria dengan mantel hitam yang tampak berdiri berhadapan dengan orang-orang dari Clone Nostra dan Cassano. Lokasi berada tepat di depan pusat perbelanjaan pada distrik tersebut.
__ADS_1
"Prawira, lihat ...!" Netty menunjuk ke salah satu dari kedua pria dengan mantel hitam itu, dan mendapati kalau pria yang ia tunjuk itu berdiri dengan alat bantu sebuah tongkat.
Prawira menatap serius dan mengangguk, "jelas sekali, itu dia," ucapnya. Meskipun tidak terlihat begitu jelas wajah dari kedua pria yang ada di sana, karena rekaman tersebut diambil dari kejauhan dan ketinggian. Namun berdasarkan gesture serta perawakan yang ia lihat, dirinya sangat tahu betul siapa kedua laki-laki yang berdiri di sana, terutama pria yang menggunakan tongkat itu.
"Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu di sana, namun kita tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan," gumam Netty sembari perlahan melipat kedua lengannya.
"Apakah perlu anggota polisi masuk?" cetus aparat yang sebelumnya, bertanya kepada Prawira.
Prawira dengan sigap langsung menolak dengan menjawab, "tidak, jangan dahulu! Kita percayakan saja mereka berdua."
Tatapan Prawira masih tak bisa lepas dari rekaman yang disiarkan secara langsung itu. Dalam benaknya tidak bisa dipungkiri lagi betapa dirinya sangat ingin tahu apa pembicaraan yang terjadi di antara mereka. Karena orang-orang berbaju putih dan ungu itu terlihat cukup tegang ketika berhadapan dengan kedua orang dengan mantel hitam.
"Baik," sahut Netty, kemudian segera beranjak mencari sebuah perangkat yang ada di dalam mobil karavan tersebut.
***
"Berlin, ini adalah situasi yang sungguh tidak baik," bisik Carlos ketika berdiri tepat di sebelah Berlin, di bawah rintik hujan yang masih saja mengguyur, dan di hadapan dua kelompok yakni Clone Nostra dan Cassano.
__ADS_1
"Ya, aku tahu, kau tenang saja, ini hanya sekadar salam sapa," sahut Berlin dengan nada rendah dan sikap yang sungguh tenang.
Situasi distrik saat ini sudah kembali tenang, dengan banyaknya orang-orang berjaket merah yang tewas serta melarikan diri dari baku tembak yang sempat terjadi. Setelah Red Rascals tidak lagi terlihat, hanya menyisakan beberapa dari mereka yang tertangkap serta jasad-jasad mereka yang tergeletak di jalan. Kini hanya menyisakan Clone Nostra dan Cassano yang saat ini langsung berhadapan dengan Berlin dan Carlos.
Jelas sekali orang-orang di hadapan Berlin dan Carlos saat ini adalah orang-orang yang berbahaya, bahkan di detik ini mereka tidak melepas senjata api mereka dan bisa saja mereka menembak tanpa aba-aba ke arah Berlin ataupun Carlos. Beberapa detik berlalu, dan kemudian seorang laki-laki berjaket putih melangkah ke depan dari rekan-rekan Clone Nostra dan Cassano, menghadap kepada Berlin dan Carlos. Di saat itu juga beberapa rekan Ashgard perlahan berkumpul dan berdiri di belakang Berlin, walau tak semuanya karena untuk mengantisipasi hal yang tidak-tidak.
Suasananya terkesan sangat dingin, seolah sedang terjadi perang dingin dan gencatan senjata di antara kedua belah pihak. Clone Nostra dan Cassano terlihat sangat mewaspadai keberadaan serta kehadiran Ashgard di sana, begitu pula sebaliknya. Ketegangan pun terjadi, bahkan kedua belah pihak seolah saling bersiap dengan senjata api mereka jika ada yang memulai perang.
Berlin menoleh ke belakang, dan menyaksikan beberapa rekannya yang hadir di belakangnya dan mereka semua terlihat cukup mengangkat pistol mereka. Dengan sikap yang santai dan sangat tenang, laki-laki itu berkata, "turunkan dan sarungkan senjata kalian, kita sedang tidak ingin baku tembak di sini."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, tentu langsung dituruti oleh rekan-rekannya meskipun menyimpan keraguan untuk melakukan permintaan tersebut. Namun mereka menurut, dan mengikuti seperti apa yang diminta oleh Berlin.
"Carlos, apakah kau mengenal dia ...?" bisik Berlin, sudah kembali memandang ke depan, lebih tepatnya memandang ke arah seorang laki-laki berjaket putih yang saat ini berdiri lima meter di depannya. Laki-laki itu bisa dibilang masih sangat muda, terlihat sekali dari wajah tampannya yang masih menunjukkan bahwa dirinya masih remaja.
Carlos pun menjawab pertanyaan tersebut, "dia adalah Clovis El Claunius, kemungkinan dia satu-satunya yang tersisa dari keluarga Claunius setelah Tokyo tertangkap," ucapnya dengan intonasi yang sungguh rendah dan berbisik, tidak ada yang dapat mendengarnya selain dirinya sendiri dan Berlin.
"Clovis ...?" gumam Berlin dengan satu alis terangkat, menandakan bahwa dirinya cukup tertarik dengan pemuda itu.
__ADS_1
.
Bersambung.