Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Penguntit #45


__ADS_3

Setelah semua urusan di rumah sakit telah terselesaikan. Di siang hari ini, Berlin berencana untuk mengajak Nadia makan siang berdua. Hanya berdua saja, meskipun tetap ada beberapa rekan yang ia pilih sebelumnya yang akan mengawasinya dari jauh.


Karena ingin waktu berduanya tidak ingin terganggu karena kehadiran rekan-rekannya. Berlin memberikan perintah untuk sedikit lebih jauh lagi, bahkan juga dirinya mempersilakan rekan-rekannya untuk berhenti mengawasinya dan berisitirahat bebas. Ia memberikan semua perintah tersebut melalui pesan singkat yang ia kirimkan menggunakan ponselnya.


"Baik, bos. Tetapi sepertinya kami akan terus mengikuti, mohon maaf sekali. Namun kami berani menjamin tidak akan mengganggu waktumu, kami berjanji."


Pesan jawaban diterima melalui kontak bernama Adam di ponselnya. Setelah pesan itu, disusul oleh satu pesan lagi yang langsung dikirim oleh Adam.


"Kebetulan pada saat tadi di rumah sakit. Kami mendapati seseorang yang kau maksud sebagai penguntit itu, dan dia terlihat melakukan transaksi dengan petugas kebersihan di pintu belakang rumah sakit. Informasi ini kami dapat dari Bobi dan Aryo yang tadi sempat mengikuti orang itu."


Membaca isi pesan ini, Berlin sempat menghela napas sebentar. Setelah itu ia memberikan pesan jawaban dengan membalas, "baik, kalau begitu tetaplah bersama kami! Tetapi tolong untuk berada di kejauhan!" pesan yang ia kirimkan cukup singkat namun tegas.


Adam membalas dengan emoji tertawa, dan lalu disusul dengan pesan balasan, "siap, Bos! Tenang saja, kami tidak akan mengusik waktu pacaran kalian."


"Sayang, menyetir itu tidak boleh sambil liat ponsel, tahu!" tegas Nadia dan membuat Berlin langsung menyimpan kembali ponselnya selagi mengemudi.


"Hehe, iya, makasih udah ngingetin," kata Berlin tertawa canggung dan kembali fokus pada jalanan di depan.


"Ngomong-ngomong, kita akan makan siang di mana?" tanya Nadia kemudian, tatapannya menatap ke arah Berlin dengan satu tangan memegangi perut ratanya yang sudah mulai keroncongan itu.


Berlin sedikit menoleh tanpa membuang fokusnya untuk menyetir. Ia melirik kepada istri cantiknya dan bertanya, "kamu mau makan apa? Lalu makannya di mana?"


"Um ...." Nadia tampak berpikir dengan satu telunjuk ia letakkan di dagu. "Terserah, deh!" lanjutnya kemudian memberikan jawaban lalu tersenyum manis kepada sang suami.


Berlin sempat menghela napas berat, karena ia bingung dengan jawaban yang didapat adalah jawaban yang ambigu baginya.


"Jangan 'terserah' dong, aku jadi bingung," ucap jujur Berlin.


Nadia terlihat malah sedikit tertawa dengan jawaban yang ia berikan tadi yang membuat suaminya bingung. "Ya sudah, deh. Makan siang kali ini, rasanya ... aku ingin makan sesuai yang ada kuahnya, kayak sup atau soto gitu," ucapnya mengungkapkan apa yang ia inginkan.


"Berkuah, ya?" tanya Berlin memastikan.

__ADS_1


Nadia hanya mengangguk dengan bersemangat. Karena memang di siang ini mulut dan lidahnya merasa ingin menyantap sesuatu yang berkuah dan menyegarkan.


"Baiklah, kalau begini 'kan aku jadi tahu apa yang kamu inginkan," cetus Berlin.


Tanpa ragu dan bingung lagi. Berlin mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah rumah makan yang ia tahu. Rumah makan itu terletak di pinggiran kota sebelah barat, dan menyediakan menu-menu yang diinginkan oleh Nadia.


Sepanjang perjalanan Berlin selalu waspada dan melirik ke arah spion. Ia merasa diikuti oleh orang-orang yang dari kemarin telah ia curigai. Namun kini dirinya sedikit lebih tenang, karena terdapat beberapa rekan terpilihnya yang tetap mengawasi.


Sesampainya di sebuah rumah makan yang sangat sederhana. Nadia langsung turun dari mobil sesaat setelah terparkir dengan sangat ceria dan bersemangat, diikuti oleh Berlin tentunya.


"Ceria banget, nih?" cetus Berlin ketika berjalan bergandengan dengan istrinya memasuki rumah makan tersebut.


"Apa nggak boleh?" sahut Nadia menoleh dan langsung menatap Berlin tanpa keraguan.


Berlin menoleh dan tersenyum serta menjawab, "aku justru senang melihatmu seperti ini, karena memang inilah dirimu yang sebenarnya."


"Ah, kamu mah sukanya godain aku terus!" sahut Nadia seraya mengerucutkan bibirnya, dan sedikit memalingkan pandangannya ketika berbicara. Sedangkan Berlin hanya tertawa melihat ekspresi canggung dari istrinya. Mereka pun melangkah perlahan masuk ke dalam rumah makan itu.


"Pesan saja menu yang kamu ingin!" pinta Berlin kepada istrinya yang kini duduk tepat di sebelahnya. Mereka berdua memilih meja yang letaknya sedikit pojok jauh dari pintu masuk, dan duduk bersebelahan.


Nadia pun memesan ketika seorang pelayan wanita datang untuk mencatat pesanan. Begitu pula dengan Berlin yang ikut memesan. Meski begitu, lirikan matanya terus saja memperhatikan setiap pengunjung yang masuk. Begitu waspada.


"Kok kamu tumben banget nyuruh aku duduk sebelahan gini?" tanya Nadia setelah pelayan itu pergi membawa pesanan yang sudah dicatat. Ia menoleh dan menatap sang suami ketika bertanya.


"Ya, aku lagi pengen aja, kalau berhadapan mah di rumah juga udah sering, ditambah lagi kalau gini kan aku bisa lebih dekat sama kamu." Berlin tampak sedikit mencari alasan untuk jawabannya, dan sepertinya jawaban tersebut tidak begitu membuat Nadia curiga.


Mereka berdua pun terus berbincang bahkan sedikit saling bergurau hingga menu yang dipesan datang. Nadia tampak sangat senang, bahkan tidak sabar untuk menyantap sebuah menu sup Timlo yang dipesan.


"Bukankah lebih enak Timlo dimakan ketika sarapan, ya?" gumam Berlin ketika Nadia hendak mempersiapkan sendok dan garpunya.


"Iya, sih. Tetapi aku lagi pengen aja makan ini sekarang, hehehe," sahut Nadia tertawa kecil dan menoleh ketika menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian ia langsung menyantap makanannya yang begitu nikmat.

__ADS_1


"Pelan-pelan, nggak bakal ada yang minta, kok. Habisin saja ...!" ucap Berlin ketika melihat istrinya begitu menikmati sup Timlo itu. Dirinya pun juga ikut menyantap bakso yang juga kini sudah hadir di hadapannya. Namun meski begitu dirinya tetap tidak begitu tenang dan selalu waspada.


***


Lima belas menit berlalu. Pantauan mata Adam selalu tertuju ke arah sebuah mobil sedan berwarna putih yang terparkir di halaman rumah makan. Kini ia dan rekan-rekannya berada di sebuah halaman parkir kecil yang letaknya di dalam gang tepat di seberang rumah makan itu.


Sepanjang lima belas menit ini. Dua orang mencurigakan itu tetap berada di dalam mobil sedan putih mereka sepanjang lima belas menit, bahkan sejak pertama kali mereka berhenti di depan rumah makan itu. Adam dan beberapa rekannya terus memantau mereka, bahkan mungkin tidak akan melepaskan mereka para penguntit itu.


"Mengapa kita tidak datangi saja penguntit sialan itu?" cetus Aryo dengan intonasi yang sedikit kesal. Ia bersandar di motornya yang terparkir, dan menghela napas berat.


"Tunggu, Berlin belum memberikan arahan lebih lanjut," jawab Kina berdiri di samping Aryo.


"Misalkan kita samperin mereka di depan rumah makan itu. Entah kenapa aku yakin pasti akan terjadi sedikit bentrok, sih." Bobi mendekati Aryo dan berkata demikian. Dirinya cukup tau dengan kesalnya Aryo.


"Ya, kurasa itu sudah pasti," timpal Adam. Dirinya tampak sedang menunggu perintah atau arahan kelanjutan dari Berlin melalui ponselnya.


Bruumm ...!!!


Tiba-tiba saja mobil sedan putih milik dua penguntit itu menyalakan mesin yang begitu keras terdengar. Tidak lama kemudian. Mereka perlahan keluar dari halaman parkir rumah makan, dan perlahan menjauh.


Melihat hal itu. Adam langsung memberitahu Berlin melalui ponselnya. Namun ketika pesan itu terkirim. Mobil sedan putih ini perlahan berjalan melalui jalanan tepat di hadapan Adam dan rekan-rekannya. Ketika berlalu di hadapan Adam. Mereka seolah mengetahui kehadiran Adam dan rekan-rekannya. Mobil itu langsung tancap gas untuk melaju.


"Apakah kita akan mengejarnya?" tanya Aryo kepada Adam yang tampak sibuk dengan ponselnya.


Beberapa detik Adam diam sejenak, tampak menunggu pesan yang dikirim oleh Berlin. Setelah itu ia tiba-tiba memberikan perintah kepada rekannya, "kejar!" dan bergegas melaju menggunakan motornya.


"Oke!" sahut Bobi dan Aryo tampak sangat bersemangat. Mereka langsung tancap gas juga dan mengejar mobil tadi.


"Ingat, jangan sampai keluar timah panas atau tembakan dari kita!" teriak Adam ketika melaju bersampingan dengan dua motor milik rekannya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2